
Tiga bulan kemudian...
(Authornya ngebut😆)
"Bang jangan main kejar-kejaran nanti jatuh," teriak Alina yang masih menyusui Raffa.
"Sebentar mommy," jawab Zidan yang masih bermain kejar-kejaran dengan Barra.
"Main yang lainnya saja sayang. Jangan lari-larian," ucap Alina. Zidan dan Barra tidak mendengarkan Alina sama sekali. Mereka sedang asik dengan dunianya.
"Bang Zidan nggak sekolah?" tanya Alina yang kini menuruni tangga.
"Sekolah Mom, bentar lagi," teriak Zidan yang belum selesai bermain.
Alina hanya menghela napasnya sejenak. Kini ia jarang masak, semua dikerjakan oleh bi Sumi pembantu barunya untuk sementara yang ia pekerjakan dua bulan yang lalu. Bi Sumi hanya datang waktu pagi sampai pukul 12.00 setiap harinya.
Alina hanya fokus mengurus ketiga putranya. Seperti yang terjadi saat ini. Rumah selalu berantakan akibat ulah anaknya itu.
"Bang Zidan, ayo cepat mandi sana. Nanti telat loh ke sekolahnya," ucap Alina dan kini dengan lembut. Zidan mengangguk dan segera menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap untuk ke sekolah.
"Mandiin adeknya juga," ujar Alina.
"Siap Mom," jawab Zidan.
Arvin sejak pagi tadi berada di ruang kerjanya. Jika sudah di sana, Alina tak berani mengganggu. Arvin juga sering pulang larut malam. Bahkan lembur sampai pagi baru pulang.
"Nyonya, sarapannya sudah siap," ucap bi Sumi. Alina mengangguk. Ia berjalan menuju ruang kerja Arvin. Mengetuk pintunya. Setelah mendapat jawaban, Alina masuk ke dalam.
"Mas, masih lama ya?" ucap Alina sambil berjalan menghampiri Arvin. Arvin menatap Alina sekilas. Ia tersenyum.
"Sebentar lagi sayang. Ada apa? Apa Zidan sudah berangkat sekolah?" tanya Arvin yang menghentikan pekerjaannya. Ia menarik Alina agar duduk dipangkuannya. Alina menurut begitu saja.
"Belum mas, masih mandi sama Barra," jawab Alina.
__ADS_1
Arvin mengangguk dan mulai mencium kening Alina. Sudah lama dirinya tidak bermanja pada Alina. Jujur saja Arvin rindu dengan aroma tubuh Alina. Ia ingin menjamah tubuh Alina. Namun pekerjaannya menuntut agar segera diselesaikan.
"Ya sudah, kalau sudah selesai segera makan mas. Jangan sampai telat makan," ucap Alina. Ia ingin berdiri namun ditahan kembali oleh Arvin.
"Mau ke mana, hm?" gumam Arvin sambil mencium puncak kepala Alina.
"Karena sudah di sini, ayo kita olahraga pagi sayang," bisik Arvin.
"Eh?"
Arvin tersenyum miring. Ia mulai mencium bibir Alina yang sudah lama ia rindukan. Pekerjaan sialan itu membuatnya tak tidur sepanjang malam. Dan jarang bermesraan dengan Alina.
"Mas, nanti dicariin anak-anak," tolak Alina.
"Sebentar saja sayang," ucap Arvin. Alina menurut begitu saja. Ia juga rindu pada suaminya itu.
Pukul 08.10 Alina dan Arvin baru keluar ruang kerjanya setelah melakukan olahraga pagi. Zidan sudah berangkat sekolah sedari tadi. Sedangkan Barra, anak ini semakin lama semakin mandiri dan tak merepotkan Alina. Barra sering bermain sendiri dan terkadang ditemani bi Sumi jika pekerjaannya sudah selesai.
Arvin langsung menuju meja makan karena sudah lapar sekali. Tenaganya terkuras habis pagi ini. Sedangkan Alina menuju kamarnya untuk melihat putranya apakah masih tertidur atau sudah bangun. Alina bergegas mandi sebentar dan mengurus Raffa. Ia membawa Raffa ke ruang tengah bersama dengan Barra.
"Biar mas yang jaga sayang. Kamu makanlah dulu," ucap Arvin dan mencium kening Alina sekilas. Alina mengangguk.
