WITH YOU

WITH YOU
Mengabaikan


__ADS_3

"Aku kan udah nurutin kemauan kamu, Van. Nah, sekarang giliran aku nanya dong alasan kamu suruh Sabina pulang dari rumah ini?"


Devan menarik Adelia ke dalam pelukannya saat mereka tak sedang mengenakan apapun. "Itu karena Mama sama Papa yang minta. Tapi dia nggak mau pulang. Lagian, kita bakalan bulan madu,"


"Kerjaan kamu kan sibuk banget sayang?"


"Aku juga nugas di sana kok, jadi kamu nggak usah khawatir tentang pekerjaan aku,"


"Lama nggak?"


"Iya, pastinya lama,"


Devan mengecup sekilas kening istrinya. Ini adalah waktu di mana dia harus menyelamatkan rumah tangganya sendiri. Tidak mungkin dia tetap berada di kota ini, tapi justru dimata-matai oleh mertuaya sendiri. Devan tak ingin jika dia sampai berpisah dengan istrinya sendiri.


"Kamu ada masalah ya? Kamu harusnya bilang kalau ada masalah, jangan pernah kamu sembunyikan apapun dari aku, Devan. Aku nggak suka, sekalipun kamu berusaha bohong, tentu saja aku bisa lihat kebohongan itu dari mata kamu," ucap Adelia yang mendongakan kepalanya.


Devan tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Adelia barusan. "Jadi begini, Adelia. Tapi aku harap kamu jangan pernah marah dengan kenyataan yang bakalan aku kasih tahu ke kamu,"


"Kenapa?" tanya Adelia yang waktu itu langsung memeluk Devan.

__ADS_1


"Papa kamu mata-matai kita, kamu nggak nyadar sama tetangga baru kita yang setiap pagi selalu jalan-jalan di depan rumah kita? Belum lagi semenjak kita pulang dari rumah orang tua kamu kita selalu ketemu orang aneh yang ada di depan rumah. Awalnya orang-orang itu nggka pernah ada, kan?"


Kali ini Adelia membenarkan apa yang dikatakan oleh suaminya. Dia memang merasa ada yang janggal semenjak mereka pulang dari rumah orang tuanya. "Tapi kamu kenapa baru bilang sekarang?"


"Papa kamu ingin tahu tentang keadaan kita yang di mana itu adalah hal yang buat aku nggak nyaman. Seolah rumah tangga kita mau diikut campuri oleh mereka. Aku nggak mau kalau sampai nanti rumah tangga kita berantakan hanya karena hal ini. Setiap kali kita ribut, mereka tahu dan pada akhirnya bisa misahin aku sama kamu,"


Adelia menggeleng dan memeluk erat Devan. "Aku ngerti maksud kamu," Adelia memang mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Devan mengajaknya pergi dari rumah lagi. Pasalnya waktu itu Devan juga menghindari orang tuanya sendiri untuk menyelamatkan rumah tangganya. Kali ini Adelia harus berhadapan langsung dengan papanya yang di mana membuat Devan tidak nyaman juga dan mengajaknya pergi dari rumah dengan alih-alih bahwa dia bekerja di sana. Tapi Adelia tahu jika suaminya sekalinya tidak nyaman, maka akan tetap pergi.


Barangkali juga papanya yang pura-pura menerima keadaan mereka berdua waktu datang hari itu. Kali ini dia tidak mau jika orang tuanya hanya pura-pura untuk menerima dirinya dan juga suaminya.


"Sampai kapan kita di sana?"


"Sampai kamu melahirkan anak kita. Setelah itu kita bisa balik lagi, jangan bilang sama orang tua kamu, begitupun dengan Keano. Sekalipun dia tetap ada di pihak kita, tetap saja aku takut jika papa kamu justru bajak ponsel adik kamu. Maka dari itu untuk antisipasi kamu nggak usah hubungi mereka,"


Pertanyaan istrinya cukup membuatnya terkejut ketika Adelia menanyakan perihal masalah itu. Tidak mungkin kan jika Devan harus jujur dia merupakan anak dari pembunuh yang telah membunuh kakak Adelia atau adiknya Devan.


