
Pagi harinya, Raffa termenung di balkon kamarnya. Ia memandangi langit yang cerah pagi itu. Sejuknya angin pagi menambah semangat dirinya untuk memulai aktivitas.
Sudah beberapa hari ini ia ikut mengelola restoran mommy nya. Tapi yang ia tidak suka adalah harus bertemu dengan Viona. Wanita yang terlalu berisik menurut Raffa.
Langit yang cerah membuat suasana hati Raffa membaik hari ini. Ia juga mulai bisa melepas rasa sukanya terhadap Zara. Gadis yang diam-diam ingin ia jaga namun lebih dulu melabuhkan cintanya pada Zidan, abangnya.
Raffa menghela napasnya beberapa kali. Ia beranjak untuk duduk di kursi dan mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Penampilannya masih acak-acakan khas orang bangun tidur. Ia malas untuk keluar kamar sepagi ini.
Setelah merasa cukup untuk menenangkan diri, Raffa beranjak untuk ke kamar mandi. Membersihkan diri dan bersiap ke restoran. Selesai bersiap, Raffa keluar kamarnya dan menuju meja makan. Pemandangan pertama yang selalu ia lihat setelah keluar dari kamarnya yakni melihat Alina yang sedang sibuk menyiapkan menu sarapan pagi.
Raffa tersenyum tipis sambil berjalan menghampiri Alina. Ia menarik kursi dan duduk di sana. Tak lupa juga ia menyapa Alina.
"Pagi Mom," sapa Raffa. Alina tersenyum tipis.
"Pagi juga sayang," balas Alina. Ia sedang menuangkan minuman ke dalam gelas.
Di halaman belakang, Zara sedang menyirami tanaman. Karena ia tidak diizinkan oleh Alina untuk membantunya memasak, Zara memilih untuk melakukan aktivitas yang ringan seperti pagi ini yang ia lakukan. Zara terlihat lebih segar dan bahagia pagi ini. Senyumnya merekah seperti bunga yang sedang ia sirami saat ini.
Zidan yang baru bangun dari tidurnya langsung mencari keberadaan istrinya. Namun ia tak melihat Zara di dapur. Hanya mommy nya dan Raffa yang ada di sana.
"Mom, Zara di mana?" tanya Zidan. Ia duduk di samping Raffa lalu mengambil air minum dan meneguknya.
"Di halaman belakang sayang," jawab Alina. Ia beranjak ke kamar untuk membangunkan Arvin.
Zidan menuju ke halaman belakang. Ia memperhatikan Zara yang sedang sibuk menyiram bunga dari ambang pintu. Zidan menyandarkan tubuhnya dan meletakkan tangannya di depan dadanya. Tatapan matanya masih tertuju pada istrinya yang sama sekali tidak menyadari kehadirannya.
Zidan perlahan menghampiri Zara. Ia mendekap Zara dari belakang dan mencium pipi Zara sekilas. Zara terkejut dengan kedatangan Zidan. Namun ia langsung tersenyum lebar kala Zidan mencium pipinya.
__ADS_1
"Pagi-pagi sudah beraktivitas, bukankah harusnya kamu banyak-banyak istirahat sayang," ucap Zidan. Zara menghentikan aktivitasnya.
"Aku tidak enak kalau hanya duduk diam saja Zidan. Nggak apa-apa ya, kan aku hanya melakukan kegiatan yang ringan saja," balas Zara.
"Baiklah," ucap Zidan. Ia mengambil alih selang air yang ada ditangan Zara. Zidan menyuruh Zara untuk duduk bersantai. Saat ini Zidan mengambil alih aktivitas Zara.
Semenjak Zara hamil, Zidan selalu waspada pada apa yang dilakukan Zara. Maklum saja, mungkin karena ini baru pertama kalinya Zara hamil anaknya. Ia lebih protektif terhadap Zara.
Selesai menyiram bunga, Zidan membawa Zara masuk ke dalam rumah kembali. Semua sudah berkumpul di ruang makan. Tinggal Zidan dan Zara yang belum.
"Mom, aku akan mandi dulu. Kalian makanlah terlebih dahulu," ucap Zidan. Semua mengangguk. Zidan membawa Zara ke kamar mereka. Karena Zidan juga belum mandi.
Sambil menunggu Zidan selesai mandi, Zara menyiapkan baju kerja untuk suaminya itu. Ia membuka almari dan memilah baju untuk Zidan pakai hari ini.
