Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 87 (season 2)


__ADS_3

"Maaf, mungkin bisa kita bicarakan lain waktu. Permisi," ucap Raffa. Ia langsung membawa Zara pergi.


Banyak hal yang menjadi pertanyaan dalam benak Zara. Tentang orang tuanya yang belum pernah ia ketahui selama ini. Tentang kenapa orang tuanya membuangnya saat ia masih bayi. Tentang wanita itu yang tiba-tiba mengaku sebagai orang tuanya. Semua itu menjadi misteri bagi Zara sendiri. Ia belum bisa menerima kenyataan itu.


"Jika memang dia adalah ibu kandungku, kenapa baru mencariku sekarang?" ucap Zara. Raffa terus berjalan mendampingi Zara yang terlihat sedih dan gelisah. Pengakuan tadi juga membuatnya terkejut sekaligus penasaran.


Raffa membawa Zara ke taman kampus yang saat itu sedang sepi. Agar Zara menenangkan diri terlebih dahulu. Raffa menyodorkan minuman untuk Zara yang ia bawa di dalam tasnya. Zara mengambil minuman itu dan meneguknya.


"Jangan menangis," ucap Raffa. Ia menatap Zara dengan lekat.


"Aku tidak tahu harus bagaimana. Bisa sajakan hasil tes itu dipalsukan? Kami bahkan belum mengenal sebelumnya," ujar Zara. Raffa menggenggam tangan Zara dengan lembut. Ia tersenyum tipis. Zara bersandar pada bahu Raffa.


"Zara, kamu..."


"Biarkan seperti ini sebentar saja," ucap Zara lirih. Raffa menghela napasnya pelan dan memberikan waktu untuk Zara agar menenangkan diri.


Tanpa mereka sadari, mereka berada di sana hampir satu jam. Zara masih tetap dalam posisinya. Hatinya sedang kalut. Ia tidak bisa fokus dengan perkuliahan hari ini. Zara menghubungi Zidan agar menjemputnya saat itu juga. Ia tidak ingin berada di kampus ini lebih lama lagi.


Beberapa menit kemudian, Zidan sampai di kampus Zara. Zara pamit pada Raffa dan segera masuk ke mobil Zidan. Ia belum menceritakan kejadian hari ini.


"Ada apa?" tanya Zidan. Zara hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Zidan mengemudikan mobilnya kembali.

__ADS_1


Ia membawa Zara ke apartemennya. Karena Zara tidak ingin pulang ke rumah dulu. Ia tidak ingin membuat orang rumah cemas karenanya. Saat ini mereka sudah sampai di apartemen.


Sampainya di dalam, Zara langsung memeluk Zidan dan mengeratkan pelukannya. Zidan tahu jika seperti ini pasti Zara sedang ada masalah. Zidan membiarkan Zara untuk memeluknya sepuasnya. Ia juga menciumi puncak kepala Zara.


"Sekarang sudah lebih baikan?" tanya Zidan sambil membelai rambut Zara. Zara mengangguk. Ia mendongak dan langsung mencium bibir Zidan dengan lembut. Zidan tersenyum disela-sela ciuman mereka. Merasa mendapat respon yang baik dari Zara, tentu saja Zidan tidak menyiakan kesempatan ini. Zidan mengambil alih permainan. Ia mendorong Zara ke sofa dengan pelan. Ia kembali menciumi Zara.


Zidan menatap Zara. Ia langsung menggendong Zara ke kamarnya. Zidan merebahkan Zara dengan pelan dan kembali melakukan aksinya.


Sore hari, mereka baru selesai dalam permainannya. Zara lebih dulu bangun dan segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Lalu ia menuju dapur untuk menyiapkan makanan untuk mereka. Untungnya di dalam kulkas masih ada beberapa bahan makanan yang bisa ia masak.


Zara juga menyiapkan secangkir kopi untuk Zidan. Sudah lama ia tidak menyeduhkan kopi untuk suaminya. Semenjak mereka menikah, Zidan jarang dan hampir tak pernah menyuruh Zara untuk menyeduhkan kopi untuknya.


Setelah selesai, Zara bergegas ke kamar dan ingin membangunkan Zidan. Namun saat ia berbalik, Zidan sudah berdiri di belakangnya dan tersenyum tampan.


