
Zara Fariska Aprilia
Gadis lugu, manis, sabar, dan pantang menyerah. Kuliah di salah satu Universitas ternama di Jakarta. Ia sedang menempuh kuliah S1 Manajemen.
Demi menyambung hidupnya agar tetap bisa kuliah, ia rela bekerja paruh waktu. Dari mulai menjajakan minuman dingin di pinggir jalan atau di sekitar taman kota sampai menjadi barista di salah satu kedai kopi terkenal di daerahnya.
Hari libur kuliah adalah hari yang paling ia nantikan. Ia bisa mendapatkan lebih banyak uang untuk kebutuhannya sehari-hari.
Zara hidup sendirian di Jakarta. Ia tidak tahu di mana atau siapa orang tuanya. Bahkan sedari kecil ia tinggal di panti asuhan. Hidup yang begitu sulit dan pahit harus ia jalani sedari kecil. Itu yang membuatnya menjadi wanita tangguh dan tak banyak mengeluh.
Demi untuk mencari uang, ia bahkan sampai tidak punya sahabat dekat. Jangankan sahabat, teman saja ia tidak punya. Zara selalu menyibukkan diri dengan tugas kuliah dan pekerjaan yang ia geluti saat ini. Tak ada waktu untuk bersenang-senang dengan teman-temannya. Yah, bisa dibilang ia termasuk anti sosial. Padahal ia ingin sekali memiliki teman curhat untuk menumpahkan keluh kesahnya. Karena suatu keadaan, ia lebih memilih untuk menyendiri.
Zara tergolong mahasiswi yang rajin dan pintar. Tak heran jika ia bisa mendapatkan beasiswa penuh hingga lulus S1. Bisa kuliah saja ia sudah bersyukur, dan untuk kebutuhan yang lainnya ia harus bekerja keras agar apa yang ia inginkan dapat tercapai.
Gadis berparas cantik dan berkulit putih itu selalu menghabiskan waktunya di jalanan atau di kedai kopi. Menjual minuman dingin dan menjadi barista di sana. Miris memang jika melihat kehidupan yang Zara jalani. Di saat anak seusianya hidup berfoya-foya membanggakan uang orang tuanya, Zara harus membanting tulang demi berlembar uang kertas.
Terik matahari tak menjadikan semangatnya surut. Ia bahkan tak peduli dengan penampilannya saat ini. Ia juga tak menghiraukan cemoohan teman sekelasnya yang memandang rendah dirinya. Ia bisa sampai ke tahap ini semua adalah hasil dari kerja kerasnya. Zara tak peduli dengan sindiran dari teman sekelasnya yang selalu mencari kesalahan dirinya.
Mencari teman kala beruang itu hal yang mudah. Namun bagaimana jika keadaannya saat ini berbanding terbalik? Adakah teman yang begitu tulus tak memandang semua dari materi? Sayangnya, sebagian teman sekelasnya lebih memilih teman yang memang berkelas. Yang ke sana-sini membanggakan kedudukan dan jabatan orang tuanya.
__ADS_1
Zara sangat bersyukur. Hidup sederhana ini membuat dirinya sadar, bahwa hidup tak seindah drama korea yang ia tonton kala senggang. Zara hidup seorang diri, ia harus berjuang sendiri. Jika ia tidak bekerja keras, lantas siapa yang akan menghidupinya? Tidak ada.
Seusai lulus SMA, Zara memutuskan untuk keluar dari panti asuhan yang sudah kurang lebih membesarkannya hingga sekarang ini. Ia tak mau menjadi beban orang lain. Ia bertekad jika suatu saat dirinya bisa hidup layak dan bisa mencukupi kebutuhan hidup adik-adiknya yang berada di panti asuhan tersebut.
Hidup itu keras, jika ia tak bisa menahannya maka ia yang akan terguling. Anggap saja jika dirinya sedang berlatih menjadi orang yang kuat agar kala dirinya menjadi orang sukses nanti, ia tak melupakan masa lalu dan kerja kerasnya hingga sampai pada tahap itu.
