
"Nethi, Sabina kenapa? Pulang-pulang kok ngambek gitu?" tanya Shita ketika melihat keponakannya masuk ke dalam kamar begitu saja.
Nethi yang sedang membaca buku di ruang tamu bersama dengan mamanya pun menggeleng karena sikap Sabina tidak seperti biasanya. Dia yang tadi sekongkol dengan Sabina. Nethi tahu jika Sabina akan bertemu dengan seorang laki-laki.
"Nethi, Mama tanya kamu lho," peringat Shita.
Nethi mengangkat kedua bahunya sebagai kata tidak tahu. Tapi dia terlihat aneh.
Shita yang melihat gelagat anaknya. dia langsung menyusul Sabina, terlihat juga bahwa anak itu seperti sudah menangis. Tidak mungkin Shita membiarkan ini terjadi kepada keponakan yang sedang dititipkan oleh Devan. Mengingat jika keponakan tertuanya sedang menginap di rumah mertuanya.
Tadi Devan datang, tapi tidak bertemu dengan Sabina karena dia pergi bersama dengan Nethi. Tapi kali ini justru keponakannya pulang setelah tadi pergi ke taman, "Sab, kamu nggak apa-apa sayang?" tanya Shita yang begitu khawatir dengan keponakannya.
Di dalam kamar, Sabina menyeka air matanya. Apakah dia akan bernasib sama seperti kakanya jika meneruskan perasaannya kepada Keano yang sudah salah dari awal.
"Aku baik-baik aja kok, tante,"
Shita pun pergi dari kamar setelah dia berusaha mengetuk pintu kamar keponakannya.
Shita kembali lagi ke bawah bertemu dengan anaknya. Sementara suaminya belum pulang. Ketika turun dia melihat Nethi asyik menonton televisi, padahal tadinya anak itu membaca buku dan sibuk dengan kegiatan itu.
"Sayang, kamu nggak tahu apa-apa tentang Sabina?"
"Ma, temenin bobok," pinta anak kedua Shita yang masih duduk dibangku SD kelas dua. Dan yang ketiga berusia empat tahun.
Shita pun beranjak dari sofa ketika melihat anaknya menggosok matanya dan terlihat mengantuk, sedangkan anak ketiganya sudah tidur lebih dulu.
Ketika mamanya pergi, Nethi langsung bangun dari tempat duduknya dan mematikan televisi kemudian berlari melewati anak tangga untuk menyusul Sabina yang tadinya izin bertemu dengan seorang laki-laki yang tidak diketahui oleh Nethi.
"Sab, ini kakak," panggil Nethi.
Sabina pun membuka pintu dan matanya sudah sembab. Apakah Sabina putus dengan orang yang baru saja ditemuinya itu?
"Sab, ayo masuk!" dorong Nethi ketika khawatir jika mamanya muncul. Mungkin untuk hal ini mereka masih bisa sekongkol. Karena Sabina juga berhak untuk itu. "Kamu putus?"
"Aku nggak pernah pacaran kak,"
__ADS_1
"Sab, jujur sama kakak! Kamu kenapa nangis?"
Sabina berat mengatakan hal itu karena dia merasa ini akan menjadi sangat rumit lagi karena sudah cukup kakaknya dengan kakak iparnya yang punya hubungan rumit.
"Sab, ngomong!"
sabina menggeleng dan memilih diam sebagai alasan dia untuk menyembunyikan semuanya.
"Kamu pernah cerita kan tentang cowok itu,"
"Aku nggak bisa lanjutin lagi kak,"
"Why?"
"Mungkin cukup kak,"
"Alasannya?"
"Alasannya adalah, dia punya yang lain," bohong Sabina. tidak mungkin dia mengatakan bahwa hubungan keluarganya yang sangat buruk itu menjadi pemicu dia dan Keano tidak bisa bersatu. Sabina juga ingin membuang perasaannya mengenai orang tuanya itu juga menjadi alasan kuat dia tidak bisa bertahan dengan Keano. Sekalipun mereka berdua memohon, pasti tidak akan pernah terjadi. Kakaknya saja yang sudah dewasa tapi tidak bisa menyelesaikan itu. Apalagi dia yang masih sangat belia, pasti akan sangat ditentang oleh orang tuanya.
