
Zara mulai menyuapi Zidan namun masih terlihat kaku. Itu membuat Zidan ingin tertawa sekerasnya. Setelah selesai makan, Zara juga mengambilkan obat untuk Zidan. Ia menyelimuti kembali Zidan agar istirahat.
"Anda istirahatlah tuan. Saya akan berjaga di sini," ucap Zara. Zidan tersenyum tipis.
"Terima kasih ya," ucap Zidan. Zara hanya mengangguk pelan.
Zidan mulai memejamkan matanya. Rasa kantuknya tiba-tiba datang. Mungkin efek dari obat tersebut. Setelah memastikan Zidan tertidur, Zara keluar kamar dan mencari keberadaan Fanny. Ternyata Fanny berada di ruang tengah. Ia sedang mengecek beberapa email yang masuk.
"Maaf, saya sudah selesai menjalankan tugas saya. Bisakah Anda membiarkan saya pergi?" ucap Zara hati-hati. Fanny menutup laptopnya dan menatap Zara sekilas.
"Kenapa buru-buru? Bukankah nona akan merawat tuan muda sampai sembuh?" ucap Fanny santai.
"Hah?" ucap Zara terkejut.
"Nona, sebaiknya Anda kembali ke kamar temani tuan muda. Saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan di kantor. Jika nona lapar, di dapur sudah komplit berbagai sayuran dan makanan. Saya permisi," ucap Fanny. Ia mengemas laptopnya dan bersiap untuk pergi ke kantor.
"Hah? Maksud Anda, saya di sini menjaga tuan Zidan sendirian?" tanya Zara tak percaya. Fanny hanya mengangguk.
"Tapi saya..."
"Nona tenang saja. Tuan muda tidak akan berbuat macam-macam sama nona," ucap Fanny. Ia melangkah menuju pintu apartemen. Fanny membuka pintunya dan sebelum keluar, ia berbalik untuk menatap Zara sebentar.
"Saya titip tuan muda nona," ucap Fanny. Ia berlalu meninggalkan Zara.
"Maafkan saya nona. Sepertinya kalian butuh waktu berdua untuk mengenal satu sama lain, hehe," gumam Fanny. Ia segera menuju lift.
Zara masih mematung di tempatnya. Rasa canggung antara dirinya dan Zidan semakin besar. Zara belum pernah dalam keadaan seperti ini. Zara berjalan mondar-mandir sambil menggigit kecil jari telunjuknya.
"Aku harus bagaimana?" batin Zara bingung.
__ADS_1
Zara duduk di sofa. Ia memilih menunggu Zidan di sana. Tetapi jarak antara kamar dan ruang tengah terlalu jauh. Jika sewaktu-waktu Zidan menginginkan sesuatu ia tidak mendengarnya sama sekali. Zara menghela napasnya kasar. Matanya menatap pintu kamar Zidan. Merasa tak tega meninggalkan Zidan sendirian di kamar, akhirnya ia memutuskan untuk menunggu di kamar saja.
"Orang kaya mah aneh. Masa iya percaya begitu saja dengan orang yang baru beberapa hari kenal. Bagaimana jika aku berbuat hal jahat. Misalnya mencuri uang dan barang berharga lainnya," gumam Zara sambil menapaki anak tangga dengan pelan.
Zara sampai di depan kamar Zidan. Dengan sangat pelan ia membuka pintunya. Zara bernapas lega. Zidan masih terlelap dalam tidurnya. Zara segera masuk ke dalam kamar tersebut lalu ia menutup pintu kamarnya kembali. Zara berjalan dengan pelan menuju sofa. Langkahnya benar-benar tanpa suara.
Merasa bosan karena tidak melakukan apapun, Zara mengambil ponselnya dan bermain game untuk menghilangkan kejenuhannya. Sambil sesekali melirik Zidan yang terbaring di kasurnya.
Setelah beberapa jam, Zidan belum juga bangun. Zara berdiri dan melangkah menuju tempat tidur. Ia memandangi wajah Zidan yang polos saat itu. Dirinya tiba-tiba menjadi gugup dan jantungnya berdebar cukup keras.
Zara memberanikan diri untuk menyentuh dahi Zidan. Ia hanya ingin memeriksa apakah demamnya sudah turun atau belum.
