WITH YOU

WITH YOU
Modus


__ADS_3

Geraldyn menghela nafas panjang sembari memejamkan matanya sejenak. Setelah tertunduk selama beberapa saat, gadis itu akhirnya mengangkat wajahnya. Sudah cukup semua kekonyolan ini. Cinta atau apalah itu, Geraldyn tidak mau mendengarnya lagi, terutama dari mulut seorang Jonathan Hansen.


"Nyonya, Tuan. Terima kasih atas makan malamnya. Makanannya benar-benar enak." Ujar Geraldyn pada Sonya dan Zacky.


"Maaf sebelumnya, tapi saya merasa agak lelah dan ingin segera kembali ke hotel untuk beristirahat." Tambah Geraldyn lagi. Ia ingin segera pergi dari sana secepat mungkin. Jika tidak, maka akan makin banyak hal konyol yang pasti akan dilakukan Jonathan nantinya.


Geraldyn bangkit dari duduknya. Sikapnya terasa kurang sopan memang, tapi dia tak punya pilihan. Jika lebih lama lagi ia berada di sana, semakin banyak pula drama yang akan terjadi.


"Kamu sudah mau pergi?" Carissa ikut berdiri.


"Iya, maaf sekali. Lain kali kita bertemu lagi dan ngobrol lebih banyak. Sekarang aku benar-benar harus kembali." Jawab Geraldyn.


"Kalau begitu, saya juga pamit." Jonathan juga bangkit.


Evan dan kedua orang tuanya juga ikut berdiri.


"Tuan, Nyonya, terima kasih atas makan malamnya. Lain kali saya juga yang akan mengundang Anda sekeluarga makan malam." Jonathan membungkukkan badannya.


"Tidak perlu sungkan. Kami senang bisa menjamu kalian." Jawab Zacky.


Geraldyn segera meninggalkan meja makan, di ikuti olah Jonathan. Tampak kedua orang itu masuk kedalam mobil yang tampaknya adalah milik Jonathan. Mobil itu pun meluncur meninggalkan kediaman Sonya dan Zacky.


Carissa dan Evan yang mengantarkan mereka sampai ke halaman rumah tampak masih sama-sama tertegun. Suami istri itu terlihat masih berusaha mencerna apa yang mereka saksikan tadi.


"Apa menurutmu Geraldyn akan baik-baik saja?" Tanya Carissa pada Evan.


Evan menoleh.


"Entahlah. Tapi sepertinya Jonathan bukan orang jahat. Harusnya dia tidak sampai menyiksa Geraldyn, kan?"


Carissa menghela nafasnya.


"Sudah banyak para gadis yang menjadi korbannya. Aku takut dia hanya mempermainkan Geraldyn, lalu setelah bosan dia akan mencampakkan Geraldyn begitu saja, seperti yang dia lakukan pada gadis-gadis sebelumnya." Ujar Carissa dengan nada khawatir.


Evan terdiam beberapa saat.


"Aku rasa Geraldyn tidaklah selemah itu. Dia pasti tidak akan membiarkan Jonathan mempermainkannya begitu saja. Meskipun mungkin niat awal Jonathan memang ingin bermain-main, tapi tampaknya dia yang akan terjebak pada permainannya sendiri." Gumam Evan kemudian.

__ADS_1


Carissa tampak menautkan kedua alisnya.


"Maksudmu?" Tanya Carissa.


Evan tersenyum.


"Apa tadi kamu tidak melihatnya? Dia tampak sangat menyukai Geraldyn meskipun dia sendiri bingung mendeskripsikan perasaannya seperti apa."


Carissa masih terlihat bingung dengan kata-kata Evan.


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Geraldyn pasti tahu apa yang harus dia lakukan untuk menghadapi Jonathan. Jika dia memang tidak sanggup menanganinya, dia pasti akan meminta bantuanmu. Tapi fakta jika saat ini mereka berpacaran, itu menunjukkan jika Geraldyn bersedia berada di sisi Jonathan meskipun tidak tahu atas dasar apa. Tapi menurutku, jika dua orang sudah setuju untuk berpacaran, setidaknya mereka sudah saling suka, meski sedikit."


Carissa masih terdiam dan mencerna kata-kata Evan tadi.


"Ayo, masuk. Lily pasti sudah lapar dan ingin menyusu." Evan merangkul Carissa dan membimbingnya masuk kembali ke dalam rumah.


Meski masih ada yang mengganjal dalam pikiran Carissa, ia memilih untuk tidak berkata apa-apa lagi. Mungkin saat bertemu kembali dengan Geraldyn nanti baru Carissa akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Sementara itu, di dalam mobil yang dinaiki Geraldyn dan Jonathan tadi. Tampak keduanya duduk di kursi penumpang tanpa berbicara satu sama lain. Sopir yang sedang mengemudikan mobil itu pun ikut merasakan hawa dingin dari arah belakang.


