
Evan keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe, sedangkan Carissa yang telah keluar lebih dulu dari kamar mandi tampak telah mengenakan pakaiannya.
"Aku sudah memesan sarapan untuk kita. Dan pakaianmu juga sudah di ambil petugas laundry yang ada di sekitar sini, mungkin satu atau dua jam lagi akan di antar kembali. Kamu tidak masalah menunggu pakai itu dulu?" Tanya Carissa pada Evan.
Evan mengangguk mengiyakan sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil. Melihat hal itu, Carissa tak bisa menahan diri untuk mendekat, lalu dia pun mengambil alih handuk yang ada di tangan Evan dan membantu mengeringkan rambut suaminya itu.
"Rambutmu sudah agak panjang. Kenapa tidak di rapikan?" Tanya Carissa lembut.
Bukannya menjawab, Evan malah memeluk tubuh Carissa sambil menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher istrinya itu.
"Aku keringkan pakai hairdryer, ya?" Tanya Carissa sekali lagi sambil merenggangkan tubuhnya dari dekapan Evan.
"Tidak perlu. Nanti juga kering sendiri." Jawab Evan sambil kembali mengeratkan pelukannya.
"Tapi nanti kamu masuk angin karena kedinginan. Habis mandi cuma pakai bathrobe, sekarang rambutmu tidak kering sempurna pula." Carissa bergumam dengan nada agak khawatir.
"Atau aku keluar sebentar untuk membeli pakaianmu." Ujar Carissa tiba-tiba sambil melepaskan pelukan Evan.
"Tidak." Jawab Evan cepat.
"Aku tidak mau kamu keluar sendirian." Tambah Evan lagi dengan wajah serius.
Carissa terdiam sejenak, lalu menambil ponselnya.
"Mungkin kita beli pakaian untukmu lewat aplikasi belanja saja." Ujar Carissa sambil mengotak-atik ponselnya.
"Tapi mungkin butuh waktu agak lama sampai barangnya datang. Sama saja dengan menunggu pakaianmu di laundry." Carissa bergumam seakan bicara dengan dirinya sendiri.
Evan tak menjawab. Dia sibuk memperhatikan raut wajah Carissa yang terlihat serius sambil tersenyum tipis.
"Ah...iya, minta tolong Geraldyn saja." Carissa terlihat semeringah, seolah baru saja menemukan ide yang sangat cemerlang.
"Aku akan telfon Geraldyn dan minta tolong supaya dia membelikan pakaian untukmu dan membawakannya kesini." Ujar Carissa bersemangat.
Sekali lagi Evan tersenyum.
"Tapi aku juga perlu pakaian dalam. Apa tidak masalah meminta tolong padanya membelikan pakaian dalam untukku juga?" Evan bertanya dengan nada yang agak menggoda.
Seketika Carissa membeliak dengan ekspresi wajah yang agak lucu.
__ADS_1
Evan tertawa dengan renyahnya sambil kembali membawa Carissa ke dalam pelukannya.
"Sudahlah, tidak apa-apa pakai ini dulu sambil menunggu pakaianku selesai di laundry. Lagipula aku punya cukup pakaian ganti di hotel tempatku menginap." Ujar Evan sambil membelai rambut Carissa lembut.
"Kamu tidak kedinginan?" Tanya Carissa lirih.
Evan tersenyum dan mengurai pelukannya.
"Kan ada kamu. Kamu bertanggung jawab untuk membuatku tetap hangat." Jawab Evan dengan entengnya.
Mata Carissa kembali membeliak sambil mencubit perut Evan gemas, hingga Evan pun mengaduh kesakitan.
"Dasar dokter cabul." Sungut Carissa sambil meninggalkan Evan dan keluar dari kamar.
Evan tertawa. Sudah lama dia tidak mendengar panggilan dokter cabul dari mulut istrinya itu. Di susulnya Carissa yang ternyata pergi ke dapur apartemennya.
Carissa membuat secangkir teh hangat untuk Evan dan segelas susu khusus ibu hamil untuk dirinya sendiri. Di atas meja makan juga ada roti tawar lengkap dengan selainya. Evan duduk di kursi meja makan bersamaan dengan Carissa yang meletakkan teh yang di buatnya tadi di atas meja makan. Evan mengambil sepotong roti, lalu mengolesnya dengan sekai sebelum akhirnya menikmati roti tersebut dengan di temani secangkir teh hangat.
