
Sebagai seorang anak tentu saja sakit melihat kedua orang tuanya bertengkar. Begitu pula yang dirasakan oleh Jesse ketika melihat papanya berani menampar mamanya kali ini. Barangkali kesabaran papanya sudah diambang batas karena tingkah mamanya yang memang keterlaluan kali ini dengan merencanakan sesuatu yang busuk agar Adelia dan juga Devan berpisah. Jesse juga tak ingin jika kakaknya bercerai dengan istrinya. Apalagi setelah Jesse tahu bahwa istri kakaknya merupakan anak dari mantan istri papanya dulu. Yang di mana sudah dipastikan jika itu masih menorehkan luka. jIka saja orang tua kakak iparnya tahu hal ini, sudah dipastika mereka akan berpisah.
Jesse tak mau melihat kakaknya sedih karena kehilangan dua cinta sekaligus, yaitu anak dan istrinya. Begitu kuat keinginan papanya untuk mempertahankan pernikahan Devan kali ini, sehingga papanya tidak takut untuk menampar mamanya.
"Pa, udah ya!" Jesse mencoba menyabarkan emosi papanya yang hari ini sangat membuncah. Tidak pernah dia lihat papanya akan semarah ini pada siapapun, bahkan kepada semua anak-anaknya, papanya tak pernah melakukan hal buruk apalagi sampai memukul.
Jesse tahu mamanya salah, tapi dia ingin melindungi mamanya sebagai seorang anak yang tahu bagaimana cara melerai masalah tersebut.
Jesse mengajak mamanya masuk ke dalam kamar. Ini juga pertama kalinya papanya bermain kasar apalagi sampai menampar seperti tadi. Jika Sabina melihat, sudah dipastikan anak gadis itu akan menangis melihat perbuatan papa mereka kali ini.
"Nesya, jangan bertindak yang keterlaluan lagi, kumohon!"
Nesya tertawa dan berbalik, "Kenapa? Apa aku salah? Kamu sendiri enggak bakalan tahu bagaimana senangnya menjadi aku ketika aku menemukan Bianca yang lebih tepat menjadi istrinya Devan dibandingkan perempuan ****** itu,"
Reza kali ini benar-benar marah ketika anak Fania dikatakan ****** oleh Nesya. "Kamu bilang dia seorang ******? Kamu lupa status kamu yang dulunya melebihi seorang ****** bahkan merebut suami orang lain dan bisa mengandung Devan waktu itu? Kamu lupa kalau kamu bukan perempuan baik-baik, hah? Aku nikah sama kamu karena aku lihat, Devan! Dia yang waktu itu ada di kandungan kamu. Andai bukan karena kesalahan juga yang di mana Jesse hadir ditengah pertikaian kita, aku sudah dari dulu buang kamu, Nesya,"
__ADS_1
Jesse menundukkan kepalanya seraya mengepal tangan kanannya karena kesal dengan ucapan papanya yang seolah tak bisa dijaga. "Cukup!"
"Sekarang kamu juga mau ngelawan?"
"Pa, tolong cukup!" peringat Jesse.
Reza sudah muak selama ini dengan sikap istrinya yang sudah keterlaluan itu, dia juga yang memaksa agar Reza mau menerima Bianca untuk menikahkan Devan dengan Bianca.
"Jika kamu bertindak melebihi batas dan benar-benar melakukan hal itu, siap-siap kita ketemu di pengadilan,"
"Pisah," jawab Reza dengan santai. Dia tidak akan pernah lagi memberi toleransi jika benar Nesya melakukan hal itu kepada Devan dan mengakibatkan Devan dan juga istrinya berpisah hanya karena kehadiran Bianca.
"Papa sudah berpikir sebelum bicara begini?"
reza tahu jika ucapannya tadi juga melukai hati Jesse yang di mana dia menyebutkan bahwa dia bertahan karena Devan dan Jesse dulu ketika ingin bercerai dari Nesya. Tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi ketika istrinya sudah melewati batas untu melakukan hal itu. Sungguh, Reza juga manusia biasa yang di mana emosinya juga kadang naik dan juga dia bisa memaafkan, tapi tidak kembali utuh lagi seperti dulu. Begitulah prinsipya, dia dan Nesya menikah karena tanggung jawab. Kemudian bertahan hanya demi anak, pernikahan itu seolah seperti cangkang yang dilihat oleh orang lain begitu indah, tapi di dalamnya tidak ada isi sama sekali yang di mana hati Reza memang tak ada sama sekali untuk Nesya. Ia hanya berusaha menghargai istrinya di depan anak-anaknya, dia juga berusha untuk menerima Nesya dengan menuruti apa yang dikatakan oleh istrinya. Akan tetapi begitu dia menuruti, semakin hari istrinya semakin bertingkah saja.
