WITH YOU

WITH YOU
Milik Evan seutuhnya


__ADS_3

Carissa tertegun mendengar penuturan Evan. Ia tak bisa berkata-kata. Kalimat terakhir yang di katakan Evan membuat sekujur tubuhnya merinding. Suaminya itu ingin mereka segera mempunyai seorang anak.


Dada Carissa berdebar di buatnya. Tapi di sisi lain dia juga merasa terharu. Membayangkan seorang anak hadir di antara mereka, dengan Carissa sebagai ibu dan Evan sebagai ayahnya, rasanya benar-benar sangat indah. Sudah bisa di pastikan jika Evan akan menjadi seorang Ayah paling penyayang di dunia.


"Ka-kamu sungguh ingin punya anak dariku?" Tanya Carissa tanpa sadar.


"Kalau bukan dari istriku sendiri, lalu dari siapa lagi? Tidak mungkin kan aku mau punya anak dari istri orang lain." Jawab Evan enteng.


Mau tidak mau Carissa tertawa di buatnya.


"Bukan begitu. Maksudku apa kamu sungguh yakin ingin menjadikan aku sebagai ibu dari anakmu? Apa kamu tidak akan menyesal anakmu punya Ibu seperti aku?" Carissa kembali bertanya untuk meyakinkan.


"Memangnya kenapa aku harus menyesal. Bukankah dari sebelum kita menikah aku sudah mengatakan jika kita akan memiliki anak dari pernikahan kita."


Carissa terdiam beberapa saat, lalu mengangguk pelan.


"Kamu benar. Akan lebih baik kalau kita segera memiliki anak. Tapi..." Carissa tidak melanjutkan kalimatnya.


"Tapi kenapa?" Tanya Evan.


"Aku takut...waktu itu rasanya sangat sakit." Carissa menundukkan wajahnya dengan sedikit malu.


Evan tersenyum. Lalu di raihnya Carissa ke dalam pelukannya. Tangannya kembali terulur membelai rambut panjang Carissa dengan lembut.


"Waktu itu aku terlalu terburu-buru. Kali ini aku janji akan melakukannya dengan lebih pelan dan hati-hati. Jadi rasanya tidak akan terlalu sakit." Evan berbisik di telinga Carissa hingga Carissa meremang di buatnya.


"Be-benarkah?" Tanya Carissa meyakinkan.


"Tentu saja. Aku janji akan lebih lembut." Bisik Evan lagi. Kali ini setelah berbisik dia juga meniup dan menciumi area belakang telinga Carissa hingga turun juga ke leher.


"Evan?" Carissa bergumam sembari menggeliat karena merasa geli.


"Aku menginginkanmu, Carissa." Ujar Evan sambil terus menjelajahi wajah dan leher istrinya itu.


"Tapi ini masih sore..."


"Memangnya kenapa kalau masih sore? Apa ada peraturan yang menyebutkan suami tidak boleh menyentuh istrinya di sore hari?"


"Bukan begitu. Hummptt..." Carissa tak bisa melanjutkan kalimatnya karena Evan telah membungkam mulutnya lebih dulu.

__ADS_1


Evan memagut bibir Carissa dengan sangat bersemangat, hingga perlahan gairah Carissa pun bangkit. Tanpa sadar Carissa mulai membalas perlakuan Evan padanya. Tangan Carissa juga mulai menjelajahi tubuh liat Evan.


Agak lama mereka bercumbu, tapi tak lama kemudian Carissa seperti tersadar akan sesuatu.


"Masakanku tadi bagaimana?" Tanyanya pada Evan. Evan yang mendengarnya berhenti sejenak.


"Tidak usah di pikirkan. Nanti kita makan di luar saja." Jawab Evan sambil kembali mencumbu Carissa.


"Tapi dapurnya berantakan."


"Carissa..." Evan menggeram di sela cumbuannya. Dia sedikit gemas karena istrinya ini terkesan sedang menunda-nunda aktifitas yang sangat ingin Evan lakukan.


Carissa terkekeh.


"Oke, oke, silahkan di lanjutkan." Ujarnya sambil berusaha berhenti tertawa.


Evan merasa semakin gemas. Dia bangkit dan membuka pakaiannya, hingga Carissa terdiam seketika dengan mata membeliak. Tanpa sadar istri Evan itu menelan salivanya saat melihat otot dada dan otot perut Evan.


Setelah itu, Evan kembali mengurung Carissa ke dalam kungkungannya. Kali ini dia mencumbu istrinya itu dengan agak agresif, hingga tanpa sadar Carissa terhanyut dan masuk ke dalam permainan Evan.


Tak lama kemudian, Carissa dan Evan telah larut ke dalam nikmatnya surga dunia. Evan telah berhasil mendapatkan apa yang di nantikannya selama ini. Lelaki itu tampak menggeram dengan menyebutkan nama istrinya saat menyambut puncak kenikmatan yang di dapatnya bersamaan dengan Carissa.


