WITH YOU

WITH YOU
Melepaskan Beban Terakhir (Extra Part 1)


__ADS_3

Setelah konser comeback-nya sukses besar. Carissa akhirnya mendapatkan masa libur yang agak panjang, sebelum nantinya kembali pada rutinitasnya sebagai seorang pianis profesional.


Alya, Mama Carissa juga sudah kembali ke Amerika karena Clara sudah melahirkan dan membutuhkannya juga di sana. Karena Lily sudah lebih besar dan daya tahan tubuhnya juga sudah semakin bagus, saat ini bayi mungil itu sudah mulai kembali ikut Carissa beraktivitas.


Hari itu, Evan tampaknya bersiap mengajak Carissa dan juga Lily untuk pergi ke suatu tempat. Evan juga mengatakan pada Carissa untuk mengenakan pakaian terbaiknya karena mereka akan mengunjungi tempat yang sangat penting.


Meski sedikit jengkel pada suaminya itu karena tak mengatakan dengan jelas akan membawanya kemana, pada akhirnya Carissa tetap mengikuti kemauan Evan dan berpenampilan sebaik mungkin. Carissa juga memakaikan Lily pakaian bagus seolah mereka akan menghadiri sebuah acara formal.


"Sudah siap?" Tanya Evan pada Carissa.


Carissa mengangguk mengiyakan. Mereka kemudian berangkat dengan mengendarai sebuah mobil.


Sepanjang perjalanan, Lily terus saja berceloteh. Putri Carissa dan Evan itu tumbuh menjadi bayi yang cantik dan menggemaskan. Saat ini, dia sudah bisa mengucapkan kata ma ma dan pa pa, hingga membuat Mama dan Papanya senang bukan kepalang. Pasangan itu bahkan tak jarang merekam celotehan putri kecil mereka ke dalam sebuah video.


Karena Lily, perjalanan mereka menjadi terasa singkat. Mobil Evan akhirnya menepi di sebuah tempat yang terletak di pinggiran kota. Dari dalam mobil Carissa memperhatikan tempat yang akan mereka kunjungi. Dan ternyata tempat itu adalah sebuah tempat pemakaman.


Carissa tertegun selama beberapa saat.


"Ayo."


Evan yang telah turun terlebih dahulu tampak membukakan pintu untuk Carissa, hingga mau tak mau Carissa turun meski dengan raut wajah yang sedikit bingung.


Tanpa berkata-kata, Evan menggandeng tangan Carissa sambil menggendong Lily dengan satu tangannya yang lain, lalu melangkah memasuki area pemakaman.


Evan terus melangkah, diikuti Carissa dari belakang, sampai akhirnya lelaki itu berhenti tepat di hadapan dua buah makam yang terletak saling berdampingan.


Evan tertegun selama beberapa saat, sebelum akhirnya menoleh kearah Carissa yang terlihat bingung.

__ADS_1


"Ini makam kedua orang tua kandungku. Sudah saatnya aku membawamu untuk datang menemui mereka." Ujar Evan akhirnya.


Carissa tampak sedikit terkejut dengan mulut yang sedikit terbuka. Setelah kebenaran tentang Papanya yang menjadi penyebab orang tua Evan meninggal, suami Carissa itu hampir tidak pernah membahas tentang kedua orang tua kandungnya. Dan Carissa sendiri tidak berani mengungkit tentang hal itu. Dia takut Evan akan kembali merasa terluka jika teringat pada mereka.


"Selama ini aku selalu merasa tidak siap membawamu kemari. Aku takut tempat ini akan kembali mengingatkanku pada luka masa lalu dan membuatku merasakan sakit lagi. Tapi sekarang aku sadar, aku tidak boleh menghindar lebih lama lagi, aku tidak ingin lagi terluka karena kenangan masa lalu."


Evan mengalihkan pandangannya kearah makan kedua orang tuanya. Sedangkan Carissa masih terdiam karena tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


"Lagipula, sudah saatnya aku membawa Lily untuk melihat mereka..." Tambah Evan lagi.


Evan maju beberapa langkah, dan berlutut sambil memangku Lily tepat di depan makam kedua orang tuanya. Evan membiarkan Lily menyentuh salah satu nisan. Putri kecilnya itu berceloteh sambil sesekali tertawa riang.


