
Diana berdiri di dekat jendela kamarnya. Sudah hampir 20 tahun lebih putrinya menghilang dan sampai saat ini belum juga ditemukan. Segala cara sudah ia kerahkan namun tiada hasilnya. Diana percaya, jika suatu saat nanti ia akan bertemu dengan putrinya kembali. Putri kecilnya yang mungkin saat ini berusia kurang lebih 19 tahun.
Setiap hari dirinya berusaha mencari. Ditemani dengan asistennya yaitu Ochie, Diana menyusuri jalanan Jakarta. Ia tak pernah kenal lelah. Meskipun suaminya kerap memintanya untuk ikhlas dan menerima keadaan. Tetap saja, sebagai seorang ibu yang melahirkan buah hatinya ia tidak bisa melupakan putrinya begitu saja.
"Sampai kapan kamu akan terus bersedih seperti itu, hemm?" ucap Antonio Mahindra, suami dari Diana yang baru saja masuk ke dalam kamarnya. Diana menatap suaminya. Anton tidak tega melihat istrinya yang setiap hari bersedih atas hilangnya putri mereka. Meskipun saat ini ia sudah mengadopsi seorang putri yang mereka beri nama Syifania Mahindra.
"Mas, aku tadi melihat seorang gadis dan dia terlihat mirip dengan Ziva waktu kecil. Tapi aku ragu untuk mendekatinya," ujar Diana sambil melangkah menghampiri suaminya yang berdiri tak jauh dari tempat tidur. Diana memeluk suaminya.
"Sudah puluhan kali kamu bilang seperti itu, tapi nyatanya? Gadis yang kamu kira adalah Ziva kita, ternyata bukan kan?" ucap Anton dengan lembut.
"Tetapi kali ini berbeda mas," ucap Diana dengan yakin. Ia yakin jika gadis yang ia lihat tadi siang saat di kafe adalah Ziva putrinya yang hilang. Tetapi Diana masih takut untuk mendekati gadis itu.
Anton hanya menghela napasnya lega. Selama ini ia juga menderita karena kehilangan putrinya. Namun ia hanya tidak ingin terlihat rapuh di depan istrinya. Ia harus jadi kuat demi istrinya. Berkali-kali Diana mencari putrinya seperti orang gila. Bahkan ini sudah lewat bertahun-tahun lamanya, tetap saja Diana tidak pernah berhenti mencarinya.
Anton sengaja mengadopsi seorang putri dari salah satu panti asuhan. Ia berharap suatu saat nanti istrinya akan menganggap Syifa sebagai Ziva. Namun nyatanya tidak, Diana tetap kekeh untuk mencari putri kandungnya. Walaupun Diana juga sangat menyayangi putri angkatnya.
"Sudahlah, biar aku suruh Ochie untuk menyelidiki siapa gadis yang kamu temui tadi. Sekarang kamu makan ya, kasihan Syifa sudah menunggu kita di meja makan," ucap Anton. Diana mengangguk dan mereka berjalan menuju ruang makan.
Syifania Mahindra, gadis yang saat ini baru berusia 17 tahun. Putri angkat dari Diana dan Anton. Mereka selalu menyayangi Syifa layaknya putri kandungnya sendiri. Anton dam Diana selalu memanjakan putrinya tersebut. Namun yang sangat disayangkan, Syifa sedikit angkuh dan sombong. Bahkan saat di sekolahnya, Syifa sering membuat onar dan keluar masuk ruang BK. Tak ada jeranya Syifa bersikap demikian padahal Anton dan Diana sering memarahinya saat Syifa berbuat salah.
"Ma, Pa, Syifa minta tambahan uang jajan dong," ucap Syifa saat orang tuanya baru duduk di kursi ruang makan.
__ADS_1
"Buat apa? Kamu masih kecil jangan terlalu hura-hura," jawab Anton.
"Buat traktir teman-teman nanti di sekolah. Syifa malu Pa jika Syifa tidak bisa mentraktir mereka padahal orang tua Syifa orang kaya," ujar Syifa dengan santainya. Ia bahkan sudah lupa jika dirinya hanyalah putri angkat mereka. Beruntunglah Syifa karena Anton dan Diana begitu menyayanginya.