Carissa telah menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Evan. Meski awalnya ia tetap merasakan sakit seperti sebelumnya, tapi kali ini rasa nikmatnya lebih mendominasi, hingga istri Evan itu tidak lagi menyuruh suaminya untuk berhenti. Kali ini Carissa telah menjadi istri seuntuhnya dari seorang Evan Bramasta. Dan tak ada kata yang bisa mewakili apa yang di rasakannya saat ini, selain kebahagiaan.


Carissa beringsut dari tempat tidur menuju kamar mandi. Dengan sedikit menahan nyeri di tubuh bagian bawahnya, ia masuk ke dalam bathub dan berendam di air hangat.


Tubuh Carissa terasa pegal di beberapa bagian. Tapi anehnya bibirnya justru menyungging sebuah senyuman. Kilasan apa yang ia dan Evan lakukan tadi membuat wajahnya merona. Entah kenapa hati Carissa menjadi berbunga-bunga di buatnya. Mengingat Evan yang menggeram nikmat sambil menyebut namanya membuat Carissa kembali meremang. Rasanya sekujur tubuhnya bergetar hebat seakan mengulang kembali apa yang mereka lakukan tadi.


Carissa mengeleng-gelengkan kepalanya untuk membuang pikiran tentang Evan yang memenuhi otaknya. Rasanya ia bisa gila jika terus seperti ini. Segera Carissa bangkit dan menyelesaikan mandinya, lalu mengenakan pakaian rumahan. Tidak lupa ia juga kembali mengoles salep khusus luka bakar di punggung tangannya yang tadi terkena cipratan minyak panas.


Carissa keluar dari kamarnya untuk menyusul Evan yang sudah lebih dulu mandi dan keluar dari kamar. Suami Carissa itu mengatakan pada istrinya jika dia yang akan menyiapkan makan malam mereka kali ini. Sepertinya suasana hati Evan sedang sangat bagus, sehingga dia tidak jadi memesan makanan dan memilih untuk memasak sendiri.


Carissa melihat Evan yang sedang fokus merajang sayuran dengan menahan senyum. Suaminya itu terlihat begitu serius. Tapi yang membuat Carissa kagum adalah cara Evan menggunakan pisau yang terlihat begitu piawai. Evan benar-benar terlihat seperti seorang koki profesional yang sedang menyiapkan menu andalannya.


Dengan tanpa mengeluarkan suara, Carissa duduk di salah satu kursi meja makan dan terus mengamati suaminya dengan seksama. Evan sendiri tidak sadar jika dirinya sedang di pandangi. Dia tetap fokus dengan apa yang sedang di lakukannya saat ini.


"Kamu sedang memasak apa?" Tanya Carissa kemudian. Dia tidak bisa menahan diri lebih lama lagi untuk tidak bertanya.


Evan menoleh sekilas sembari tersenyum, lalu kembali fokus pada masakannya.

__ADS_1


"Aku sedang memasak makanan yang banyak nutrisinya." Jawab Evan.


Carissa menautkan kedua alisnya, tampaknya kalimat Evan tadi mempunyai makna lain di telinga Carissa.


Tak lama kemudian, Evan menaruh dua menu di meja makan. Aromanya terlihat sangat enak, hingga membuat perut Carissa langsung terasa keroncongan.


Evan mengambil satu sendok makan, lalu menyendok makanan yang di masaknya tadi dan menyodorkan satu suapan pada Carissa. Carissa menerima suapan itu dengan mata tak lepas menatap wajah Evan.


Sejurus kemudian, mata Carissa tampak melebar saat merasakan masakan Evan yang bahkan lebih enak dari masakan yang di buat Sonya.


"Enak?" Tanya Evan.


Carissa mengangguk dengan mata berbinar.


Evan tersenyum. Lalu di ambilnya lagi satu sendok hasil masakannya tersebut, lalu di arahkannya pada mulutnya sendiri.


Carissa tertegun. Evan makan menggunakan sendok yang sebelumnya telah masuk ke dalam mulut Carissa dengan tanpa ragu.


"Biasanya aku hanya memasak untuk diriku sendiri. Kamu adalah orang pertama yang mencoba masakanku." Ujar Evan.


Carissa tampak surpise mendengarnya.


"Apa Mama dan Papa juga belum pernah?" Tanya Carissa.


Evan menggeleng.


"Seperti kataku tadi. Kamu adalah orang pertama. Bukan hanya yang pertama merasakan masakanku, tapi kamu juga yang pertama merasakan yang lain dari diriku."


Carissa membeliak dengan wajah memerah.


Evan tertawa sambil meraih tubuh Carissa dan mengangkatnya. Lalu di dudukkannya tubuh istrinya itu di atas meja makan, setelah sebelumnya dia menggeser sedikit masakannya tadi.


"Evan!" Carissa protes. Tapi suaminya itu justru kembali menciumi lehernya, lalu turun kearea dada juga.


"Tiba- tiba aku jadi menginginkanmu lagi." Bisik Evan di telinga Carissa.


Bersambung...


Hei, makanannya di abisin dulu...baru sambung lagi😁

__ADS_1


Btw, maafkanlah emak yg suka telat upnya. Ada kesibukan di dunia nyata yang bikin emak suka telat up. Semoga selalu sabar menantišŸ˜…


Happy readingā¤ā¤ā¤


__ADS_2