Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 27 (season 2)


__ADS_3

Zidan beranjak menuju ranjang. Ia menghampiri Zara dan duduk di tepi ranjang. Zidan masih memerhatikan Zara. Memandangi wajah polos Zara yang sedang tertidur.


"Kamu tahu, sejak pertama kali aku melihatmu aku sudah tertarik padamu. Rasanya aku hanya ingin dekat denganmu saja. Kamu itu wanita tangguh, pekerja keras dan pantang menyerah. Aku ingin selalu melindungimu Zara. Aku ingin menjadi tempat bersandarmu. Apa kamu juga memiliki rasa itu? Rasa cinta dan sayang, sama sepertiku, hmm?" ucap Zidan pelan. Ia masih menatap wajah Zara sambil tersenyum tipis.


Zidan memajukan wajahnya agar lebih dekat lagi. Kini wajahnya tepat di depan wajah Zara. Tangan satunya menopang dirinya dan satunya lagi membelai pipi Zara. Menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya.


"Aku suka kamu yang apa adanya seperti ini," ujar Zidan. Telunjuknya menyentil hidung Zara. Zidan memajukan wajahnya lebih dekat lagi. Ia mencium kening Zara dengan lembut. Zara perlahan membuka matanya. Ia tersenyum cantik saat melihat Zidan yang berada di depannya. Zara langsung memeluk Zidan begitu saja. Ia sama sekali tak memikirkan bahaya apa yang sedang menantinya.


"Za-Zara, apa yang kamu lakukan?" tanya Zidan tiba-tiba gugup.


"Gulingku jangan pergi," gumam Zara ngelantur. Zidan berusaha melepas tangan Zara yang melingkar di tengkuknya. Dekapan itu sangat kuat.


"Astaga, aku bukan gulingmu Zara!" ucap Zidan dengan panik. Tangannya masih berusaha melepas pelukan Zara.


"Zara, sadarlah dan lihat diriku baik-baik," ucap Zidan sambil menepuk pelan pipi Zara.


Cup


Zara mencium bibir Zidan. Bibir mereka saling menempel cukup lama. Susah payah Zidan mengendalikan dirinya. Dirinya berkali-kali menelan salivanya dengan kasar. Desiran dalam dadanya menambah kegugupannya.


"Sial! Aku salah telah membawanya ke sini," batin Zidan. Ia hanya takut tidak bisa menjaga Zara. Zidan melepas ciuman itu. Sesaat Zara diam dan kembali memejamkan matanya.


"Dasar nakal ya!" ucap Zidan. Perlahan ia melepas pelukan Zara. Dirinya bernapas lega karena kali ini begitu mudahnya. Zidan masih duduk di tepi ranjang. Ia duduk memunggungi Zara sambil mengacak rambutnya.


Zara bangkit dan kini memeluk Zidan dari belakang. Zidan menghela napasnya kasar. Ia menoleh untuk menatap Zara.


"Aku sayang sama kamu," ucap Zara lirih. Zidan mengernyitkan dahinya. Dirinya bertanya-tanya siapa yang Zara maksud. Apakah dirinya atau bukan.


Zidan melepas pelukan Zara perlahan. Ia menatap Zara dan menangkup wajahnya. Zidan memerhatikan Zara dengan lekat. Entah angin dari mana, Zidan mulai mendekatkan wajahnya dan kini kembali mengecup bibir Zara. Perlahan ia memejamkan mata dan melumatnya kecil.

__ADS_1


"Zidan," ucap Zara. Zidan membuka matanya. Tatapan mereka saling beradu.


"Kamu mengenaliku?" tanya Zidan memastikan.


"Kamu Zidan kan?" tanya Zara lagi. Zidan mengangguk dan tersenyum tipis.


"Kamu yang menggodaku lebih dulu Zara. Hari ini aku akan melepasmu tapi tidak untuk lain kali," batin Zidan. Ia mencium bibir dan kening Zara sekilas. Ia kembali merebahkan Zara agar istirahat. Zidan berbaring di samping Zara dan memeluknya.


Tanpa terasa hari semakin sore. Zidan ikut terlelap bersama Zara. Tangannya masih memeluk Zara dengan erat.


Zara perlahan membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali untuk mengenali lingkungan sekitarnya. Ini bukan kamar kostnya. Zara meraba tangan kekar yang sedang memeluknya. Kemudian Zara menoleh untuk melihat siapa yang berbaring di sampingnya.


