WITH YOU

WITH YOU
Sebatas Teman


__ADS_3

Keano baru saja tiba di salah satu taman yang dijanjikan oleh Sabina. Katanya, Sabina menginap di rumah tantenya--adik Papanya. Yang berarti orang itu juga pasti kenal baik dengan orang tua Keano. Selama ini dia mendekati Sabina bukan karena dia jatuh cinta kepada anak yang baru saja beranjak remaja itu. Tapi, itu semua dilakukan karena Keano ingin mencari tahu lebih jauh mengenai keluarga Devan. Takut jika suatu waktu apa yang ditakutkan oleh kakak iparnya itu terjadi.


Ketika Keano turun dari motornya, dia melihat Sabina mengenakan rok pendek yang diatas lutut. Membuat Keano langsung merasa aneh ketika melihat gadis berpakaian seperti itu. Bukan munafik, tapi sejujurnya dia paling tidak suka dengan gadis yang seolah sengaja memamerkan pahanya agar dilihat oleh laki-laki.


Sabina berdiri di dekat ayunan ketika menyambut dirinya. Di sana ada beberapa orang yang sedang berkumpul bersama dengan keluarganya. Ada pula yang bersama dengan pasangan hanya untuk menghabiskan waktu nongkrong di sana yang di mana lokasi tersebut memang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka.


Perlahan, dia mendekati Sabina dan langsung bersalaman.


"Sab, kamu udah izin kan?"


Sekalipun malam hari, kecantikan Sabina tidak bisa dipungkiri. Entah kenapa Keano mengalihkan pandangan ketika melihat Sabina yang sepertinya sedikit berdandan dan berbeda dari biasanya. "Sudah kok kak,"


Dia hanya menganggukkan kepalanya. Pria dengan kaos hitam polos dengan celana kain yang panjang serta sepatu kets yang membuat tampilannya sedikit lebih keren. "Karena aku nggak mau nantinya kamu dimarahi sama tante kamu,"


"Aku udah izin dan bilang sama tante kalau aku mau ke taman,"


"Iya,"


Hanya itu yang bisa dia ucapkan. Sebenarnya dia sangat gugup ketika Sabina menggunakan rok pendek dihadapannya. Bahkan itu untuk pertama kalinya. Mereka sering bertemu, tapi tidak pernah dia mendapati Sabina mengenakan rok pendek seperti sekarang ini. Pahanya yang terlihat sangat mulus dari kejauhan, tapi tak membuat Keano berani melirik.


Dia mengajak Sabina duduk di salah satu bangku yang hanya cukup mereka berdua saja. Karena rok Sabina benar-benar pendek, Keano membuka jaketnya karena merasa tidak nyaman dengan pandangan orang-orang mengarah kepadanya. Dia langsung menutup paha Sabina hingga gadis itu meliriknya. "Banyak mata yang lihat kamu pakai beginian, lain kali kamu jangan pakai rok pendek,"


"Kakak nggak suka?"


Keano kembali duduk keposisi semula setelah menutup paha Sabina. "Bukan karena kakak nggak suka. tapi usahakan kamu jangan pakai beginian didepan laki-laki,"


"Tapi aku udah biasa,"


"Sabina, kamu pernah pacaran?"

__ADS_1


"Enggak kak,"


"Mulai sekarang, kamu jangan pakai rok lagi ya! Kalau panjang sih enggak masalah, tapi kalau sampai atas lutut gitu maaf banget,"


"Kakak nggak suka lihat aku pakai beginian?"


"Sab, bukan gimana-gimana ya. Kamu juga jangan tersinggung, aku begini karena aku laki-laki. Aku bicara apa adanya, tapi lihat beberapa orang yang lewat lihatin kamu terus dari tadi. Aku juga ngerasa enggak nyaman kalau mereka lihat kayak begitu, belum lagi karena mereka lihatin paha kamu, aku keberatan," kata Keano tanpa sadar dia bicara seperti itu.


Sabina menyembunyikan senyumannya ketika mendengar Keano yang mengucapkan kata itu. Sebenarnya Sabina senang ketika dia bisa dekat dengan Keano. Bukan hanya pintar, tapi laki-laki ini juga mampu menjaganya setiap kali mereka pergi. Sabina rela berbohong hanya demi bisa bertemu dengan Keano.


Usia mereka memang tidak terpaut jauh. Tapi, bagaimanapun juga mereka ini masih ingin fokus pada pendidikan sekalipun sebenarnya rasa nyaman itu ada di dalam hati Sabina ketika dekat dengan Keano. Mereka juga pernah bertengkar hanya karena tidak saling mengabari. Itu semua karena Keano yang tidak memberi kabar seharian penuh.


