
Sudah tiga hari Arvin mendiamkan Alina. Meskipun dirinya sendiri tak tega melakukannya. Ia harus bersikap tegas dan membuat Alina tak berani lagi memancing amarahnya. Arvin akan berusaha keras agar dirinya tak menyakiti Alina apalagi anak-anaknya. Karena mengingat perjuangan cintanya untuk mendapatkan Alina yang tak mudah. Ia tak mau mengambil resiko dengan kehilangan Alina untuk kedua kalinya.
Ternyata menjadi kesenangan tersendiri bagi Arvin berpura-pura acuh pada istrinya itu. Ia bahkan bisa melihat dengan jelas wajah cemas Alina yang begitu menggemaskan. Namun Arvin harus bertahan setidaknya untuk beberapa hari ke depan.
Saat pagipun Arvin hanya sarapan dan langsung berangkat ke kantornya begitu saja tanpa pamit ke Alina. Alina semakin gelisah. Suaminya begitu dingin terhadapnya. Bagaimanapun ia berusaha tetaplah Arvin mendiamkannya.
Saat Alina mengajak berbicarapun Arvin menanggapinya hanya asal. Namun dalam hati, Arvin ingin sekali tertawa dan mencubit gemas pipi istrinya itu.
Seperti biasa, Alina membantu bi Sumi untuk memasak. Bukannya segera memasak, Alina justru melamun. Entah apa yang ada dipikirannya. Hampir saja tangannya terkena pisau saat memotong sayuran jika Arvin tak langsung mengambil pisau tersebut.
"Mau motong sayur atau motong tangan?" ucap Arvin kesal.
"Eh, mas," Alina tersadar.
"Maaf, tadi aku sedikit melamun," ucap Alina meminta maaf.
"Duduklah, biar aku yang melanjutkannya," pinta Arvin. Ia menyuruh Alina agar duduk di kursi. Arvin mulai memasak dan menyuruh bi Sumi untuk mengerjakan pekerjaan yang lainnya.
Siang ini bi Narsih juga akan kembali bekerja lagi karena urusannya di kampung sudah selesai. Urusan pekerjaan rumahnya jadi lebih mudah.
"Mas," panggil Alina dengan lembut. Namun Arvin hanya diam saja. Alina berjalan mendekati Arvin. Tiba-tiba ia memeluk Arvin dari belakang. Arvin terkejut dan menghentikan memasaknya. Alina mengusap lembut dada Arvin dan perlahan membuka kancing kemejanya. Namun ia hanya membuka tiga kancing saja.
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" tanya Arvin yang sedikit gugup. Jantungnya berpacu kencang. Jika bukan karena sedang menghukum Alina, ia akan memakan istrinya saat itu juga.
"Mas, aku ingin itu," ucap Alina pelan. Arvin menelan salivanya dengan kasar. Tangan Alina sudah menjalar ke mana-mana. Arvin mati-matian berusaha menahan hasratnya. Bohong jika saat itu ia tak bereaksi apa-apa.
"Lepas Alina! Apa yang kamu lakukan? Bagaimana jika Zidan atau Barra melihat ini?" ujar Alina sambil melepas tangan Alina. Ia harus segera menghentikannya sekarang juga.
__ADS_1
"Nggak mau. Aku yakin jika mas juga menginginkannya saat ini kan?" ucap Alina dengan manja.
Arvin berbalik, ia langsung menyerang bibir Alina. Persetan dengan kemarahannya pada Alina. Sudah lama dirinya tidak merengkuh tubuh istrinya itu. Alina menikmati setiap sentuhan Arvin. Mereka hanyut dalam perasaan mereka masing-masing.
"Kenapa selalu menggodaku, hmm?" tanya Arvin disela-sela ciuman mereka.
"Suka saja," jawab Alina asal. Arvin mengernyitkan dahinya. Ia langsung menggendong Alina ke kamar. Bahkan memasaknya tak ia lanjutkan. Ia harus menghukum istrinya yang nakal itu.
Sampai di kamar, tak lupa Arvin mengunci pintunya. Ia merebahkan Alina di kasur dengan pelan. Tangannya membelai kening Alina menyibakkan anak rambut yang menutupinya.
"Mas, tunggu!" ujar Alina menghentikan Arvin saat ingin menciumnya.
"Mas nggak marah lagi kan sama aku?" tanya Alina. Ia berharap setelah ini Arvin akan bersikap hangat lagi padanya.
