
Geraldyn mengambil ponsel dari dalam tasnya. Benda itu terus saja berbunyi sedari tadi. Dengan agak kesal akhirnya gadis itu menjawab panggilan di ponselnya.
"Ada waktu? Mari kita bertemu. Ada yang ingin aku bicarakan." Suara Jonathan langsung terdengar dari seberang sana.
Geraldyn menghela nafasnya sejenak.
"Aku sibuk. Masih banyak yang harus aku kerjakan, lain kali saja." Tolak Geraldyn kemudian.
"Tidak bisa lain kali. Kita harus bertemu hari ini." Jonathan bersikeras.
"Tapi aku benar-benar sedang sibuk. Mungkin dini hari nanti baru selesai." Ujar Geraldyn lagi.
"Jam berapapun kamu selesai, tolong datanglah ke tempat kita biasanya bertemu. Aku akan menunggumu di sana." Ujar Jonathan lagi.
Geraldyn menghela nafasnya. Lelaki ini selalu saja suka memaksa kehendaknya pada Geraldyn, dan anehnya akhir-akhir ini Geraldyn selalu saja tak berdaya untuk menolak. Tapi apakah kali ini juga dia harus menuruti kata-kata Jonathan?
"Jangan menungguku. Aku mungkin lelah dan tidak akan datang kesana. Jika ada yang ingin kamu katakan, katakan saja sekarang. Aku memberimu waktu lima menit." Ujar Geraldyn akhirnya. Dia memutuskan untuk menolak Jonathan kali ini.
"Aku tidak bisa mengatakannya lewat telpon, kita harus berbicara secara langsung." Seperti biasa Jonathan pasti tidak akan menerima penolakan dari Geraldyn.
"Kenapa kamu selalu saja melakukan sesuatu semaumu seperti ini..."
"Aku akan menunggumu..." Jonathan menyela sebelum Geraldyn menyelesaikan kata-katanya.
"Sekarang lanjutkan pekerjaanmu. Jika sudah selesai, datanglah kesini." Tambah Jonathan lagi. Sambungan telpon pun terputus.
Geraldyn hanya bisa menatap ponselnya dengan mulut yang agak ternganga. Dengan sedikit kesal dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Memangnya dia siapa? Selalu saja memintaku menuruti semua kemauannya. Tunggu saja di sana sampai tubuhnya ditumbuhi jamur, aku tidak akan pergi menemuinya." Geraldyn bergumam geram pada dirinya sendiri. Dia pun beranjak untuk melanjutkan pekerjaannya dan memutuskan untuk mengabaikan permintaan Jonathan.
Menjelang dini hari, akhirnya tugas Geraldyn pun selesai. Semakin mendekati hari dilaksanakannya konser Carissa, dia memang menjadi semakin sibuk. Alhasil, tak jarang dia harus pulang larut malam seperti ini.
Dengan menaiki taksi, Geraldyn kembali ke kediamannya. Dia langsung membersihkan diri dan mengganti pakaian, lalu merebahkan dirinya ke atas tempat tidur. Geraldyn mencoba untuk memejamkan matanya dan berusaha tidak mengingat permintaan Jonathan tadi.
Tapi anehnya, meski tubuhnya terasa sangat lelah, Geraldyn sama sekali tidak bisa tidur. Berulang kali dia mengubah posisi tidurnya, tapi rasanya tetap saja tidak nyaman.
Setengah jam kemudian, Geraldyn pun menyerah. Dia bangkit dari tempat tidur, lalu mengenakan mantel dan meraih dompet serta ponselnya. Dengan sedikit menggerutu pada dirinya sendiri, Geraldyn kembali keluar dan memesan sebuah taksi online. Gadis itu akhirnya pergi untuk menemui Jonathan.
Setelah sekitar dua puluh menit perjalanan, akhirnya Geraldyn sampai di tempat yang dimaksud Jonathan. Sebuah taman tersembunyi lengkap rumah kecil yang menyerupai pondok. Tempat yang sengaja dibuat Jonathan untuk dirinya beristirahat saat sedang merasa penat. Dan akhir-akhir ini, Jonathan sering mengajak Geraldyn ke tempat ini, atau membuat janji bertemu disini seperti sekarang.
