
Carissa dan Evan kembali ke apartemen dengan menggunakan taksi. Sepanjang perjalanan tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Carissa. Wajahnya masih terlihat kesal, dan tampaknya pikirannya juga sedang berkelana entah kemana.
Evan yang sedari tadi memperhatikan Carissa mulai merasa khawatir. Dieratkannya genggaman tangannya hingga Carissa pun merespon dengan menoleh kearahnya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Evan.
Carissa menghela nafasnya.
"Tidak ada." Jawabnya lirih.
Evan memandangi wajah Carissa sembari menautkan kedua alisnya.
"Kamu terlihat sangat kesal, bagaimana mungkin tidak sedang memikirkan apa-apa." Ujar Evan lagi.
Carissa terdiam beberapa saat.
"Benar, aku merasa sangat kesal. Bagaimana mungkin disana bisa ada Jonathan? Dia bahkan pergi bersama Geraldyn. Sejak kapan mereka menjadi dekat? Apa mungkin sekarang mereka sedang merencanakan sesuatu di belakangku? Aku benar-benar kesal memikirkannya." Jawab Carissa akhirnya.
Evan tertegun sejenak. Tebakannya ternyata sedikit meleset.
"Aku pikir kamu kesal karena sikap Aaron tadi." Gumam Evan.
Carissa menoleh kearah Evan sekilas.
"Aaron memang menyebalkan sejak lama, aku sudah terbiasa. Apalagi sekarang dia sudah punya istri dan cinta mati dengan istrinya itu. Dunia ini seakan milik mereka berdua saja. Dia bahkan bisa lebih menyebalkan dari yang tadi. Tapi itu tidak begitu berpengaruh buatku. Yang sangat menggangguku adalah kemunculan Jonathan sebagai salah satu sponsorku, lalu sekarang dia juga terlihat dekat dengan Geraldyn. Aku sedikit khawatir dengan apa yang akan Jonathan lakukan."
Evan kembali tertegun. Kemudian dia menghela nafas panjang sebelum akhirnya kembali membuka suaranya.
"Itulah sebabnya aku ingin segera membawamu kembali pulang. Aku tahu dia muncul dan punya gelagat ingin mendekatimu lagi." Ujar Evan menanggapi.
Carissa menautkan kedua alisnya.
"Aku melihatnya waktu itu, saat kamu tampil untuk pertama kalinya di pesta perusahaan Jonathan.
Carissa membeliak dengan mata yang masih menatap Evan lekat.
"Kamu juga ada di pesta itu?" Tanya Carissa.
Evan mengangguk.
"Aku melihat bagaimana Jonathan membuatmu begitu tidak nyaman, lalu Geraldyn, manajermu itu datang membantumu. Aku mengurungkan niatku untuk menemuimu di sana, lalu memutuskan untuk menunggu di apartemenmu saja."
Carissa terdiam selama beberapa saat. Dia tak menyangka jika ternyata Evan ikut menyaksikan penampilan perdananya waktu itu, lalu melihat Jonathan menghampirinya juga. Apakah waktu itu Evan marah?
"Ah, iya, aku merasa penasaran tapi selalu lupa untuk menanyakannya, bagaimana caranya kamu bisa masuk waktu itu. Apa aku tidak menutup rapat pintu apartemenku hingga tidak terkunci?" Tanya Carissa berusaha mengalihkan pembicaraan tentang Jonathan.
Evan menatap Carissa sambil tersenyum.
"Bukankah passwoardnya sama dengan passwoard apartemen kita di Singapura?"
__ADS_1
Carissa terdiam beberapa saat, lalu berpaling kearah lain.
"Benar juga, itu terlalu mudah ditebak, bagaimana mungkin kamu tidak mengetahuinya." Gumam Carissa.
Evan kembali tersenyum dan meraih Carissa ke dalam pelukannya.
"Orang lain tidak akan bisa menebaknya dengan mudah, tapi tidak denganku, karena aku adalah suamimu." Ujar Evan sambil mencium kening Carissa.
Carissa tersenyum dalam pelukan Evan. Tanpa sadar rasa kesalnya tadi pergi entah kemana. Dibalasnya pelukan Evan dengan erat, hingga akhirnya mereka terus saling memeluk selama sisa perjalanan.
Tak lama kemudian, mereka sampai di aparteman Carissa. Evan langsung berganti pakaian dengan piama, begitu pula dengan Carissa. Istri Evan itu langsung mengenakan gaun tidurnya, lalu menghapus make up yang dia kenakan menggunakan cairan pembersih khusus.
Setelah menggosok gigi, keduanya langsung merebahkan diri di tempat tidur. Tampaknya Evan dan Carissa sama-sama merasa lelah. Namun tepat saat Evan akan memejamkan matanya, tiba-tiba Carissa berbalik kearahnya.
