WITH YOU

WITH YOU
Penyelesaian


__ADS_3

Raka yang dipasangkan dasi oleh istrinya di kamar. Hari ini dia berencana untuk mengunjungi Devan. semalam dia sempat menghubungi Reza dan memberitahu bahwa dia dan juga Devan butuh bertemu untuk membicarakan masalah apa yang sebenarnya yang mereka sembunyikan sehingga membuat Adelia menginginkan pisah dari suami yang sudah dipilihnya dan meminta untuk pergi waktu itu.


Pesona istrinya yang tak pernah pudar dari dulu. Dia mencintai Fania, tapi ketika mengingat anaknya yang sedang hamil. Maka, Raka akan mengingat Adelia juga yang tengah hamil dan itu mengingatkannya pada mantan kekasihnya dulu. Tapi, tidak mungkin dia terus menyakiti hati istrinya hanya karena mantan kekasihnya dulu. Kali ini dia punya istri yang cantik, yang selalu menemani setiap prosesnya untuk menuju kebahagiaan.


“Kenapa ngelihatin aku gitu banget sih?” tanya Fania yang sudah selesai memasang dasi dan menatap Raka dengan tatapannya yang penuh arti.


Raka tersenyum kemudian mencium kening istrinya. “Ajakin Adelia ke dokter ya! Ajak Mama juga tuh, pasti dia bosan di rumah. Kamu yang lebih ngerti soal ibu hamil, jadi ajakin dia pergi, oke! Aku mau ke kantor Devan hari ini,”


“Mau ngapain?”


“Jangan kaget ya! Adelia minta cerai sama Devan. Tapi tenang dulu, sebenarnya Papa malas cerita ini sama Mama karena Mama sering khawatir yang berlebihan pada Adelia. Sedangkan Devan ingin memperjuangkan pernikahannya. Papanya Devan juga sudah bicara baik-baik sama Papa,”


“Papa kenal orang tuanya, Devan?”


Raka mengangguk tanpa memberitahu siapa orang tua Devan yang sebenarnya. “Kenal, Ma. Tapi Mama jangan khawatir lagi ya! Papa usahakan bakalan kelar. Mama tahu sendiri Adelia itu masih terlalu kekanakan untuk mikirin hal ini. Dia bilang pengin cerai sama Devan. tapi dia nggak mikirin dampaknya ke anak. Jadi bimbing yang baik! Jangan bilang sama, Mama. Sebenarnya ini nggak mau cerita. Tapi takutnya nanti jadi beban lagi untuk istri kesayangan ini,”


Fania tersenyum begitu Raka memeluknya. Pria yang sedang memeluknya ini memang sangat romantis. Jadi, dia tidak tahu lagi harus mengahdapi suaminya seperti apa jika sedang marah. Kadang, Raka itu selalu mengalah untuk setiap masalah yang sedang mereka hadapi.


“Pa, lepasin ih! Nanti Keano lihat! Tahu sendiri dia itu sering nyelonong masuk,”


“Keano hari ini nggak sekolah. Lagi pusing katanya, jadi nggak usah khawatir! Hmm, ingat ya temani Adelia! Dia itu anak kesayangan kamu banget,”


“Iya, pastinya bakalan aku didik juga,”


“Itu baru benar! Nanti Papa ngomong sama Devan. bila perlu suruh dia kemari. Tahu kan kalau dia itu berani banget datang sendirian ke rumah waktu itu,” kata Raka menjelaskan kepada istrinya agar tidak khawatir terhadap Adelia secara berlebihan. Pria itu memang sangat berani. Tapi kali ini dia tidak tahu mengapa menantu dan juga anaknya ribut sampai membuat Adelia seperti itu. adakah hal yang disembunyikan oleh Adelia sehingga membuat anak perempuan itu marah besar kepada Devan.


“Ya udah ayo sarapan!” ajak Raka kepaad istrinya. Hari ini dia akan pergi ke sana. bertemu juga dengan Reza. Dia sudah berusaha percaya kepada pria itu mengenai Devan dan juga Adelia. Karena ketika Reza memberitahu alamat tempat tinggal anak mereka waktu itu, dia sudah sedikit membuka kepercayaannya kepada Reza lagi.


Seusai sarapan, Raka segera berangkat ke kantor Reza yang di mana di sana sudah ditunggu oleh Devan. dia memang sengaja mengajak anak itu untuk bertemu di sana. mungkin dia dan Devan butuh bicara berdua. Untuk menyelesaikan masalah itu.

__ADS_1


Ketika Raka tiba di kantor Reza dan menunggu kedatangan Devan yang kata Reza menantunya masih berada di perjalanan. Maka dari itu dia menunggu di sana.


“Devan udah sampai kok. Lagi di bawah, kamu mau ngobrol sama dia di mana?” tanya Reza.


“Di sini aja,”


“Ah, begitu. Kalau begitu aku tunggu di luar. Kamu sama dia selesaikan dulu,”


“Thanks, aku butuh waktu sama anak kamu sebentar,”


Reza hanya membalas dengan anggukkan kemduian keluar dari ruangannya. Ketika dia hendak keluar, dia bertemu dengan Devan.


“Devan, bicarakan baik-baik masalahmu! Jangan sampai kamu salah ngomong atau justru nyinggung dan juga nyalahin istri kamu saat bicara sama mertua kamu!” kata Papanya.


Devan sejenak berhenti kemudian menganggukkan kepalanya ketika papanya keluar. ketika dia masuk ke dalam ruangan papanya. Di sana ada sosok pria yang pernah dijauhinya. Devan memang pernah menghindari pria itu. akan tetapi itu juga demi kebaikan dirinya dan juga istrinya.