Klek
Pintu kamar mandi terbuka. Nampak Zidan yang baru selesai mandi dan hanya memakai handuk untuk membalut tubuhnya. Pipi Zara seketika merona melihat Zidan berpenampilan seperti itu.
"Terima kasih sayang," ujar Zidan. Ia mengecup pipi Zara sekilas.
Zara membantu Zidan memakai baju kerjanya. Mulai dari membantu memasangkan kancing baju Zidan hingga membantu memakaian dasinya. Kini Zidan sudah siap untuk pergi bekerja. Semenjak dirinya menginap di rumah orang tuanya, Zidan tak lagi menyuruh Fanny untuk menjemputnya. Zidan ingin pergi sendiri mengendarai mobilnya.
Zidan dan Zara keluar kamarnya. Mereka menuju meja makan yang sudah sepi. Hanya ada Alina dan Arvin saja. Karena Raffa dan yang lainnya sudah berangkat untuk kerja.
"Papa kerja dulu ya," ucap Arvin sambil menepuk bahu Zidan. Zidan tersenyum dan mengangguk. Kini, di ruang makan hanya ada Zara dan Zidan. Alina mengerjakan pekerjaan rumah yang lainnya.
Selesai makan, Zidan pamit pada istrinya dan mommy nya. Ia berangkat kerja meskipun sedikit terlambat. Tak lupa ia mencium perut Zara yang masih terlihat rata. Zidan bergegas untuk berangkat kerja.
__ADS_1
Di tempat lain, Raffa sudah berada di restoran. Restoran masih sepi karena baru saja buka. Ia menuju ruangannya untuk bertemu dengan Rani.
"Selamat pagi bu," ucap Raffa sopan.
"Pagi Raffa, tumben pagi-pagi sudah ke sini? Viona saja belum datang," ucap Rani. Raffa hanya melempar senyum dan beralih mengambil beberapa dokumen yang terletak di atas meja. Ia menuju sofa untuk mengecek dokumen tersebut.
Raffa terlalu serius jika menyangkut dengan pekerjaan. Meskipun sekarang belum sepenuhnya ia bertanggung jawab atas restoran ini, tetapi suatu saat nanti jika ia sudah lulus kuliah pasti ia akan menjadi pemimpin baru di restoran ini. Tak mungkin juga jika Rani yang mengurus restoran ini selamanya.
"Heyyy..." ucap Viona secara tiba-tiba dan mengagetkan Raffa. Raffa menatap Viona sekilas lalu fokus kembali dengan dokumennya. Viona yang merasa kesal diabaikan oleh Raffa tiba-tiba mengambil dokumen yang ada ditangan Raffa begitu saja. Viona beralih duduk di samping Raffa.
"Kembalikan!" ucap Raffa datar.
"Kalau aku tidak mau?" tantang Viona. Raffa menatap Viona menahan emosinya. Viona selalu membuat suasana hatinya memburuk. Gadis yang menurutnya terlalu berisik dan selalu mengganggunya.
Raffa menyambar dokumen itu kembali. Dengan sigap Viona mengalihkan dokumen tersebut di belakangnya. Ia menjulurkan lidahnya karena sudah berhasil mengerjai Raffa. Raffa menghela napasnya sejenak.
"Vi, jangan ganggu aku!" ucap Raffa. Namun Viona tetap tidak peduli.
Perlahan Raffa memajukan wajahnya. Membuat Viona sedikit demi sedikit memundurkan tubuhnya. Viona menjadi salah tingkah. Ini pertama kalinya Raffa merespon dirinya.
"Apa yang akan dilakukan oleh Raffa? Ke-kenapa sedekat ini?" gumam Viona dalam hatinya.
Bugh
Raffa memukul sofa dengan sedikit keras. Membuat Viona terkejut dan kesusahan menelan salivanya. Wajah Raffa semakin dekat dengan Viona. Ketika Viona lengah, Raffa langsung mengambil dokumen tersebut dengan cepat sebelum Viona tersadar.
Puk!!
__ADS_1
Raffa memukul kening Viona dengan dokumen tersebut. Membuat Viona tersentak.
"Jangan menggangguku lagi!" ujar Raffa. Ia kembali duduk sempurna. Viona masih mematung dalam posisinya. Jantungnya terpacu begitu cepat hingga dirinya seolah kehilangan kesadarannya. Viona bengong, hampir saja ia mengira bahwa Raffa akan menciumnya.