"Aroma kopi buatanmu sungguh menggoda sayang, aku jadi terbangun," balas Zidan. Ia langsung mengambil kopinya dan menyeruputnya. Zara tersenyum dan duduk di samping Zidan. Ia tahu jika Zidan hanya menggodanya saja.


"Mau makan sekalian?" tanya Zara. Zidan mengangguk. Zara mengambilkan makanan untuk Zidan. Zidan memperhatikan Zara dengan lekat. Ia memajukan wajahnya dan mencium pipi Zara sekilas.


"Hadiah buat kamu," ucap Zidan. Zara tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. Zidan mulai melahap makanannya. Zara mengambil piringnya dan ikut makan bersama Zidan.


"Sayang, tadi wanita itu kembali ke kampus. Dia bilang jika aku adalah putri kandungnya. Dia juga membawakan bukti tes DNA itu," tutur Zara. Ia menatap Zidan dengan sedih. Zidan menghentikan makannya. Ia mengusap rambut Zara pelan.

__ADS_1


"Habiskan dulu makanmu, kita bicara ini nanti ya. Aku juga ada sesuatu yang harus aku ceritakan," ujar Zidan lembut. Zara mengangguk. Mereka kembali melanjutkan makannya.


"Heh, cepat juga mereka menyadarinya," gumam Zidan.


Selesai makan, Zidan dan Zara menuju ke ruang tengah untuk membicarakan hal tadi. Zara bersandar di bahu Zidan.


"Sebentar sayang, aku ke mobil dulu untuk mengambil berkas itu," ucap Zidan. Ia mencium kening Zara sekilas. Zidan keluar apartemen untuk mengambil berkas yang ia maksud. Setelah itu, ia kembali lagi dan menyerahkan berkas itu pada Zara. Zara mulai membukanya karena ia sangat penasaran dengan isinya. Zara membulatkan matanya dan langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"I-ini..." ucap Zara gugup.


"Iya, itu adalah foto Diana bersama anak dan suaminya. 20 tahun lalu mereka memiliki seorang anak perempuan. Lalu mereka kehilangan bayinya. Kemungkinan bayi tersebut diculik, tetapi mereka tidak bisa menemukannya sampai sekarang. Fanny sudah menyelidiki semuanya, kemungkinan dia adalah orang tua kandung kamu," ungkap Zidan. Zara terdiam sejenak. Ia masih belum bisa mempercayainya.


"Sayang, tetapi ada satu masalah di sini," ucap Zidan. Ia menghela napasnya sejenak. Zara mengernyitkan dahinya dan menatap Zidan.


"Antonio Mahindra adalah musuh bisnis papa. Mereka selalu bersaing dalam segala hal. Aku hanya takut jika mereka tahu kamu adalah menantu keluarga Mahardika, mereka akan melakukan segala cara untuk memisahkan kita," sambung Zidan. Sebenarnya ia sudah mengetahui kebenaran ini beberapa hari yang lalu. Namun ia belum siap untuk menceritakannya pada Zara.


"Apa?" ucap Zara tidak percaya.


"Jadi semua yang dikatakan wanita itu benar? Aku adalah putrinya yang hilang?" batin Zara.


Zidan tersenyum dan merengkuh Zara dalam pelukannya. Zidan mencium kening Zara cukup lama.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada hubungan kita sayang, kamu jangan khawatir," ucap Zidan dengan lembut.


Zara percaya jika Zidan bisa melindunginya. Namun yang ia takutkan adalah menghadapi keluarga barunya. Zara belum bisa menerima semua ini. Ia butuh waktu untuk menerimanya. Selama ini ia berjuang demi hidupnya sendiri, ia bahkan tidak bisa mengetahui jati dirinya sendiri. Hanya bu Yasmin dan anak-anak panti asuhan yang selalu menjadi kekuatannya. Disisi lain Zara senang akhirnya teka-teki tentang orang tuanya terjawab. Namun jika melihat penderitaan yang telah ia alami selama ini, Zara belum yakin untuk menerima mereka sepenuhnya. Ada rasa kecewa dan sakit dalam hatinya. Apalagi ia baru tahu jika orang tuanya adalah musuh dari keluarga suaminya.


__ADS_2