
"Jangan menangis, Carissa. Tolong jangan buang airmatamu lagi. Kamu sudah terlalu banyak menangis." Evan yang melihat airmata Carissa jatuh langsung mengulurkan tangan untuk menyekanya.
"Aku hanya ingin menjagamu di dekatku. Aku tahu, keadaanku sekarang memang tidak terlalu baik. Tapi aku sudah tidak terlalu bergantung dengan obat lagi seperti sebelumnya. Sakit di kepalaku juga sudah sangat jarang datang. Aku melakukan pengobatan dengan bersungguh-sungguh belakangan ini. Aku akan sembuh total, segera." Ujar Evan dengan bersungguh-sungguh.
"Lalu kalau aku ikut pulang dan tinggal bersamamu lagi, apa itu tidak mengacaukan pengobatan yang kamu jalani?" Tanya Carissa kemudian.
Evan terdiam sejenak, lalu menggeleng dengan penuh keyakinan.
"Tidak akan. Aku justru akan semakin termotivasi untuk sembuh. Selama ini pikiranku sendirilah yang memicu trauma, sekarang aku sudah bertekad untuk menyingkirkan semua dendam masa lalu dengan memaafkan Papamu."
Carissa masih terdiam sambil menatap Evan dengan agak ragu.
"Kamu yakin?" Tanya Carissa lagi.
Evan mengangguk.
"Tapi, Dokter Melissa bilang..."
"Itu hanya diagnosa Dokter Melissa. Keadaanku yang sesungguhnya, hanya aku yang merasakan. Aku membutuhkanmu berada di sampingku, dan aku juga ingin selalu dekat dengan calon anak kita. Karena itu, pulanglah bersamaku. Aku tidak mau lagi jauh darimu." Ujar Evan sekali lagi.
Carissa terdiam beberapa saat, lalu mengangkat wajahnya untuk melihat kearah Evan.
"Tidak bisakah kamu menunda pulang dua atau tiga hari lagi? Ada beberapa yang harus aku urus sebelum ikut pulang bersamamu." Ujar Carissa akhirnya.
Evan tersenyum sambil bangkit dari duduknya dan mendekat pada Carissa.
"Sebenarnya aku benar-benar harus pulang besok, tapi untuk istriku, tentu saja aku akan mencari alasan yang bagus supaya bisa pulang dua atau tiga hari lagi." Ujar Evan sembari memeluk Carissa.
Carissa membalas pelukan Evan erat. Meski masih sedikit merasa takut, tapi hati Carissa benar-benar lega mengetahui jika sekarang Evan telah bisa menerima semuanya. Carissa berharap Evan benar-benar tidak merasakan sakit lagi saat bersamanya.
"Tapi tetap saja aku harus ke hotel untuk ceck out, dan membawa pakaian gantiku ke sini." Ujar Evan lagi.
Carissa menengadahkan wajahnya masih dalam pelukan Evan.
"Memangnya siapa yang mengizinkan kamu untuk menginap di sini lagi?" Tanya Carissa.
"Kalau tidak menginap di sini, lalu aku menginap di mana? Masa aku harus menginap di pom bensin? Kamu tidak takut suamimu ini di pungut orang?" Tanya Evan dengan nada menggoda.
__ADS_1
Carissa tertawa pelan sambil mengeratkan pelukannya. Tapi sejurus kemudian dia teringat akan sesuatu dan seketika melepaskan pelukannya.
"Buburku?" Gumam Carissa sambil beralih pada bubur ayamnya yang sejak tadi terlupakan.
"Sudah dingin, rasanya jadi tidak enak lagi..." Carissa bergumam sedih setelah mencoba satu suapan.
Evan kembali duduk di kursinya dan agak merasa bersalah.
"Karena aku mengajakmu bicara, buburnya jadi dingin. Maaf, ya." Ujar Evan dengan nada menyesal.
Carissa tak menjawab dan hanya menghela nafasnya. Entah karena pengaruh kehamilan atau apa, pagi ini dia sangat ingin makan bubur ayam yang masih hangat. Tapi tampaknya keinginannya itu tidak jadi terpenuhi karena bubur ayam yang di pesannya tadi sudah terlanjur dingin.
"Bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan keluar dan beli lagi buburnya." Tawar Evan.
"Mumpung hari ini weeked. Kalau weekend biasanya kamu tidak berlatih, kan?' Tambah Evan lagi.
Sekali lagi Carissa menoleh kearah Evan.
"Dari mana kamu tahu?" Tanya Carissa.
"Rahasia" Jawab Evan sok misterius.
Tanpa sadar Carissa tersenyum tipis sambil meneruskan sarapannya, menyantap bubur ayam dingin yang tadi sempat tidak ingin dia santap.