Geraldyn melangkahkan kakinya. Dari kejauhan dia sudah bisa melihat sosok Jonathan yang sedang duduk di tempat duduk mirip gazebo, dengan posisi membelakangi Geraldyn.
"Akhirnya kamu datang." Ujar Jonathan tanpa membalik badannya, tepat saat Geraldyn menghentikan langkahnya di belakang lelaki itu.
__ADS_1
Geraldyn menghela nafasnya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Geraldyn to the point.
Jonathan tak langsung menjawab. Dia membalik badannya, lalu menatap Geraldyn dengan tatapan yang membuat gadis itu menjadi agak bingung.
"Aku tidak pernah mengambil fotomu saat kamu tertidur tanpa menggunakan pakaian." Jonathan akhirnya membuka suara.
"Ya?" Tanya Geraldyn tak mengerti.
"Malam itu, waktu kamu mabuk dan muntah-muntah. Aku memandikanmu dan membuang pakaianmu yang terkena muntahan. Itulah sebabnya kamu terbangun tanpa mengenakan apapun. Tapi aku tidak melakukan apa-apa padamu, termasuk mengambil foto. Foto ataupun rekaman pengakuanmu yang berniat menipuku, semuanya tidak ada. Aku hanya mengarangnya agar kamu tetap berada di sisiku." Ujar Jonathan lagi.
Geraldyn membeku dengan tatapan tak percaya. Dia tampak terkejut dan tak tahu harus nenanggapi pengakuan Jonathan seperti apa.
"Awalnya mungkin aku menganggap kamu menarik dan ingin bermain-main denganmu. Aku ingin menunjukkan padamu jika aku bisa mengendalikanmu dan membuatmu melakukan apa yang aku inginkan. Dengan menggunakan foto dan rekaman suara yang tidak pernah ada itu, aku ingin menyanderamu agar tak berdaya dan tetap bersamaku. Dan sepertinya aku berhasil."
Geraldyn menelan salivanya dengan agak kesusahan. Perasaannya jadi bergemuruh tak menentu.
"Lalu kenapa sekarang kamu memberitahukan ini padaku? Bukankah kamu ingin menyanderaku?" Tanya Geraldyn kemudian dengan suara agak tergetar.
Jonathan terdiam sesaat, lalu kembali memandang kearah Geraldyn.
"Karena aku ingin memberikanmu sebuah pilihan, untuk tetap bersamaku atau pergi meninggalkanku. Aku ingin kamu memilih sesuai dengan keinginanmu sendiri."
"Berhentilah berbelit-belit, Jonathan. Katakan apa maksudmu yang sebenarnya! Kamu ingin mencampakkanku, begitu?!" Nafas Geraldyn sedikit memburu karena menahan ledakan emosi yang tiba-tiba saja bangkit. Tangannya mengepal seakan ingin melayangkan pukulan pada lelaki di hadapannya itu.
Geraldyn tampak membeku dengan mata yang menatap tajam pada Jonathan. Matanya tampak berkaca-kaca. Entah apa yang ada dalam pikiran gadis itu.
"Dasar berengsek..." Kata-kata itulah yang akhirnya keluar dari mulut Geraldyn bersamaan dengan airmata yang jatuh di pipinya. Segera dia menyekanya dengan kasar sembari mendekat pada Jonathan.
"Kamu menyatakan cinta padaku tapi mencampakkanku dengan tanpa beban seperti ini, benar-benar lelaki berengsek yang tidak punya perasaan. Apa ini saja yang bisa kamu lakukan, Jonathan?" Geraldyn mencengkram kerah baju Jonathan dengan kedua tangannya. Matanya tampak nyalang menatap lelaki itu.
"Setelah apa yang kamu lakukan padaku selama beberapa bulan ini, kamu ingin pergi dariku begitu saja? Bisakah kamu tidak menjadi lelaki berengsek sekali saja? Kamu yang selalu menarikku untuk selalu melihat kearahmu, lalu sekarang kamu sendiri yang ingin berpaling? Bisakah kamu sedikit bertanggung jawab? Apakah ini yang kamu lakukan pada perempuan-perempuan sebelumnya? Mempermainkan mereka sesuka hatimu seperti ini?"
Geraldyn mengguncang tubuh Jonathan dengan marah. Matanya terlihat semakin nyalang, tapi di sisi lain juga tampak sendu dan menyimpan kesedihan.
