Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 79 (season 2)


__ADS_3

Raffa melajukan mobilnya hingga sampai ke kampus. Ia keluar mobil dan membantu Zara membukakan pintunya. Zara turun dari mobil.


"Terima kasih ya," ucap Zara. Raffa mengangguk. Mereka berjalan menuju kelas.


Namun baru sampai di dekat kelas, ternyata sudah ramai orang berkumpul di sana. Zara dan Raffa saling memandang. Mereka tidak tahu apa yang terjadi.


"Pokoknya kita harus mengusir Zara dari kelas kita! Dia harus keluar dari kampus ini!" ucap salah satu teman sekelasnya. Zara dan Raffa semakin bingung.


"Dia sudah hamil di luar nikah. Mana boleh dia terus belajar di kampus kita! Bayangkan saja, bagaimana dampaknya pada kampus kita nanti!" lanjutnya lagi.


"Ih, aku kira Zara itu orang baik. Tetapi ternyata dia adalah simpanan Om-Om kaya sampai hamil ya," bisik mereka. Zara semakin takut. Ia tidak menyangka jika dampaknya akan sebesar ini jika dia hanya diam saja. Teman-tekannya akan salah paham padanya dan memfitnahnya.


"Siapa yang bilang Zara adalah simpanan Om-Om?" tanya Raffa dan mengagetkan mereka. Mereka semakin rusuh dan semakin mengolok Zara. Bahkan sampai dekan mereka datang untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Ada apa ini? Kenapa kalian bikin keributan?" tanya dekan yang bernama pak Wilis.


"Kami hanya tidak mau Zara kuliah di kampus ini! Dia telah mencemarkan nama baik kampus kita! Pak dekan harus segera mengeluarkan wanita murahan ini agar tidak berdampak pada kampus kita pak!" ucap salah satu dari mereka yang menjadi provokator.


"Apa kalian punya bukti?" tanya pak Wilis.


"Buktinya itu Zara hamil dan tidak ada yang tahu siapa suaminya! Apa lagi kalau bukan wanita simpanan, cih!" ucapnya sambil menunjuk ke arah Zara. Zara hanya berlindung di belakang Raffa karena takut. Pak Wilis menatap Zara dan Raffa.


"Kalian ikut ke ruangan saya sekarang," ucap pak Wilis dengan tegas. Zara dan Raffa ikut pak Wilis ke ruangannya.


"Kali ini kamu akan dikeluarkan dari kampus ini Zara," batin Rinda. Ia tersenyum puas karena sudah berhasil menjalankan rencananya. Ia hanya tinggal menunggu kabar baiknya.


Saat ini Zara dan Raffa sudah berada di ruangan dekan. Pak Wilis menatap mereka dengan tajam. Membuat Zara gemetaran.

__ADS_1


"Jelaskan pada saya apa semua tuduhan itu benar Zara?" tanya pak Wilis.


"Saya tidak seperti yang mereka katakan pak. Saya memang sudah menikah," jelas Zara. Karena terlalu takut, Zara langsung menangis.


"Kalau kamu memang sudah menikah, lalu kenapa kamu berangkat ke kampus bersama Raffa? Apa kalian suami istri?" tanya pak Wilis lagi.


"Bukan! Saya adalah adik iparnya. Dan Zara istri dari abang saya. Saya hanya ditugaskan untuk menjaga Zara saat di kampus," balas Raffa. Pak Wilis mengangguk. Ia terdiam untuk mencerna perkataan Raffa.


"Apa bisa dipercaya?" tanya pak Wilis memastikan.


"Apa perlu saya menghubungi abang saya agar lebih jelasnya? Agar Anda percaya dengan perkataan saya?" ucap Raffa meninggi. Ia tidak suka di desak seperti ini jika memang dia tidak bersalah. Zara memegangi lengan Raffa. Ia menggeleng pelan agar Raffa bersikap sopan terhadap dekannya. Namun diam-diam Raffa menelepon Zidan tanpa sepengetahuan Zara dan pak Wilis.


"Pak, tolong percaya pada kami. Kami tidak mungkin berani berbohong pada bapak," ucap Zara memelas. Namun pak Wilis justru menatap Zara dengan dingin.