Satu jam kemudian, pakaian Evan pun di antar kembali oleh petugas laudry. Evan akhirnya bisa mengenakan pakaiannya dan pergi ke hotel tempatnya menginap untuk ceck out dan mengambil barang-barangnya. Sementara itu Carissa mengabari Geraldyn jika hari ini dia ada acara pribadi hingga manajernya itu bebas untuk melakukan hal lain tanpa harus datang ke apartemennya.
Carissa memilih baju di lemari pakaiannya, dan pilihannya jatuh pada gaun santai selutut yang nyaman di gunakan untuk berjalan-jalan. Tak lupa dia mengaplikasikan make up tipis pada wajahnya, lalu terakhir mengenakan sepasang flat shoes. Senyum Carissa mengembang saat melihat penampilannya. Terlihat sangat manis dan segar.
Tak lama kemudian, Evan datang lagi ke apartemen Carissa dengan membawa sebuah koper. Terlihat suami Carissa itu juga sudah berganti pakaian dengan yang lebih santai. Dia mengenakan celana jins di padu atasan polo, serta memakai sneakers sebagai pelengkap penampilannya.
Carissa agak terperangah, sebelum akhirnya memeluk Evan erat.
"Kenapa kamu pakai ini?" Tanya Carissa masih dengan memeluk Evan.
"Memangnya kenapa?" Evan malah balik bertanya. Dia mengurai pelukan Carissa dan melihat penampilannya di cermin.
"Aneh, ya?" Tanya Evan.
__ADS_1
"Kamu kelihatan jauh lebih muda kalau berpakaian seperti itu. Sengaja, ya, supaya para gadis di luar sana melirikmu?" Carissa mendengus kesal.
Evan terlihat surprise mendengar kata-kata Carissa. Tapi kemudian dia menahan senyum sambil mendekati istrinya itu.
"Ingat, ya, Evan. Kamu itu sebentar lagi punya anak." Ujar Carissa lagi dengan nada tidak suka.
Evan benar-benar tak bisa menahan tawanya lagi. Dia terkekeh sambil meraih Carissa ke dalam pelukannya. Carissa membalas pelukan Evan dengan agak posesif.
"Tentu saja aku ingat, istriku. Kalau kamu takut ada gadis yang melirikku di luar sana, bagaimana kalau kamu memelukku terus seperti ini saat kita jalan-jalan nanti." Tawar Evan.
Carissa langsung melepas pelukan Evan sambil kembali melengos.
"Dasar tukang modus." Gerutu Carissa kesal.
Evan kembali tertawa.
"Ada panggilan baru rupanya, sudah bukan dokter cabul lagi?"
"Dokter cabul sekaligus tukang modus." Ralat Carissa.
Sekali lagi Evan tertawa dengan renyahnya sambil kembali memeluk Carissa dan mencium pucuk kepalanya berulang kali.
Evan lega akhirnya bisa kembali memeluk istrinya ini, meski keadannya belum sepenuhnya baik. Dia percaya semuanya akan kembali seperti dulu lagi seiring berjalannya waktu.
Evan dan Carissa akhirnya pergi jalan-jalan seperti yang sebelumnya Evan katakan. Bukan ketempat rekreasi mahal, keduanya hanya berjalan-jalan di sebuah taman yang terletak di pusat kota. Tempat yang biasa di gunakan orang-orang untuk melepas penat setelah selama seminggu berkutat pada rutinitas mereka yang membosankan.
Karena hari itu adalah weekend, yang mengunjungi taman itu pun cukup banyak. Selain para orang tua yang mengajak anak-anaknya, sebagian pengunjung adalah para remaja yang tampak bersantai sambil mengabadikan kegiatan mereka lewat kamera ponsel.
Carissa dan Evan berjalan menyusuri taman itu dengan tangan yang saling bergandengan. Senyum Carissa merekah. Entah kenapa, hanya berjalan-jalan seperti ini dengan Evan saja sudah membuatnya benar-benar merasa bahagia.
Tapi tak lama kemudian, Carissa agak terkejut saat sekelompok gadis remaja tiba-tiba mendekatinya.
"Kakak...kakak..." Para gadis belia itu langsung mengerubuti Evan hingga mata Carissa agak melebar.
"Kakak, kita foto bareng, yuk!" Seorang gadis dengan paras yang sangat manis merapat pada Evan sambil mengangkat kamera ponselnya.
Bersambung...
__ADS_1
Jadi penasaran sama reaksi Carissa. Tapi kalo emak yang jadi Carissa, tak lempar semua itu ciwi2 ganjen ke antartika, biar pada beku sekalianš¤
Happy readingā¤ā¤ā¤