WITH YOU

WITH YOU
Menghindari


__ADS_3

Keduanya telah bangun pagi harinya. Devan seperti biasanya mendapatkan jatahnya selama enam bulan lebih tidak bertemu dengan istrinya. Sudah lama sekali Devan tidak pernah bertemu apalagi menyentuh istrinya. Adelia yang memarahinya habis-habisan karena mabuk semalam setelah mereka bercinta. Dia tahu bahwa istrinya ini sangatlah bawel. Istrinya juga sering marah jika dia pulang dalam keadaan mabuk seperti semalam.


Pagi ini istrinya sudah memandikan Arsyila dan sudah berpakaian rapi. Sedangkan dia masih begitu nyaman setelah subuh tadi. Dia juga sudah mandi, tinggal mengganti pakaiannya dan pergi untuk mengajak keluarga kecilnya jalan-jalan.


“Bentar lagi ya! Aku masih capek,”


Dia justru menarik istrinya yang sedang menggendong Arsyila. “Apa sih Devan? bangun dong! Kok sekarang manja banget sih?”


“Lagi pengin di manja aja sama istri,”


“Iya, tunggu Arsyila makan dulu. Udah gitu aku nyanyi di depan kamu oke! Nggak masalah kan sambil joget?”


“Jangan sampai kamu dibilang gila,”


Dia bercanda kemudian menarik Arsyila dan gendongan istrinya. “Devan jangan tarik gitu!”


“Nggak apa-apa, dia kan mau sama papanya. Kangen sama anak aku yang imut ini,” kata Devan kemudian menidurkan Arsyila disebelahnya. Tapi anak itu terus meronta dan bangun dengan sendirinya. “Dia cepat banget bisa duduk ya? Perasaan baru kemarin-kemarin kamu nangis melahirkan,”


“Itu karena kamu yang sibuk kerja, Devan. jadi nggak ngerasa tuh anak kamu udah bisa duduk aja,” kata Adelia yang tidur diatas lengan kirinya.


“Maaf, aku juga berjuang buat kamu kok,”


“Hmmm iya sayang. Nggak masalah kok,”


Mereka berdua tengah asyik bermain dengan Arsyila. tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. “Kalian nggak sarapan?” tanya papanya.


Tapi Devan mengerti bagaimana perasaan mama mertuanya yang mungkin tidak akan nyaman jika satu meja dengan Devan. maka dari itu dia bangun dari tempat tidurnya. “Nanti aja, Pa. sekalian ajak yang dua ini jalan-jalan,”


“Oh, iya udah. Kamu istirahat aja,” ucap papa mertuanya. “Kamu nggak suapin Arsyila, Adel?”


“Nanti Pa, sekalian kan waktu keluar sama Devan,”


“Ya udah. Nikmati waktu kalian,”


Devan melihat istrinya tersenyum, dia juga tersenyum untuk menghilangkan perasaan tidak nyaman itu. karena tidak ingin jika mama mertuanya justru menghindar nanti karena keberadaan dirinya. Tidak ingin membuat Adelia terganggu dengan beban pikiran seperti itu. Devan duduk bersandar kemudian memangku anaknya, dia juga juga merangkul Adelia agar perempuan itu bersandar dengannya.


Ia menikmati bermain dengan anaknya selama Arsyila mau. Dia juga sering melakukan video call semenjak Arsyila masih kecil. Kemudian anaknya tidak takut kepadanya ketika pertama kali bertemu. Gelak tawa Arsyila pasti akan dia rindukan ketika jauh nanti. Dia ingin bertemu dengan anaknya setiap hari. Tapi apa yang bisa dia katakan ketika mama mertuanya sendiri yang memberi peraturan.


“Seminggu sekali kamu usahakan pulang untuk tengok Arsyila!”


Devan mengelus kepala Adelia. “Aku usahakan untuk pulang seminggu sekali. Aku nginap malam sabtu dan minggu,”


“Kamu janji?”

__ADS_1


Devan menggeleng, “Aku bakalan usahakan, aku nggak mau janji. Takut kecewain kamu. Ini aja kan aku nggak ngasih tahu kamu,”


Adelia mengangguk dia memeluk Devan dengan sayang. “Udah lama nggak peluk suami,”


“Udah semalam, semalam lagi proses buat adiknya nih anak,”


“Nggak masalah kan dia masih terlalu kecil, Devan?”


“Nggak apa-apa. Biar rame, aku maunya punya anak tujuh. Biar rumah tuh rame. Nggak enak punya saudara dikit,”


“Iya kamu bener. Apalagi aku yang baru ketemu sama kakak aku,”


“Nah itu. tapi beruntungnya Arsyila banyak Om, di kamu ada tiga orang. Di aku ada satu terus ada tantenya juga. Belum lagi dari saudara Papa aku,”


“Banyak uang nanti kalau ulang tahun ya sayang ya,” goda Adelia.


