Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 26 (season 2)


__ADS_3

Zara menunggu Zidan bersiap untuk rapat. Tidak biasanya Zidan mengajaknya secara tiba-tiba seperti ini. Setelah semua siap, mereka berempat segera menuju lokasi rapat.


Zidan dan Zara berada di kursi belakang sopir. Sedangkan Aletta dan Fanny berada di kursi depan. Meskipun canggung, namun Zara hanya menurut saja.


Tanpa disadari, tiba-tiba Zidan merebahkan kepalanya ke bahu Zara. Tentunya Zara begitu terkejut. Zara mematung di tempatnya. Ia melirik Zidan yang dengan nyamannya bersandar di bahunya.


"Zi-Zidan, apa yang kamu lakukan?" tanya Zara gugup.


"Aku pinjam sebentar ya bahunya. Kepalaku sedikit pusing," jawab Zidan santai. Sebenarnya itu hanya alasan saja. Agar Zara mengizinkannya untuk bersandar di bahunya.


"Kamu sakit lagi? Apa perlu kita periksa ke rumah sakit dulu?" ucap Zara panik. Fanny dan Aletta hanya saling pandang. Mereka pura-pura tidak mendengar drama yang sedang dimainkan Zidan.


Zidan menyantuh telapak tangan kiri Zara. Lalu menempelkannya di pipinya. Zidan tersenyum tipis sambil melihat ke arah Zara.


"Begini saja sudah cukup," ucap Zidan santai.


"Hah?" Zara benar-benar bingung.


"Terserah kamu saja," jawab Zara lagi. Ia hanya bisa pasrah.


"Bagaimana aku bisa tenang. Setiap kali berada di dekatmu jantungku selalu tidak baik-baik saja. Zidan, aku takut jika aku akan jatuh cinta kepadamu karena perlakuanmu ini. Aku sadar diri juga. Mana mungkin aku dan kamu bisa menjadi kita," batin Zara yang memalingkan wajahnya. Ia melihat ke arah luar. Dirinya saat ini sedang gelisah.


Berbeda dengan Zidan, yang merasa senang karena bisa semakin dekat dengan Zara. Pelan-pelan Zidan akan terus mendekati Zara hingga Zara mau menerima dirinya. Zidan juga tidak ingin memaksa Zara karena cinta bukan untuk dipaksa.


Tak lama mereka sampai di sebuah restoran. Mereka menuju ruang VIP yang sudah dipesan sebelumnya. Zidan datang lebih dulu daripada kliennya. Mereka memesan beberapa makanan terlebih dahulu.


"Makanlah yang banyak," ucap Zidan dan mengambilkan beberapa lauk untuk Zara. Zara tersenyum tipis. Bahkan keberadaan Fanny dan Aletta seperti tak nampak saja.


Setelah itu, klien Zidan datang juga. Mereka mulai membahas kerjasama. Zara hanya menjadi pendengar antara mereka. Ia juga bisa mendapatkan ilmu secara tidak langsung.


Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya mereka memutuskan untuk berpesta kecil merayakan kerjasama mereka. Para pelayan mulai menjalankan tugasnya. Mereka menuangkan minuman ke gelas dan menyajikan untuk Zidan serta yang lainnya.

__ADS_1


Zara mulai meminumnya. Ia merasa asing dengan minuman itu. Ini pertama kalinya ia merasakan minuman yang menurutnya aneh ini.


"Ini sebenarnya minuman apa sih. Rasanya tidak enak sekali. Tetapi kalau aku tidak menghabiskannya aku juga tidak enak dengan mereka," batin Zara. Karena ia memerhatikan semua orang begitu senangnya. Tanpa pikir panjang Zara mulai menghabiskan minuman itu.


Zidan lupa tidak memerhatikan Zara karena serunya bercanda dengan kliennya. Sampai Zara mulai merasa pusing dan beberapa kali memegangi dahinya.


"Kenapa aku pusing sekali," gumam Zara yang berusaha untuk tetap tenang.


"Baiklah, saya sangat senang akhirnya bisa bekerjasama dengan Anda tuan Zidan. Semoga kerjasama kita kali ini mampu membawa perusahaan kita semakin maju lagi," ucap klien itu.


"Saya juga senang bisa bekerjasama dengan Anda tuan. Terima kasih untuk hari ini," jawab Zidan sopan. Mereka saling berjabat tangan sebelum pergi.


Zidan menyandarkan dirinya ke sofa. Ia melirik Zara yang duduk di sampingnya. Zidan mendekatkan tubuhnya ke Zara yang sedang memejamkan matanya.