Belum saja Devan duduk di sofa. Dia baru mendekati mertuanya. Pertanyaan itu sudah diberikan kepadanya. Ekspresi mertuanya kali ini memang beda ketika datang ke apartemen waktu itu. ketika Adelia pergi. Devan memang menyusul waktu itu. tapi dia memberikan waktu kepada Adelia dan juga dia punya alasan tidak datang ke rumah mertuanya untuk menjelaskan masalahnya.


Devan duduk bersebrangan dengan mertuanya. “Inti masalah ini adalah di mana aku bawa dia pergi. Alasan aku bawa dia pergi karena aku nggak mau disuruh nikah sama Mama. Oke ini mungkin terdengar sangat konyol. Terus, aku juga nggak pernah bilang kalau aku adalah anak mantan istri Om atau mama mertua aku. Aku sembunyikan itu dari Adelia agar dia nggak mikir yang lain-lain. Aku sengaja nggak bilang karena kalau dia tahu tentu saja aku sama dia bakalan pisah. Dia bakalan bilang sama Tante Fania, tapi dia justru bilang aku pembohong dan sebagainya,”


Raka mencerna ucapan menantunya yang menjelaskan masalah keduanya. Memang, Adelia tak diberitahu karena dia tidak ingin anak itu cerita kepada Fania nanti yang berdampak pada rumah tangganya. Dan juga Raka memang sengaja diam karena dia hanya ingin melihat anak dan juga menantunya bahagia sekalipun dia menerima risiko apa pun dari Fania kelak.


Raka sendiri tahu jika risiko itu kemungkinan besar dia akan dibenci oleh istrinya, atau bahkan Adleia dipisahkan dari mamanya. Hal itu dipikirkan oleh Raka jauh sebelum semuanya terjadi.


“Kamu nggak mau cari dia ke rumah?”


“Kasih Adelia waktu untuk sendiri dulu, Om. Kalau sudah waktunya aku pasti datang. Dia saat ini sedang bingung. Karena aku nggak berani jelasin yang sebenarnya terjadi, itu sama aja nimbulin kebencian di hati dia,”


“Kamu sayang?”

__ADS_1


Devan mengangkat kepalanya kemudian menantap mertuanya. “Kalau saya nggak sayang, nggak mungkin saya bawa Adelia pergi untuk menghindari Om waktu itu yang sedang mata-matai saya karena ingin tahu saya itu anak siapa. Karena Om udah tahu sekarang ini, saya minta maaf karena selama ini sembunyikan semuanya,”


“Maka dari itu, saya sampai musuhin anak saya sendiri karena dia terlihat sedang sembunyikan banyak hal dari saya. Karena saya memang nggak suka dibohongi, Devan. Kalau memang itu demi kebahagiaan kalian, saya sebagai orang tua hanya bisa mendukung. Tentu saja saya nggak mau kalau sampai anak saya kenapa-kenapa. Nggak mau kalau sampai Adelia sedih hanya karena dia minta cerai dan sebagainya. Saya nggak mau kalau anak kamu jadi korban, sedangkan anak kalian berdua itu belum lahir tapi sudah jadi korban keegoisan orang tuanya sendiri. Pesan saya ya kamu jelasin baik-baik, nanti malam datang ke rumah saya!”


“Sepertinya masih belum bisa, Om. Karena Adel masih marah banget sama saya,”


“Devan, kalau kamu hanya mengulur waktu untuk selesaikan masalah. Itu bakalan makin rumit nanti sama kamu dan juga Adelia. Saya bantu kamu, tapi kamu selesaikan dulu sama dia,”


“Saya bilang apa kalau dia nanya tentang saya yang ajak dia pergi? Nggak mungkin bilang kalau saya hindari Om aja karena alasan yang nggak jelas,”


“Saya bakalan ngomongin ini nanti sama dia. Kamu datang aja, dan juga kamu tinggal di rumah saya,”


“Saya ada rumah, Om,”


“Ini mungkin pasti berat sama kamu karena tinggal sama mertua. Apalagi kamu adalah pria yang harusnya bisa tinggal mandiri sama istri kamu. Tapi, ini adalah permintaan neneknya Adelia agar dia tinggal sama cucunya. Saya harap kamu mengerti ini, Devan! saya nggak maksa kamu untuk lakukan hal yang lebih kok. Saya cuman pengin lihat kamu sama Adelia tinggal sama saya,”


Devan berpikir sejenak. Dia tidak mau jika nanti bermasalah dengan mertuanya jika nanti dia bertengkar dengan Adelia lagi. Pasti juga Adelia akan dibela dan dirinya akan dipojokkan jika dia tinggal di sana.


“Devan, yakinlah kalau urusan rumah tangga kamu itu adalah urusan kamu sama Adelia. Nggak ada kaitannya sama saya ataupun orang tua kamu. Kalau ada masalah, jangan pernah kamu kabur! Saya nggak suka ikut campur sebenarnya. Tapi ini juga karena Adelia yang lagi hamil, jadi saya nggak suka kalau kamu bertengkar sama Adelia. Kasihan dia hamil, jadi segera selesaikan masalahnya!”


“Om, bisa kasih saya waktu untuk berpikir sejenak?”


“Iya itu hak kamu. Tapi segera selesaikan!”


 


 


Devan berpikir karena dia baru saja akur dengan mertuanya sendiri. Hingga kemudian dia diminta untuk tinggal bersama. Adalah sebuah hal yang sangat berat bagi seorang suami ketika diajak tinggal bersama dengan mertuanya sendiri. Sedangkan dia berpikir jika dia mampu untuk menyelesaikan masalahnya dengan sang istri tanpa harus tinggal bersama. Tapi kembali lagi itu adalah keinginan neneknya Adelia. Yang dia tahu bahwa Adelia sangat menyayangi neneknya.

__ADS_1


__ADS_2