Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 107


__ADS_3

"Sayang, aku kangen sama kamu," ucap Arvin dan menarik Alina agar lebih dekat dengannya.


"Aku juga kangen sama kamu mas. Tapi kamu harus banyak-banyak istirahat dulu," jawab Alina.


"Bukankah aku sudah istirahat selama satu minggu? Untuk apa istirahat lagi. Aku sudah sembuh sayang," ujar Arvin santai. Ia menarik Alina agar lebih mendekat lagi. Sudah lama Arvin tak mencium bibir mungil yang selalu membuatnya candu itu.


"Ssstt.." ucap Alina sambil menempelkan telunjuknya di bibir Arvin. Arvin mengerucutkan bibirnya.


Arvin melepas pelukannya dan menghela napasnya sejenak. Oke untuk saat ini dia nurut pada Alina, tapi tidak untuk lain kali.


Alina menyuapi Arvin dengan telaten. Kini cerianya kembali lagi setelah satu minggu ini hilang bagai tertiup angin.


"Kamu tidak makan sayang?" tanya Arvin karena ia tidak melihat istrinya makan sedari tadi.


"Nanti saja mas. Aku belum lapar," jawab Alina dengan santai. Ia membantu Arvin mengupas buah-buahan. Arvin mengernyitkan dahinya. Ia menatap tajam ke arah istrinya itu.


"Kamu mau egois? Jangan lupa ada satu nyawa di dalam perutmu yang harus kamu jaga sayang," ucap Arvin tak suka.


"Baiklah aku akan makan sekarang. Kamu tidak apa-apakan aku tinggal sebentar?" tanya Alina hati-hati. Ia menyuapi Arvin buah yang sudah ia kupas tadi.


"Ke mana?" tanya Arvin bingung.


"Cari suami baru," jawab Alina ketus.


"Beli makananlah sayang. Memangnya aku mau makan apa di sini kalau tidak beli dulu?" ujar Alina sedikit jengah. Entah kenapa suasana hatinya berubah jutek.


"Katakan sekali lagi tadi apa yang kamu bilang sayang?" ujar Arvin sambil menatap tajam Alina.


"Apa yang aku katakan?" tanya Alina bingung.


"Mau cari apa tadi?" tanya Arvin semakin menatap Alina dengan tatapan yang membuat nyali Alina menciut.

__ADS_1


"Tadi kan hanya bercanda sayang," jawab Alina dan menyengir ke arah Arvin.


"Sini!" suruh Arvin dengan lembut.


Alina mendekat begitu saja. Setelah bangun dari koma sikap Arvin lebih sensitif dari biasanya. Padahal dari tadi Alina hanya bercanda saja.


Cup


Arvin mencium bibir Alina lembut. Perlahan semakin memperdalam ciuman itu. Alina memegang lengan Arvin dan membalas ciuman itu. Mereka larut dalam lautan kerinduan.


"Permisi tuan," suara Farhan membuyarkan acara romantis mereka. Alina segera melepas ciuman itu.


"Bisakah kau mengetuk pintunya dulu sebelum masuk?" ujar Arvin dingin.


Farhan salah lagi. Sebetulnya ia sudah mengetuk pintunya beberapa kali. Hanya saja tuannya ini tidak mendengarnya. Jadi Farhan langsung membuka pintu tersebut dan ternyata kedatangannya sungguh tidak tepat.


"Maafkan saya tuan," ucap Farhan dengan sopan. Arvin hanya menghela napasnya sejenak. Ia menyuruh Farhan untuk mendekat padanya.


"Saya sudah menghandle semua pekerjaan tuan dengan baik. Semua berjalan dengan semestinya. Saya juga sudah menyelidiki kecelakaan yang menimpa tuan. Namun saya tidak menemukan apa-apa. Sepertinya itu bukan campur tangan dari seseorang," ujar Farhan takut. Dirinya takut dimarahi oleh Arvin.


"Memangnya siapa yang bilang saya kecelakaan karena unsur kesengajaan dari pihak lain? Sudahlah, yang penting aku dan Zidan selamat itu sudah cukup," ucap Arvin. Ia tak mau mengusut masalah ini terlalu dalam. Dirinya dan Zidan selamat saja itu sudah lebih dari cukup.


Farhan mengangguk dengan sopan. Tak lama setelah itu, Arvin menyuruh Farhan untuk membelikan Alina makanan. Farhan membungkuk hormat dan pamit undur diri.


