
Di depan gedung kantornya. Devan keluar dari mobilnya dan langsung melewati sejumlah orang yang memberinya ucapan selamat pagi. Fokus untuk pekerjaanya tanpa peduli lagi dengan apa yang terjadi pada masa depannya. Anak, istri? Sepertinya dia sudah terlalu lelah jika harus berhadapan dengan masalah seperti itu. devan bukannya tidak ingin menghadapi. Tetapi dia juga sadar jika otaknya tidak selalu bisa untuk menahan diri agar dia bisa menyelesaikan masalah itu sendirian.
Apalagi sekarang ini Adelia juga membencinya semenjak kejadian di mana mama mertuanya mengakui jika dirinya adalah anak dari seorang pembunuh adik Devan dulu.
Suara dentingan lift seketika membuat lamunan Devan tersadar ketika dia hendak ke ruangannya. Sudah dua minggu dia tidak mau menerima kabar dari istrinya. Sekalipun Adelia menghubunginya dan mengatakan jika Arsyila ingin bertemu dengan dirinya. Dia mengabaikan itu semua dan memilih untuk tidak peduli lagi mengenai keluarganya. Pasalnya dia sudah merendahkan harga dirinya hanya untuk istri dan juga anaknya. Tapi dia sama sekali tidak dihargai dan justru dicampakkan. Devan tidak pernah egois, tidak pernah ingin jika dia terpisah dari darah dagingnya sendiri. Namun dia sadar kapasitas sabarnya juga bisa berakhir menjadi tidak peduli.
Dia tiba di lantai yang dia tuju. Devan keluar dari lift lalu melangkah menuju ruangannya. Begitu membuka pintu ruangannya, dia mendapatkan begitu banyak berkas yang ada di atas meja. Pekerjaan yang sudah menjadi rutinitasnya setiap hari. Dia sengaja menyibukkan dirinya agar tidak terlalu memikirkan Adelia.
Dia menghela napas panjang begitu mendengar nada dering ponselnya. Melihat nama Adelia terpampang di sana. Devan mencoba menenangkan dirinya.
Dia tidak menjawab satupun telepon dari Adelia. Dia begitu kesal. Dia juga begitu marah ketika waktu itu dia berjuang tapi justru di sia-siakan. Dia mengerti jika memang Adelia tidak pernah tahu mengenai masalah mereka berdua. Tapi Devan sendiri sadar jika dia dan juga orang tua istrinya itu memang memilih untuk tidak memberitahu Adelia dari awal. Tapi inilah akhirnya, Adelia kecewa. Tapi mereka tetap berkomunikasi. Namun ada perasaan lelah juga hadir di dalam dirinya.
Devan keluar untuk membuat kopi sendirian.
Baru saja dia masuk ke dalam dapur, terdengar gosip tidak sedap mengenai istrinya. “Kasihan ya bapak. Selama ini nggak pernah kelihatan tuh istrinya. Apalagi untuk jalan berdua. Aku pernah lihat dia ke rumah mertuanya. Dan juga katanay tinggal terpisah gitu, Boss kita tinggal sendirian. Sedangkan anak dan juga istrinya tinggal dengan orang tuanya. Apa karena mereka menikah si istri Boss ini hamil ya?” kata salah satu karyawannya.
Ya Devan sadar jika gosip mengenai mereka tinggal terpisah itu sudah menyebar dipenjuru kantornya. Devan memang sadar dia dengan Adelia memang tidak pernah menampakkan kemesraannya di depan umum. Dia juga tidak pernah mengajak Adelia ke kantor untuk sekadar memperkenalkan istrinya pada khalayak umum.
“Ekhem,”
Semua yang ada di sana langsung bubar dan tidak tersisa satupun. Tapi dia menghadang salah satu perempuan. “Berhentilah ikut campur tentang hidup orang lain. Ini semua ada alasannya. Apa yang kamu lihat tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Jika kamu hanya tahu saya dan istri saya terpisah. Ya itu memang benar, itu karena saya sedang membuat rumah untuk mereka. Jadi apa salahnya kalau istri saya tinggal di rumah orang tuanya?” kata Devan dia juga kesal jika ada yang membicarakan mengenai rumah tangganya. Bisa-bisanya orang lain lebih tahu mengenai hidupnya sedangkan dia sendiri tidak mengerti dengan alasan mengapa dia yang tidak bisa bahagia dengan istrinya. “Kamu juga bukan karyawan saya, jadi berhentilah untuk ikut campur. Hidupmu saja belum tentu tertata rapi seperti yang terlihat. Barangkali kamu lebih menderita dibandingkan saya. Tidak peduli seberapa hebatnya orang lain komentar mengenai hidup saya. Saya sama sekali tidak peduli. Satu hal lagi, kamu keluar dari tempat ini sekarang juga!”