***
Sudah satu minggu terakhir ini pekerjaannya mulai kembali normal. Ia juga jarang begadang apalagi pulang larut malam. Arvin lebih sering menghabiskan waktunya bersama keluarganya. Apalagi bersama dengan istrinya.
Jika ada waktu luang, Arvin memilih berdiam di rumah dan bermain bersama anak-anaknya. Karena selama ini ia jarang memperhatikan putranya itu.
Kebetulan hari ini hari Minggu. Arvin dari pagi bermain dengan putranya. Hanya berhenti saat sarapan kemudian lanjut lagi. Alina hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Arvin yang seperti anak kecil.
"Mommy, papa nakal," ucap Barra sambil berlari menuju Alina disertai gelak tawanya. Alina hanya tersenyum tipis.
Arvin mulai mendekat dan justru Barra menjerit riang dan berlari kembali. Arvin mengejarnya. Beginilah suasana keluarga mereka. Selalu ceria karena gelak tawa anak-anaknya yang menghiasi rumah ini.
__ADS_1
Zidan jangan ditanya lagi. Setiap Minggu pagi ia berada di kamarnya untuk belajar. Keluar kamar waktu makan siang dan dilanjut bermain sebentar. Zidan memang sedikit pendiam. Ia sudah punya dunianya sendiri dengan buku-buku pelajarannya.
Tugas Alina menjadi ringan. Kini dirinya lebih tenang mengurus Raffa. Barra tak begitu sering merengek padanya hanya sekedar minta gendong atau apa. Sekarang justru lebih mengakrab ke Arvin dan sering manja dengannya. Barra juga mulai masuk taman kanak-kanak. Meskipun terkadang suka mogok sekolah.
Alina ingin menidurkan Raffa di kamarnya. Ia juga ingin istirahat sebentar. Baru berdiri dan ingin melangkah, tiba-tiba kepalanya pusing dan hampir tumbang jika Arvin tak langsung memegang Alina.
Arvin segera mengambil alih Raffa dan menuntun Alina ke kamarnya.
"Kenapa? Nggak enak badan?" tanya Arvin setelah menidurkan Raffa. Alina mengangguk. Ia segera berbaring di atas ranjang.
"Ya sudah istirahatlah. Biar anak-anak aku yang jaga," ucap Arvin dan mencium kening Alina sekilas. Ia menyelimuti Alina agar segera istirahat.
Baru ingin memejamkan mata, rasa mual tiba-tiba menyelimutinya. Alina buru-buru ke kamar mandi. Arvin yang khawatir segera menyusul Alina.
"Ada apa? Apa kamu salah makan lagi?" tanya Arvin sambil memijat tengkuk Alina dengan lembut.
"Nggak tahu mas. Rasanya perutku mual banget," jawab Alina dengan lemas. Arvin menuntun Alina sampai di ranjang dan membaringkannya.
"Aku panggil dokter untuk memeriksa kamu ya," ucap Arvin dengan khawatir. Ia sangat takut jika Alina sampai sakit.
"Nggak perlu mas. Mungkin asam lambungku agak naik. Istirahat sebentar pasti sembuh kok," jawab Alina. Arvin mengangguk paham. Ia mencium kening Alina dan mengusap kepala Alina. Arvin menemani Alina sampai tertidur.
"Papaaa..." teriak Barra sambil berlari masuk ke dalam kamar.
"Ssstttt... Hati-hati, mommy lagi tidur sayang," ucap Arvin pelan.
Barra langsung membungkam mulutnya sendiri. Ia mengendap menghampiri Arvin.
"Mommy sakit pa?" tanya Barra sambil menatap papanya.
"Iya, jangan ganggu mommy dulu ya. Ayo main sama papa lagi," ucap Arvin dan menggendong Barra.
Seharian ini Arvin yang mengurus putranya. Alina mengeluh pusing sehingga harus istirahat.
__ADS_1
Hari semakin sore. bi Sumi juga sudah pulang. Arvin turun tangan langsung untuk menyiapkan makan malam. Ia juga sempat membantu merapikan mainan Barra yang berserakan. Seperti sudah terlatih sebelumnya. Arvin juga sangat lihai mengerjakan pekerjaan rumah.