
Raka dan Fania tiba di kediaman Kevin sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Keano tadi sebelum berangkat ke sana. hubungannya dengan Kevin sudah lama sekali tidak bertemu lagi. Semenjak menikah, Raka memang tidak pernah berhubungan teman-teman masa lalunya. Apalagi mengenai Kevin, dia tahu bahwa pria itu dulu suka terhadap istrinya ketika masih muda. Meski begitu, dia memang tidak mau membahas masa lalu. Yang mengingatkan istrinya pada hidupnya yang dulu. Raka juga beberapa kali pindah, tapi selalu saja kembali lagi ke kota ini.
Seberapa pun jauhnya dia pergi. Tetap saja dia akan kembali ke tempat di mana begitu banyak kenangan yang pernah tercipta di kota tersebut.
Bukti cintanya ada terhadap Fania adalah dengan pernikahan yang masih utuh sampai sekarang ini. Sekalipun dulu Fania seorang janda. Tapi, Raka sudah terlanjur mencintai perempuan itu. Sebelumnya, dia pernah jatuh hati pada Fania. Tapi kalah oleh Reza yang waktu itu dijodohkan oleh orang tua Fania.
Kali ini, dia tidak akan menyia-nyiakan kehidupan lagi. Raka tahu bagaimana sakitnya kehilangan. Raka juga tahu bagaimana rasanya menyesal, maka dari itu dia tidak boleh menyia-nyiakan istrinya.
Raka dan istrinya turun dari mobil ketika tiba di sana. mereka berdua mengedarkan pandangannya ketika dia tidak menyangka bahwa rumah Kevin sebagus ini. Pintu yang dibuat dari kayu jati emas yang diukir sedemikian rupa. Disampingnya juga ada taman serta air mancur kecil yang menghiasi depan rumah itu.
Ketika baru masuk pun, mereka berdua telah disuguhkan dengan pemandangan air mancur dibagian kiri dengan lampu-lampu kecil berwarna biru yang menambah nuasa indah di sana.
Raka memang tahu bahwa temannya yang satu itu dari dulu selalu saja rapi.
Mereka berdua melangkahkan kaki menuju pintu utama. Raka menekan bel beberapa kali, hingga pada akhirnya seorang perempuan keluar. raka mengerynyitkan dahinya ketika melihat ada Novi di sana. novi adalah anak dari teman papanya dulu yang pernah dijodohkan dengannya. Tapi mereka berdua menolak perjodohan itu hingga pada akhirnya batal menikah.
“Mas, Raka datang nih,” panggil Novi.
Novi tahu mempersilakan tamunya masuk dan ketika melihat Fania. Rasanya dia begitu akrab dengan perempuan itu. Akan tetapi mereka berdua tidak pernah berkenalan sebelumnya. Tapi melihat Fania sama seperti melihat Adelia, karena mereka begitu mirip.
Saat Kevin keluar, pria itu langsung memeluk Raka karena sudah lama sekali tidak bertemu. “Apa kabar sekarang?” sapa Kevin yang langsung mengajak Raka ke ruang tamu.
“Baik dong, kamu sendiri gimana? Udah punya cucu?”
Tawa Kevin pecah saat Raka menanayakan mengenai cucu. Anaknya belum ada yang menikah. Kevin pun menikah kemudian menunda memiliki keturunan karena harus mengurus begitu banyak hal waktu itu. Dia terpisah jauh dengan istrinya karena pekerjaan. Begitu Reza menikah dulu, dia langsung keluar dari perusahaan itu. Bukan karena dia tidak betah. Tapi sikap Reza yang sedikit sombong membuatnya keluar.
“Sayang, panggil Afi ya!” perintah Kevin kepada istrinya.
“Anak kamu kok nggak di bawa?”
Raka mengangkat kedua bahunya sebagai kata terserah. “Kamu kan ngundangnya cuman kami berdua. Bukan Keano. Kamu kenal Keano dari mana?”
“Keano sering aku lihat di rumah kakaknya. Rumah kakaknya bukannya di depan kan?” tebak Kevin waktu itu.
“Aku nggak tahu. Aku nggak pernah kemari. Ini kan untuk pertama kalinya,”
Kevin tak menanggapi sekalipun dia tahu bahwa Raka selalu mengikuti ke manapun anaknya pergi bersama dengan suaminya. Kevin juga tahu mengenai beberapa orang yang beberapa hari ini memang berada di sekitar rumah Adelia dan juga Devan. itu semua sudah dipastikan adalah anak buahnya Raka.