Sekarang bukan saatnya untuk bersedih. Bagi Zara, bisa mencukupi kebutuhannya itu adalah anugrah terbesarnya. Ia tak merepotkan siapapun dan tak mengeluh pada siapapun. Sepahit apapun itu akan ia telan sendiri.
Terkadang ia merasa miris dengan kehidupan yang ia jalani. Iri pada teman-temannya yang selalu berpakaian mewah dan serba berkecukupan. Bohong jika dirinya tak pernah memimpikan hidup mewah seperti itu. Tapi kenyataan ini begitu menyayat hatinya. Memupuskan mimpi itu sehingga ia tak berani lagi untuk bermimpi seperti teman-teman sekelasnya.
"Huft, masih laku dua. Hari ini sepi banget sih yang beli," eluh Zara sambil mengistirahatkan dirinya di bawah pohon. Ia memperhatikan setiap orang yang berlalu lalang di depannya.
Zara menatap ke arah jalan raya. Lebih tepatnya pada perempatan lampu merah tersebut. Begitu banyak kendaraan yang berhenti di sana. Tapi kakinya tak tergerak untuk melangkah ke sana sekedar menawarkan minumannya. Ia begitu lelah namun ia tak boleh menyerah.
"Mbak, minumannya dong satu," ucap salah satu orang yang ingin membeli minumannya. Zara masih bengong menatap jalan raya itu.
"Mbak?" panggil orang tersebut.
"Eh, iya. Berapa mbak?" jawab Zara gelagapan.
__ADS_1
"Satu saja,"
Zara mengangguk sambil tersenyum tipis. Ia memberikan minuman sesuai permintaan pembelinya.
Zara bangkit dari duduknya. Ia harus berkeliling lagi agar dagangannya cepat laku. Masih pagi, bukan saatnya untuk bermalas-malasan. Ada rezeki yang harus ia jemput hari ini.
Hari semakin siang. Matahari pun juga sudah berada tepat di atas kepala. Ia istirahat sebentar. Karena sore nanti ia masih harus bekerja di kedai kopi yang lumayan membuatnya lelah. Ia memilih untuk kembali ke kostnya. Minuman dinginnya lumayan banyak terjual hari ini. Seberapapun ia tetap bersyukur atas hasil dari kerjanya hari ini.
"Hah, sampai kapan aku harus bekerja seperti ini?" ucap Zara sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur yang hanya muat untuk satu orang. Matanya masih menatap langit-langit kamarnya.
"Dua tahun lagi. Setelah lulus kuliah aku akan bekerja lebih baik lagi. Zara, kamu pasti kuat," ujar Zara kemudian memejamkan matanya.
Hidupnya susah, ia tak boleh menyerah. Ia tak pernah merasakan kasih sayang orang tua kandungnya. Ia juga tidak mempermasalahkan akan hal itu. Bukan saatnya menangis meratapi hidup. Jalan yang begitu terjal harus ia lalui. Memikul beban hidupnya sendiri tanpa berbagi dengan siapapun. Ia simpan rapat-rapat keluh kesahnya. Ia tutup kerinduannya tentang kedua orang tuanya.
Zara, sosok wanita tangguh yang sudah jarang ditemui oleh beberapa orang. Kesabaran yang selalu ia jadikan pegangan dalam hidupnya. Keikhlasan yang menjadi batu pijakan untuk ia tetap berdiri tegar.
Dibalik lika-liku kehidupannya saat ini masih ada orang yang harus ia bahagiakan. Hidup hanya ada dua pilihan. Keberanian atau keikhlasan. Berani mengubah keadaan atau ikhlas untuk menerima dan menjalani takdirnya.
Tanpa terasa, Zara sudah terlelap dalam tidurnya. Terbuai dalam manisnya mimpi indahnya. Raganya lelah dan letih. Hanya kamar itu yang mampu mengurangi lelahnya saat ini.
__ADS_1