WITH YOU

WITH YOU
Namanya Evan


__ADS_3

Carissa menangis tersedu-sedu sambil membekap mulutnya. Bagaikan ada ribuan ton batu yang sedang menimpa hatinya saat ini, membuat dadanya seketika terasa sangat sakit dan sesak.


Evan pernah bercerita jika Arga adalah orang yang dulu membantunya mengurus pemakaman kedua orang tuanya, dan menitipkan dia ke panti asuhan. Bukankah itu artinya anak kecil yang Arga ceritakan tadi adalah Evan? Dan orang yang membuat Evan kehilangan segalanya tak lain adalah Arga sendiri?


Tangan Carissa turun memegangi dadanya. Dengan menahan isakannya, di lihatnya Arga dengan tatapan yang sulit di jelaskan, lalu pandangan Carissa beralih pada Alya yang juga sedang menangis sedih karena mendengar pengakuan tak terduga dari suaminya tadi. Dan terakhir, dengan memberanikan diri Carissa melihat kearah Evan.


Perasaan Carissa seketika berkecamuk. Rasa takut tiba-tiba memenuhi ruang hatinya. Setelah mendengar cerita Arga tadi, sangat mustahil jika Evan tidak menyadari bahwa Argalah yang menyebabkan kematian kedua orang tuanya. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, Carissa sungguh takut membayangkan reaksi Evan.


Sementara itu, Evan sendiri tampak membeku dengan mata yang menatap nanar ke arah depan. Kilasan kejadian hampir dua puluh lima tahun yang lalu tiba-tiba saja terbayang lagi di ingatannya, layaknya sebuah film yang di putar kembali.


Evan teringat bagaimana dia menangis dengan kebingungan di rumah sakit saat kedua orang tuanya di nyatakan meninggal hanya dalam selang waktu satu jam. Dia tidak tahu bagaimana harus melunasi biaya rumah sakit, belum lagi dia juga tidak tahu bagaimana harus memakamkan jenazah kedua orang tuanya. Hingga akhirnya seseorang yang sangat baik datang membantunya.


Orang tersebut memakamkan kedua orang tua Evan dengan layak, kemudian membelikan Evan makanan dan beberapa potong pakaian serta membawa Evan kesebuah penginapan untuk bermalam. Di sana dia menghibur Evan dan memberi Evan semangat agar Evan melanjutkan hidupnya meski tak lagi memiliki siapa-siapa. Keesokan harinya orang tersebut membawa Evan ke sebuah panti asuhan dan menitipkan Evan di sana.


Evan selalu ingat orang yang di panggilnya paman itu mengatakan nama keluarganya adalah Nugraha. Evan juga tak pernah melupakan wajah seseorang yang telah begitu berjasa dalam hidupnya itu. Dan saat ini wajah itu ada di hadapan Evan, tengah menengadah berlinangan airmata dengan tubuh yang terbaring tak berdaya.


Evan sungguh tak menyangka jika orang yang telah menolongnya saat itu ternyata adalah orang yang telah menyebabkan kedua orang tuanya meninggal. Sekarang Evan bahkan telah menikah dengan putrinya dan saling jatuh cinta.


Kelopak mata Evan terasa memanas, tapi bibirnya justru tersenyum miring. Sungguh sangat lucu. Rasanya sangat ingin Evan tertawa dengan sekeras-kerasnya, menertawakan takdir yang mempermainkannya sejauh ini.

__ADS_1


"Selama hampir dua puluh lima tahun ini, Papa selalu terbayang bagaimana anak itu menangis dan mengatakan jika dia ingin menyusul kedua orang tuanya. Dia terlihat sangat putus asa dan tak punya semangat untuk hidup." Arga kembali melanjutkan ceritanya.


"Papa terlalu pengecut dan tidak berani menyebutkan nama Papa saat dia bertanya. Papa hanya mengatakan jika nama keluarga Papa adalah Nugraha dan berharap dia hidup dengan baik tanpa mengingat nama itu lagi."


Carissa semakin tersedu dengan hati yang tak menentu. Sedangkan Arga tampak menatap kosong langit-langit ruang perawatannya.


