WITH YOU

WITH YOU
Kepergian Arga


__ADS_3

Evan bergeming. Dengan sorot mata yang sulit di lukiskan, dia masih menatap Arga yang terlihat kesulitan bernafas.


Carissa dan Alya sontak terkejut saat melihat Arga memegangi dadanya. Sepertinya Arga syok mendengar pengakuan Evan dan terjadi sesuatu lagi dengan jantungnya.


"Papa! Papa!" Carissa berhambur kearah Arga dengan panik.


Alya juga langsung mendekati suaminya itu dengan sama paniknya.


"Sayang? Dada kamu kenapa? Apa sakit lagi?" Tanya Alya.


Arga tak menjawab. Mulutnya tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa dia ucapkan.


Melihat hal itu, Carissa dan Alya semakin panik. Apalagi sesaat setelahnya, Arga mulai


kejang-kejang dan kembali kehilangan kesadarannya. Alat medis yang terhubung dengan alat yang melekat di dadanya pun mengeluarkan suara hingga Alya tampak mulai ketakutan.


"Arga! Jangan menakutiku!" Tangis Alya pecah lagi. Tubuhnya gemetar dan perasaannya berkecamuk tak karuan.


Carissa pun bangkit dan langsung memanggil dokter melalui interkom.


Tak lama kemudian, seorang dokter dan beberapa orang perawat datang dan memberikan pertolongan pada Arga.


"Dokter, detak jantung pasien melemah. Saya juga tidak bisa merasakan denyut nadinya." Ujar salah seorang perawat.


Dokter itu langsung memberikan kompresi pada jantung Arga sembari memeriksa respon yang di berikan oleh tubuh Arga. Di rasa tak berhasil, dokter tersebut kembali berusaha mengembalikan detak jantung Arga dengan menggunakan defibrillator.


Arga mendapatkan tindakan DC Shock, tapi jantungnya tak merespon. Hingga beberapa kali arus listrik di hantarkan ke otot jantungnya, lelaki itu tetap tak memberikan respon juga.

__ADS_1


Sampai pada akhirnya, beberapa saat setelah tindakan medis yang di lakukan dokter dan perawat tadi,


Biiiiipp.....


Monitor yang memantau detak jantung Arga menampilkan gambar garis horizontal, menandakan jika jantung Arga benar-benar telah berhenti berdetak.


Semua orang di ruangan itu terkesiap. Untuk sesaat suasana hening dengan atmosfer yang begitu dingin.


"Waktu kematian pukul 18.46 WIB." Suara salah satu perawat memecah keheningan.


Alat bantu yang melekat pada tubuh Arga di lepas oleh perawat yang satunya. Lalu di tariknya juga selimut Arga hingga sampai menutupi kepala. Hal yang biasanya di lakukan jika seorang pasien sudah tidak bernyawa lagi.


Sontak Carissa dan Alya terhenyak dan menatap dokter yang melakukan pertolongan pada Arga tadi, seolah sedang meminta penjelasan.


"Maaf, Nyonya. Kamu sudah berusaha. Tapi kali ini Tuan Arga tidak bisa lagi di selamatkan. Beliau telah tiada." Ujar dokter itu dengan wajah menyesal.


"Kenapa kamu selalu membohongiku, Arga? Kenapa kamu mengingkari janjimu? kamu bilang tidak akan meninggalkanku...." Alya terisak-isak.


"Arga...Kenapa kamu meninggalkanku seperti ini?" Tangis Alya terdengar begitu menyayat hati. Terlihat dia begitu terpukul dengan kepergian suaminya itu.


Carissa tak kalah sedih. Dia melangkah mendekati tubuh Arga yang kini tertutup selimut. Tangan Carissa terulur membuka selimut yang menutupi wajah papanya itu. Di pandangnya wajah Arga dengan beruraian air mata.


"Papa..." Airmata Carissa semakin deras mengalir. Dia masih tak percaya jika kini Arga telah pergi. Papanya yang selalu menyayanginya ini kini telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.


"Papa...hiks..hiks..." Carissa tak bisa lagi menahan isakannya. Dia tersedu sembari menelungkupkan wajahnya di sisi tubuh Arga yang telah tak bernyawa. Carissa berharap jika saat ini dirinya tengah bermimpi. Tapi dia harus menerima kenyataan jika sekarang dia sedang terjaga, dan semua yang terjadi ini bukan di dalam mimpinya. Ini nyata!