"Sab, bukannya aku nggak mau kamu sama dia ya. Tapi kalau memang kenyataannya seperti itu, kamu bisa apa? Kamu nggak bisa lakukan hal yang lebih lagi, lebih baik udahan!"
"Sab, aku juga sampai sekarang nggak pernah pacaran. Jangan sampai kamu nyakitin perasaan kamu sendiri hanya karena laki-laki,"
Nethi memang tidak tahu masalahnya. Namun, kini Sabina berusaha menyingkirkan perasaannya. Jika dia bisa menyingkirkan itu dengan cepat, maka dia berharap bahwa malam ini juga harus hilang begitu saja. Tapi semua butuh proses dan tentu saja akan menyakiti hati Sabina juga jika dia bertahan dengan perasaannya. Yang membuatnya terkejut adalah ketika dia mendengar kabar mengenai papanya merupakan mantan suami dari mama Keano yang di mana pasti menyisakan benci hingga saat ini.
"Kak, kenapa aku baru tahu ya?"
Nethi hanya tersenyum, "Kamu nggak pernah cari tahu terlebih dahulu sebelum menaruh perasaan kepada orang lain. Itu juga yang terjadi sama perasaan kamu yang kamu buat menderita sendiri,"
"Aku nggka ngerti,"
"Maksud aku, kamu terlalu cepat menaruh perasaan kepada orang lain yang sama sekali kamu nggak tahu aslinya dia itu seperti apa,"
"Kak, kakak tahu yang aku maksud? Cowok yang aku ceritain ke kakak,"
__ADS_1
"Siapa?"
"Adiknya kak Adelia," jawab Sabina dengan jujur.
Nethi seolah tak percaya dengan pengakuan Sabina yang mengatakan dirinya jatuh hati kepada adik Adelia yang di mana itu adalah adik dari kakak iparnya sendiri. "Jangan gila, Sab!"
"Kenyataannya begitu,"
"Kamu tahu sendiri kan kalau kakak kamu saja ditentang sama orang tua kamu karena mereka jodohin Kak Devan sama orang lain. Apalagi kamu yang baru kemarin sore, Sab. Kamu jangan nantangin gitu lah,"
"Kak, aku nantang gimana sih? Kenyataannya begitu,"
Nethi tetap tidak setuju dengan pilihan Sabina yang jatuh hati kepada adik dari kakak iparnya sendiri. Karena bukan hanya tersakiti, tapi pastinya keduanya juga tak mungkin bisa bersama.
"Kamu kenapa bisa ceroboh banget sih?"
"Aku nggak pernah nyangka kalau aku suka sama dia,"
"Sab tapi aku bisa yakin kalau itu semua bukan cinta. Tapi itu karena kamu hanya terobsesi sama dia, karena dia selama ini baik sama kamu. tapi kamu artikan cinta,"
"Bukan gitu kak,"
"Apapun alasannya, aku yakin itu bukan cinta, Sab. Jangan ngehalu ah, kamu bisa sakit sendiri kalau kayak gitu,"
Sabina tak ingin mengatakan hal sejujurnya alasan dia dan Keano tak bisa bersatu. Atau itu juga karena Keano yang tak ada perasaan apapun padanya.
"Sab, kamu masih kecil ya kalau artikan semua itu jadi cinta. Kamu masih harus belajar, nggak usah mikirin cinta monyet itulah,"
Sabina mengangguk pelan kemudian dia membaringkan dirinya diatas kasur dan langsung menutup kepalanya dengan selimut. Tidak mau jika masalah Keano diungkit oleh siapapun. Rasanya malam ini dia benar-benar hancur karena mengetahui hal yang selama ini menjadi pertanyaan mengapa orang tuanya tidak pernah setuju dengan hal itu. Tapi jika orang tuanya tahu, hubungan rumah tangga kakaknya akan hancur seketika. Sabina tak ingin itu terjadi.
"Sab, kamu sebenarnya ada beban?"
"Ada,"
"Ngomong!"
__ADS_1
"Kenapa keluarga aku kayak gini?"
Nethi terdiam ketika pertanyaan itu keluar dari mulut Sabina. Nethi tahu bahwa keluarga Sabina yang berantakan dan juga selalu dilandasi dengan paksaan. Nethi juga tahu bahwa keluarga Sabina memang sudah seperti itu dari dulu.