
Tiga Bulan Kemudian.
Evan turun dari mobil bersama dengan Sesha yang sedang menggendong Lily, lalu diikuti juga oleh Alya, ibu mertuanya. Dari mobil yang berbeda tampak Sonya dan Zacky juga turun dan mendekat kearah Evan.
"Langsung masuk saja, nanti akan ada yang mengantarkan ke kursi penonton." Ujar Evan pada kedua orang tua dan mertuanya.
"Aku akan menemui Carissa sebentar, baru menyusul ke sana." Tambah Evan lagi.
Ya. Saat ini mereka semua datang ke sebuah gedung megah tempat diadakannya konser piano Carissa. Setelah melewati berbagai rintangan serta perjuangan yang tak mudah, akhirnya hari yang menjadi titik balik bagi karir Carissa pun tiba. Hari ini, tepatnya sekitar tiga puluh menit lagi konser kembalinya sang pianis akan diadakan. Semua penggemar Carissa yang telah menantikan penampilannya diatas panggung sudah duduk di kursi mereka masing-masing. Tak hanya dari dalam negeri, tapi banyak juga yang jauh-jauh datang dari luar negeri hanya demi untuk menyaksikan kembali dentingan piano yang dimainkan jari-jari Carissa.
Hari ini, Carissa akan kembali menjadi seorang dewi di atas panggung dengan permainan pianonya.
Kedua orang tua Evan, Alya dan Sesha yang menggendong Lily pun langsung melewati pintu masuk khusus yang hanya di peruntukkan untuk tamu VVIP saja. Setelah itu mereka langsung disambut seseorang yang kemudian mengantarkan mereka untuk duduk di tempat duduk penonton yang diperuntukkan bagi tamu-tamu istimewa, salah satunya keluarga dari Carissa sendiri. Mereka akan menyaksikan pertunjukan Carissa dari tempat yang paling strategis.
Sementara itu, Evan melangkah menuju ruangan tempat Carissa sedang mempersiapkan diri. Dia ingin menemui Carissa sebelum istrinya itu memulai pertunjuknya.
Belum sampai ke ruang tunggu Carissa, langkah Evan terhenti saat melihat sebuah poster yang terpajang di salah satu sudut gedung. Poster yang memperlihatkan wajah cantik istrinya saat perempuan itu sedang duduk di belakang sebuah piano. Dan tampak pula tulisan 'My World...My Life...My Inspiration...' pada poster tersebut.
Evan tersenyum dengan bangga. Dia telah dapat melihat jika istrinya ini akan bersinar sekali lagi, seperti saat mendapatkan penghargaannya dulu.
"Young, beautiful and talented. She really is the perfect girl." Terdengar seseorang berbicara pada Evan.
Evan menoleh. Tampak di sampingnya seorang lelaki bule sedang berdiri sambil melihat kearah poster Carissa juga. Samar Evan mengingat lelaki ini. Tampaknya dia adalah salah satu investor dari luar negeri yang ikut mengucurkan dana untuk konser Carissa. Evan juga mendengar jika lelaki ini adalah salah satu penggemar Carissa sejak dulu.
Evan tersenyum pada lelaki itu.
"You are right, Sir. She is perfect, and she is my wife." Jawab Evan sebelum akhirnya berlalu dari lelaki itu.
Sempat Evan lihat raut wajah lelaki itu yang agak sedikit berubah. Entah apa yang ada di benaknya, meskipun sudah pasti jika dia tahu Carissa sudah menikah, tapi dia mungkin tidak menyangka akan bertemu langsung dengan sosok suami Carissa, bahkan memuji istri Evsn itu dengan gamblang.
Evan terus melangkah dan tak terlalu mempedulikannya. Baginya lelaki itu tak lebih dari salah satu penggemar Carissa, seperti Mamanya.
Tak lama kemudian, Evan sampai di ruangan tempat Carissa bersiap. Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam sana, tapi Evan adalah salah satu orang yang mempunyai akses tersebut.
Saat Evan masuk, dia melihat Carissa telah siap untuk tampil. Istrinya itu terlihat sangat cantik dan memukau. Terlihat pula Geraldyn dan seseorang yang tampak seperti seorang mentor sedang mengarahkan Carissa. Carissa mendengarkan semua arahan dengan serius dan mengangguk paham.
"Evan." Carissa akhirnya menyadari kehadiran Evan dan mendekati suaminya itu.
"Bagaimana, kamu sudah siap?" Tanya Evan.
__ADS_1
"Ah, iya. Tidak ada masalah." Jawab Carissa.
"Aku hanya sedikit gugup. Bagaimana pun, sudah hampir tiga tahun aku tidak tampil di atas panggung sebesar ini." Tambah Carissa lagi.
Evan mendekat, lalu memberikan pelukan pada istrinya itu.
"Kamu pasti bisa. Kamu akan lebih hebat dari sebelumnya." Bisik Evan di telinga Carissa.
Carissa tersenyum.
"Ya. Karena kamu sudah bilang seperti itu, sekarang aku sudah merasa jauh lebih baik." Gumam Carissa sambil membalas pelukan Evan.
"Lakukanlah yang terbaik, kali ini putrimu juga menyaksikan pertunjukanmu." Ujar Evan lagi.
Carissa mengurai pelukannya, lalu tersenyum.
