WITH YOU

WITH YOU
Berpisah Yang sebenarnya


__ADS_3

Adelia keluar dari kamar sang nenek setelah dia menemani neneknya semalam tidur di kamar neneknya. Devan juga tidak keberatan ditinggal untuk tidur bersama sang nenek. Adelia bangun subuh kemudian dia mengikat rambutnya hendak melakukan ibadah. Melihat neneknya masih tidur, Adelia membiarkan perempuan tua itu terlelap, ia kemudian keluar dari kamarnya dan kembali ke kamarnya dengan Devan.


Perlahan, dia membuka pintu kamar. Melihat Devan baru saja selesai salat, “Nenek udah bangun?”


Adelia menggeleng kemudian menguap, “Belum, Devan. biarin aja dulu, kasihan nenek. Semalam dia begadang sama aku, dia ceritain banyak hal. Dia juga kasih nama yang bagus untuk anak kita,”


“Siapa?”


“Arsyila Devina Firdaus,”


“Artinya?” tanya Devan.


“Arsyila itu Jalan menuju kehidupan yang bahagia, kalau Devina itu nama kamu dan juga nama keluarga yang lainnya. Kalau Firdaus kan surga tertinggi,”


“Jadi kalau digabung itu Jalan menuju kehidupan yang bahagia ke Surga tertinggi?” kata Devan.


Adelia tersenyum. “Mungkin itu maksud nenek,” jawab Adelia.


“Ya udah kalau gitu kamu ke kamar mandi sana! Aku panasin mesin mobil dulu, biar nanti nggak buru-buru,” jawab Devan kemudian keluar dari kamar. Sebelum keluar, Devan mengecup puncak kepala Adelia.


Begitu dia keluar dari kamar, dia melihat mama mertuanya hendak keluar dari rumah. “Ma, mau ke mana pagi-pagi begini?”


“Mau nyuruh Pak Agus siap-siap, nanti selesai sarapan mau bawa nenek ke dokter,” kata mama mertuanya.


“Nanti biar aku yang antar, Ma. Lagian ini mau keluar panasin mesin mobil,” kata Devan sambil menunjukkan kunci mobil itu kepada mama mertuanya.


Suasana rumah yang sekarang ini sudah tidak sepi lagi, kehidupan sudah dimulai sejak subuh jika berada di sini. Itu diawali oleh dirinya dan juga Raka yang memang selalu bangun pagi. fania juga ingin membuatkan bubur ketan yang diminta oleh mertuanya semalam.


Sementara keluarga yang lainnya bersiap untuk melakukan aktivitas yang lain. Fania yang menyiapkan sarapan sendiri untuk mertuanya dan juga keluarga besarnya. Apalagi semenjak kehadiran Aksa dan Argi membuat Fania bersyukur mengenai anak tirinya yang selalu membantu Keano maupun Adelia. Dia juga yang melihat suaminya begitu baik dalam berbagi kasih sayang. Terutama kepada Adelia. Walaupun Fania sering mengingatkan agar Raka tidak membandingkan kasih sayang di antara anak yang lainnya. Suaminya menyetujui perintahnya itu.


Dia sedang mengaduk ketan hitam tersebut karena dia ingin membuatkan bubur yang spesial untuk mertuanya. Sudah satu minggu lebih mama mertuanya sakit, tapi selalu di kontrol ke rumah sakit. Mama mertuanya yang sudah tidak bisa berjalan lagi. Melihat kekhawatiran Raka juga membuat Fania sedih melihat suaminya itu.

__ADS_1


Raka yang bahkan tidak pergi ke kantor hanya untuk menemani sang mama di rumah. Fania yang tidak keberatan dengan itu, sungguh dia bangga melihat Raka begitu bakti terhadap ibunya. Fania juga selalu mengingatkan agar Raka bisa membagi waktu untuk menengok mamanya ke kamar.


Jam tujuh pagi, Raka keluar dari kamarnya sambil memasang dasinya. “Sayang, udah bangunin Mama?” tanya Raka begitu dia tiba di meja makan. di sana ada semua anak-anaknya yang sedang bercerita di meja makan. sekalipun tidak banyak gerak, Raka masih bersedia menyuapi mamanya.


“Belum, Pa. Semalam dia tidur sama Adelia, tapi tadi subuh nggak enak bangunin karena kelihatan nyenyak banget tidurnya. Semalam nenek begadang,”


“Ya udah, kalian tunggu sebentar! Ingat ya nggak boleh ada yang sarapan dulu sebelum nenek datang! Nggak boleh mendahului nenek!” kata Raka memperingati anak-anaknya.


Dia pergi ke kamar mamanya yang semalam ditempati oleh Adelia juga. Begitu dia masuk kamar, Raka melihat mamanya masih tidur. Perlahan dia mendekat kemudian bersimpuh di samping ranjang mamanya. “Ma, bangun yuk! Katanya Mama pengin sarapan pakai bubur ketan hitam, Fania udah buatin, Mama,” kata Raka sambil menciumi mamanya.


