
Semua orang yang mendengar penuturan kuasa hukum Arga terkejut setengah mati. Mereka tak menyangka jika apa yang telah Arga lakukan ternyata berdampak hingga menghilangkan nyawa orang lain.
Clara tak bisa menahan rasa terkejutnya. Kakak Carissa itu tiba-tiba kesulitan bernafas dan jatuh pingsan hingga harus mendapatkan pertolongan medis. Sejak kecil Clara memang sering terkena serangan panik dan akan kesulitan bernafas jika ada sesuatu yang membuatnya syok.
Dave membawa Clara ke rumah sakit tempat Arga di rawat. Sedangkan Carissa bersama Evan masih melanjutkan pembicaraan tentang kasus yang menjerat Arga dengan pengacara yang menjadi kuasa hukum Arga tadi.
Semakin jauh, Carissa meminta pengacara itu untuk menceritakan secara detail setiap tindak kriminal yang pernah Arga lakukan. Dan seketika hati Carissa terasa hancur saat mendengar semuanya. Carissa sungguh tak menyangka jika Papa yang sangat di sayanginya selama ini telah banyak melakukan kejahatan.
Carissa pikir, satu-satunya kesalahan fatal yang di lakukan Papanya adalah pengkhianatannya pada Alya, Mamanya. Dia sungguh tak menyangka jika Arga bahkan sudah menyebabkan seseorang kehilangan nyawa. Entah apa yang harus di lakukan Carissa saat ini. Haruskah dia membantu Papanya agar tidak di hukum, di saat Papanya itu memang pantas untuk di hukum?
Dengan lunglai Carissa melangkah kembali ke rumah sakit tempat Arga di rawat. Airmata tanpa terasa jatuh membasahi pipinya. Carissa benar-benar terpukul dengan kenyataan yang di ketahuinya saat ini.
"Aku harus apa, Evan? Papaku ternyata banyak melakukan kejahatan. Dia pasti akan di hukum. Aku harus apa?" Carissa tersedu sambil menutupi wajahnya.
Evan mendekati Carissa dan membawa istrinya itu kedalam pelukannya. Di usapnya punggung Carissa dengan lembut untuk sedikit menenangkan. Evan tahu Carissa merasa sangat terpukul saat ini, dan dia tidak tahu harus bagaimana harus menghibur. Yang bisa Evan lakukan hanyalah membiarkan Carissa menumpahkan kegundahannya dan berharap setelah ini dia akan merasa lebih lega.
"Tenangkanlah dirimu dulu, setelah itu baru pikirkan langkah apa yang akan di ambil. Kondisi Kak Clara sekarang sedang tidak baik, kalau kamu kenapa-napa juga, Mamamu pasti akan semakin sedih." Evan berusaha menenangkan Carissa.
Carissa menghela nafasnya dan berusaha menenangkan diri. Yang di katakan Evan benar, tidak boleh terjadi apa-apa dengan dirinya. Jika dia sampai drop seperti Clara, hal itu hanya akan menambah beban pikiran Alya.
Carissa harus kuat. Ya, dia harus bisa menghadapi kenyataan ini.
Perlahan Carissa mengurai pelukan Evan dan tersenyum pada suaminya itu. Beruntung dia memiliki Evan di sisinya sehingga ada yang menopangnya di saat-saat seperti ini.
"Jika kamu sudah merasa lebih baik, kita lihat kondisi Papamu sekarang." Ujar Evan lembut, di balas anggukan dari Carissa.
Keduanya pun kembali melangkah menuju ruangan tempat Arga di rawat.
__ADS_1
Sebenarnya, setelah mendengarkan apa yang di sampaikan oleh kuasa hukum Arga tadi, hati Evan merasa agak tidak nyaman. Saat pengacara itu menceritakan apa yang sudah di perbuat Arga hampir dua puluh lima tahun yang lalu, Dada Evan mendadak bergemuruh dengan sangat hebat, seolah hal itu juga berkaitan dengannya. Belum lagi orang yang meninggal karena Arga tersebut terkena serangan jantung setelah istrinya meninggal, sama seperti kedua orang tua Evan.
Tapi Evan membuang jauh-jauh prasangka buruk yang datang di otaknya dan berusaha untuk berpikir positif.
Dan ternyata, Arga telah siuman. Alya tampak tengah duduk dan mengajak bicara suaminya itu. Mata sayu Arga langsung sedikit berbinar saat melihat kedatangan Carissa.