__ADS_1
"Papa, kenapa ngomong gitu?" tanya Nesya dengan nada rendah berharap Reza bisa berubah pikiran dan melakukan hal yang baik kali ini.
"Kamu berbuat baik sekali saja sama Devan! Aku nggak mau dia hancur, istrinya lagi hamil anak perempuan. Yang di mana dulu kamu menghasut aku juga dan bilang kalau Fania hamil anaknya Raka, tolong banget aku nggak mau anak aku kenapa-kenapa dan akhirnya menyesal seperti aku," ujarnya dengan nada yang memelas. Dia tidak mau jika Devan akan kehilangan dua perempuan sekaligus di dalam hidupnya. Andai saja dulu dia bisa lebih bijak lagi dalam menghadapi masalah. Andai dia juga lebih sabar lagi menunggu Fania hamil waktu itu, Fania barangkali terlalu lelah hingga akhirnya lama hamil dan kemudian membuat Reza goyah dan menghianati Fania dulu.
"Papa, sudah cukup! Aku bawa Mama ke kamar," tawar Jesse yang ingin memisahkan keduanya terlebih dahulu. Takut jika papanya salah bicara dan justru menjatuhkan talak nanti kepada mamanya. Jesse tahu bahwa papanya kali ini sedang dikuasai oleh emosi dan juga kenangan masa lalu yang membuat papanya bersikap seperti sekarang ini. Jesse yang juga berusha bijak dan menerima semua ini. tentu saja dia juga tahu jika apa yang dilalui oleh kakaknya itu pasti sangat berat.
Perlahan, Jesse mengerti tentang arti hidup yang begitu rumit dilalui oleh orang tuanya. Dia juga mengerti bagaimana perasaan kakaknya sekalipun dia tidak berada di posisi kakaknya. tapi, dia beruntung jika kali ini Papanya justru berusaha untuk menyelamatkan pernikahan itu.
"Jess, Mama nggak mau pisah," isak mamanya yang membuat Jesse memeluk mamanya.
"Ma, mungkin apa yang dikatakan oleh Papa itu benar. Papa nggak mau kalau kak Devan itu menjadi korban dan justru dipermainkan dalam hal pernikahan. Ma, pasti kan kalau mama pengin pernikahan Mama sampai kakek nenek? dan lihat! Sebentar lagi Mama jadi nenek, Mama bakalan gendong cucu dari Kak Devan. Apa mama nggak pengin main sama cucu mama nanti? pasti dia cantik, dia bakalan baik juga sama seperti orang tua dia, Ma. Kak Adelia itu baik, papa seperti itu juga pasti karena papa sudah bisa menerima,"
"Tapi Mama yang nggak bisa nerima, Jess,"
"Jangan mainkan egois Mama untuk kali ini. Jika Mama terus saja membela Bianca dihadapan, Papa. Aku nggak yakin kalau Mama bisa lolos dari sergapan, Papa. Ma, kita nggak tahu keluarga bianca itu seperti apa, jadi tolong jangan terlalu mementingkan dia. Yang sudah sah menjadi keluarga kita itu adalah kak Adelia, istrinya kak Devan. Apa mama nggak mau sekadar lihat menantu mama itu? tentunya dia juga pengin ketemu Mama. Tapi, Mama selalu melihat pada hal yang lain, Mama itu selalu melewati batas dalam hal bertindak, jadi aku nggak nyalahin papa kalau Papa melakukan hal ini. Jujur saja, aku juga terkejut ketika Papa bilang mau pisah sama Mama kalau Mama melakukan hal yang jauh lebih kejam lagi. Jadi, tolong untuk kali ini bertahan demi aku dan juga Sabina yang masih butuh orang tua yang lengkap. Mama juga pikirkan, bagaimana kalau seandainya Sabina di posisi kak Adelia, terus mertuanya bersikap seperti Mama. Apa Mama bakalan terima?"
__ADS_1
Ucapan Jesse yang seperti itu cukup membuat mamanya langsung terdiam.