Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 98 (season 2)


__ADS_3

Syifa meringkuk di dalam kamarnya. Ia merasa ketakutan karena telah menyebabkan Zara celaka. Syifa tak berpikir jika kejadiannya akan sefatal ini. Tubuhnya menggigil. Syifa takut jika orang tuanya tahu itu adalah ulahnya. Syifa mengunci pintu kamarnya dan tak membiarkan seorangpun masuk, termasuk bi Tia. Syifa dihantui rasa bersalahnya. Apalagi, saat ini ia belum mengetahui kabar dari Zara.


"Bukan aku yang menyebabkan itu. Aku hanya menginginkan kak Zara jauh saja. Bukan terguling seperti tadi. Tidaaakk!" gumam Syifa sambil menyembunyikan wajahnya dan menutup kedua telinganya dengan tangannya. Ia merasa sangat takut.


Napas Syifa tak beraturan. Ia mulai menangis. Syifa menarik selimutnya dan sembunyi di bawahnya. Ia benar-benar ketakutan kali ini. Apalagi jika teringat waktu kejadian tadi. Tubuh Zara bersimbah darah.


"Jangan takut, itu bukan salahku. I-itu hanya kak Zara sendiri yang tidak berhati-hati," ucap Syifa agar dirinya lebih tenang.


***


Hingga sampai malam tiba, Zara belum juga tersadar. Zidan masih setia menemani istrinya. Ia mengusap pelan tangan Zara dan beralih ke kening Zara. Anton dan yang lainnya juga tidak pulang. Mereka menunggu kabar dari Zara terlebih dahulu. Untungnya, Anton dan Arvin mengerti kondisi. Meskipun mereka ada dendam sebelumnya, untuk saat ini mereka tak ingin menambah masalah lagi. Kehilangan cucu adalah kabar terburuk bagi mereka.


Suasana hening yang terasa dalam ruangan VIP itu. Tak ada satupun yang berbicara di antara mereka. Mereka larut dalam kesedihan masing-masing. Tak menyangka jika akan ada kejadian seperti ini.


Zidan beranjak untuk menghampiri orang tua dan mertuanya. Ia merasa kasihan pada mereka yang dari tadi siang sudah menunggu Zara di ruangan ini.


"Ma, Pa, kalian pulanglah. Biar Zidan yang menjaga Zara," ucap Zidan. Zidan duduk di samping Alina. Ia menyandarkan kepalanya pada sofa.


"Kami akan menunggu sampai Zara sadar sayang," balas Alina. Diana ikut mengangguk.


"Nanti Zidan kabari lagi. Ada Fanny di sini, kalian istirahatlah," ucap Zidan. Alina menatap Arvin. Arvin mengangguk pelan. Lalu mereka berdua pamit untuk pulang. Begitu juga dengan Anton dan Diana. Mereka ikut pulang ke rumah karena Zidan yang memaksanya.


Anton berdiri dan menepuk bahu Zidan. Anton tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan. Lalu Zidan segera berdiri dan memeluk Anton.

__ADS_1


"Kami pulang dulu ya. Jaga putriku baik-baik. Jika ada apa-apa segera hubungi kami," ucap Anton. Zidan mengangguk sambil melepas pelukannya.


"Kalian hati-hati di jalan," ucap Zidan.


Setelah kepergian orang tuanya. Zidan segera bersandar pada sofa. Ia memejamkan matanya sejenak untuk meringankan beban dalam pikirannya. Zidan mencoba ikhlas meski itu sangat berat baginya. Tinggal empat bulan lagi ia akan menjadi seorang ayah, namun Tuhan berkehendak lain.


Bahkan saat pemakaman calon bayinya tadi, Zidan merasa jika itu adalah mimpi. Mimpi terburuknya yang akan membekas dalam hidupnya selamanya. Namun nyatanya, itu semua bukanlah mimpi. Ia kehilangan bayinya saat ia tak berada di samping Zara. Zidan merasa gagal menjaga Zara.


"Putriku, semoga kamu memaafkan papa dan mama ya. Maaf, papa tidak bisa menjagamu dengan baik," batin Zidan. Ia mengalirkan air matanya kembali.