Jonathan menggenggam kedua tangan Geraldyn sambil menatap gadis itu. Senyuman tiba-tiba tersungging di bibirnya, hingga membuat Geraldyn semakin membeliakkan matanya karena geram.
"Apa itu artinya kamu ingin terus bersamaku?" Tanya Jonathan kemudian.
Geraldyn kembali membeku selama beberapa saat.
"Katakan, Geraldyn. Apa kamu juga jatuh cinta padaku?" Tanya Jonathan lagi.
__ADS_1
"A-apa maksudmu?" Geraldyn balik bertanya dengan agak terbata.
"Katakan sejujurnya padaku jika kamu juga merasakan perasaan yang sama sepertiku. Katakan jika kamu ingin tetap bersamaku. Katakan Geraldyn, aku ingin mendengarnya..." Pinta Jonathan.
Geraldyn semakin terkesiap dan tanpa sadar menarik kedua tangannya hingga terlepas dari genggaman Jonathan. Gadis itu segera membalik badannya dengan dada yang tiba-tiba berdebar kencang.
"Aku memintamu datang malam ini, itu karena nanti pagi-pagi sekali aku sudah harus pergi ke bandara."
Geraldyn terkejut dan membalik tubuhnya lagi untuk melihat kearah Jonathan.
"Kakekku memintaku untuk kembali ke Jerman, dan mengatur sebuah pernikahan bisnis untukku. Itulah kenapa aku ingin memperjelas hubungan di antara kita. "
"Apa?" Gumam Geraldyn tanpa sadar dengan wajah yang pias.
"Katakan padaku jika kamu tidak ingin aku menikah dengan orang lain, maka aku akan pergi untuk membereskan semuanya. Tapi jika menurutmu aku lelaki berengsek yang tidak pantas mendampingimu, aku akan pergi untuk menikahi perempuan pilihan Kakekku itu. Dan aku akan memastikan jika kamu tidak akan pernah melihatku lagi seumur hidupmu. Aku berjanji tidak akan mengusikmu lagi." Ujar Jonathan lagi.
Geraldyn terdiam selama beberapa saat dengan tubuh yang agak bergetar.
"Pergilah..." Lirihnya kemudian.
Jonathan memandang Geraldyn tatapan penuh luka, lalu berusaha untuk mengulas sebuah senyuman.
"Jadi itu pilihanmu. Sepertinya di matamu aku benar-benar lelaki berengsek..." Gumamnya kemudian.
"Pergi dan cepatlah kembali, jangan harap kamu bisa menikah dengan perempuan lain. Jika kamu melakukan itu, aku akan mencarimu dan membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri!" Geraldyn berujar lagi dengan lantang.
Jonathan tertegun selama beberapa saat.
"Kamu memang lelaki paling berengsek yang pernah aku temui, Jonathan. Justru itulah aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kamu harus bertanggung jawab seumur hidupmu karena telah mengacaukan hidupku!" Sergah Geraldyn lagi.
Jonathan tersenyum, lalu meraih Geraldyn ke dalam pelukannya. Dia tidak menyangka jika gadis ini juga punya perasaan yang sama terhadapnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup Jonathan, hatinya benar-benar merasa bahagia.
"Tidak bisakah kamu berterus terang saja jika kamu juga mencintaiku?" Gumam Jonathan sambil membelai lembut rambut Geraldyn.
"Siapa yang cinta padamu?" Geraldyn hendak keluar dari pelukan Jonathan, tapi dengan sigap Jonathan menahan tubuh gadis itu agar tetap berada dalam pelukannya.
"Berhentilah keras kepala." Ujar Jonathan sambil mengeratkan pelukannya.
Geraldyn tak menjawab lagi. Diam-diam dia tersenyum sambil membalas pelukan Jonathan. Mereka berdua akhirnya saling berpelukan dengan sangat erat seolah tak ingin saling melepaskan satu sama lain.
'Tunggu aku sebentar lagi, Geraldyn. Aku akan pergi untuk menyingkirkan apapun yang menjadi penghalang bagi hubungan kita. Setelah itu, kita akan bersama selamanya...'
Bersambung...
__ADS_1
Kemaren niatnya mau up satu lagi, tapi tiba2 ada sesuatu yg mesti di kerjakan. Mudah2an hari ini bisa double up.
Happy reading❤❤❤