"Kamu terlihat tidak senang?" Suara Jonathan akhirnya terdengar memecah kesunyian.


"Kenapa marah? Memangnya apa salahku?" Jonathan kembali bertanya tanpa beban sambil membelai rambut Geraldyn. Sontak Geraldyn langsung menoleh dan menepis tangan Jonathan.


"Apa menurutmu ini menyenangkan?" Tanya Geraldyn dengan ketus. Wajahnya terlihat sangat tidak bersahabat.


Jonathan tampak menautkan kedua alisnya dan terlihat seakan dia sedang bingung.


"Apanya yang menyenangkan?" Tanya lelaki itu lagi masih dengan wajah tanpa dosanya.


Geraldyn membuang mukanya dan tersenyum masam.


"Pasti sangat menyenangkan bermain-main denganku di hadapan Carissa dan keluarga suaminya. Apa sekarang kamu sudah merasa puas? Bisakah kamu melepaskanku sekarang?"


Jonathan menoleh kearah Geraldyn.


"Kapan aku bermain-main? Aku hanya menyusul pacarku ke tempat temannya karena dia tidak bisa menemuiku, dan mengatakan pada mereka jika kamu adalah pacarku. Itu juga karena kamu sepertinya tidak mau mengakui jika aku adalah pacarmu. Apa kamu tahu, diakui pacar sendiri sebagai teman itu rasanya sangat menyakitkan." Ujar Jonathan lagi dengan wajah seolah-olah dia merasa tersakiti.

__ADS_1


Geraldyn berdecih sambil kembali membuang mukanya kearah lain.


"Berhentilah mengatakan omong kosong tentang hubungan kita, Jonathan. Kamu sangat tahu seperti apa hubungan kita yang sebenarnya. Kenapa kamu tidak juga melepaskanku? Aku bahkan tidak menggunakan blackcardmu sama sekali. Sebenarnya kerugian apa yang kamu dapatkan karena aku? Sejauh ini akulah yang merasa rugi. Hidupku yang tenang dan damai tiba-tiba harus jungkir balik setelah aku bertemu denganmu. Kenapa kamu tidak bermain-main dengan para gadis yang menunggu untuk kamu kencani? Kenapa mesti aku?" Geraldyn tampak mulai emosi.


Jonathan menatap Geraldyn sembari tersenyum tipis seakan ocehan gadis itu adalah nyanyian merdu.


"Karena mereka semua bukan Geraldyn, gadis yang dengan beraninya berusaha untuk menipuku dan muntah diatas tubuhku. Apa yang kamu lakukan padaku benar-benar sangat kurang ajar, tapi entah kenapa aku menyukainya."


Geraldyn membuang nafasnya dengan kasar.


"Jangan bilang jika aku melemparkan kotoran padanya dia juga akan menyukainya." Gumam Geraldyn pada dirinya sendiri.


"Bisa jadi." Jonathan menanggapi kata-kata Geraldyn barusan. Sontak Geraldyn menoleh kearah lelaki itu sambil membeliakkan matanya.


"Kalau begitu katakan padaku apa yang kamu tidak sukai untuk aku lakukan?" Tanya Geraldyn.


Jonathan terdiam beberapa saat.


"Entahlah, aku tidak tahu. Tapi sepertinya kalau kamu berinisiatif untuk memeluk dan menciumku, mungkin aku akan merasa kamu seperti para gadis yang selama ini mengejarku. Bisa jadi aku tidak akan menyukaimu lagi." Ujar Jonathan kemudian sambil sedikit melirik Geraldyn.


Geraldyn terdiam beberapa saat. Gadis itu tampak sedang mempertimbangkan kata-kata Jonathan barusan. Lalu tiba-tiba ia berbalik kearah Jonathan dan memeluk lelaki itu dengan erat. Tak lama kemudian, ia mengurai pelukannya dan mendekatkan wajahnya pada wajah lelaki itu.


Cup.


Geraldyn memcium Jonathan.


Jonathan diam dan membiarkan Geraldyn memagut bibirnya dengan lembut. Geraldyn tak menyadari jika saat ini Jonathan tengah tersenyum tipis di tengah ciuman itu.


Bebarapa saat kemudian, Geraldyn menyudahi ciumannya dan menjauhkan wajahnya dari wajah Jonathan, berharap setelah itu Jonathan tidak tertarik lagi padanya. Tapi diluar dugaannya, Jonathan malah tersenyum puas.


"Maaf, sepertinya aku salah mengira. Setelah kamu memeluk dan menciumku, aku malah jadi semakin menyukaimu." Ujar Jonathan dengan wajah tanpa dosanya.


Terang saja Geraldyn mendelik dengan wajah yang sangat kesal.


'Dasar Berengsek!'


Bersambung...

__ADS_1


Sabar, Ge. Orang sabar disayang Tuhan😁


Happy reading❤❤❤


__ADS_2