WITH YOU

WITH YOU
Berjanji


__ADS_3

Pukul setengah enam pagi. Devan bangun terlebih dahulu, ketika dia melihat raut wajah tenang yang masih terlelap disampingnya dengan deru napas yang teratur. Raut wajah yang begitu tenang ketika sedang terlelap. Mengingat percakapan semalam mengenai Adelia yang sangat ingin pergi ke rumah orang tuanya masih menjadi beban pikiran bagi Devan. pasalnya dia tidak mau sampai orang tua istrinya tahu mengenai dirinya yang merupakan anak dari pria masa lalu mama mertuanya.


Devan sekilas menyeka rambut yang ada dipipi wajahnya itu. Ketika ia bangun dari tempat tidurnya, Devan langsung meraih handuk dan segera merapikan pakaian yang berserakan dilantai karena percintaan panas mereka semalam.


Setelah ia mandi dan bersiap-siap. Devan menyiapkan sarapan untuk istrinya. Dia memang terbiasa melakukan hal itu, tidak selalu menunggu istrinya melakukan semuanya sendirian. Kadang mereka membagi tugas rumah. Kadang juga Sabina yang menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga, sadar kali ini adiknya sedang tidak di rumah.


Tengah malam, Devan sempat bengong karena memikirkan permintaan Adelia yang sangat ingin pulang dan meminta Devan meminta maaf ke rumah mertuanya agar mereka diberikan izin untuk ke sana lagi. Tapi, ia sadar diri bahwa itu adalah bukan hal yang sangat mudah. Apalagi kejadian itu pernah membuat mama mertuanya kehilangan sangat dalam seperti pembicaraan yang dia dengar dari papa dan juga tantenya ketika bertengkar hari itu.


Ia menarik napas pelan dan mengembuskannya kasar setelah dia selesai menyiapkan sarapan. Dia kembali ke kamar untuk memangunkan Adelia karena mereka hari ini akan pergi ke rumah tantenya. Devan memang sangat pandai untuk menyembunyikan tentang istrinya dihadapan orang tua. Dibantu oleh tante Shita yang masih bisa merahasiakan itu semua membuat Devan bersyukur.


Ketika dia masuk ke dalam kamar, dia membuka gorden. Jam sudah menunjukkan pukul enam kurang delapan menit. Devan langsung duduk dipinggir ranjang dan mengelus pipi istrinya kemudian menciumnya. “Sayang, bangun yuk! Kita kan mau ke rumah tante,” ucapnya mengingatkan istrinya.


Adelia menggeliat, “Bentar lagi, lima menit aja,”


“Udah ah lima menit kamu bisa satu jam tahu,”


Perlahan Adelia berbalik dan membuka matanya, “Aku belum siapin sarapan,”


“Aku udah siapin sayang,”


Devan yang merendahkan tubuhnya sedari tadi agar lebih dekat dengan Adelia. Sementara itu Adelia langsung memegang kedua pipi Devan dan langsung dicium oleh Adelia. “Makasih ya,”


Beruntungnya Devan memiliki istri yang penyabar seperti Adelia. Tidak pernah memarahinya jika melakukan kecerobohan. Kecuali jika Devan mabuk lagi, barulah Adelia akan sangat marah. Apalagi dia paling tidak suka karena kejadian itu pernah begitu buruk di masa lalu mereka berdua. Hingga pada akhirnya Devan juga menyadari bahwa mabuk itu tidak ada gunanya dan hanya akan membuat istrinya bersedih.


“Devan, ini jam berapa?”


“Bentar lagi jam enam,”


Devan masih menyangga tubuhnya dengan sikunya dan mencium kening Adelia. Tiba-tiba tangan kanannya langsung meraba kearah perut Adelia. “Sayangnya Papa baik-baik aja?” tanya Devan yang membuat Adelia tersenyum.


“Dia baik-baik aja,”


“Makasih sayang,”


“Makasih untuk?”


“Kamu jaga dia dengan baik,”


Adelia tersenyum kemudian menarik Devan dan memeluknya, “Sayang kamu,”


Devan tersenyum ketika istrinya mengatakan hal itu. Siapa sangka Adelia yang malu-malu, Adelia yang tak pernah sekadar mengungkapkan kata itu. Tapi kali ini dia mendengarnya langsung dari mulut istrinya. “Hmmm, kalau sayang cium dong!”


“Maunya yang mana?”


Devan memejamkan matanya ketika Adelia langsung mencium pipinya berkali-kali sebelum dia memberitahu mana yang akan dicium. Kemudian dia langsung melepaskan tangan istrinya dan mencium kening Adelia. “Dia nggak buat kamu ribet?”


“Nggak, justru aku ngerasa senang aja kalau dia ada di sini,” jawab Adelia yang meletakkan tangannya diatas tangan Devan yang sedari tadi mengelus perutnya. “Devan, aku takut,”


“Takut kenapa?”

__ADS_1


Adelia menggigit bibir bawahnya, “Melahirkan,”


Devan menarik hidung istrinya, “Nggak usah mikir aneh-aneh, aku nggak suka. Lagian kita bakalan bareng kan nanti. Aku nemenin kamu lahiran,”


“Janji ya!”


“Adel, aku bakalan sambut anak pertama kita. Nggak mungkin dong aku cuek sama anak kita dan biarin kamu berjuang sendirian,”


“Siapa tahu,” jawab Adelia.


“Udah nggak usah berpikir begitu lagi, sayang!”