Mereka masih beradu argumen masing-masing. Baru dua hari Zara masuk kuliah, ia sudah difitnah dan hampir dikeluarkan dari kampusnya. Ia tidak pernah menyinggung siapapun, tetapi teman-temannya selalu menganggap remeh dirinya dan merendahkannya.


"Zara, apa kamu tidak apa-apa?" ucap Zidan khawatir. Zara terkejut karena Zidan bisa sampai di kampusnya. Zara berdiri dan langsung memeluk Zidan.


"Aku takut," ucap Zara dan kini ia kembali menangis. Zidan mengusap rambut Zara dan mencium puncak kepala Zara dengan lembut.


Tatapan Zidan beralih pada pak Wilis. Tatapannya begitu mengintimidasi. Siapapun yang mengganggu istrinya tidak akan berakhir dengan baik.


"Tuan Zidan? Kenapa Anda ke sini? Dan Zara?" tanya pak Wilis bingung.


"Fan," panggil Zidan. Fanny mengangguk dan maju satu langkah. Ia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Pak Wilis langsung pucat pasi begitu mendengar kebenarannya. Siapa yang tidak mengenal seorang Zidan Putra. CEO muda yang bisa melakukan apa saja padanya.


"Jadi, Anda adalah suami dari Zara?" tanya pak Wilis dengan takut.

__ADS_1


"Semua sudah jelas. Fan, bereskan semuanya. Untuk mahasiswa yang menuduh Zara, jangan lepaskan mereka!" perintah Zidan dengan tegas. Ia membawa Zara keluar dari ruangan itu. Raffa juga mengikuti Zidan dan Zara dari belakang.


"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Zidan dengan lembut.


"Tidak, kenapa kamu bisa tahu kalau aku ada masalah di sini?" tanya Zara. Zidan tersenyum dan merangkul Zara.


Mereka bergegas menuju mobil. Setelah Zara berada di dalam mobil, Zidan menatap Raffa dan tersenyum tipis. Ia menepuk bahu Raffa.


"Terima kasih," ucap Zidan. Raffa mengangguk. Zidan membawa pergi Zara. Ia tidak ingin Zara semakin ketakutan berada di kampusnya.


Zidan melajukan mobilnya menuju rumah. Zara hanya terdiam dan tidak berbicara apapun pada Zidan. Sepanjang perjalanan, Zidan hanya melirik dan mengusap punggung tangan Zara dengan lembut. Akhirnya mereka sampai di rumah. Zidan menggendong Zara menuju kamarnya. Zidan membaringkan Zara di atas kasur dan menyelimutinya. Alina langsung bergegas ke kamar mereka. Ia takut terjadi sesuatu pada Zara.


"Ada apa?" tanya Alina yang kini sudah duduk di tepi ranjang.


"Ada sedikit masalah di kampusnya tadi Mom," jawab Zidan. Ia menceritakan kejadian yang menimpa Zara. Jika ia terlambat sedikit saja, Zara akan dikeluarkan dari kampusnya. Mendengar cerita dari Zidan, Alina merasa sedih.


"Untuk sementara kamu jangan ngampus dulu. Atau minta cuti sekalian deh. Aku tidak mau kamu seperti ini lagi sayang," ucap Zidan.


"Tapi," ujar Zara. Ia sebenarnya tidak mau. Namun untuk sementara akan menuruti Zidan.


Zara istirahat di kamarnya. Sedangkan Alina dan Zidan duduk di ruang tengah. Zidan menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia mengambil ponselnya untuk menelepon Fanny. Ia memastikan bahwa Fanny menjalankan perintahnya.


"Tapi Zara tidak apa-apakan sayang? Apa mereka melalukan kekerasan fisik?" tanya Alina. Zidan menggeleng pelan. Ia menatap Alina dengan sedih.


"Sabar sayang," ucap Alina dengan lembut. Ia mengusap lengan Zidan dengan pelan.


Di kampus, Fanny sudah berhasil membawa dua provokator yang mencoba melawan Zara. Yaitu Rinda dan Fara. Keduanya mengaku membenci Zara lantaran Zara dekat dengan Raffa. Mereka iri dengan Zara yang bisa sedekat itu dengan Raffa dan bahkan Raffa begitu perhatian pada Zara.

__ADS_1


__ADS_2