"Anak malang itu... Papa bahkan tidak tahu namanya siapa. Papa ingin tahu, tapi terlalu takut untuk mencari tahu." Gumam Arga lagi dengan suara yang mulai serak dan bergetar. Tampaknya dia sudah tak bisa menahan lagi ledakan emosi yang di rasakannya saat ini. Arga terisak sembari memejamkan matanya.


Tiba-tiba Evan bangkit dan mendekati brangkar Arga. Carissa yang melihatnya agak terkejut dan sontak merasa takut.


Setelah cukup dekat, Evan akhirnya menghentikan langkahnya dan berdiri di hadapan Arga yang tengah memejamkan matanya.


"Apa Papa sungguh ingin tahu siapa nama anak itu?" Tanya Evan kemudian.


"Anak malang yang Papa tolong waktu itu, apa Papa sungguh ingin tahu siapa namanya? Dan apa yang akan Papa lakukan untuk menebus kesalah Papa karena telah membuatnya kehilangan segalanya?" Evan kembali bertanya, kali ini dengan nada yang lebih tajam.


Sontak Arga merasa heran dan menatap Evan dengan bingung, begitu pun dengan Alya. Hanya Carissa yang tampak menunduk dengan semakin tersedu. Dia benar-benar takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Evan menatap Arga dengan tatapan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Dia terlihat berusaha mengendalikan dirinya sebelum membuka mulutnya lagi.

__ADS_1


"Jika Papa sungguh ingin tahu, maka aku akan memberitahukannya pada Papa. Anak itu, namanya Evan." Ujar Evan lamat-lamat. Tatapan matanya masih tajam menatap kearah Arga tanpa beralih sedikit pun.


"Evan Bramasta, anak dari orang yang sudah Papa buat bangkrut dan mati secara menyedihkan, dia di adopsi oleh pasangan baik hati yang tidak punya keturunan, hingga bisa bersekolah dan meraih cita-citanya menjadi seorang dokter spesialis jantung. Kenapa dia ingin menjadi dokter spesialis jantung? Itu karena Evan kecil yang malang ingin mengobati orang-orang yang mengidap penyakit jantung, sehingga tak ada lagi anak yang hidup sebatang kara karena orangtuanya meninggal karena penyakit jantung."


Evan menghentikan kata-katanya sejenak, sedangkan Arga tampak terperanjat dan menatap Evan dengan mata melebar.


"Saat itu Evan kecil tidak berpikir jika kepergian kedua orang tuanya di sebabkan oleh keserakahan orang lain. Dia tumbuh tanpa menyimpan dendam sedikit pun. Dia bahkan menganggap Paman yang menolongnya waktu itu adalah seorang manusia yang sangat mulia. Selama bertahun-tahun dia menganggap Paman itu sebagai malaikat penyelamatnya. Hingga saat dia dewasa, dia kembali bertemu dengan malaikat penyelamatnya itu, bahkan juga menikahi putrinya. Sungguh tidak di sangka jika orang yang di anggap malaikat itu ternyata adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian kedua orang tuanya. Benar-benar kasihan, dari kecil hingga dewasa nasibnya masih saja malang..."


Mata Evan berkaca-kaca. Tangannya tampak mengepal menahan emosi yang terasa akan meledak saat itu juga.


Arga yang mendengar penuturan Evan terlihat sangat terkejut. Nafasnya sampai tersengal dengan tangan yang mulai memegangi dadanya.


"Kamu...kamu....?" Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Arga sambil melihat kearah Evan.


"Ya, Paman Nugraha. Aku adalah anak kecil yang waktu itu anda tolong. Anak kecil yang mengagumi Anda selama lebih dari separuh hidupnya..."


Arga membeliak dengan mulut yang sedikit terbuka. Nafasnya semakin tersengal dan satu tangannya semakin erat memegangi dadanya. Arga terlihat sangat syok dan melihat kearah Evan dengan takut dan panik, seolah sedang berhadapan dengan malaikat maut yang akan mencabut nyawanya.


Bersambung...

__ADS_1


Tetap like, koment dan vote


Happy reading❤❤❤


__ADS_2