WITH YOU

WITH YOU
Takut Menyesal


__ADS_3

“Apa artinya aku bertahan kalau Adelia sudah tahu mengenai statusku yang sebagai anak pembunuh saudara kami?” kata Devan begitu Aksa menemaninya di ruang tamu. Semua orang memilih pergi dari sana, kecuali dirinya yang sedang menemani adik ipar dan juga menenangkan Devan. sudah banyak sekali masalah yang dihadapi oleh mereka berdua. Adelia yang juga pergi meninggalkan suaminya. Yang tidak seharusnya dilakukan oleh Adelia ketika semua orang membencinya.


“Adelia hamil anak kedua kalian,”


Devan menggeleng, ini sudah waktunya benar-benar berpisah. Adelia meninggalkannya juga. Dia sampai merendahkan harga dirinya di depan keluarga istrinya hanya untuk bertahan. Tapi tetap saja luka orang tua istrinya tidak bisa disembuhkan sekalipun dia meminta maaf dengan baik.


“Sudah cukup kak. Sampai di sini aku bertahan buat dia. Kalau memang dia sayang sama aku, nggak mungkin dia pergi ninggalin aku waktu semua orang nyalahin aku,”


“Kamu bakalan cerai?”


“Nggak ada pilihan,”


“Arsyila bagaimana? Nenek juga berpesan kalau kamu sama Adelia nggak boleh pisah,”


Devan tertawa sinis, “Aku udah berusaha untuk bertahan. Tapi nggak ada satupun orang yang hargai usaha aku. Justru semua orang nyalahin aku, jadi apa gunanya aku bertahan kak?” Devan berdiri dari sofa hendak keluar.


“Kamu mau ke mana?”


“Aku mau pergi, bisa kakak ambil Arsyila sebentar aja!”


Aksa menganggukkan kepalanya. Dia tahu sakit yang dirasakan oleh Devan. tidak mungkin juga pria itu menangis jika tidak menyayangi Adelia dan juga keluarga kecilnya. Bagaimana mungkin dia bisa sehancur sekarang ini. Adelia yang begitu dia sayangi justru ikut juga membencinya. Sedikitpun di hati Devan tidak ada keinginan untuk berpisah. Dia juga ingin jika keluarga kecilnya tinggal bersama dengan dirinya. Tidak ada yang mau merasakan hal yang sama karena ini.


Begitu Aksa membawa Arsyila keluar, anak itu turun kemudian langsung memeluk Devan. Devan juga mencium Arsyila. “Maafin Papa ya. Maafin kalau Papa nggak bisa sama Arsyila lagi,” Devan mencium Arsyila terus menerus.

__ADS_1


“Kamu serius mau pergi dari hidup mereka berdua?”


Devan mengangguk. “Ini demi kebahagiaan mereka. Apa artinya aku di sini kalau memang nggak pernah dihargai,”


“Kamu ninggalin Adelia sama saja kamu ninggalin Arsyila juga,” kata Aksa yang ingin agar adiknya dan juga Devan baik-baik saja dan melewati semuanya berdua. “Kamu berhak atas Adelia. Kamu berhak tinggal sama dia, kamu berhak bawa dia pergi dari sini. Karena dia adalah istri kamu,”


“Gimana sama Mama?”


“Yang penting itu adalah kamu dan juga keluarga kamu. Adelia lagi hamil anak kedua kalian, jangan sampai Arsyila jadi korban kalau kalian berpisah. Dan juga anak yang ada dikandungan Adelia,”


“Aku harus gimana?”


“Kamu mau tinggal sama Adelia?”


“Terus kamu mau cerai gitu aja? Kalian udah nglewatin banyak banget masalah. Jangan sampai kalian menyerah hanya sampai di sini. Kasihan Arsyila, kasihan juga anak yang ada dikandungan Adelia. Terlebih karena nenek juga pesan sama kamu kalau kamu nggak boleh pisah sama dia,” pesan Aksa.


Devan menghela napas panjang begitu dia menjelaskan mengenai mereka berdua harus tetap bertahan apa pun yang terjadi. Setiap rumah tangga pasti ada masalah yang menimpa. Kadang orang yang terlihat bahagia pun sering menyimpan masalah sendirian dibandingkan dengan memperlihatkan apa yang sedang mereka alami.


