
Devan bekerja lagi seperti biasanya. Menitipkan istrinya kepada mama mertua yang selalu berada di rumah. Semenjak kepergian nenek istrinya, rumah menjadi sedikit lebih hening. Semua orang menghargai kehilangan yang dirasakan oleh papa Adelia. Maka dari itu, mulai dari saudara, bahkan sampai asisten semuanya tak terlalu banyak bertanya mengenai menu makanan yang akan dimasak ataupun apa yang akan mereka lakukan.
Devan tengah sibuk dengan berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya. Membaca beberapa dokumen yang harus ditanda tangani. Papanya yang memberi kepercayaan lagi. Dia juga yang tak diganggu oleh Bianca kali ini.
Ceklek
Suara pintu terbuka, Devan melihat ke arah pintu ruangannya yang di mana ada sang papa di sana. begitu papanya menutup pintu, dia langsung berdiri dari kursi kerjanya untuk mendekati sang papa yang mungkin ada keperluan. “Apa kabar, Devan?”
“Baik, Pa,” jawab Devan. pria itu perlahan mendekati sang papa dan bersalaman kepada papanya. Ia mempersilakan sang papa untuk duduk. Dulunya dia selalu ikut ke ruangan ini ketika dia masih kecil. Ikut bekerja dengan papanya. Kali ini dia justru duduk di tempat ini menggantikan sang papa. “Papa sendiri apa kabar?”
“Baik juga. Ngomong-ngomong Bianca udah nggak gangguin kamu lagi ‘kan?”
Devan mendaratkan bokongnya. Pikirannya kembali lagi kepada Bianca yang waktu itu langsung terdiam begitu Ben mengancamnya. Bianca juga tidak bereaksi apa-apa sampai detik ini. Mungkin Ben sudah berhasil mengancam perempuan itu. ben memang teman lamanya, mereka bertemu lagi waktu di kelab malam. Dia juga tidak menyangka jika Bianca akan mengajaknya ke sana untuk mabuk agar rencana liciknya itu bisa terlaksana dengan begitu baik.
Namun, beruntunglah Devan tidak jadi berpisah hanya karena foto sialan yang disimpan oleh Bianca. Entah dari mana juga dia dapat nomor Adelia lagi. Padahal nomor Adelia diketahui oleh beberapa teman dan juga keluarganya saja. Justru perempuan itu dengan mudahnya mendapatkan nomor mama Adelia juga.
Mungkin ini adalah cara Tuhan agar dia dan istrinya tetap bersama. Devan memang tak ingin berpisah dengan Adelia. Ia begitu mencintai perempuan bertubuh kurus, cantik dan juga begitu manis. Entah, bagaimana juga Devan bisa jatuh cinta dengan begitu mendalam kepada perempuan itu.
Drrrt drrrrt.
Devan berdiri dari sofa kemudian mengambil ponselnya yang ada di atas meja kerjanya. Ia lupa dengan ponselnya tadi. “Bentar, Pa. Aku ambil ponsel dulu,” ujarnya kemudian dia melihat ada nama mama mertuanya tertera di sana.
“Halo, Ma. Ada apa?”
__ADS_1
“Devan, ke rumah sakit segera! Adelia mau melahirkan,” kata perempuan itu diseberang sana. “Mama kirimkan lokasi sekarang!”
Devan begitu panik ketika mendengar kabar Adelia masuk rumah sakit. “Pa, aku mau ke rumah sakit. Adelia mau melahirkan. Mama mertuaku bilang kalau Adelia kesakitan dari tadi pagi,” kata Devan.
Melihat Devan yang begitu panik. Reza bangun dari tempat duduknya karena takut jika terjadi apa-apa kepada anaknya. Begitu keluar, “Papa yang nyetir. Kamu lagi panik. Istri kamu di rumah sakit mana? Jangan sampai kamu tuh lupa sama kendali kamu sendiri, Devan!”
Ia memberitahukan alamat rumah sakit di mana Adelia dibawa oleh mama mertuanya. Beberapa hari terakhir ini memang Adelia pernah mengeluhkan sakit perut. Tapi tidak sampah seperti sekarang ini. Dia pikir itu adalah hal yang wajar.