"Mulai hari ini kamu harus belajar hemat. Jangan menghamburkan uang untuk hal yang tidak penting," ucap Diana dengan tegas. Syifa hanya mendengus kesal. Ia memakan makanannya sampai habis.
Setelah sarapan, Syifa pamit untuk ke sekolahnya dengan diantar oleh sopirnya.
"Sayang, mas berangkat kerja dulu ya," pamit Anton. Ia mengecup kening Diana sekilas lalu bergegas ke kantornya.
Setelah memastikan anak dan suaminya pergi, Diana menghubungi Ochie agar segera ke rumahnya. Ia ingin melihat gadis yang tanpa sengaja ia temui di kafe tersebut. Kali ini instingnya benar-benar kuat. Diana sangat yakin jika gadis itu adalah putri kandungnya.
Beberapa saat kemudian, Ochie sudah sampai di rumah Diana. Ochie menemani ke mana saja Diana pergi. Ia tak pernah lelah mengikuti Diana setiap hari.
Ochie, asisten sekaligus sopir pribadinya yang siap siaga kapan pun Diana membutuhkannya. Usia Ochie masih muda, namun ia sudah terlatih untuk menjadi asisten pribadi Diana. Anton sendiri yang menyuruh Ochie agar selalu menemani Diana saat dirinya sedang bekerja.
Anton tidak begitu melarang usaha Diana yang terus mencari putrinya. Semakin Anton melarangnya, semakin Diana tertekan dan bersedih. Jadi, apapun yang dilakukan oleh istrinya selagi itu hal positif, Anton mengiyakannya. Ia hanya memantau istrinya lewat Ochie.
Hingga kini sampailah Diana dan Ochie di kafe yang sama seperti kemarin. Diana masih ingat dengan jelas wajah dari gadis yang ia temui saat itu, yaitu Zara.
Diana dan Ochie menunggunya di dalam kafe. Ia tak tahu kapan gadis itu akan berkunjung ke kafe itu lagi. Namun Diana yakin, bahwa gadis itu akan kembali lagi ke kafe itu. Ochie juga belum bisa memastikan dan memeriksa identitas gadis itu.
__ADS_1
Cukup lama Diana berada di kafe tersebut. Namun gadis yang ia maksud belum juga datang ke kafe. Entah keputusannya untuk menunggu di kafe itu benar atau tidak, hanya tempat ini yang bisa mempertemukan mereka berdua. Ochie yang berdiri di samping tempat duduk Diana mulai gusar. Ia takut jika Diana kecewa lagi. Ochie terus memperhatikan pintu masuk kafe.
"Nyonya, apakah Anda masih ingin menunggu di sini? Mungkin gadis itu tidak akan ke sini hari ini," ucap Ochie agar Diana tak terlalu berharap.
"Tidak apa, aku bisa menunggunya beberapa jam lagi," balas Diana. Ia tersenyum ke arah Ochie. Ia tahu Ochie khawatir terhadapnya, namun Diana tidak akan tenang sebelum memastikan gadis tersebut benar putrinya atau bukan.
Hingga saat ini pukul 12.00, Zara belum juga datang ke kafe tersebut. Diana terus memperhatikan pintu masuk kafe agar lebih mudah menemukan gadis itu. Namun usahanya tiada hasil.
"Bahkan nyonya sampai rela menunggu di sini berjam-jam. Gadis itu juga belum tentu putri kandung nyonya," batin Ochie.
"Nyonya, sebaiknya kita pulang saja. Besok kita ke sini lagi," ujar Ochie.
"Kita tunggu sebentar lagi ya. Aku yakin dia akan datang," balas Diana. Ochie lagi-lagi menyerah untuk membujuk Diana. Ia mengangguk paham.
Hingga akhirnya ini sudah terlewat dua jam, tetapi gadis itu belum datang ke kafe tersebut. Diana susah untuk mencari siapa dan tinggal di mana gadis itu. Karena belum sempat ia bertatap muka dengan gadis yang ia maksud.
"Kita pulang Chie. Mungkin hari ini gadis itu tidak ke sini," ucap Diana kecewa. Ia menyembunyikan kesedihannya.
"Baik nyonya," balas Ochie. Setelah membayar tagihan pembayaran, mereka pergi meninggalkan kafe tersebut.
"Nyonya baik-baik saja?" tanya Ochie saat mereka berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Ya," balas Diana dengan singkat.