Fanny yang berdiri tak jauh dari Zidan pun juga ikut merasakan kesedihannya. Fanny tidak tega melihat Zidan dalam keadaan terpuruk seperti itu.


"Tuan muda, Anda istirahatlah. Biar nyonya Zara saya yang menjaganya," ucap Fanny yang tak tega melihat keadaan Zidan yang seperti itu. Kacau dan tak seperti Zidan yang biasanya.


"Tidak Fan, aku tidak akan tidur sebelum Zara sadar," bantah Zidan. Ia ingin terus menemani Zara.


"Baiklah, kali ini aku mendengarkanmu Fan," balas Zidan.


Zidan berdiri dan menghampiri Zara. Ia memandangi wajah istrinya yang sedang tertidur pulas. Ia memajukan wajahnya dan mengecup kening Zara cukup lama. Zidan membelai wajah Zara dengan lembut.


"Cepatlah bangun. Aku tidak kuasa melihatmu seperti ini sayang," ucap Zidan lirih. Ia mengecup kening Zara sekali lagi. Lalu ia menuju ke sofa untuk mengistirahatkan dirinya. Zidan berbaring dan mulai memejamkan matanya.


***

__ADS_1


Saat ini Anton dan Diana baru saja sampai di rumahnya. Anton membawa Diana untuk segera beristirahat. Tubuh istrinya sudah lelah ditambah dengan kejadian yang tak terduga itu.


"Mas, aku mau duduk di sini dulu," ucap Diana saat mereka sampai di ruang keluarga. Anton menuntun Diana untuk duduk. Ia memanggil bi Tia untuk membuatkan Diana minuman hangat.


"Ini bukan kesalahanmu sayang. Kenapa masih menangis seperti ini?" tanya Anton dengan lembut. Diana menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya.


Anton membawa Diana masuk ke kamar. Setelah membaringkan Diana, ia menyelimuti Diana dengan lembut. Diana memejamkan matanya meski ia tak bisa tidur malam ini. Namun ia merasa kasihan pada suaminya yang terus menjaganya.


Anton baru menyadari jika ia sama sekali belum melihat Syifa. Biasanya gadis itu akan cerewet jika orang tuanya pulang larut malam. Anton menuju ke kamar Syifa untuk memastikan jika Syifa juga baik-baik saja. Langkahnya terhenti saat pintu kamar Syifa terkunci. Anton mencoba membukanya namun tetap tidak bisa. Akhirnya ia turun kembali untuk menanyakan pada bi Tia. Anton menuruni tangga sedikit tergesa. Tanpa sadar, tangannya teroles minyak yang masih tersisa pada gagang tangga.


Merasa tidak nyaman dengan telapak tangannya, Anton berhenti sejenak. Ia memeriksa tangannya begitu juga gagang tangga tersebut.


"Minyak? Siapa yang mengoleskannya di sini?" batin Anton. Pikirannya sedang gundah.


Anton masih terdiam di sana. Setelah sarapan tadi, hanya ada Zara dan istrinya. Anton menuju ke dapur. Ia menanyakan pada bi Tia apakah ada yang ke rumahnya hari ini. Namun tak ada ke rumahnya sama sekali.


Ia terus berpikir keras. Mungkin jatuhnya Zara ada kaitannya dengan itu. Namun ia juga belum yakin akan hal itu.


"Bi, setelah saya ke kantor, siapa yang ada ke rumah?" tanya Anton.


"Hanya saya dan nona Syifa, tuan. Nyonya dan nona Zara sedang keluar tadi," jawab bi Tia.


Anton mengangguk paham. Ia masih penasaran dengan keterlibatan Syifa dibalik kecelakaan yang dialami Zara. Anton tak ingin menuduh terlebih dahulu.

__ADS_1


"Hari ini dia juga tidak masuk sekolah. Apa ini sebuah kebetulan," batin Anton.


Anton menuju kamarnya kembali. Ia berbaring di samping istrinya. Anton akan menanyakan hal ini pada Syifa esok hari. Jika memang Syifa yang sengaja melakukannya, ia tidak akan membiarkan Syifa begitu saja. Anton akan bersikap adil pada kedua putrinya.


__ADS_2