Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 98


__ADS_3

Lita pamit kepada bi Narsih untuk pulang. Ia berpesan agar tidak membangunkan Alina terlebih dahulu. Namun sebelum Lita pulang, ia menghubungi Arvin terlebih dahulu.


"Bi, saya pulang dulu ya," pamit Lita. Bi Narsih mengangguk dengan sopan.


"Iya nyonya. Hati-hati di jalan," jawab bi Narsih.


Tak lama setelah Lita pulang, Arvin segera datang. Ia bahkan meninggalkan rapatnya ketika mendengar kabar tersebut. Karena ia tahu jika Alina mual dan muntah pasti tubuhnya akan lemas dan pucat. Dan itu membuatnya tak konsen bekerja.


"Bi, Alina di mana?" tanya Arvin yang baru saja memasuki rumahnya.


"Lagi istirahat di kamar tuan," jawab bi Narsih. Arvin mengangguk dan segera berlari menuju kamarnya.


Saat ia sampai di kamarnya, Arvin tersenyum tipis melihat Alina yang sedang tertidur. Pelan-pelan Arvin mendekatinya dan duduk di tepi ranjang. Arvin mencium kening dan pipi Alina dengan lembut.


"Mas, kok sudah pulang?" tanya Alina yang terkejut melihat suaminya sudah berada di sampingnya.


"Iya, tadi mama yang ngabarin mas. Kan mas sudah bilang kalau ada apa-apa hubungi mas. Kenapa tidak mendengarkan? Hmm?" tanya Arvin khawatir.


"Maaf mas. Aku nggak mau mengganggu pekerjaan kamu. Lagipula ini hal yang wajar kok mas," balas Alina. Namun tetap saja Arvin mengkhawatirkannya.


Arvin berganti baju dan kini ia sudah memakai baju santainya. Ia menuntun Alina ke ruang tengah karena Alina ingin nonton siaran tv.


"Sudah makan?" tanya Arvin yang saat ini berada di ruang tengah.


"Sudah tadi, tapi keluar lagi," jawab Alina dan menyengir ke arah suaminya. Arvin menghela napasnya pelan.


"Mau makan apa? Biar mas buatkan," ucap Arvin menawari. Karena tadi pagi waktu Alina sarapan juga tidak mual dan muntah. Kali saja ini juga begitu. Alina berpikir sejenak.


"Mas aku mau nasi goreng lagi, tapi kali ini harus ada petainya ya," ucap Alina.


"Yang lainnya saja sayang. Kan tadi pagi sudah makan nasi goreng," tolak Arvin. Alina memanyunkan bibirnya. Ia terlihat kesal. Akhirnya Arvin menyetujui apa yang Alina minta. Nasi goreng campur petai. Ada-ada saja.

__ADS_1


Seperti yang Arvin duga, makanan yang ia buat tak berpengaruh apa-apa. Bahkan Alina dengan lahapnya menikmati nasi goreng tersebut.


"Tadi pagi juga nggak kenapa-napa. Tapi kok saat makan masakan mama Alina jadi mual. Padahal enakan masakan mama banget loh. Ini lidah Alina yang bermasalah atau apa sih. Tuhkan lahap banget makannya," batin Arvin yang tak habis pikir karena hanya makanan yang ia buat saja yang tak berpengaruh apa-apa.


Jangankan masakan mamanya, masakan bi Narsih saja baru mencium aromanya Alina sudah mual. Kini Arvin mengerti, setiap makanan yang masuk ke dalam mulut Alina harus Arvin sendiri yang memasaknya.


***


Sudah berjalan empat bulan kehamilan Alina. Ia juga tidak mual muntah lagi selama makanan yang ia konsumsi Arvin sendiri yang memasaknya.


Ia juga sudah mulai beraktivitas seperti biasanya. Bahkan Arvin tak melarangnya untuk bekerja kembali di restorannya. Selama Alina bisa menjaga tubuhnya sendiri dan tahu batasan dirinya sendiri.


Alina merasa lebih bebas pada kehamilannya yang kedua ini. Bagaimana tidak, dulu waktu kehamilan pertamanya bahkan Arvin tak mengizinkan Alina untuk keluar rumahnya kecuali ditemani langsung oleh Arvin.


"Ran, nanti tolong input laporan bulan ini ya. Saya mau menganalisa penjualan kita untuk bulan ini," ucap Alina kepada Rani.


