
Hari ini adalah hari pernikahan Rani dengan Danis. Pernikahan itu diadakan di salah satu hotel yang tak jauh dari tempat Alina. Kini Alina tengah bersiap untuk ke acara tersebut.
Kali ini Alina hanya pergi berdua dengan Arvin. Mereka sengaja tak mengajak anak-anaknya. Zidan, Barra dan Raffa dititipkan pada Lita.
Alina bercermin untuk melihat penampilannya sebelum ia keluar kamarnya. Sedangkan Arvin sudah menunggu Alina di teras rumah. Alina hanya merias dirinya dengan make up tipis. Agar wajahnya tidak pucat dan lebih segar. Dress setengah lengan warna merah dengan panjang hanya selutut menambah anggun dan cantiknya ia. Sangat cocok dengan kulitnya yang putih dan bersih. Rambutnya yang panjang hanya ia jepit sebagian dan sebagian lagi ia biarkan tergerai. Ditambah lagi dengan high heels warna senada. Sempurna!
Alina menuruni tangga dan mencari bi Narsih untuk pamit terlebih dahulu. Kemudian ia berjalan menuju mobil.
"Ayo mas," ucap Alina.
Arvin menatap Alina. Ia mendekat dan mengusap pipi Alina sekilas.
"Kamu yakin mau pakai heels seperti itu? Kamu sedang hamil sayang. Jangan aneh-aneh," protes Arvin tak suka.
"Nggak apa-apa kok mas, kan hanya sebentar," jawab Alina.
"Ganti sayang. Jangan buat mas khawatir," ucap Arvin. Alina memutar bola matanya dengan malas.
"Baiklah suamiku tersayang," ucap Alina dan mengecup bibir Arvin sekilas.
Alina memasuki rumahnya kembali. Ia tidak punya flat shoes warna merah. Ia kebingungan ingin memakai warna apa. Sampai di kamarnya, Alina hanya mengamati, mencari flat shoes yang cocok untuknya. Akhirnya pilihannya jatuh pada flat shoes warna hitam. Setelah memakainya, Alina kembali menuju mobil.
"Nah, kalau seperti ini kan cocok," ucap Arvin dan mengembangkan senyumnya. Arvin melajukan mobilnya menuju hotel tempat acara tersebut diselenggarakan.
Sampai di lobi hotel, mereka digiring menuju tempat acara. Alina terus menggandeng tangan Arvin. Sampai di tempat acara, Alina langsung mencari Rani dan meninggalkan Arvin sendiri.
"Rani," sapa Alina. Rani sudah selesai berias karena sebentar lagi acara akan segera dimulai.
"Mbak Alina," jawab Rani tak percaya. Alina mendekat dan memeluk Rani sebentar.
__ADS_1
"Sepertinya aku telah melewatkan cerita yang asik nih. Bagaimana bisa kenal dan dekat dengan Danis, hmm?" tanya Alina sambil menaik turunkan alisnya. Rani tersipu malu. Entah apa yang membuat mereka semakin dekat dan memutuskan untuk menikah, Rani sendiri tak tahu dengan jelas. Hanya semenjak Danis selalu datang ke restoran dan mereka saling beradu argumen, di situlah benih-benih cinta itu tumbuh. Akhirnya, Danis menyatakan cintanya dan ingin menikah dengan Rani. Wanita kedua yang telah berhasil menaklukkan hatinya setelah Alina.
"Ran, aku turut bahagia atas pernikahanmu. Semoga selalu bahagia ya. Danis adalah orang yang baik. Aku percaya jika dia bisa membahagiakanmu," ucap Alina sambil memegang kedua bahu Rani.
"Terima kasih mbak atas doanya. Semoga saya juga bisa menjadi istri yang baik seperti mbak Alina," jawab Rani.
"Apaan sih Ran, kok jadi bawa-bawa aku," ujar Alina terkekeh.
Acara pun dimulai. Setelah memberikan sambutan untuk para tamu undangan, Rani dan Danis saling mengucap janji suci pernikahan. Gemuruh para tamu undangan memenuhi ruangan. Alina memperhatikan mereka dengan senang. Tatapannya tak teralihkan dari mereka berdua.