“Nanti porotin Om Jesse kalau udah bisa jalan sayang. Dia itu pengin banget ketemu Arsyila,”


“Kenapa nggak ke rumah aja?”


“Nanti aku suruh. Maunya dibeliin apa?”


“Beliin mainan aja. Dia itu paling sering main dibawah. Apalagi kalau ada kumpul keluarga. Pasti dia senang banget,”


“Kamu ngajarin Arsyila nggak bener nih, Devan,”


“Nggak apa-apa. Yang penting kan dia itu bahagia,” kata Devan sambil mengayunkan tangan Arsyila hingga tawa anak itu begitu nyaring. “Ngomong-ngomong Argi kapan mau nikah?”


“Masih mau bantu Papa di kantor katanya. Kak Aksa sering minta tinggal diluar, disuruh nggak usah balik sama Papa, lihat ekspresi Papa itu lucu banget waktu marahin kak Aksa,”


“Iya karena dia kan baru ketemu juga sama anaknya. Jadi wajar aja,”


“Makanya kamar dia tuh diujung banget. Tapi kamu tahu sendiri rumah Papa bisa dipakai main petak umpet saking luasnya. Jadi mau berapa pun keluarga yang tinggal kayaknya dibolehin sama Papa. Tapi kalau udah nikah, ya milih kamar yang jauhan. Kan kamar di rumah ini banyak banget. Belum lagi kamar tamu,”


“Terus kakak di mana?”


“Di ujung selatan, Papa ngasih privasinya di sana. Jadi mau berantem pun kayaknya sulit deh kita dengar. Soalnya agak sedikit jauh,”


“Huush, mulut sembarangan aja ngomongnya sayang!” protes Devan yang mencubit bibir Adelia. “Nggak boleh ngomong gitu lagi. Mereka itu pengantin baru,”


“Hmm, awalnya dia takut banget minta mau nikah gitu ke Papa. Tapi waktu Papa yang nebak, dia ngaku kalau dia pengin nikah. Lagian ya usianya udah tiga puluh lebih,”


“Aku udah bilang kan sama kamu kalau cowok itu mikir dulu mau nikah, Adelia. Pasti dia mikirin masa depan keluarganya juga, mikirin bagaimana anak-anaknya nanti. Nggak sembarangan. Jadi kak Aksa itu pasti udah pertimbangin lama banget, terus minta izin gitu,”

__ADS_1


“Dia biayai diri sendiri yang katanya udah lama nabung. Dan juga tabungannya beberapa kali dipakai buat obatin kakeknya dulu,”


“Cowok idaman, yang nikah sama dia juga nggak bakalan rugi. Kalau Kak Argi? Belum mau nikah?”


“Belum, dia bilang mau nunggu Kak Aksa punya anak,”


“Udah bahagia banget sekarang keluarga mereka. Tinggal kita yang berjuang sayang,”


“Dari awal kita berjuang, Devan. dari awal kita udah ngerasain gimana rasanya nggak direstui. Sekarang kita lagi berusaha untuk sempatin waktu,” kata Adelia.


Dialog-dialog yang dirindukan oleh Devan kali ini bisa membuat hari yang pernah begitu menyedihkan kembali ceria lagi hanya dengan berkumpul dengan keluarga kecilnya. Inlah yang diinginkan oleh Devan juga sedari awal. Tapi dia sadar diri jika dia tidak bisa memaksakan apa yang dia inginkan. begitupun dengan berkumpul kapan pun dia mau.


Mata, hidung dan juga wajah anak gadis yang sedang dia pangku adalah duplikatnya. “Devan, nyadar nggak kalau dia mirip kamu?”


“Iyalah, dia anak aku,”


“Jangan lupakan peran ibu yang sudah mengandung wahai Devan tukang klaim. Sakit dong, aku yang ngidam, aku yang hamil. Eh pas lahir malah mirip kamu,”


“Nggak adil ya?”


“Iya dong,”


“Nambah nggak apa-apa kan? Nanti miripnya sama kamu, biar adil gitu, sayang,”


“Arsyila masih terlalu kecil, Devan. aku nggak mau,”


“Nggak apa-apa. Lagian ya aku pengin banget malah nambah anak,”


“Devan, yakin nih?”


“Iya, biar sekalinya pulang dengar kamu hamil kan?”


Adelia malah tertawa mendengar candaan suaminya. “Kamu ada-ada aja,”


“Bawel banget sih, Mama hmm?” Devan mencolek hidung Adelia.


 


 


Anaknya masih duduk diatas perut Devan. dia tahu jika baru kali ini Arsyila bertemu dengan papanya setelah sekian lama karena ditinggal bekerja. Tapi dia tetap setia menjaga hati sang suami karena komunikasi yang tidak pernah putus.


 

__ADS_1


 


__ADS_2