"Iya mbak. Sekarang juga akan Rani kerjakan," jawab Rani dan mengangguk sopan.


Tring


Satu pesan masuk ke ponselnya. Ia melihat sekilas dan ternyata Dewi yang mengiriminya pesan. Alina mengambil ponselnya dan membaca pesan tersebut.


"Aku lagi sama anak-anak di mall dekat restoran kamu nih. Jangan lupa ke sini ya, jangan kerja terus yang diurusin, hehehe," isi pesan yang menjadi caption foto yang Dewi kirim padanya. Alina tersenyum tipis. Ia melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Oke, sebentar lagi selesai kok. Aku segera ke sana. Terima kasih sudah mau menjaga Barra selama ini Wi," setelah selesai mengetik, Alina mengirimnya.


Alina menghentikan pekerjaannya. Ia menelepon kliennya kalau tidak bisa bertemu hari ini. Untungnya kliennya kali ini mudah ditangani dan Alina bisa langsung menuju mall dekat restorannya.


"Loh mbak, mau ke mana? Ini laporannya sudah hampir selesai mbak," ucap Rani menghentikan langkah Alina. Alina menoleh ke arah Rani.


"Iya, saya hanya sebentar kok. Nanti balik ke sini lagi," balas Alina dan Rani mengangguk paham.

__ADS_1


Alina menuju parkiran yang sudah ada pak Kariman di sana. Ia memerintahkan agar segera menuju ke mall yang tak jauh dari tempatnya.


Hanya lima menit perjalanan yang Alina tempuh. Kini ia sudah berada di tengah-tengah mall menuju area bermain.


Alina tersenyum ketika melihat putranya yang aktif bermain. Ia berjalan pelan mendekati Dewi yang duduk tak jauh dari area bermain tersebut.


"Hei," ucap Alina sedikit mengagetkan Dewi.


"Loh, cepat banget kamu ke sini?" tanya Dewi sambil celingak-celinguk.


"Kangen sama anak-anak aku. Lagian di restoran bosan juga," jawab Alina dan tertawa kecil.


Mereka mulai mengobrol bahkan sampai hal-hal yang tak penting sekalipun mereka bahas. Mereka juga tertawa lepas karena apa yang mereka ceritakan terkesan lucu. Mereka saling menikmati moment yang jarang sekali ia rasakan seperti saat ini. Kesibukan di antara mereka yang tak sempat membuat mereka punya waktu santai berdua.


"Kok aku jadi kangen sama Sinta ya. Setelah pernikahan waktu itu dia juga tidak pernah menghubungi kita lagi," ujar Alina yang tiba-tiba merasa kangen terhadap Sinta.


"Nggak tahu ah, aku juga nggak pernah kontak lagi dengannya," jawab Dewi yang sama seperti Alina. Kehilangan kontak dengan sahabatnya yang satu ini.


"Wi, aku ke toilet sebentar ya. Oh iya, kelihatannya anak-anak juga masih betah bermain. Kita pulangnya sore saja. Jarang-jarang kan kita punya waktu berdua begini," ujar Alina sambil memperhatikan Barra dan Naura.


"Iya Alina sayang," jawab Dewi sambil terkekeh. Alina memukul lengan Dewi dengan pelan. Kemudian ia berjalan menuju toilet.


Cukup lama ia di toilet. Saat perjalanan menuju tempatnya kembali, tiba-tiba ia ingin minum coffee milk. Ia menuju food court dan mulai memesan dua coffee milk. Sambil menunggu pesanannya, Alina duduk di kursi pengunjung. Ia harus sedikit mengantri karena ramainya pengunjung.


Alina menuju kasir untuk membayar dua cup coffee milk yang tadi ia pesan. Alina kebingungan karena tidak menemukan dompetnya di dalam tasnya itu. Ia terus mengobrak-abrik isi tas tersebut siapa tahu terselip di dalam. Namun tetap tidak ada.


"Bagaimana kak? Mau bayar tunai atau pakai kartu?" tanya kasir tersebut yang lumayan lama menunggu Alina untuk membayarnya.


"Sebentar ya," jawab Alina. Ia yakin bahwa sudah memasukkan dompetnya di dalam tasnya.


"Pakai uang saya saja. Minuman yang mbak ini pesan biar masuk ke tagihan saya," sahut seseorang yang berada di belakang Alina. Alina terdiam kaku. Ia sepertinya mengenal suara ini.

__ADS_1


__ADS_2