"Ada apa dengan panggilanmu tadi saat di ruang karaoke keluarga Brylee?" Tanya Carissa.
Mau tidak mau Evan mengurungkan niatnya untuk langsung tidur. Dihadapkan tubuhnya pada istrinya itu hingga mereka kini saling berhadap-hadapan.
"Panggilan yang mana?" Tanya Evan.
Carissa berdecak.
"Yang tadi, saat kamu berusaha menenangkanku." Ujar Carissa lagi.
"Sayang?" Evan bukan mengulangi panggilan itu, melainkan sedang bertanya pada Carissa.
Carissa tertegun untuk beberapa saat.
Evan tersenyum, lalu membelai kepala Carissa lembut.
"Sayang...apa kamu suka mendengarnya?" Tanya Evan.
Carissa kembali tertegun dan tidak menjawab apa-apa.
"Apa kamu memanggilku seperti itu karena di sana tadi ada Jonathan?" Tanya Carissa.
Mau tidak mau Evan mengangguk. Sebenarnya rasa cemburu dan ingin melindungi Carissa tadi memang mendorongnya memanggil Carissa dengan mesra. Evan ingin menunjukkan pada lelaki itu jika Carissa adalah istrinya, dan tidak akan bisa diusik oleh lelaki manapun.
"Kalau begitu, haruskah kita sering-sering bertemu dengan Jonathan supaya kamu sering memanggilku seperti itu?" Tanya Carissa sekali lagi.
Evan tertawa sambil kembali merengkuh tubuh Carissa kedalam pelukannya. Dikecupnya berkali-kali kening istrinya itu.
"Aku berharap kedepannya kamu tidak perlu bertemu dengan Jonathan lagi, meskipun sudah dipastikan jika kamu tidak menyukai lelaki itu, tapi jika mengingat dulu kamu hampir bertunangan dengannya, tetap saja aku merasa cemburu."
Evan mengurai pelukannya dan menatap Carissa dalam.
"Jika kamu suka, mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan panggilan itu." Ujar Evan lagi.
"Panggilan apa?" Tanya Carissa pura-pura tidak mengerti.
__ADS_1
"Sayang." Evan mengecup bibir Carissa, lalu memagutnya lembut.
"Sekarang kantukku sudah hilang, dan aku jadi menginginkanmu. Kamu harus bertanggung jawab, Sayang." Gumam Evan di sela pagutan bibirnya.
Carissa menahan tubuh Evan dan terkikik geli.
Evan menggenggam kedua tangan Carissa yang menahan tubuhnya, lalu memagut bibir istrinya itu lagi.
"Kenapa kamu tertawa, bukankah kamu suka mendengarnya. Mulai sekarang kamu juga harus memanggilku seperti itu." Ujar Evan lagi.
Evan kembali menjejajahi bibir Carissa dengan penuh gairah, lalu turun merambah ke leher jenjang Carissa juga.
"Katakan, Sayang. Aku juga ingin mendengarnya." Pinta Evan disela cumbuannya.
"Mendengar apa?" Carissa kembali pura-pura tidak mengerti.
Evan merasa gemas, lalu menggigit pelan leher Carissa.
"Auww!!!" Carissa terpekik. Bukan karena merasa sakit, melainkan karena terkejut.
"Evan, sejak kapan kamu berubah jadi vampir?" Sergah Carissa.
Evan semakin gemas, lalu kembali membuat gigitan-gigitan kecil di leher Carissa.
Carissa kembali terpekik, lalu terkikik geli.
"Hentikan, Evan, hentikan. Geli." Pinta Carissa di sela tawanya.
Evan seakan tak mendengarkan. Dia terus saja melakukan hal yang sama, bahkan merambah titik-titik sensitif lain di tubuh Carissa.
Carissa terlihat mulai lemas karena terus tertawa sambil menahan geli.
"Sayang, hentikan..." Pinta Carissa akhirnya.
Evan menghentikan apa yang dia lakukan tadi, lalu mencium kening Carissa yang mulai berpeluh.
"Kenapa kamu bandel sekali, bukankah tidak sulit mengatakannya?" Tanya Evan sambil memeluk Carissa lagi.
Carissa tak menjawab dan masih terengah-engah dalam pelukan Evan.
"Mulai sekarang kita tidak boleh saling memanggil nama lagi, oke?"
Carissa mengurai pelukan Evan, lalu memandang suaminya itu sambil tersenyum.
"Oke. Apapun yang kamu inginkan." Jawabnya sambil berganti mencium Evan.
Tak lama kemudian, keduanya pun larut ke dalam ciuman panas yang akhirnya mengantarkan mereka pada sebuah permainan. Tentu saja permainan yang akhir-akhir ini sering mereka lakukan.
Bersambung...
__ADS_1
Tetep like, komen dan vote
Happy reading❤❤❤