__ADS_1
Ucap Devan kemudian mundur dan memilih berbalik kembali ke ruangannya.
Begitu dia melewati kubikel yang sudah terisi penuh oleh penghuninya. “Silakan rapat dadakan hari ini, bilang sama yang lainnya!
Terlihat beberapa orang yang sedang berbisik begitu melihat Devan yang sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
“Apa ada masalah?” tanya Gerald selaku manager di sana. Pria itu keluar ketika melihat suasana tegang di antara para karyawan.
“Pak Devan dengar beberapa orang lagi ngegosip waktu lagi mau buat kopi,”
Gerald menghela napas panjang. “Gosip apa?”
“Mengenai rumah tangganya,”
“Ada yang bilang kalau istrinya hamil diluar nikah, Pak,” kata seseorang.
Tidak heran jika ekspresi Devan berubah seperti barusan dan menutup pintu dengan begitu keras. “Hebat banget ya sarapannya pakai gosip. Apalagi di dengar langsung oleh Boss kalian sendirian. Pernah mikir nggak sih gimana perasaan kalian kalau dibilang seperti itu? heran saya kenapa bisa-bisanya kalian ngegosip begitu,”
Devan keluar dari ruangannya. Mereka semua telah berbaris dan mengadakan rapat mendadak seperti sekarang ini. Melihat ekspresi Devan yang sepertinya memang sangat marah dengan kejadian tadi.
“Bereskan barang kalian yang tadi sudah membicarakan saya di dapur! Gerald urus gaji mereka. Lebih baik saya kehilangan orang yang banyak bicara. Apalagi saya paling nggak suka kalau ada orang asing masuk ke sini. Belum lagi kalian dengan begitu bangganya tertawa menceritakan apa yang kalian enggak tahu,” Devan menunjuk lima perempuan dan satu laki-laki yang akan dikeluarkan dari perusahaannya. “Sudah cukup kan untuk ikut campur ke dalam rumah tangga orang lain? Harusnya kalian nggak usah terlalu berisik untuk ngusik hidup orang lain. Di sini kalian bekerja, saya gaji kalian. Dan saya juga dapatkan apa yang kalian kerjakan. Bukan justru buat saya marah hanya karena mulut-mulut kalian nggak bisa dijaga seperti itu!”
__ADS_1
Devan berbalik hendak masuk lagi ke dalam ruangannya. “Sebentar, ini baru peringatan ya. Jika ada yang melakukan hal yang sama lagi. Saya nggak hanya pecat kalian, tapi juga tuntut atas apa yang kalian ucapkan,” ucap Devan yang terlihat benar-benar marah.
Gerald mengerti jika kali ini Devan sangat marah dengan apa yang dilakukan oleh para karyawan yang ditunjuk tadi.
“Jadi seperti yang sudah dikatakan oleh Devan. dia nggak mau lihat kalian lagi. Jadi, ya sudah saya nggak bantuin kalian lagi. Jadi, tolong banget. Berhenti untuk lakukan itu. kalian nggak berhak untuk komentari hidup orang lain,”
Pria itu kemudian menyusul Devan ke ruangannya. Di sana pria itu terlihat sangat kesal karena tersinggung ucapan para karyawannya.
Devan memijit pelipisnya begitu Gerald masuk, “Ada masalah apa sebenarnya?”
“Aku nggak terima mereka itu komentari Adelia yang hamil di luar nikah. Mereka itu nggak berhak judge apa yang mereka nggak tau,”
“Kamu marah karena itu?”
“Bukan hanya itu, aku dengar juga kalau mereka bilang aku nikahi Adelia hanya sebatas tanggung jawab karena nggak tinggal bareng,”
“Mereka aneh-aneh aja sih. Kok sampai sejauh itu komentari hidup kamu,”
“Enggak tahu juga. Aku juga kaget waktu mereka bilang begitu. Adelia nggak pernah urus hidup orang lain. Tapi justru hidup aku dan hidup Adelia selalu menjadi santapan gosip mereka. Lucunya lagi kenapa mereka berani bilang kalau Adelia itu adalah perempuan nggak baik-baik. aku keberatan. Sekalipun aku berantem sama dia, aku nggak pernah berani bilang seperti itu. lagipula dia itu baik banget. Lucunya kenapa orang lain justru merasa lebih tahu mengenai hidup aku dibandingkan dengan orang lain,”
__ADS_1
Devan mengeluhkan tentang apa yang dia dengar di dapur tadi. jujur saja jika dia sangat keberatan ketika Adelia dikatakan sebagai perempuan yang tidak baik. Selama ini Devan menjaga nama baik keluarga besarnya. Justru ada saja manusia yang begitu usil dengan rumah tangganya yang justru merasa jauh lebih tahu tentang kehidupan yang sedang dia jalani selama ini.