WITH YOU

WITH YOU
Pemeriksaan Kandungan


__ADS_3

Setelah hasil testpack terakhir yang membuat Carissa kecewa, akhirnya Evan memutuskan membawa Carissa memeriksakan kondisi mereka berdua ke Dokter Kandungan.


Mencuri sedikit waktunya, Evan mendatangi bagian obgyn di rumah sakit miliknya bersama sang istri untuk memastikan jika mereka berdua dalam kondisi yang baik.


Sebenarnya Evan tidak terlalu memusingkan kapan akan mendapatkan momongan. Tapi melihat Carissa yang tampak tertekan, Evan akhirnya mengalah dan menuruti keinginan Carissa untuk memeriksakan kondisi mereka berdua. Tujuan Evan tentu saja agar Carissa merasa lebih tenang karena tidak ada yang perlu di khawatirkan dari kondisi mereka.


Setelah Evan dan Carissa selesai di periksa, kini keduanya duduk di hadapan seorang Dokter Spesialis Kandungan yang biasa di sapa Dokter Grace, yang juga merupakan bawahan Evan.


"Kondisi Anda sangat baik, Direktur. Jumlah dan kualitas sp*rma Anda juga sangat bagus. Tidak ada kendala apa-apa pada kesehatan reproduksi Anda."


Dokter Grace menjelaskan kondisi Evan dengan sangat gamblang. Sedangkan Evan sendiri mendengarkan dengan serius. Tampaknya karena Evan dan Dokter Grace sama-sama seorang dokter, tidak canggung bagi keduanya membicarakan hal tersebut. Sangat berbeda dengan Carissa yang tampak menahan malu karena mendengar sesuatu yang agak tabu di telinganya.


"Lalu bagaimana dengan istri saya?" Tanya Evan dengan agak tidak sabar. Dia ingin Dokter Grace segera mengatakan jika Carissa juga baik-baik saja agar istrinya itu berhenti merasa cemas secara berlebihan.


Tapi terlihat Dokter Grace terdiam beberapa saat, seolah sedang mencari kata-kata yang tepat dan baik untuk menyampaikan kondisi Carissa.


"Kendalanya ada pada Nyonya Carissa..." Dokter Grace akhirnya mengeluarkan suara.


Evan tampak menautkan kedua alisnya, sedangkan Carissa terlihat tegang menunggu penjelasan Dokter Grace tentang kondisinya.


"Ada penyumbatan pada tuba falopi Nyonya Carissa, sehingga sp*rma Anda tidak bisa membuahi sel telur. Itulah kenapa Nyonya Carissa tidak bisa hamil sampai saat ini." Ujar Dokter Grace sembari melihat kearah Evan dan Carissa secara bergantian.


Dokter Grace menjelaskan lebih jauh pada Carissa bahwa tuba falopi adalah dua saluran yang memungkinkan sel telur mengalir dari indung telur menuju rahim. Jika saluran tersebut tersumbat maka sel telur tidak akan mencapai rahim dan tidak bisa di buahi oleh ******. Dalam kondisi tersebut, maka bisa di pastikan tidak akan terjadi kehamilan.


Carissa membeku dengan tubuh yang agak tergetar. Dia tak tahu harus menanggapinya seperti apa. Apa yang di takutinya menjadi kenyataan. Dia tidak bisa hamil.


"Tapi bukankah masih ada kemungkinan hamil pada penderita penyumbatan tuba falopi?" Tanya Evan.


Dokter Grace mengangguk.

__ADS_1


"Benar, Direktur. Untuk penyumbatan pada satu saluran saja, kemungkinan hamil masih ada, meskipun jauh lebih rendah dari kondisi normal. Tapi untuk Nyonya Carissa, kondisinya agak berbeda."


Evan semakin menautkan kedua alisnya.


"Berbeda bagaimana?" Tanyanya dengan semakin tidak sabar.


"Pada tuba falopi Nyonya Carissa, penyumbatannya terdapat di kedua saluran, sehingga kemungkinan hamil benar-benar tidak ada."


"Apa?" Evan tampak tidak percaya.


"Benar, Direktur. Secara normal, sel telur Nyonya Carissa tidak akan bisa di buahi." Ujar Dokter Grace lagi.


Dada Carissa semakin bergemuruh. Seluruh tubuhnya bergetar dan mengeluarkan keringat dingin. Rasanya seperti mendengar suara petir menggelegar, Carissa benar-benar syok di buatnya. Tiba-tiba saja airmatanya jatuh tanpa bisa dia cegah. Carissa sungguh terpukul mendengar kenyataan jika dirinya tidak bisa hamil.