"Ehem, serius banget lihatinnya," ucap Arvin yang sedari tadi memperhatikan Alina.
"Senang mas, akhirnya Danis menemukan wanita yang memang benar-benar mencintainya," jawab Alina dan tersenyum tipis. Arvin juga bahagia melihat Alina senang seperti itu. Ia merangkul bahu Alina dan mencium pelipis Alina sekilas.
"Mau makan dulu?" tanya Arvin yang masih memeluk Alina dari samping. Alina mengangguk. Arvin menyuruh Alina untuk menunggu di kursi yang sudah disediakan. Arvin mengambilkan makanan untuk Alina.
Setelah selesai, mereka menghampiri mempelai untuk mengucapkan selamat sekalian untuk pamit pulang. Karena Alina gelisah dan takut jika anak-anaknya nanti rewel terutama Raffa.
"Alina," Panggil Danis dan menatap Alina dengan lekat. Tatapan yang masih sama seperti beberapa tahun yang lalu. Alina tersenyum dan menepuk lengan Danis.
"Selamat ya Danis. Jaga Rani baik-baik. Jangan sampai kamu menyakitinya, oke?" ucap Alina dan Danis tertawa kecil.
"Siap. Pasti, aku akan jaga istriku ini dengan baik," balas Danis dan melirik ke arah Rani. Rani tersipu malu.
Alina beralih memeluk Rani. Meskipun bukan teman dekat, tetapi Rani sudah banyak membantunya waktu Alina masih mengurus restorannya. Kini giliran Arvin dan Danis yang saling berhadapan. Mereka saling menatap dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
"Jaga Alina. Jika kamu sampai membuatnya terluka lagi, aku tidak akan segan untuk menghajarmu," ucap Danis sambil menepuk bahu Arvin.
"Tenang saja. Aku tahu bagaimana menjaga istriku dengan baik," jawab Arvin.
__ADS_1
Setelah itu, mereka pamit untuk pulang duluan. Arvin melajukan mobilnya menuju rumah Lita. Sesekali Arvin menggenggam tangan Alina dan mengecupnya. Alina bermanja dengan bersandar di lengan Arvin.
Sampai di rumah orang tuanya, mereka disambut oleh anak-anaknya. Alina masuk ke dalam langsung menggendong Raffa. Alina langsung menyusui Raffa.
"Mommy, Barra nggak nakal sama sekali kok," ucap Barra sambil berhambur memeluk Alina.
"Oh iya? Pinter banget sih anak mommy ini," ucap Alina sambil mengusap puncak kepala Barra dan menciumnya sekilas.
"Sudah makan belum?" tanya Alina yang membelai rambut putranya itu.
"Sudah tadi sama bang Zidan," jawab Barra. Alina tersenyum tipis.
Arvin yang baru saja dari kamar mandi langsung duduk di samping Alina. Mereka saling berbincang santai. Setelah cukup lama, mereka memutuskan untuk pulang.
"Hati-hati ya. Sering-sering mengunjungi nenek ya sayang," ujar Lita sambil memeluk dan mencium kening cucu-cucunya. Zidan dan Barra mengangguk.
"Ma, kami pamit pulang dulu ya," pamit Arvin dan Alina.
Mereka masuk ke mobil dan Arvin mulai melajukan mobilnya.
"Mas, mampir dulu ke supermarket yuk. Aku mau ice cream," ujar Alina. Arvin mengernyitkan dahinya. Ia hanya mengangguk dan kini menuju supermarket terdekat.
"Tunggu di sini sama anak-anak saja. Biar mas yang beli. Zidan sama Barra ingin beli apa?" tanya Arvin menengok ke belakang.
"Ikut pa..." ujar mereka bersamaan.
"Tunggu di sini sama mommy saja sayang," jawab Arvin.
"Nggak apa-apa mas. Aku saja yang nunggu di sini sama Raffa," ucap Alina. Mau tak mau Arvin mengajak kedua putranya masuk ke supermarket tersebut. Tak lama, Arvin beserta kedua putranya keluar dengan menenteng tas plastik berisi belanjaan mereka. Lalu Arvin melajukan kembali mobilnya menuju rumah.
__ADS_1