"Gimana sama pelajaran kamu?"


"Lancar kok, kak,"


"Jadi kak. Kakak mau kuliah ke mana?"


"Harvard, Sab. Kita bisa ketemu beberapa bulan lagi,"


Senyuman di wajah Sabina langsung padam ketika Keano mengatakan akan kuliah ke luar negeri. Sabina yang baru saja merasa sangat nyaman waktu itu tak bisa memungkiri bahwa dia kesal dengan keputusan itu. "Kakak serius mau ke sana?"


"Serius, itu udah keinginan aku. Tapi, kita masih bisa bertukar kabar lewat telepon kok,"


Tentu saja beda rasanya ketika Sabina harus bertukar kabar karena Keano sendiri akan pergi keluar negeri untuk melanjutkan pendidikannya. Sedangkan Sabina akan masuk SMA yang di mana masa-masa itu adalah masa yang paling indah kata sebagian orang.


"Jaga diri baik-baik ya! SMA itu banyak banget ujiannya, tapi aku percaya kalau kamu bisa lalui ini semua. Bukannya Kak Devan juga lulusan sana? Jadi, aku juga pengin ke sana,"


"Iya, Kak Devan memang lulusan sana. Itu juga dia dapat beasiswa,"

__ADS_1


"Hmm, aku tahu,"


Sabina merasa canggung setelah balasan Keano yang singkat. Sabina takut jika sebenarnya ini adalah pertemuan terakhir mereka. Sabina sebenarnya tahu bahwa niat Keano hanya untuk mengetahui informasi mengenai kakak kandungnya yang menikah dengan kakak Sabina. Dan, itu sebenarnya sudah salah langkah yang dilakukan oleh Sabina yang justru menaruh harapan. Gadis mana yang tak jatuh hati jika laki-lakinya selalu berbuat baik. Namun, justru semua kebaikan itu hanyalah kebaikan sesaat yang di mana Keano tak ada perasaan apapun kepadanya.


"Sabina, sebenarnya aku dari dulu pengin ke sana. Tapi karena kejadian ini, aku nggak tahu antara jadi atau enggak kuliah ke sana. Nggak mungkin aku ninggalin kak Adel, aku nggak dekat sama kakak kamu yang satunya, siapa itu namanya aku lupa,"


"Kak Jesse,"


"Ah iya, itu maksudku. Aku nggak dekat sama dia, jadi aku titip kak Adelia sama kamu,"


"Kak, jadi kakak mau pergi?"


"Aku pengin banget, Sab,"


"Bantu aku masuk ke sekolah kakak. Aku dukung kakak ke luar negeri,"


Keano tersenyum, padahal untuk masuk ke sekolahnya itu hanya perlu nilai yag bagus. Sebagai sekolah favorit dan berprestasi, tentu saja harus dengan nilai yang cukup masuk ke sana.


"Kamu yang rajin belajarnya, seperti yang kamu bilang tentang pelajaran yang kamu pelajari itu kadang rumit. tapi nggak ada yang rumit, asal kamu bisa selesaikan dengan baik. Dan mungkin lusa kita ketemu lagi, bisa?"


Sabina tentu saja dengan senang hati bertemu lagi dengan Keano. "Bisa kak,"


"Aku buatin rangkuman untuk rumus dan juga contoh soal yang kamu pelajari. Dan juga masuk ke sekolah aku itu gampang-gampang susah, Sab. Jadi kamu yang semangat belajarnya, aku janji bakalan rangkumin kamu. Sebenarnya aku udah mulai buatin, tapi belum semuanya. tinggal beberapa lagi,"


"Terima kasih banyak sebelumnya, kak,"


Angin malam yang membuat aroma parfum Sabina tercium menusuk indera penciuman Keano. Keano juga yakin bahwa ini adalah sebatas teman dengan Sabina. tidak lebih dari itu. Karena Sabina juga masih terlalu kecil jika dia jatuh cinta dan barangkali Sabina juga menganggapnya hanya sebagai teman biasa.


Keano mengajak Sabina bertemu bukan ada urusan penting. Tapi dia hanya ingin melihat gadis itu. Tidak ada yang terlalu penting untu dibicarakan. Jika itu dikatakan rindu, maka dia akan mengelak. Dan mengatakan itu hanyalah sebagai pertemuan biasa yang di mana itu pertemuan antara kedua teman.

__ADS_1


__ADS_2