"Papa?" Suara Clara tiba-tiba terdengar. Tampak Kakak Carissa itu berdiri di ambang pintu bersama suaminya dan terkejut melihat pemandangan dramatis di hadapannya sekarang. Mamanya terlihat sedang bersimpuh di lantai sembari menangis, sedangkan Carissa tampak tersedu-sedu di sisi Arga terbaring.

__ADS_1


Segera Clara mendekati brangkar Arga dan melihat wajah Arga yang terpejam dengan sedih dan penuh tanda tanya.


"Pa...bangun, Pa..." Clara yang menyadari jika Arga telah tiada pun ikut menangis. Di peluknya tubuh Arga yang mulai dingin. Clara tersedu sambil terus memeluk Papanya itu seakan tidak ingin melepasnya lagi. Setelah ini tidak akan ada lagi sosok Arga, Papa yang penyayang untuk Clara dan Carissa.


Sementara itu, Evan yang sedari tadi menyaksikan semua itu masih mematung dengan perasaan yang sulit di jabarkan. Beberapa waktu lalu hatinya benar-benar hancur mendapati kenyataan jika malaikat penyelamat sekaligus ayah mertuanya ternyata adalah orang yang menyebabkan kematian kedua orang tuanya. Tapi di detik berikutnya orang itu justru menghembuskan nafas terakhirnya tanpa memberi Evan kesempatan untuk meluapkan amarahnya terlebih dahulu.


Evan mengepalkan tangannya. Arga terlalu curang dan pengecut. Bagaimana bisa dia pergi begitu saja meninggalkan anak dan istrinya sebelum dia mendapatkan hukuman dari kejahatan yang di lakukannya. Evan yang tak tahu harus bersikap apa hingga dia hanya bisa mematung. Tiba-tiba dia hatinya hampa dan tak bisa merasakan apa-apa.


"Mama, jangan seperti ini, Ma. Ikhlaskan Papa. Mungkin ini yang terbaik buat Papa. Sekarang Papa sudah tidak merasakan sakit lagi." Dave, suami Clara membantu Alya bangkit dan membimbing ibu mertuanya itu untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Dave menenangkan Alya, kemudian memberikan segelas air agar Alya merasa lebih tenang.


Alya pun menenggak air yang di sodorkan Dave dan merasa jauh lebih baik. Airmatanya masih mengalir, tapi kini dia terlihat sudah lebih bisa mengendalikan dirinya.


Melihat ibu mertuanya jauh lebih tenang, kini giliran istrinya yang ia tenangkan. Dave mendekati Clara, lalu memeluknya lembut, hingga Clara bebas menumpahkan kesedihannya dalam pelukan suaminya itu. Clara menangis sejadi-jadi sembari membalas pelukan Dave dengan erat.


Pemandangan itu berbanding terbalik dengan pasangan yang satunya. Evan terlihat tidak tertarik untuk menenangkan Carissa. Dia menghela nafasnya sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan ruangan itu. Tak di hiraukannya Carissa yang masih tersedu-sedu di sisi jasad Arga.


Carissa melihat kepergian Evan dari sudut matanya. Kesedihan karena kehilangan sang Papa bertambah kala melihat Evan yang memilih pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun padanya. Entah bagaimana nasib pernikahannya setelah ini, Carissa sungguh tidak tahu dan tidak sanggup membayangkannya. Kini Carissa telah kehilangan sang papa, tentu dia tidak ingin kehilangan suaminya juga. Dan melihat sikap Evan tadi, agaknya situasi ini cukup sulit untuk Carissa nantinya.


Bagaimana pun, Arga adalah orang yang menyebabkan kedua orang tua Evan meninggal dan membuat Evan tak punya siapa-siapa. Jadi wajar jika Evan saat ini Evan bersikap seperti itu.


Carissa hanya berharap Evan masih berbesar hati dan tetap menerimanya sebagai istri.


Bersambung...


Sory gaess telat. Seperti biasa, ada tugas negara harus emak tunaikan😌


Happy readingā¤ā¤ā¤

__ADS_1


__ADS_2