
Evan tertegun mendengar kata-kata Carissa barusan. Dia agak meragukan pendengarannya sendiri.
"Membatalkan konser?" Ulang Evan untuk meyakinkan apa yang didengarnya tadi.
Carissa mengangguk dengan masih menundukkan wajahnya.
"Aku akan membatalkan kontrak yang sudah kutandatangani sebelumnya, tapi sesuai dengan yang tertera pada kontrak, aku harus membayar denda yang tidak sedikit. Aku juga harus mengganti dana yang sudah dikeluarkan manajemen untuk mempersiapkan konserku. Belum lagi masalah sponsor..." Carissa tak mampu lagi meneruskan kata-katanya karena tenggorokannya terasa tercekat. Sedangkan Evan hanya menatap kearahnya tanpa bisa berkata-kata.
"Maafkan aku..." Akhirnya Carissa berujar lirih sambil mengangkat wajahnya. Dia memberanikan diri melihat kearah Evan dengan mata yang sendu.
"Saat aku menandatangani kontrak itu, aku kira kita tidak akan pernah kembali bersama. Aku berpikir itu adalah satu-satunya cara untukku bertahan bersama anak yang akan segera aku lahirkan. Aku ingin bermain piano lagi agar bisa memberikan kehidupan yang baik untuk anakku. Aku ingin kembali menjadi seseorang yang punya pijakan agar bisa dijadikan tempat bersandar bagi anak yang aku bawa pergi." Airmata Carissa akhirnya menetes membasahi pipinya.
"Aku memutuskan untuk bermain piano lagi, karena ku pikir aku akan membesarkan anak itu seorang diri. Aku ingin memberikan kehidupan yang layak untuknya agar dia bisa hidup dengan baik, bukan untuk mengabaikannya dan membuatnya jadi seperti ini..."
Evan membeku. Kata-kata Carissa mengingatkannya akan banyak hal. Kembali terbayang di ingatannya saat Carissa pergi demi untuk membuatnya sembuh, lalu berusaha bertahan sendirian dalam keadaan hamil. Dan kontrak untuk kembali bermain piano itulah yang seakan memberi Carissa harapan jika dia bisa bangkit lagi dari keterpurukannya.
Carissa benar, dia kembali untuk bermain piano bukan karena ingin terlihat hebat dan kembali diakui, tapi demi kelangsungan hidup putrinya. Dia bukanlah tipe orang egois yeng mementingkan dirinya sendiri, Evan tahu itu.
"Tapi jika apa yang aku lakukan justru akan melukai putriku, aku tidak perlu melakukannya lagi. Aku tidak perlu meneruskan semua ini. Mungkin untuk sesaat aku terbawa suasana dan ingin merasakan kembali tampil diatas panggung, tapi aku tidak pernah berpikir hal itu sampai membuatku mengabaikan sesuatu yang paling berharga dalam hidupku. Hal apapun tidak akan sebanding jika aku harus mengorbankan Lily. Maafkan aku, Evan. Aku telah membuatmu kecewa. Aku tidak bisa menjaga kepercayaan yang sudah kamu berikan. Aku...bukan ibu yang baik." Airmata Carissa mengalir dengan semakin deras, sederas penyesalannya karena telah lalai terhadap putri semata wayangnya.
Evan menatap Carissa tanpa berkata-kata. Tangannya lalu terulur dan meraih Carissa ke dalam pelukannya. Seperti Carissa yang menyesal dan merasa bersalah, Evan juga merasakan hal yang sama. Entah bagaimana dia bisa menyalahkan Carissa begitu saja, sedangkan dia sendiri juga punya andil atas keadaan mereka saat ini.
Sangat tidak bijaksana rasanya membiarkan Carissa menanggung rasa gagalnya seorang diri, disaat Evan juga telah gagal juga.
__ADS_1
"Aku yang harusnya meminta maaf karena tidak memahami kesulitanmu. Maafkan aku karena sudah marah saat kamu bahkan belum sempat beristirahat. Kata-kataku semalam pasti membuatmu merasa buruk."
Evan mengurai pelukannya, lalu merangkum wajah Carissa hingga istrinya melihat kearahnya.
"Aku pasti terlalu panik sampai tidak bisa berpikir dengan jernih. Bagaimana bisa aku menyalahkanmu seperti ini."
Carissa tak menjawab. Dia hanya menatap wajah Evan lekat tanpa bisa berkata-kata. Ada perasaan lega karena dia bisa melihat tatapan teduh suaminya itu lagi. Sangat sesak rasanya jika teringat dengan tatapan nyalang Evan semalam. Carissa bahkan tak sanggup hanya untuk sekedar mengangkat wajahnya dan memandang wajah Evan.
