Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 93 (season 2)


__ADS_3

Sore harinya, Zara sudah pulang dari kuliahnya. Saat ini mereka sekeluarga sedang berada di ruang keluarga menikmati waktu bersama. Ini pertama kalinya Zara berkumpul dengan kedua orang tuanya. Namun dalam hatinya sedang dilema, Zara senang sekaligus khawatir dengan hubungannya.


"Zara, lusa papa ingin mengadakan pesta penyambutan kembalinya kamu sebagai putri keluarga Mahindra. Sekaligus untuk mengenalkanmu pada teman-teman papa. Bagaimana menurutmu?" ucap Anton.


"Apa tidak berlebihan Pa? Zara tidak terbiasa dengan itu," ucap Zara.


"Tidak bisa dibantah. Papa ingin menebus kesalahan papa padamu sayang. Satu lagi, sebenarnya papa ingin mengganti namamu juga, menjadi Zivania Mahindra," ujar Anton.


"Zara adalah nama Zara sejak kecil. Semua orang juga kenalnya dengan nama itu. Kenapa harus diganti Pa?" rengek Zara. Anton menghela napasnya sejenak.


"Baiklah, akan papa ubah menjadi Zara Mahindra. Margamu adalah Mahindra sayang. Jadi mulai hari ini kamu harus terbiasa dengan itu," ujar Anton. Zara hanya menjawab dengan anggukan.


Mereka mengobrol dan membahas berbagai hal. Saling mengenal kembali setelah bertahun-tahu tidak kunjung bertemu. Meskipun awalnya Zara merasa seperti orang asing, tetapi ayahnya dan mamanya sangat menyayanginya. Sehingga tak sulit bagi Zara untuk membangun kedekatan antara mereka.


"Mas, apa tidak sebaiknya kita tunda dulu pesta penyambutan Zara? Kasihan juga pada Zara, apalagi dia sedang mengandung seperti ini," ujar Diana. Anton berpikir sejenak.


"Tapi sayang, aku ingin dunia tahu jika Zara adalah putriku. Agar tidak ada lagi orang-orang yang merendahkannya," ucap Anton. Setelah ia mengetahui bahwa Zara adalah putrinya, Anton diam-diam menyelidiki kehidupan Zara di luar sana. Benar saja, banyak yang bersikap tidak suka pada Zara. Bahkan ada yang ingin mencoba menyakiti putrinya. Sebagai seorang ayah, Anton tidak akan rela jika putrinya diperlakukan seperti itu. Itu adalah kesalahannya sehingga membuat Zara menderita dan kehilangan haknya. Harusnya Zara hidup lebih layak dan tidak bekerja keras demi hidupnya sendiri.


"Kita adakan di rumah saja. Walaupun sederhana tetap harus ada pesta penyambutan kan?" tanya Anton.


"Ya sudah, nanti biar aku yang mengurusnya mas," ujar Diana pasrah. Anton tersenyum senang.


"Zara, ada sesuatu yang ingin papa bicarakan berdua denganmu. Ikut papa ke ruang kerja sekarang," perintah Anton. Ia berdiri dan segera menuju ruang kerjanya. Zara menatap Diana sejenak. Diana mengangguk sambil tersenyum tipis. Lalu Zara pamit untuk menemui ayahnya di ruang kerja.

__ADS_1


Zara ragu-ragu untuk masuk ke ruang kerja ayahnya. Zara belum sedekat itu hingga ia bisa terbiasa seperti anak pada umumnya. Zara masih banyak penyesuaian yang harus ia lakukan.


"Pa, a-ada apa papa memanggil Zara ke sini?" tanya Zara yang masih berdiri di dekat pintu. Anton menatap Zara. Lalu ia duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya.


"Duduklah," ucap Anton. Zara berjalan menuju sofa dengan gugup. Lalu ia duduk di sofa depan ayahnya.


"Apa kamu benar-benar mencintai anak dari keluarga Mahardika?" tanya Anton tanpa basa-basi. Zara menatap Anton sejenak. Ia ragu untuk menjawabnya. Zara hanya khawatir jika ayahnya akan berbuat sesuatu pada Zidan.


"A-aku sangat mencintainya Pa," ucap Zara pelan. Ia menundukkan kepalanya sambil terus meremas ujung bajunya.