Dia menghela napas. "Sayang kok ngomong gitu? Apa aku pernah buat masalah sama Papa? Kamu tahu sendiri kalau Papa nggak pernah suka sama aku. Jadi aku cuman mau kalau rumah tangga kita baik-baik saja,"


Adelia bangun dari tempat tidurnya dan memunguti pakaiannya satu persatu ketika menemukan keraguan dari ucapan suamiya. Dia langsung mengenakannya lalu pergi begitu saja. Sementara Devan masih berada di ranjang dan dengan perasaan yang berantakan dia harus menerima perlakuan istrinya yang bersikap aneh seperti itu. Salahnya memang, tidak seharusnya dia mengajak Adelia pulang waktu itu jika menimbulkan hal seperti ini. Tapi selaku suami, dia juga ingin membahagiakan istrinya sekalipun harus menghadapi cobaan yang berat.

__ADS_1


Dia percaya dengan ucapan papanya yang tadi mengatakan bahwa akan membantunya keluar dari zona pengawsan orang tua Adelia. Ia percaya semuaitu akan terjadi nanti, Devan juga sebenarnya sudah lelah harus bersembunyi seperti ini. Tapi seperti yang dikatakan oleh Keano bahwa dia harus hati-hati dengan papa mertuanya itu. Jika ketahuan, tentu saja dia dan Adelia akan dipisahkan, apalagi Keano pernah bilang jika papanya sering membahas hal yang lalu. Tidak memungkinkan bagi Devan untuk dengan gagahnya mengakui bahwa dirinya merupakan anak mantan suami mama Keano. Hal itu akan benar-benar rumit kali ini. Apalagi dia akan menemani sang istri sampai melahirkan.


Devan juga akan berpamitan pada keluarga neneknya dan juga tante Shita nanti. Tapi, tidak mungkin dia bisa pamit dengan cara bertemu. Takut jika anak buah papa mertuanya mengikuti sampai sana. Dan itu akan menjadi titik terang bagi mereka untuk mengungkap bahwa dirinya merupakan anak dari orang yang begitu dibenci oleh orang tua Adelia.


Akhir-akhir ini dia memang tak bisa mengerti dengan sikap istrinya yang lebih sering menjauhinya. Apakah ada yang salah dengan dirinya yang menyembunyikan rahasia itu selama ini? Jika dia menceritakan hal sebenarnya, tidak menutup kemungkinan justru Adelia yang meninggalkan dirinya, karena luka masa lalu mamanya sangat menyedihkan.


Devan memunguti pakaiannya dan langsung keluar dari kamar. Apa artinya dia bercinta dengan istrinya jika perasaan mereka tak pernah saling menggapai satu sama lain. Devan juga tak ingin jika hubungannya berantakan seperti ini. Apalagi dia sampai memohon datang kepada papanya untuk menyelamatkan rumah tangga.


Begitu dia keluar dari kamarnya, dia menemukan istrinya sedang makan di luar. Tapi tatapan istrinya masih teduh, Devan tak ingin menegur jika keadaannya seperti ini. Takut jika nafsu makan istrinya hilang begitu saja.


"Devan, ayo makan!" ajak Adelia.


Dia bingung antara makan atau tidak. Tapi jika seperti ini, dia semakin merasa bersalah jika menolak. Jikapun nanti dia menerima, pasti suasananya akan canggung atau justru Adelia melemparinya dengan pertanyaan yang tidak masuk akal.


Devan ikut bergabung dengan istrinya, kebetulan juga dia belum makan sedari tadi. Begitu dia duduk, Adelia langsung mengambilkan dia nasi dan juga lauk. "Devan, hari ini aku nggak masak yang pedas-pedas, karena dari kemarin perut aku sakit,"


Dia tak keberatan karena memang dia suka dengan makanan pedas. Tapi dia bisa memaklumi jika istrinya tak memasak makanan yang dia sukai. "Kamu udah minum obat?"


"Sudah, tapi kata Mama itu biasa,"

__ADS_1


Devan tak menjawab dia hanya ber-oh ria tanpa membalas ucapan istrinya.


author ucapkan minal aidin walfaidzin. Mohon maaf lahir & bathin jika ada tulisan yang menyakiti hati pembaca.


__ADS_2