"Maaf ya tuan, bukan maksudnya saya lancang," ucap Zara pelan. Ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Zidan.
"Astaga, kenapa masih panas," gumam Zara. Ia mulai panik. Zara segera turun ke bawah dan mengambil air hangat, baskom dan handuk kecil untuk mengompres Zidan. Saat ini hanya ada dirinya di sini, mau tak mau Zara yang merawat Zidan.
Zara kembali ke kamar Zidan. Ia duduk di tepi ranjang. Zara mulai mengompres Zidan dengan air hangat. Dengan sabar, Zara mengganti dan meletakkan handuk kecil itu di dahi Zidan secara berkala. Tanpa sadar, tangannya mengusap pelan pipi Zidan dan menatapnya dengan lekat.
Zidan memegang dahinya yang masih tertempel dengan handuk kecil. Ia mengernyitkan dahinya. Saat tangannya yang satunya ia gerakkan, Zidan terkejut dengan adanya tangan Zara dalam genggamannya. Zidan sedikit mendongak untuk menatap Zara. Ia tersenyum tipis dan mengecup punggung tangan Zara sekilas. Zara perlahan membuka matanya. Namun Zidan berpura-pura tertidur kembali. Ia tidak ingin suasana menjadi canggung.
"Eh, untung saja tuan Zidan belum bangun," ucap Zara pelan. Ia melepas genggaman tangannya dan kembali memeriksa dahi Zidan. Syukurlah, demamnya sudah turun.
Zara memutuskan untuk meninggalkan Zidan ke dapur. Ia akan memasak sesuatu karena perutnya sudah lapar. Zara memasak sup dan beberapa lauk lainnya. Dan tentunya yang cocok juga untuk orang sakit.
Selepas kepergian Zara, Zidan mengambil ponselnya yang ada di nakas samping tempat tidurnya. Setelah menghidupkan ponselnya ia terpaku pada satu pesan dari Fanny.
'Tuan muda, maafkan saya jika meninggalkan Anda berdua dengan nona Zara. Saya hanya keluar untuk mengurus beberapa pekerjaan. Semoga Anda tidak memarahi saya nanti.' Isi pesan dari Fanny. Zidan melempar ponselnya ke sisinya. Ia beralih duduk dan bersandar di ranjang.
Zidan menatap tangannya yang masih terpasang infus. Ia mengusapnya pelan. Kemudian beralih menatap tangannya yang tadi digenggam oleh Zara. Zidan tersenyum tipis.
__ADS_1
Zara masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi makanan yang baru ia masak tadi. Zara tersenyum melihat Zidan menatapnya.
"Saya tidak tahu makanan kesukaan Anda tuan. Hanya ini yang bisa saya siapkan. Makanlah selagi masih hangat," ucap Zara. Ia mulai menyuapi Zidan. Zidan melahapnya begitu saja.
"Kamu yang memasaknya?" tanya Zidan. Zara hanya mengangguk.
"Kenapa setiap masakan yang dia buat aku selalu terpesona," batin Zidan bingung.
Zara menyuapi Zidan hingga makanannya habis. Meski hanya masakan sederhana, bagi Zidan itu masakan yang istimewa.
"Zara..."
"Ya?"
"Terima kasih ya sudah mau merawat saya. Maaf merepotkanmu," ujar Zidan.
"Tidak apa-apa tuan, saya senang bisa merawat Anda," jawab Zara santai.
Deg
"Apa katanya tadi? Senang?" batin Zidan tak percaya.
"Apakah boleh saya minta tolong sekali lagi?" tanya Zidan pelan. Zara menatap Zidan.
"Tentu saja," ucap Zara. Ia tersenyum tipis.
"Saya mau ke kamar mandi, bisakah kamu membantu saya?" ucap Zidan. Zara belum menjawab. Ia bingung, jika menolak kasihan Zidan. Tetapi jika ia mengiyakan, dirinya sedikit canggung.
"Mm.. Itu.." ucap Zara bingung.
__ADS_1
"Hanya sampai di depan kamar mandi saja. Kepala saya masih pusing dan tangan saya juga masih dipasang infus," ujar Zidan kembali.
"Baiklah tuan," jawab Zara pasrah. Ia mulai membantu Zidan menuju kamar mandi.