"Tergantung usahamu sayang," jawab Arvin. Alina menghentikan Arvin lagi saat ingin menciumnya untuk kedua kali.
"Kamu menggunakan cara ini untuk bernegosiasi dengan suamimu ini sayang?" ucap Arvin dan mengusap lembut pipi Alina.
"Salah sendiri marahnya lama banget. Ingat mas, marah lama-lama nggak baik tahu!" ucap Alina. Arvin hanya tersenyum tipis. Memang siapa yang marah. Arvin hanya berpura-pura saja. Kemarahan Arvin hanya satu hari saat ia mengetahui jika Alina ingin menggugurkan kandungannya.
Bukannya menjawab, Arvin justru langsung mencium bibir istrinya saat lengah. Ia sudah tak bisa menahannya lebih lama lagi. Alina menerimanya begitu saja.
"Mas," panggil Alina lagi.
"Ada apa lagi? Kita bicarakan itu nanti saja," jawab Arvin sedikit kesal.
"Tapi kata dokter diusia kandunganku saat ini masih rawan mas. Mas yakin ingin melakukannya sekarang?" tanya Alina hati-hati.
__ADS_1
"Bukan berarti nggak boleh kan?" ucap Arvin kesal karena Alina bertanya terus sedari tadi. Ia melanjutkan hal yang sempat tertunda.
Setelah selesai, Arvin langsung mandi dan bersiap bergegas ke kantor. Ia bahkan tak melirik Alina yang masih berbaring di atas kasurnya. Arvin langsung keluar kamar begitu saja. Bukan karena acuh, Arvin teringat hari ini ada rapat penting. Maka dari itu ia buru-buru untuk ke kantor.
Di bawah juga Zidan sudah berangkat ke sekolah. Tinggal Barra karena hari ini sekolahnya diliburkan. Arvin pamit pada putranya dan bergegas menuju kantornya.
"Jagain mommy sayang. Jangan nakal," ucap Arvin. Barra mengangguk.
Alina hanya menatap kepergian sang suami. Tiba-tiba hatinya terasa sakit saat melihat suaminya keluar kamar begitu saja tanpa berbicara dengannya. Air matanya menetes. Dadanya begitu sesak menahan kesedihan hatinya.
"Sampai kapan kamu bersikap seperti ini mas. Secara tidak langsung kamu menyakitiku mas. Apa kamu sadar?" gumam Alina dengan pilu.
"Baiklah jika kamu ingin kita berjauhan seperti ini. Aku tidak akan peduli denganmu lagi," ucap Alina kesal. Mungkin kekesalannya akibat hormon kehamilannya juga. Sehingga suasana hatinya berubah-ubah.
Selama di rumah, Alina hanya ingin menemani putranya tanpa melakukan pekerjaan lainnya. Ia ingin bermalas-malasan seharian ini.
Berkat putranya itu, Alina menjadi sedikit teralihkan fokus perhatiannya. Suara Barra yang menggemaskan mengundang gelak tawanya. Serta Raffa yang mulai aktif pergerakannya.
Tring
Satu notif pesan masuk di ponsel Alina. Ia membukanya dan mengernyitkan dahinya. Rani? Tumben Rani menanyakan kabarnya. Sudah lama Alina tak berkunjung ke restoran. Setelah basa-basi sedikit, Rani langsung mengabarkan kepada Alina jika Rani akan menikah tiga hari ke depan. Undangan akan dikirim secara resmi ke rumah Alina. Alina ikut senang sekaligus penasaran. Siapa calon suami Rani. Karena Rani tak ingin memberitahukannya sekarang.
Hari semakin siang. Bi Narsih juga sudah kembali untuk bekerja di rumah mereka. Alina senang akhirnya bi Narsih sudah kembali.
"Nyonya maaf, bibi kembalinya telat," ucap bi Narsih sopan.
"Nggak apa bi. Bi Narsih mau kembali saja Alina sudah senang banget," jawab Alina.
__ADS_1
"Terima kasih nyonya," ucap bi Narsih. Kemudian bi Narsih pamit untuk ke kamarnya meletakkan barang-barangnya sebelum lanjut beraktivitas. Alina kembali fokus dengan Raffa dan Barra. Sesekali ia juga mengusap perutnya. Membayangkan jika bayi yang ada dikandungannya tersebut tumbuh dengan sehat.