"Mama, Papa, aku datang. Kali ini aku tidak datang sendiri, tapi bersama anak dan istriku, menantu dan cucu kalian." Evan juga ikut menyentuh nisan kedua orang tuanya secara bergantian.


Kemudian Evan menoleh pada Carissa.


Carissa menurut. Ia mendekat, lalu ikut berlutut di hadapan makam kedua orang tua Evan.


"Kenalkan, ini Carissa istriku. Dan tuan putri cantik ini Lily, cucu kalian." Evan mengenalkan Carissa dan Lily pada kedua orang tuanya yang telah terbaring di dalam tanah.


Evan memandang makam yang ada di hadapannya dengan mata yang agak sendu, tapi bibirnya berusaha mengulas sebuah senyuman.


"Ma, Pa, sekarang aku sudah punya keluarga sendiri. Aku sudah merasakan bagaimana menakjubkannya menjadi orang tua. Aku yakin Mama dan Papa juga merasakan hal itu saat aku lahir dulu."


Evan terdiam sejenak sembari menghela nafas panjang.


"Saat Mama dan Papa meninggalkanku dulu, aku sempat merasa sangat terpuruk. Seringkali aku menyalahkan kalian karena telah tega meninggalkanku sendirian. Aku juga pernah berpikir jika hidupku tak berarti lagi dan ingin menyusul kalian. Tapi kemudian aku sadar, hidupku tak sepenuhnya buruk meski harus sebatangkara di usia yang masih sangat muda."

__ADS_1


Evan kembali menghela nafasnya.


"Karena musibah yang menimpaku itu, aku jadi tahu jika di dunia ini masih ada orang yang mempunyai hati yang tulus seperti kedua orang tua angkatku. Mereka membesarkanku dengan penuh kasih sayang, seakan aku adalah darah daging mereka sendiri. Aku tidak lagi sebatang kara dan punya masa depan yang cerah."


Evan kembali berhenti, lalu menoleh pada Carissa.


"Selain itu, aku juga banyak bertemu dengan orang-orang baik lainnya, mereka semua mengisi hidupku dan membuat aku tak pernah merasa sendirian lagi. Sekarang aku tidak akan lagi menyalahkan takdir karena telah membuat kalian meninggalkanku. Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Istirahatlah dengan tenang, Ma, Pa, putramu tidak sendirian lagi. Dia sudah hidup dengan baik bersama orang-orang yang mencintainya..." Nafas Evan agak tersengal karena dadanya yang mendadak terasa bergejolak.


Tapi kemudian Evan merasakan sentuhan lembut di bahunya. Tampak Carissa sedang mengusap bahu suaminya itu sambil memandang dengan tatapan lembut. Ia seakan ingin menenangkan sekaligus memberikan kekuatan untuk Evan.


Carissa kemudian menatap kearah makam yang ada di hadapannya.


"Ma, Pa, aku Carissa, istri Evan." Carissa membuka suaranya.


"Maaf, setelah sekian lama menikah dengan Evan, baru sekarang aku menemui kalian." Tambah Carissa lagi.


"Kalian bisa beristirahat dengan tenang karena sekarang Evan telah menjadi sosok yang hebat. Dia bukan lagi anak kecil yang menangis waktu itu, tapi telah berubah menjadi seseorang yang mengagumkan. Dia berhasil menjadi seorang dokter spesialis jantung, sudah banyak orang yang menderita penyakit seperti kalian yang mendapat bantuannya. Kalian harus bangga padanya."


Carissa kembali menoleh kearah Evan.


"Sekarang Evan tidak akan merasa kesepian lagi, karena aku akan selalu menemaninya seumur hidupku. Aku akan menghiburnya jika dia sedang merasa sedih, dan aku juga akan menyediakan bahu yang bisa disandarinya saat dia sedang merasa lelah. Aku akan selalu berusaha membuatnya merasa bahagia sekuat tenagaku. Aku berjanji." Ujar Carissa lagi sembari menatap lembut kearah Evan.


Evan tersenyum pada Carissa dengan perasaan yang jauh lebih lega. Kini hatinya terasa lebih ringan karena telah berhasil melepaskan beban terakhir yang selama ini membelenggunya.


☆☆☆


Happy reading❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2