Tapi Kevin juga tahu mengenai kepergian Adelia dan suaminya waktu itu. Tapi tidak akan diberitahukan oleh Kevin untuk saat ini. Karena terlalu buru-buru untuk mengatakan kenyataan mengenai kepergian Adelia.
“Keano kelas berapa?”
“Dia tahun ini lulus. Nunggu dia Ujian Nasional aja sih untuk saat ini,”
“Oh, berarti seangkatan sama Afi,”
“Anak kamu laki atau perempuan?”
“Perempuan, yang laki-laki masih kecil. Masih TK, tapi tinggal sama neneknya. Katanya nggak mau tinggal di sini, terlalu sepi,”
“Ya buatin lagi dong,”
“Ingat umur, Raka. Aku juga sebenarnya nggak mau. Sayangnya nggak ada laki-laki,”
“Anak kamu berapa?”
__ADS_1
“Empat, tapi cuman satu yang tinggal di sini. Sisanya tinggal sama neneknya. Jadi ya nggak mau maksa mereka untuk tinggal di sini. Sebenarnya ya nggak enak gitu sama orang tua. Tapi mau gimana lagi, mereka nggak mau tinggal sama kami berdua, katanya cuman sama neneknya yang bikin nyaman,”
“Itu artinya disuruh nambah,”
“Nggak ah. Itu aja si Afi dulu sama adiknya beda dikit banget. Adiknya kelas satu SMA terus adiknya lagi masih kelas dua SMP nah yang paling kecil baru masuk TK.,”
“Borong anak banget kamu, Kevin,”
“Hah, bukannya gitu. Cuman kan telat nikahnya. Sama kayak kamu,”
“Cowok nikah umur segitu ya udah cocok. Aku kan nikahnya umur tiga puluhan,”
“Bentar lagi punya cucu. Memangnya kamu nggak ngerasa tua Raka? Kamu bentar lagi gendong cucu dari anak pertama,” canda Kevin.
Raka tertawa karena sudah lama sekali tidak bertemu dengan pria ini. Masih terlihat lebih muda dibandingkan dengan dirinya. “Ngomong-ngomong kerja di mana sekarang?”
“Masih jadi orang bawah. Sama kayak dulu,”
Raka mengangguk sejenak. “Kamu kerja di kantor aku, mau?”
“Aih, baru aja ketemu malah ngajakin kerja,”
“Bilang ya kek! Aku tuh serius, kamu tahu sendiri kan sekarang aku udah bangkit sama istri tersayang,”
“Hahaha, ternyata kamu nikah sama sialan ini, Fania. Nggak nyangka aja kalau dia jodoh kamu. Manusia paling konyol, manusia paling sialan diantara yang lainnya,” kata Kevin. Mereka berdua masih tak berubah. Sama seperti dulu.
Sekalipun Kevin tahu mengenai masa lalu perih Raka. Tidak mungkin dia membahas di depan Fania. Mereka masih bisa terlihat asyik tanpa membahas masa lalu. Begitupun dengan Raka yang masih diam.
Mereka berdua adalah mantan brengsek dulu yang selalu mencicipi pacar mereka. Namun, Raka seperti itu karena terluka ditinggal oleh Nabila. Sedangkan Kevin, dia memang seperti itu semenjak dipermalukan oleh mantan kekasihnya. Maka dari itu Kevin tidak mau lagi membahas hal dulu.
Sialnya lagi Kevin harus membiarkan anaknya tinggal bersama dengan orang tuanya di sana. orang tuanya yang kesepian, maka dari itu dia membiarkan ketiga anaknya tinggal di rumah orang tuanya. Karena di sana juga ada adiknya yang baru saja kembali dari luar kota yang membuat anaknya betah. Karena anak adiknya ada tiga orang. Jadi di sana sudah cukup ramai. Tapi tetap saja anaknya tidak mau tinggal bersama dengan dirinya.
Afi adalah satu-satunya anak yang mau tinggal bersama dengan dirinya. “Keano mau lanjut ke mana?”
“Mau ke luar negeri sih. Lagi ngejar beasiswa tuh dia,”
“Kamu kan mampu. Kenapa nggak kamu biayain?”