"Sayang, sini. Kenapa kamu berjauhan denganku seperti itu?" ujar Arvin dengan manja.


Astaga, Arvin yang sekarang sungguh berbeda dari sebelumnya. Alina tak yakin jika laki-laki yang begitu posesif dan sensitif ini masih suaminya. Apakah karena kecelakaan membuat otaknya bermasalah atau apa.


Alina mendekat ke arah Arvin. Bagaimanapun ia juga rindu pada sosok laki-laki yang tengah duduk bersandar di brankar itu. Arvin menyuruh Alina untuk duduk di sampingnya. Alina menurut saja dan kini mereka sedang berada di satu ranjang.


Arvin merengkuh tubuh Alina dan mencium puncak kepala Alina sekilas. Ia mengusap perut Alina yang semakin membesar. Arvin memeluk Alina kembali. Ia sudah rindu dengan istrinya ini.

__ADS_1


"Maaf tuan," ucap Farhan yang lagi-lagi masuk tanpa izin darinya.


Arvin mengerang kesal melihat kedatangan Farhan. Lagi-lagi laki-laki itu mengganggu kemesraannya dengan istrinya. Farhan hanya menundukkan kepala. Ia tahu jika tuannya itu sedang kesal padanya.


"Sudahlah. Sudah di sini juga. Apapun yang akan tuan katakan aku akan menerimanya," batin Farhan pasrah.


"Farhan, kenapa kamu masih berdiri di situ?" tanya Arvin datar. Farhan segera memberikan apa yang Arvin suruh tadi. Kemudian ia pamit undur diri.


Alina makan dengan disuapi Arvin. Karena Arvin yang ingin menyuapi istrinya itu. Meskipun Alina sudah menolaknya dengan keras tetap saja lebih keras kepala Arvin daripada dirinya.


***


Genap sepuluh hari Arvin dirawat di rumah sakit. Karena keadaannya yang semakin membaik, dokter memperbolehkan Arvin untuk pulang. Dengan cacatan untuk sementara waktu tidak boleh beraktivitas di luar terlebih dahulu. Apalagi mengurus perusahaannya. Ia harus sering-sering istirahat.


Farhan yang harus bolak-balik ke rumahnya untuk memberikan laporan kepada Arvin. Walaupun lewat ponsel saja sudah cukup tetap saja Farhan harus melaporkannya secara langsung.


Anak yang diasuh Alina bertambah satu lagi yaitu Arvin. Di rumah, Arvin menggila seperti anak kecil yang tak hentinya merengek jika Alina tak segera berada di sisinya. Padahal Alina harus mengurus kedua putranya juga. Apalagi Zidan yang baru sembuh dari sakit juga perlu perhatiannya.


"Sayang, kenapa lama sekali?" ucap Arvin sedikit berteriak. Padahal baru beberapa menit yang lalu Alina meninggalkannya untuk mengurus Barra. Alina menghela napasnya dengan kasar. Oke, pasti suaminya ini ada sedikit masalah dalam otaknya sehingga berperilaku demikian.


"Mas, aku kan harus mengurus Barra juga. Kamu jangan seperti ini dong," ujar Alina dengan lembut.


"Aku nggak mau jauh dari kamu sayang," jawab Arvin dan mengusap perut Alina sekilas. Arvin mengecup leher Alina.


Alina hanya bisa menghela napasnya dengan asal. Oke untuk saat ini ia hanya bisa menuruti kemauan Arvin. Arvin yang tak bekerja begitu berbahaya untuk hari-harinya.


"Mas, kamu mau apa sebenarnya?" ucap Alina sambil mengusap wajah Arvin dengan lembut. Arvin tersenyum miring mendengar tawaran tersebut.


"Kamu yakin mau mendengar apa yang aku mau sayang? Apa kamu juga akan mengabulkannya?" tanya Arvin yang kini menatap lekat Alina.


"Kalau aku bisa kenapa tidak?" jawab Alina. Arvin mendekatkan tubuh Alina.

__ADS_1


"Bersiaplah sayang. Aku ingin sesuatu yang lebih dari ini," bisik Arvin lembut di dekat telinga Alina. Tanpa menjelaskan lebih lanjut Alina tahu apa yang suaminya inginkan.


__ADS_2