"Bagaimana bisa seperti ini? Saya tidak pernah merasakan sakit atau rasa tidak nyaman di bagian perut sebelumnya. semuanya baik-baik saja. Jika memang ada yang bermasalah, kenapa saya tidak pernah merasakan apapun?" Tanya Carissa dengan suara tergetar. Entah kata apa yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini.


Carissa kembali terdiam. Airmatanya kembali jatuh. Benarkah semua ini? Benarkah jika dia perempuan tidak sempurna yang tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya?


Evan meraih Carissa ke dalam pelukannya dan mengusap punggung Carissa lembut.


"Tenanglah. Kita dengarkan dulu penjelasan dari Dokter Grace. Pasti ada cara untuk menangani kondisimu saat ini." Ujar Evan lembut sembari terus mengusap punggung istrinya itu.


Carissa berusaha menahan tangisnya dan menenangkan dirinya sebisa mungkin. Benar kata Evan, Dokter Grace pasti tahu cara menangani kondisinya.


"Untuk penanganannya, kita bisa melakukan prosedur pembersihan penyumbatan. Tapi untuk penyumbatan di kedua saluran seperti pada Nyonya Carissa, prosedur yang lebih di sarankan adalah melakukan IVF (In Vitro Fertilization), atau yang lebih di kenal dengan program bayi tabung." Terang Dokter Grace lagi.


Evan tampak menyimak dengan sangat serius. Sedangkan Carissa yang masih berada dalam dekapan Evan sudah tidak bisa menyerap dengan benar lagi apa yang di ucapkan oleh Dokter Grace. Kenyataan jika dirinya tidak bisa hamil dengan cara normal seperti perempuan pada umumnya benar-benar membuat Carissa merasa down.


Airmata Carissa kembali luruh dengan sendirinya. Kenyataan ini benar-benar membuatnya terpukul.

__ADS_1


☆☆☆


"Carissa." Evan memanggil Carissa yang terlihat sedang melamun di balkon apartemen mereka.


Evan memeluk istrinya itu dari belakang. Di ciumnya tengkuk dan bahu Carissa secara bergantian.


"Sedang memikirkan apa?" Tanya Evan lembut.


Carissa tidak menjawab. Hanya helaan nafas panjang yang bisa Carissa berikan untuk menjawab pertanyaan Evan.


"Carissa..." Panggil Evan lagi dengan nada lebih lembut.


Carissa yang tetap bergeming membuat Evan memutar tubuh istrinya itu untuk menghadap kearahnya. Dan tampaklah wajah sendu Carissa yang beruraian airmata.


Evan menatap sedih wajah istrinya itu. Dia menghela nafasnya, lalu meraih Carissa ke dalam pelukannya. Evan memeluk erat tubuh Carissa tanpa mengatakan apa-apa. Dia sangat tahu apa yang Carissa rasakan saat ini. Istrinya ini pasti merasa sangat sedih dengan keadaannya sekarang.


Carissa semakin terisak di pelukan Evan. Entah Evan merasa keberatan atau tidak dengan keadaannya, Carissa tetap merasa tidak berguna. Evan sudah memperlakukannya dengan sangat baik, tapi dia justru tidak bisa memberikan apa yang sangat Evan inginkan. Tidak ada yang bisa Carissa banggakan, dia sungguh merasa dirinya tidak berarti.


"Jangan sedih, Carissa. Jika tidak bisa mendapatkan anak secara normal, kita masih bisa menjalani program bayi tabung, seperti yang di sarankan Dokter Grace tadi. Sekarang teknologi kesehatan sudah sangat canggih. Semuanya masih bisa di usahakan." Hibur Evan sambil membelai lembut pucuk kepala dan rambut Carissa.


Airmata Carissa justru semakin deras setelah mendengar apa yang di ucapkan Evan. Suaminya ini begitu pengertian, baik dan lembut. Semakin besar saja rasa bersalah Carissa pada Evan. Di balasnya pelukan dengan sangat erat, seakan Carissa tidak ingin melepasnya lagi.


"Maafkan aku, Evan. Aku istri buruk yang tidak bisa membahagiakan suaminya. Maafkan ketidaksempurnaanku..."


Bersambung...


Tetep like, koment dan vote


Happy reading❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2