"Hah? Kenapa aku bisa tidur dengan Zidan? Apa yang terjadi padaku?" gumam Zara panik. Dirinya samar-samar mengingat kejadian yang ia alami sebelum sadar.


"Jadi, itu bukan mimpi? Jangan bilang kalau kami juga berciuman tadi?" batin Zara. Pipinya merona. Jika itu sungguh terjadi, Zara sangat malu.


"Bagaimana ini? Bagaimana aku menghadapi Zidan kali ini. Pasti dia akan memarahiku karena bersikap tidak sopan," batin Zara menjerit. Minuman sialan itu telah membuatnya menjadi seperti ini.


"Sudah bangun?" bisik Zidan di dekat telinga Zara. Zara sontak menoleh ke arah Zidan. Dirinya takut dan gugup. Bingung bagaimana harus menghadapi Zidan kali ini.


"Nakal sekali ya kamu berani menciumku, hmm?" ucap Zidan dengan tatapan menggoda.


Zara langsung terduduk. Ia menangkupkan tangannya di depan dadanya dan meminta maaf kepada Zidan karena sudah bersikap tidak sopan.


"Matilah aku... Kali ini pasti bukan hanya dihukum saja. Entah bagaimana menebus kesalahanku. Zara... Bagaimana bisa kamu bersikap seperti itu," batin Zara takut. Zidsn juga duduk di depan Zara. Tatapannya tak dapat diartikan. Kini Zara serasa diujung kematian.


Tanpa basa-basi, Zidan menarik lengan Zara dan ia mencium bibir Zara. Kini mereka dalam keadaan sadar. Terutama Zara. Dirinya benar-benar sadar dan sungguh ia sangat terkejut.


"Kamu tahu apa kesalahanmu Zara?" ucap Zidan selepas ciuman itu.

__ADS_1


"Ma-maafkan saya. Saya benar-benar minta maaf," ucap Zara takut.


"Untuk menebus kesalahanmu kali ini, katakan apa yang harus aku lakukan terhadapmu?" tanya Zidan pura-pura marah.


"Terserah Anda tuan. Sa-saya akan menerima hukuman apapun itu," ucap Zara semakin takut.


"Kamu yakin?" tanya Zidan memastikan. Zara mengangguk dengan pelan. Ini semua karena kesalahannya. Jadi ia juga harus menanggung apapun hukuman yang akan diberikan Zidan padanya.


"Baiklah, jadilah pacarku," ucap Zidan santai. Zara terkejut seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Tapi..."


"Tidak ada tapi-tapian. Mulai hari ini kita resmi pacaran. Sini, beri pacarmu ciuman lagi," ucap Zidan. Ia menarik tengkuk Zara. Namun seketika Zara mendorong tubuh Zidan. Zara memundurkan dirinya. Zidan hanya terkekeh geli melihat sikap Zara yang malu-malu.


"Kenapa menatapku seperti itu? Mau hukuman yang lain lagi?" ucap Zidan menaik turunkan kedua alisnya. Ia menyeringai ke arah Zara.


"Ti-tidak," ucap Zara singkat. Zidan tersenyum dan membelai puncak kepala Zara. Ia bangkit dari atas kasur.


"Mandilah, aku akan memasak sesuatu untukmu," ucap Zidan. Kemudian ia berlalu meninggalkan Zara. Zidan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.


Zara menyelimuti tubuhnya kembali. Ia begitu malu dan tak menyangka jika Zidan memintanya untuk menjadi pacarnya. Meski dalam lubuk hatinya begitu senang, tetapi mereka baru kenal beberapa hari dan memutuskan pacaraj begitu saja.


"Apakah ini mimpi?" batin Zara. Ia menepuk pipinya cukup keras. Bukan, ini kenyataan.


Zara beralih ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Beberapa saat kemudian, ia sudah segar kembali. Zara menuruni tangga dengan pelan. Ia berjalan menuju dapur.


"Sudah selesai? Sini, duduklah," ucap Zidan dengan lembut. Zidan menarik kursinya agar Zara duduk di sana. Zara semakin canggung dengan perlakuan Zidan.


"Makanlah yang banyak. Aku tidak mau pacarku terlihat kurus seperti ini," ucap Zidan. Ia mengambilkan makanan untuk Zara. Zara tersipu malu mendengar ungkapan 'pacarku'. Meski semua terjadi secara mendadak, tetapi tak memungkiri ia juga menyukainya. Zara mengangguk dan mulai memakan makanan itu.

__ADS_1


__ADS_2