"Kamu punya roti, kenapa masih memesan makanan untuk sarapan?" Tanya Evan.
Carissa duduk di kursi bersisian dengan Evan sambil meminum susunya beberapa teguk.
Belum sempat Evan mengatakan hal lain, pintu apartemen Carissa berbunyi, menandakan ada yang datang. Carissa pun beranjak dari duduknya.
"Itu pasti buburnya sudah datang." Ujar Carissa sambil berlalu untuk membukakan pintu apartemennya.
Tak berapa lama kemudian, Carissa kembali ke meja makan dengan menenteng plastik berisi dua porsi bubur ayam. Langsung saja Carissa memindahkannya ke dalam mangkuk bersih dan menghidangkannya ke meja makan. Dia pun kembali duduk di kursinya tadi.
"Aromanya enak." Gumam Evan.
"Ini memang enak. Dulu aku sering sarapan ini bersama Kak Clara di tempat penjual bubur pinggir jalan. Papa juga sering minta di belikan..." Carissa langsung terdiam dan tidak jadi meneruskan ceritanya. Tanpa sadar dia bercerita tentang keluarganya dan melupakan trauma Evan untuk beberapa saat.
"Maaf..." Lirih Carissa dengan agak canggung.
"Aku tidak sengaja mengatakannya." Ujar Carissa lagi sambil sedikit menundukkan wajahnya.
"Tidak apa-apa." Tanpa Carissa duga, Evan mengenggam tangan Carissa dengan erat.
"Tidak ada salahnya bercerita tentang keluargamu. Kamu pasti sangat merindukan mereka dan sesekali pasti ingin menikmati sesuatu yang bisa membangkitkan kenangan tentang mereka." Ujar Evan lagi.
__ADS_1
Carissa terdiam dan tak tahu harus mengatakan apa. Dia takut jika salah berbicara seperti tadi. Meski Evan mengatakan tidak apa-apa, tapi tetap saja dia tidak boleh mendengar tentang keluarga Carissa, kan?
"Aku sudah memaafkan Papamu..." Ujar Evan lagi akhirnya.
Carissa mengangkat wajahnya dan melihat kearah Evan dengan raut wajah yang tak dapat di lukiskan.
"Aku telah berusaha menerima semuanya dan berdamai dengan takdir. Tidak masalah jika kamu merindukan keluargamu dan ingin berbicara tentang mereka. Apapun yang terjadi, mereka tetaplah bagian dari dirimu." Evan mengulurkan tangannya dan mengusap kepala Carissa lembut.
Kelopak mata Carissa memanas dan tampak berkaca-kaca. Dia tampak kesusahan menelan salivanya.
"Besok aku sudah harus kembali pulang. Ikutlah bersamaku pulang ke rumah kita " Pinta Evan kemudian.
Carissa kembali melihat kearah Evan.
"Aku..tidak bisa." Jawab Carissa akhirnya.
"Aku sudah menandatangani kontrak untuk kembali bergabung dengan manajemenku selama dua tahun." Tambah Carissa lagi dengan nada lirih.
"Aku tahu." Jawab Evan.
Carissa agak melebarkan matanya karena agak terkejut.
"Tapi kamu baru benar-benar kembali bermain piano setelah melahirkan. Benar, kan?" Tanya Evan kemudian.
Carissa terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Itulah sebabnya aku memintamu untuk pulang sekarang. Biarkan aku menjagamu di dekatku selama kehamilanmu ini. Izinkan aku menyaksikan calon putri kita lahir dan memberikan nama untuknya. Setelah itu, kamu bisa melakukan apapun sesuai dengan yang kamu inginkan. Aku akan memberikanmu kebebasan dan tidak akan melarangmu." Evan bergumam dengan pelan dan hati-hati.
Carissa masih bergeming tanpa mengatakan apapun.
"Kata orang, nama adalah harta pertama yang di berikan orang tua pada anaknya. Dan seorang ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Aku ingin memberikan harta pertama pada putriku dan menjadi cinta pertamanya juga, seperti halnya Papamu yang menjadi cinta pertamamu. Izinkan aku melakukan itu untuk putri kita, Carissa." Pinta Evan lagi dengan penuh permohonan.
Carissa masih tak sanggup berkata-kata, hanya airmatanya saja yang akhirnya luruh sebagai jawaban dari permohonan Evan.
Bersambung...
Tetep like, komen dan vote ya
Happy reading❤❤❤
__ADS_1