Adelia kemudian memilih untuk bangun dan sekarang dalam posisi duduk sambil bersandar di sandaran ranjang dan menutup dadanya. “Devan, dada aku rasanya tambah besar,”


Devan ingin tertawa. Tapi dia masih menahannya, bagaimana dia tidak tertawa ketika mendengar Adelia dengan polosnya mengatakan hal itu kepadanya. “Devan kamu kenapa ketawa sih?” saat dia tidak bisa lagi menahannya, sedari tadi dia berusaha untuk tidak tertawa. Tapi dia tertawa begitu Adelia membuka selimut itu dan menampakkan dadanya.


“Udah besar sekarang ya,” balas Devan yang langsung memegang dan meremasnya.


“Devan tangannya mulai deh,”


“Kenapa?”


“Kamu tahu kan sebagian besar perempuan hamil nafsunya kadang meningkat,”


“Hmmm, terus?” tanya Devan yang ikut bersandar.


Dia langsung menoleh kearah Adelia. “Kamu serius?”


“Iya, makanya kadang aku marah kalau kamu sering pegang dada,”


“Yang semalam waktu kamu yang mulai, itu juga alasannya?”


“Nggak tuh, karena kamunya aja yang ngambekkan. Makanya aku mulai duluan deh,”


“Sekarang mau lagi,”


“Tapi nanti malam nggak boleh ya!”


Devan tersenyum, “Iyalah, gimana kita bisa lakuin kalau di rumah tante,”


Devan sudah menahan hasratnya sejak dini hari ketika dia terbangun dan memikirkan kejadian di mana Adelia menginginkan untuk pulang. “Devan,” desah Adelia ketika dia mulai menyentuh area sensitive itu. Jujur saja Devan juga jauh lebih suka dengan Adelia yang sekarang ini bahkan berani menggodanya untuk mendapat kepuasan. Tapi bagaimanapun juga Devan masih tetap berhati-hati untuk melakukannya karena janin yang dikandungan istrinya.


“Adel, aku serius lho mau kamu,”


“Nggak apa-apa,” ucap Adelia ketika itu. Kemudian Adelia membuka kaos Devan hingga dia membiarkan istrinya melakukan hal itu. Lagipula hari ini sangat mendung dan terdengar gemercik hujan.


“Devan, tutup gordennya!” kemudian Devan langsung beranjak dari ranjangnya dan langsung menutup gorden lalu kembali lagi.


Devan langsung membuka celananya dan naik keatas ranjang. “Adel, aku serius mau lakuinnya,”

__ADS_1


“Aku juga serius, Devan,”


Sadar jika memang dia sangat jarang untuk menyentuh istrinya. Dia hanya akan menyentuh jika dia sudah benar-benar tidak tahan dengan istrinya. Apalagi sekarang ini sudah dua kali Adelia mengajaknya untuk bercinta dan memberikannya ruang untuk melakukannya dengan senang hati.


Devan benar-benar akan melakukannya lagi seperti semalam. Apalagi ketika melihat senyuman Adelia yang begitu manis menyambutnya pagi itu. Sekalipun dia sudah mandi. Akan tetapi Devan tidak ingin menyia-nyiakan semuanya dan kemudian mendekati istri tercintanya.


Ketika dia memulai percintaan, hujan turun dan suaranya begitu riuh. Suara desahan Adelia juga terdengar begitu menggoda pagi itu. Untuk pertama kalinya mereka bercinta pagi hari dalam keadaan seperti ini.


Apalagi ketika dia menempatkan Adelia diatas. Dia dengan leluasa bisa mencium leher istrinya dan juga mendengar desahan Adelia.


Devan langsung memindahkan Adelia dan menindihnya.


Desahan Adelia semakin tak tertahankan hingga akhirnya Devan selesai dengan aktivitasnya dan dia langsung memeluk Adelia begitu dia selesai karena melihat Adelia sudah kelelahan. “Maaf ya,”


Adelia tersenyum kemudian memegang pipi Devan. “Nggak apa-apa,”


“Adel, apapun yang terjadi kamu harus tetap sama aku ya!” pinta Devan.


“Asal kamu mau berjuang sama aku, Devan. maka, apapun yang kamu minta bakalan aku lakukan. Lihat! Demi kamu, aku ninggalin orang tua juga, kan?”


Devan menyeka keringat didahi Adelia. Seketika dia melihat kearah perut Adelia. “Papa bakalan tetap sama Mama,” ucapnya ketika dia mengelus perut istrinya.


“Ingat ya, jarang-jarang!” perintah Adelia.


“Iya, toh juga nanti bakalan ada yang gangguin. Makanya nggak bisa bercinta,”


“Devan, ih omongannya,”


“Nggak ada yang dengar,” bantah Devan.


“Devan, mengenai ucapan aku semalam. Kamu udah pikirin?”


Dengan perasaan yang kacau karena tidak bisa menemukan jalan keluar. takut jika mertuanya tahu, tapi apa yang bisa dia lakukan setiap kali Adelia membahas. “Aku bakalan usahakan, Adelia. Tapi kamu yang sabar aja dulu!”


“Sampai kapan?” tanya Adelia lirih.


“Kamu marah?”


Adelia menggeleng, “Nggak, aku pengin ketemu Mama sama Papa. Cuman itu, kamu kan sering ketemu sama orang tua kamu juga,”


 


 


“Aku janji, minggu depan bakalan antarin kamu pulang,” ucapnya. Dia tidak tega melihat raut wajah istrinya yang sendu seperti sekarang ini. Jadi, bagaimanapun juga dia harus menuruti keinginan istrinya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2