"Zara..." panggil Zidan dengan panik.


Zara membuka matanya. Ia tersenyum tipis.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Zidan khawatir. Zara mengangguk.


"Fan, segera kembali ke kantor," ucap Zidan. Fanny mengangguk sopan.


Zara berdiri dan berjalan sempoyongan. Zidan yang merasa khawatir berjalan di belakang Zara. Sesekali Zara mengeluh sakit kepalanya.


"Kenapa aku bisa lupa jika Zara berada di sini tadi? Harusnya aku tidak membiarkannya minum," batin Zidan menyesal.


Zara pingsan dan buru-buru Zidan menangkapnya sehingga tidak terjatuh. Zidan menepuk pipi Zara berulang kali namun tidak bangun juga. Zidan mulai panik. Ia menyuruh Fanny agar segera menyiapkan mobil. Zidan menggendong Zara hingga sampai di mobil.


"Kita pulang ke apartemen Fan," ucap Zidan. Fanny mengangguk. Zidan menyandarkan tubuh Zara dan merengkuhnya. Ia mengusap lembut pipi Zara.


"Kenapa kamu tidak cegah Zara untuk minum tadi Fan," ucap Zidan kesal.

__ADS_1


"Maafkan saya tuan. Saya terlalu terbawa suasana tadi," jawab Fanny.


Zidan menghela napasnya sejenak. Ini adalah salahnya yang membiarkan Zara sampai seperti ini. Harusnya tadi ia lebih memerhatikan Zara. Ia khawatir dengan Zara yang tak sadarkan diri. Ia menelepon Jack agar segera menuju ke apartemennya.


Sampai di parkiran apartemen, Zidan langsung menggendong Zara kembali hingga menuju apartemennya. Fanny membantu membukakan pintunya. Zidan segera merebahkan Zara di kasurnya.


"Zidan, kenapa kamu di sini?" ucap Zara setengah sadar.


"Zara, kamu sudah sadar?" tanya Zidan lega. Ia mendekati Zara dan mengusap kening Zara.


"Aku? Aku kenapa?" tanya Zara pelan.


"Tidak apa-apa, istirahatlah sebentar," ucap Zidan.


Tak lama Jack datang dengan tergesa-gesa. Ia berpikir jika Zidan sakit lagi. Ia tidak mau membuang waktunya. Dengan kecepatan lumayan tinggi dan akhirnya ia sampai di apartemen Zidan lebih cepat.


"Ada apa? Aku kira kamu sakit. Kamu terlihat baik-baik saja," ucap Jack.


"Bukan aku tapi dia," jawab Zidan. Ia berdiri, memberi ruang agar Jack bisa memeriksa Zara. Jack sempat mengernyitkan dahinya. Benaknya bertanya-tanya siapa sebenarnya wanita itu. Jack mulai memeriksa Zara yang sedikit kacau karena sedang mabuk.


"Tidak apa-apa. Hanya perlu istirahat saja. Ngomong-ngomong siapa dia?" ucap Jack dan melirik ke arah Zidan.


"Bukan urusan kamu!" jawab Zidan. Jack tertawa kecil dan menepuk bahu Zidan dengan pelan.


"Baiklah bukan urusanku, sekarang urusanku sudah selesai. Aku harus segera kembali," ujar Jack. Ia berlalu meninggalkan apartemen Zidan. Begitu pula Fanny dan Aletta. Mereka memilih untuk kembali ke kantor.


Zidan beralih menuju sofa. Ia melepas jasnya dan menarik dasinya. Tak lupa Zidan menggulung lengan bajunya hingga sampai siku. Ia duduk di sofa dan bersandar di sana.


"Kenapa aku membawanya ke apartemen? Sekarang hanya tinggal kami berdua saja. Aku takut tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Zara, kamu harus segera sadar," gumam Zidan. Ia sedikit mengacak rambutnya. Pikirannya tadi hanya terpaku pada Zara saja hingga ia tidak memikirkan hal lainnya. Mau menelepon Fanny untuk kembali juga percuma.


"Dia yang seperti itu kenapa sungguh menggemaskan sekali," gumam Zidan dan ia tersenyum tipis. Zidan melirik jam tangannya. Ternyata masih pukul 13.30. Berapa lama lagi hingga Zara sadar. Zidan juga tak tahu pastinya.

__ADS_1


Zidan tertawa kecil saat mendengar Zara meracau tidak jelas. Namun Zidan masih tetap duduk di sofa sambil memerhatikan Zara.


__ADS_2