Devan berlari dan menanyakan pada suster mengenai tempat Adelia dirawat.
Devan tidak bisa berpikir jernih saat itu. Dia langsung pergi ke tempat Adelia dirawat begitu dia diberitahu oleh suster tadi.
Di sana ada mama mertua dan juga kakak Adelia. “Devan, kamu masuk ya!” perintah mama mertuanya begitu tahu jika nanti Devan datang, dokter mempersilakan khusus Devan yang menemani. Maka dari itu begitu Devan datang. Dia langsung masuk begitu saja.
“Papa tunggu di sini ya!” kata Devan.
Apa tadi dia salah dengar? Devan memanggil Reza dengan panggilan Papa. Apakah itu benar-benar bahwa Devan anaknya Reza?
“Anak kamu si Devan?” tanya Fania dengan begitu emosinya dan mengguncang tubuh Reza. Pria itu terdiam. “Jawab Reza!”
“Ma, jangan ribut di sini, Ma!”
“Kamu tahu, dia pembunuh anak, Mama,” kata Fania. air matanya menetes begitu melihat Reza di sana. “Jawab aku, Reza!” teriak Fania lagi hingga tubuhnya merosot. Aksa mencoba menenangkan mama tirinya.
__ADS_1
“Iya, Devan memang anak aku. Dan istri dia adalah, Adelia. Anak kamu sendiri,” kata Reza mengatakan dengan jujur.
Hati Fania begitu sakit. Aksa mencoba menenangkan sang mama tiri. Tapi sepertinya itu tidak berguna begitu pria yang berdiri dihadapannya ini mengatakan hal yang sebenarnya. Kehilangan adalah suatu hal yang begitu menyakitkan. Inilah yang sedang dihadapi oleh Aksa sekarang. Dia harus menenangkan mama tirinya.
Tak lama kemudian, Papa, Keano dan Argi datang bersama. Namun, begitu Raka tiba. Ekspresi Raka dan Keano berubah begitu melihat tubuh Fania tergeletak dilantai. Aksa tetap mencoba meminta mama tirinya bangun.
“Reza, ngapain kamu di sini?” tanya Raka begitu panik melihat istrinya menangis. Dia membantu Fania bangun.
“Aku antarin Devan ke sini. Dan nggak sengaja ketemu Fania,”
Raka mengusap wajahnya dengan gusar. Aksa masih tidak mengerti dengan kenyataan ini. Yang dia tahu bawa mama tirinya bertemu dengan mantan suaminya yang berdiri di depannya kali ini. “Pa, Devan ada di dalam. Dia datang sama orang ini,”
“Reza, ayo keluar!” kata Raka sambil mengajak pria itu keluar dengan sopan. melihat Fania menangis tadi membuatnya merasa bersalah. Dia yang menyembunyikan pria itu selama ini agar Adelia dan Devan tetap bersama.
Ketiga anak laki-laki mencoba menguatkan sang mama. Di salam sana ada Adelia yang sedang berjuang untuk melahirkan. Ditambah lagi hancurnya perasaan sang mama. Aksa tadi tidak sengaja pulang untuk mengambil berkas yang ketinggalan. Justru dia melihat adiknya tergeletak di kamar begitu mendengar suara jeritan minta tolong. Mamanya yang sedang memasak tak mendengar itu. hingga kemudian dia sendiri yang menemukan Adelia.
Dia begitu mengkhawatirkan adiknya itu. tapi, ketika di rumah sakit justru dia melihat mama tirinya merasakan sedih yang teramat luar biasa. Dia memang pernah mendengar cerita itu dari mama tirinya langsung mengenai anaknya yang meninggal. Kemudian dia baru sadar jika hal itu adalah kehilangan yang sebenarnya. Aksa sendiri tidak tahu cerita lebih detil lagi.
Begitu dia mendengar mamanya mengatakan itu adalah perbuatan pria tersebut. Aksa baru ingat mengenai cerita yang pernah diceritakan oleh mama tirinya.
__ADS_1