"Apa mereka pernah memperlakukanmu dengan buruk?" tanya Anton. Ia ingin memastikannya dulu sebelum bertindak lebih jauh. Zara menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Mereka sangat baik pada Zara. Mereka yang memberikan Zara kehidupan baru. Merasakan lengkapnya keluarga yang belum Zara rasakan selama ini. Jika papa berniat untuk memisahkan kami berdua karena papa ada masalah dengan papanya Zidan, Zara mohon jangan lakukan itu Pa," ucap Zara dengan panik. Anton mengernyitkan dahinya.


Suasana hening beberapa saat. Zara masih tertunduk di depan ayahnya. Ia belum berani menatap ayahnya saat ini. Anton masih bergelut dalam pikirannya.


"Apa kamu yakin jika mereka akan bersikap sama seperti sebelumnya setelah mereka mengetahui kebenaran ini?" tanya Anton.


"Zara sangat yakin Pa. Keluarga mereka adalah keluarga yang baik. Mereka bahkan menerima menantu seperti Zara yang dulu memiliki reputasi yang tidak terlalu bagus," kekeh Zara. Ia akan terus berusaha meyakinkan ayahnya jika keluarga Mahardika tidak seburuk yang ayahnya pikirkan.


"Hmmm... Aku tidak yakin jika Arvin keparat itu akan menerima putriku dengan tangan terbuka. Aku tahu sikapnya," batin Anton lagi. Ia masih ragu dengan keputusan yang akan ia ambil nanti.


"Kamu, tidak sedang membohongi papa kan sayang?" tanya Anton pelan namun penuh penekanan. Hingga membuat Zara kesusahan menelan salivanya sendiri.

__ADS_1


"Zara tidak mungkin membohongi papa," balas Zara. Anton tertawa keras. Ia baru sadar jika sikapnya ini telah membuat putrinya takut padanya. Anton mengusap wajahnya sekilas.


"Kemarilah," ucap Anton. Zara berjalan mendekat. Ia duduk di samping ayahnya. Anton merengkuh Zara dalam pelukannya. Ia mengusap rambut Zara dengan lembut. Bahkan sikapnya ini berbeda dari sikapnya barusan.


"Maafkan sikap papa kemarin sayang. Papa hanya khawatir padamu saja," ucap Anton.


"Apa ini artinya papa tidak akan memisahkan kami berdua?" tanya Zara penuh harap.


"Iya, papa tidak akan mengganggu hubungan kalian lagi," jawab Anton. Zara tersenyum lebar. Ia memeluk papanya lagi. Ia tidak percaya jika ayahnya akan merestuinya secepat ini.


"Tapi malas sekali meminta maaf pada Arvin itu, cih. Biar dia duluan saja yang mengajak damai," batin Anton.


Setelah pembicaraan tadi, Anton meminta Zara agar merahasiakannya dulu dari suaminya. Anton berpikir itu akan menjadi kejutan mereka saat bertemu nanti. Bagaimanapun juga Zara adalah putrinya. Anton tidak ingin menjadi sumber penderitaan putrinya lagi. Sudah cukup selama 20 tahun ini putrinya hidup menderita karenanya.


Zara dan Anton keluar dari ruang kerja. Diana juga tidak diberitahu akan hal yang mereka bicarakan tadi. Hanya antara Anton dan Zara saja. Anton hanya takut jika dirinya berusaha memisahkan Zara dan Zidan, justru Zara akan semakin membencinya. Dan Anton tidak sanggup untuk menerima kenyataan itu nanti.


Hari menjelang malam, mereka makan malam bersama. Semenjak kehadiran Zara, Syifa merasa tidak nyaman. Namun dirinya tidak dapat menunjukkan hal itu di depan orang tuanya.


"Jadi, bagaimana tadi? Apa yang kalian bicarakan?" tanya Diana penasaran. Anton hanya tersenyum lalu melanjutkan makannya. Sedangkan Zara melirik ayahnya dan berganti menatap ibunya. Sebenarnya Zara ingin bercerita pada Diana, namun Anton meminta untuk dirahasiakan terlebih dahulu.


"Hanya membahas tentang pesta penyambutan saja. Lusa kita juga akan mengundang keluarga Mahardika," ujar Anton sambil memalingkan wajahnya.


"Mas, apa kamu sudah memberikan mereka restu?" tanya Diana.

__ADS_1


"Siapa? Ti-tidak. Mana mungkin aku memberikan restuku semudah itu. Apalagi berdamai dengan Arvin," jawab Anton salah tingkah. Zara hanya tersenyum melihat ayahnya yang ternyata juga bisa salah tingkah seperti itu. Mereka lalu melanjutkan makan malamnya.


__ADS_2