"Carissa..." Panggil Arga pelan.
Carissa mendekat dan duduk di samping Arga. Hatinya terenyuh saat menyadari jika salah satu tangan Arga di borgol pada sisi brangkar. Airmata Carissa pun kembali mengalir tanpa bisa di cegah.
"Papa..." Hanya itu yang bisa lolos dari mulut Carissa. Hatinya benar-benar sakit melihat kondisi Arga saat ini.
"Putriku..." Arga berusaha menggapai Carissa dengan satu tangannya yang tidak terborgol. Carissa langsung menyambut tangan Arga dan menciuminya dengan berlinang airmata.
"Kenapa bisa jadi seperti ini, Pa?" Tanya Carissa lirih di sela isakannya. Arga tak langsung menjawab. Wajahnya tampak jelas menyiratkan sebuah penyesalan yang begitu besar.
"Maafkan Papa, Carissa. Papa sudah melakukan sesuatu yang mempermalukan kalian. Papa sudah menyeret kalian ke dalam masalah..."
"Semua ini tidak benar, kan, Pa? Papa tidak mungkin melakukan semua itu, kan? Pasti ada orang yang sudah menjebak Papa. Benar, kan, Pa?" Carissa bertanya dengan suara bergetar. Dia sangat ingin mendengar Arga menyangkal segala yang di tuduhkan padanya.
Arga menatap Carissa dengan sedih. Rasa bersalah semakin besar bersarang di dalam hatinya. Setetes cairan bening nan hangat jatuh dari sudut matanya.
"Carissa..., maafkan Papa. Papamu ini bukan orang baik. Papa sudah banyak melakukan hal buruk selama ini..." Lirih Arga sambil menarik tangannya dari genggaman Carissa.
Arga membuang pandangannya kearah lain. Tak sanggup rasanya dia melihat raut sedih Carissa saat ini. Putrinya itu pasti merasa sangat kecewa padanya sekarang. Carissa pasti tak menyangka jika Papanya ternyata orang yang sering melakukan hal kotor hanya demi kemajuan perusahaan.
"Kenapa? " Lirih Carissa dengan airmata yang semakin deras.
__ADS_1
"Kenapa Papa melakukan semua itu, Pa?" Tanya Carissa lagi.
Arga tak langsung menjawab. Sungguh dia tak tahu harus menjawab apa.
"Karena dari awal Papa sudah serakah. Papa tidak mau perusahaan Nugraha jatuh ke tangan pewaris yang lain, dan melakukan segala cara agar di anggap mampu. Termasuk dengan merebut apa yang seharusnya di dapatkan orang lain."
Carissa menatap Arga nanar sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak mudah untuk mendapatkan posisi yang Papa tempati saat ini, Carissa. Karena ingin menebus kesalahan Papa pada Mamamu, Papa ingin memberikan kalian kehidupan yang baik dengan menjadi penerus perusahaan yang terpilih."
Arga terdiam sesaat.
"Demi untuk mencapai tujuan itu, Papa harus melakukan banyak cara. Papa sungguh tidak keberatan melakukan semuanya asalkan kalian hidup dengan nyaman dan sejahtera di keluarga Nugraha. Hanya saja..., ada kejadian di masa lalu yang membuat Papa sangat menyesal."
Arga menghela nafasnya.
"Waktu itu, tanpa sadari Papa telah membuat sebuah perusahaan hancur."
Airmata Arga kembali mengalir, kali ini bahkan lebih deras.
"Papa menghancurkan kehidupan orang lain. Istrinya meninggal, lalu dia juga ikut meninggal. Dan yang paling Papa sesalkan, Papa tidak tahu jika mereka ternyata punya seorang putra. Papa mengetahuinya saat semuanya sudah terlanjur terjadi. Papa telah membuat anak itu menjadi seorang yatim piatu..."
"Papa ingin membawanya pulang dan membesarkannya untuk menebus kesalahan Papa, tapi Papa takut Mamamu salah paham dan mengira jika anak itu adalah hasil hubungan gelap Papa dengan perempuan lain lagi. Akhirnya, yang bisa Papa lakukan hanyalah membantu memakamkan kedua orang tuanya, dan menitipkan dia di sebuah panti asuhan, serta memastikan pihak panti mempelakukan dia dengan baik."
"Papa sangat berdosa, Carissa... Mungkin memang sudah saatnya Papa untuk di hukum..."
Bersambung...
__ADS_1
tetep like, koment dan vote
Happy reading❤❤❤