“Kamu pikir mudah maksa dia untuk nggak ngejar beasiswa? Dia itu benar-benar keras kepalan,”
“Iyalah, nurun dari siapa sifatnya? Ya kamu yang keras kepala banget,” kata Kevin dibarengi dengan tawa.
Dari jarak kurang lebih tiga meter anak perempuan mendekati mereka dan kemudian bersalaman kepada mereka berdua bergiliran. “Afi, Om, tante,” ucapnya memperkenalkan diri.
“Cantik ya,” puji Fania.
“Sisain buat, Keano!” pinta Raka yang membuat tawa Kevin langsung pecah. “Orang tuanya nggak dapat, ya dapat anaknya, ya kan,” ledek Kevin.
“Papa ish,” kata anak perempuan Kevin.
“Kamu lupa sama anak tadi siang yang berpapasan sama kamu? Itu anaknya mau disisain buat kamu. Jadi nggak usah pacaran ya, Nak!”
“Papa,” keluh anaknya lagi yang merona malam itu.
Fania dan Raka tersenyum melihat anak itu mencubit perut Raka. “Papa serius, Afi. Papa lebih suka kamu suka sama anaknya Om Raka nanti kalau udah lulus kuliah. Siapa tahu kamu sama dia satu kampus nanti,”
__ADS_1
“Mau ke luar negeri juga?” tanya Fania.
“Nggak tahu nanti tante. Tergantung Papa nyuruhnya di mana. Kalau di suruh di sini ya udah nggak apa-apa. Penginnya sih di luar,”
“Nah kan, kamu biarin aja mereka bareng kuliahnya, Vin. Kamu kerja di perusahaan aku. Soal kuliah anak kamu aku yang tanggung. Biarin nanti sama Keano. Percaya aja sama dia, dia itu paling takut sama perempuan. Di kantor di sapa dikit aja langsung keluar keringat dingin. Nanti dia yang jagain,”
“Nikahin aja dulu!”
“Papa, ngeselin,”
Raka tertawa melihat Kevin menggoda anaknya. Mana mungkin juga dia membiarkan Keano menikah di usianya yang sekarang. Tapi jika memang mereka bisa bersama itu tak apa. Jika anak lain sudah dipastikan akan mengatakan jika dia punya pacar lain. Tapi Afi justru malu ketika dibahas mengenai Keano. Jika Kevin tidak keberatan, biarlah anaknya nanti bersama dengan Afi.
“Afi ini sibuk urusin toko kuenya, Raka. Jadi aku ragu kalau dia mau kuliah di luar negeri,”
“Toko kue?”
“Iya, dia punya kecil-kecilan. Dia sama Mamanya kerja sama. Jadi nggak tahu aja nanti dia mau ke mana aja,”
“Afi mau ke mana?”
“Afi penginnya di luar negeri, Om. Tapi Papa selalu bilang di sini aja,”
“Alasannya?”
“Nggak ada yang jagain,”
Raka menepuk pundak Kevin. “Aku kan bilang kalau anak kamu biarin aja sama Keano. Tapi anak kamu ya pintar-pintar aja jaga diri. Jangan sampai pacaran dulu, biarin keduanya sahabatan,”
“Afi gimana?” tanya Kevin.
“Aku kan belum kenal dia, Pa,”
“Nanti Om suruh sering main kemari. Belajar bareng juga. Dia itu selalu jadi juara di sekolah,”
“Yang benar saja anak kamu sering juara?” tanya Kevin memastikan.
“Iya. Makanya dia kejar beasiswa biar bisa kuliah ke luar negeri. Aku sering debat sama dia mengenai kuliah. Tapi aku nggak mau maksain dia, jadi biarin aja dia maunya kayak gimana. Tapi, kalau kamu mau ya biarin aja dia sama Afi, aku sendiri nggak keberatan kok,”
“Tapi kan mereka beda, Raka. Afi perempuan,”
“Ya, maka dari itu dia harus bisa jaga diri ‘kan?”
“Kalau memang menjanjikan, kenapa enggak, Pa?” timpal Novi.
“Kamu memangnya setuju?”
“Demi Afi. Aku nggak keberatan kok,” jawab perempuan itu.
Raka dan Fania berunding sejenak dan nanti akan membicarakan mengenai hal ini dengan Keano. Tidak mungkin mereka merencanakan sesuatu untuk anaknya tanpa membicarakannya terlebih dahulu.
__ADS_1