"Aku sudah mendukungmu sejauh ini untuk kembali menjadi seorang pianis. Bagaimana bisa aku juga yang mendorongmu untuk menyerah. Sepertinya akulah yang buruk disini. Aku menghakimimu begitu saja tanpa mau mendengarkan penjelasanmu." Evan berujar dengan lembut dan penuh penyesalan.
Mata Evan kemudian beralih pada Lily. Putrinya yang sedang terlelap itu kini sudah mulai membaik. Jika hasil tesnya nanti menunjukkan Lily tidak mengidap penyakit apapun, kemungkinan besar besok dia sudah diperbolehkan pulang.
Evan menghembuskan nafas panjang. Bagaimana dia bisa sangat marah semalam. Lily hanya demam. Memangnya bayi mana yang tidak pernah mengalami demam sama sekali? Bukankah sebagai seorang dokter Evan harusnya lebih paham akan hal itu? Bahkan imunisasi dan pertumbuhan gigi saja bisa menyebabkan suhu tubuh tinggi pada bayi dibawah enam bulan seperti Lily. Benar-benar berlebihan jika hal ini membuat Carissa sampai membatalkan konsernya yang telah dinantikan banyak orang, bahkan oleh Mama Evan sendiri.
"Tapi bagaimana kalau jadi lalai lagi? Bagaimana jika akan kembali mengabaikan Lily tanpa sadar seperti sekarang?" Tanya Carissa disela isakannya.
"Aku tidak mau itu terjadi lagi, Evan. Aku tidak mau melakukan sesuatu yang akan mengorbankan putriku sendiri." Carissa semakin tersedu-sedu. Sepertinya kejadian semalam benar-benar menjadi pukulan yang tak main-main untuknya.
"Tidak akan. Kamu tidak akan melakukan hal itu. Harusnya semalam aku sadar jika kamulah orang yang paling mencintai Lily. Maafkan aku. Mulai sekarang aku tidak akan meragukanmu lagi. Seandainya nanti kamu memang kembali lalai, aku akan mengingatkanmu, tapi tidak akan lagi menghakimimu seperti semalam." Ujar Evan bersungguh-sungguh.
Carissa menengadahkan wajahnya dan melihat kearah Evan. Perasaannya kini terasa jauh lebih baik, seakan ada sebuah batu besar yang berhasil diangkat dari hatinya. Bibir Carissa perlahan menipis membentuk sebuah senyuman. Meski samar, setidaknya itu menunjukkan jika kesedihannya sudah berkurang banyak.
"Terima kasih." Gumamnya dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
__ADS_1
"Jangan menangis lagi. Kamu tidak malu kalau Lily sampai melihat kamu menangis seperti ini." Evan berseloroh sambil menyeka airmata Carissa yang nyaris jatuh.
"Maaf, ya, sudah membuatmu sedih seperti ini." Sekali lagi Evan memeluk Carissa dengan erat. Dan kali ini Carissa juga membalas pelukan suaminya itu.
"Setelah makan siang nanti, minta Sesha untuk menggantikanmu menjaga Lily. Cobalah untuk tidur biarpun sebentar. " Ujar Evan lagi. Melihat ada lingkaran hitam yang tampak samar dimata Carissa, Evan sangat yakin jika istrinya itu sama sekali belum memejamkan matanya dari semalam.
"Baiklah." Jawab Carissa lirih.
"Dan kata-kataku semalam, aku harap kamu tidak memasukkannya ke dalam hati, oke?"
Carissa mengangguk dalam pelukan Evan.
"Oke." Gumamnya.
Evan tersenyum, lalu mencium kening Carissa lembut.
Sementara itu, dibalik pintu ruang perawatan Lily, tampak Sesha sedang menunggu untuk bisa masuk. Sebenarnya pengasuh Lily itu sudah kembali dari membeli makanan sejak tadi. Tapi karena Evan dan Carissa tampaknya butuh ruang untuk berbicara, Sesha pun memilih untuk tidak masuk sebelum pasangan itu menyelesaikan pembicaraan mereka.
Evan dan Carissa tampaknya memang masih harus lebih banyak belajar untuk saling memahami.
Bersambung...
Evan dan Carissa mengingatkan emak sama suami. Kita kalo berantem ga pernah lama apalagi sampai berhari-hari. Abis sama2 nyolot, terus saling mengeluarkan unek2, eh ga lama udah damai lagi, pelukan kayak teletabis😂😂😂
__ADS_1
Happy reading❤❤❤