"Sayang sekali Kak Clara tidak bisa datang karena baru saja melahirkan, jadi rasanya ada sedikit yang kurang." Desahnya.
"Tidak usah khawatir, setelah ini ada banyak konser lain yang akan menunggumu. Kakakmu pasti akan punya kesempatan untuk menyaksikan pertunjukanmu."
Carissa tersenyum dan mengangguk.
Setelah memberikan pelukannya sekali lagi, Evan pun meninggalkan ruangan itu dan bergabung dengan keluarganya di kursi penonton.
Tak lama kemudian, konser Carissa pun akhirnya dimulai. Didampingi oleh beberapa pemain musik lain, Carissa mulai mempertunjukkan permainan pianonya.
Dibuka dengan permainan piano dari lagu-lagu ciptaan musisi ternama, hingga kemudian Carissa memainkan beberapa lagu yang ditulisnya sendiri bersama dengan musisi lain. Beberapa lagu yang dulu dipertunjukkan hingga membawanya mendapatkan penghargaan sebagai seorang pianis terbaik. Hingga puncaknya, Carissa memampilkan lagu terbarunya yang terinspirasi dari sosok yang banyak memberikannya kebahagiaan belakangan ini. Lagu yang kemudian berhasil menghipnotis semua penonton hingga riuh tepuk tangan langsung menyambut, segera setelah lagu selesai.
Seorang Carissa Nugraha sekali lagi menjelma menjadi seorang dewi saat memainkan jemarinya di atas tuts-tuts piano. Dia seakan menegaskan jika panggung tempatnya bermain piano saat ini adalah miliknya.
Setelah hampir dua jam lamanya, permainan piano Carissa pun berakhir. Tapi pertunjukan belum selesai sampai di situ. Sang pianis mempersembahkan sebuah video perjalanan karirnya selama menjadi seorang pianis di penghujung acara. Diperlihatkan juga orang-orang yang berjasa di balik cemerlangnya karir seorang Carissa Nugraha. Hingga akhirnya pada bagian siapa yang memberikan Carissa inspirasi akhir-akhir ini, video berhenti dan berganti pada video yang lain.
Carissa agak terkejut karena ini agak di luar skenario. Dia tidak tahu jika suaminya dan pihak penyelenggara konser bekerja sama untuk ini.
Tampak di dalam video, Evan sedang duduk sambil memangku Lily dan terlihat sedang di wawancarai oleh seseorang. Dan di akhir wawancara, Evan diminta untuk menceritakan sosok Carissa di hadapan kamera.
Evan tersenyum, lalu terlihat mengatur kata-katanya.
"Aku tidak bisa menggambarkan sosok Carissa itu seperti apa, karena dia tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata."
__ADS_1
Evan terdiam sejenak.
"Dia tak hanya cantik dan berbakat, tapi juga punya hati yang sangat baik. Sejak aku mengenalnya, entah sudah berapa banyak kebahagiaan yang telah dia berikan. Dia selalu peduli dengan orang-orang di sekitarnya dan selalu memikirkan kebahagiaan mereka, hingga seringkali mengabaikan kebahagiaannya sendiri."
Evan kembali tersenyum.
"Aku tidak tahu arti Carissa bagi orang lain, tapi bagiku dia segalanya. Tidak peduli berapa lama aku hidup di dunia ini, tidak peduli seberapa banyak orang yang aku temui, aku tidak akan merasakan cinta dan kebahagiaan yang sebenarnya jika aku tidak bertemu dengannya. Dan jika ada yang ingin aku ucapkan selain kata aku mencintaimu, itu adalah kata terima kasih."
Evan menatap kearah kamera dengan segenap perasaannya, seakan itu adalah Carissa.
"Terima kasih, Carissa. Karena telah datang kedalam kehidupanku. Seperti halnya aku, pasti ada banyak lagi orang yang mencintaimu. Teruslah bersinar dan lakukan yang terbaik yang kamu bisa lakukan. Kami bangga padamu."
Video itu berakhir, di sambut dengan standing ovation dari para penonton. Bersamaan dengan itu, Evan naik keatas panggung dengan membawa seikat bunga Lily dan memberikannya pada Carissa yang tampak sangat terharu.
Carissa menerima bunga pemberian Evan dengan mata berkaca-kaca. Dipeluknya Evan erat, hingga para penonton semakin riuh.
Konser Carissa akhirnya ditutup dengan sebuah pertunjukan yang sangat manis dari sang pianis itu sendiri.
"Terima Kasih...terima kasih karena sudah menjadi suamiku, Evan...Terima kasih..." Kata itu berulang kali terucap dari bibir Carissa sembari masih memeluk Evan erat.
Evan juga membalas pelukan Carissa.
"Aku yang harusnya berterima kasih padamu. Kamu sudah membawa begitu banyak kebahagiaan untukku. Aku sungguh bersyukur karena telah ditakdirkan bersamamu."
"Terima kasih, Carissa...."
Keduanya masih terus saling memeluk, hingga lampu sorot di atas panggung dipadamkan satu persatu.
☆☆☆
No matter how long I live in this world, no matter how many people I have met, I will never feel true love and happiness until I meet you, because my destiny is with you.
~Evan Bramasta~
Selesai...
Akan ada 4 extra part, termasuk kelanjutan cerita Gege dan Jojo.
Happy reading❤❤❤
__ADS_1