Tak ada jawaban, tapi Raka masih bersabar untuk membangunkan. Mamanya memang sangat sulit dibangunkan akhir-akhir ini, bahkan dia sendiri kadang membiarkan sang mama istirahat karena sudah terlalu tua. Usia tujuh puluh tahun lebih. Mamanya masih sering mengomelinya, mamanya yang selalu mengingatkan agar dia tidak menjadi orang tua yang egois. Raka juga berusaha untuk tetap tegar dan menghadapi mamanya yang sering memarahinya itu. sedikitpun dia tidak pernah melawan.


“Ma, ayo dong bangun!”


Raka sedikit mengguncang tubuh mamanya. Tak ada tanggapan juga.


Hingga kemudian Raka terus mengguncang dan saat dia mencium tadi pipi mamanya terasa sangat dingin. Raka terus mengguncang.


Hingga kemudian Devan datang disusul oleh yang lainnya, Devan memegang pergelangan tangan nenek istrinya. “Pa, nenek udah nggak ada,”


Raka berdiri kemudian mendorong Devan. “Kamu bicara apa, Devan?” kata Raka.


Devan tahu jika mertuanya sangat terpukul. Tapi itulah kenyataannya, nenek istrinya sudah tidak ada lagi.


Argi kemudian mendekat, “Nenek memang udah nggak ada, Pa,” ucap Argi.


Raka berteriak karena tidak menerima kenyataan bahwa mamanya sudah tidak ada. Semalam dia masih mengobrol bersama sang mama. Tapi, hari ini mamanya sudah tidak ada lagi. “Ma, Mama ninggalin aku?” isak Raka.


Adelia baru masuk bersama dengan mamanya, karena dia yang hamil besar dan kelahiran anaknya diperkirakan beberapa hari lagi. “Nenek bangun!” kata Adelia yang berusaha membangunkan neneknya. Tapi tetap tidak bisa.


Adelia berjongkok juga dan memegangi tangan neneknya kemudian menangsi histeris.

__ADS_1


Fania juga demikian, dia sudah membuatkan makanan yang dipesan oleh mertuanya. Tapi, perempuan itu sudah tidak ada.


Semua orang yang ada di sana menangis karena kehilangan. Tidak peduli jika orang lain mengatakan seseorang menangis itu karena cengeng. Tapi, ini adalah kehilangan yang sesungguhnya bahwa apa yang pernah begitu dicintai tidak akan kembali lagi. Orang tua satu-satunya yang dimiliki oleh Raka akhirnya istirahat dengan tenang. Bahkan meninggal ketika dia sedang tertidur.


Adelia terlihat sesenggukkan, tiba-tiba dia terlihat sedang sesak. Aksa yang langsung menangkap tubuh Adelia dan jatuh pingsan. Dia tahu bahwa adiknya memang sangat dekat dengan neneknya. “Biar aku yang bawa Adelia keluar,” kata Devan yang juga menangis melihat nenek istrinya meninggal.


Adelia pasti sangat terpukul. Tadi subuh dia bilang bahwa neneknya tidur dengan sangat nyenyak dalam posisi seperti itu. tapi, Adelia tidak tahu bahwa neneknya sudah tiada.


Keano yang juga menangis waktu itu karena merasa sangat kehilangan perempuan yang sering mengajaknya jalan-jalan jika bosan di rumah. Keano juga merasakan kehilangan itu dengan sangat. Dia yang selalu membawa perempuan tua itu pergi ke manapun yang diinginkan. Bahkan dia juga tidak pernah menolak jika disuruh apa pun oleh neneknya.


Kematian selalu menjadi topik pembicaraan neneknya. Seolah tahu bahwa dia akan pergi, Keano hanya ingat pesan-pesan yang dikatakan oleh neneknya mengenai Adelia yang tidak boleh berpisah dengan Devan.


Aksa dan Argi sekalipun baru bertemu beberapa bulan. Tapi mereka berdua juga merasakan kehilangan yang mendalam ketika melihat papanya rapuh.


Fania pernah kehilangan seperti itu, sekarang dia kehilangan lagi. Dia hanya bisa menguatkan suaminya sekalipun itu tidak terlalu berpengaruh karena Raka yang begitu mencintai mamanya.


Perbincangan semalam yang mereka semua lakukan tidak pernah disangka akan menjadi seperti sekarang ini. Nenek yang semalam bercanda dan sempat mengingatkan mereka bahwa apa yang ada di dunia ini hanyalah sementara dan juga titipan. Tidak ada yang abadi, tidak ada juga semua hal yang diinginkan bisa dibeli. Tak ada yang bisa dibawa pergi, kecuali amal. Tak akan ada yang menemani, selain diri sendiri yang akan pergi ke dunia yang berbeda.


Raka sering mendengar bahwa mamanya memang merindukan sosok papanya yang sudah pergi puluhan tahun lalu. Tapi, dia tidak pernah menyangka bahwa dia akan ditinggalkan sekarang. Tepat ketika dia sudah bisa mengikhlaskan Nabila, menerima menantunya. Dan juga bertemu dengan anak yang disangkanya telah tiada.


Mamanya pernah mengatakan bahwa tugasnya selaku orang tua selesai. Kali ini dia tidak menyangka bahwa kehilangan sosok perempuan terhebat di dalam hidupnya pergi untuk selamanya.


 


 


Cinta yang sesungguhnya tak akan terpisahkan oleh orang lain, melainkan terpisahkan karena kematian.


 


 

__ADS_1


__ADS_2