“Devan, tunggu sebentar!” panggil papa mertuanya.


Dia menoleh begitu papa mertuanya datang. Dia melihat papa mertuanay dengan ekspresi yang terlihat begitu tidak baik. devan tahu jika dia yang mendukung rumah tangga Devan dan juga Adelia sekarang. Namun, tidak dengan mama mertuanya yang selalu mengekang Adelia agar tidak keluar dari rumah untuk tinggal bersamanya.


“Ada apa, Pa?”

__ADS_1


“Tunggu beberapa hari lagi. Kamu jemput Adelia dan juga anak kamu!”


“Papa nggak denger Mama nyuruh aku ceraikan Adelia?”


“Biar Papa yang ngomong. Satu hal lagi, nanti Papa bakalan ketemu sama Papa kamu. Jangan menyerah. Mama kamu sedang dalam keadaan tidak baik, papa sarankan kamu datang lagi nanti ya! Papa nggak mau kamu sama Adelia cerai. Lihat Arsyila juga butuh kamu, Adelia hamil juga anak kedua kalian. Papa nggak bisa bayangin gimana dia menjanda di usia dia yang masih muda. Terlebih juga karena kalian masih saling sayang. Kalau kalian masih sayang jangan ambil keputusan di saat lagi emosi. Papa nggak kamu kamu sama dia beneran cerai, sekalipun itu disuruh oleh Mamanya Adelia. Karena setelah menikah Adelia jauh lebih berhak sama kamu. Jangan sampai kamu pisah dan korbanin dua anak kamu. Sekalipun yang satunya belum lahir. Tapi lihat Arsyila! dia juga butuh kamu. Papa minta kamu sabar sebentar saja. Papa yang bakalan ngomong sama Adelia,”


“Makasih sebelumnya, Pa,”


“Adelia itu terkejut karena dia nggak pernah diceritakan mengenai Papa kamu. Jadi jangan sampai kamu beneran ceraikan dia, Papa nggak mau kalian nanti malah nyesel setelah ambil keputusan seperti ini. Papa pengin kalian hidup seperti pasangan pada umumnya. Punya keluarga yang bahagia, tanpa adanya permasalahan yang seperti itu. papa pengin juga ngomong sama orang tua kamu mengenai hal ini. Kasihan juga kamu yang terus menanggung semuanya, terlebih karena masa lalu Papa kamu. Ya Papa akui karena dulu kita nggak pernah mikir yang namanya kedepan gitu kan. Jadi kita tahu enaknya aja, pasti kalian juga merasakan hal yang sama. Tapi nggak pernah tahu kejadiannya akan seperti apa. Papa pertahanin kamu sama Adelia karena Papa nggak mau kalian itu ngerasain hal yang sama. Kamu yang nanti nyari perempuan lain seperti Papa kamu. Terus gimana sama Arsyila? dia pasti sedih banget kalau dia nggak lihat orang tuanya bersatu, jujur aja kalau Papa itu sedih lihat kalian seperti ini. Apalagi tadi waktu Mamanya Adelia jujur. Keano nggak suka juga kalau kalian pisah. Jadi Papa minta tolong sama kamu kalau kamu jangan sampai pisah sama dia ya!”


Devan memangku Arsyila dan anak itu memeluknya seolah tak memberikan izin untuk Devan pergi. “Kamu bilang kamu punya rumah, kan?”


“Iya, rumah aku udah jadi, Pa.”


 


 


Devan memang memiliki rumah yang sangat besar. Disediakan untuk anak dan juga istrinya jika keduanya nanti mau pulang bersama dengan dirinya. Kejadian tadi membuat Devan cukup terkejut ketika mama mertuanya mengatakan bahwa dia harus berpisah dengan Adelia. Jujur saja jika dia itu sangat mencintai dan juga menyayangi anaknya. Devan tidak pernah ingin jika keluarga kecilnya hancur dia hanya ingin berkumpul dengan kedua perempuan itu. devan ingin jika mereka bertiga berkumpul dan juga tidak ingin ada masalah besar lagi yang menghancurkan mereka. Begitupun dengan Devan yang sangat takut jika mereka benar-benar bercerai justru timbul penyesalan yang sama seperti orang tua mereka rasakan dan berdampak pada anaknya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2