Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 114 (season 2)


__ADS_3

Hari-hari pun berlalu. Seperti biasanya, Zara bak putri raja di rumahnya. Zidan melarang Zara untuk melakukan aktivitas yang berat. Sedangkan Alina tidak memperbolehkannya untuk membantunya. Zara lama-lama juga merasa bosan. Ia hanya makan, tidur, nonton TV, dan lainnya yang justru membuatnya semakin bosan.


Usia kandungannya kini memasuki delapan minggu. Perutnya juga belum terlihat membesar. Dan semakin hari mualnya semakin bertambah dan lebih sering. Padahal kehamilannya yang pertama dulu tidak seperti saat ini.


Zidan juga semakin sibuk dengan pekerjaannya. Karena Arvin memberikan tanggung jawab lebih pada Zidan untuk mengelola perusahaan. Usianya yang tak muda lagi membuat Arvin sering merasa kelelahan. Memang sudah waktunya ia untuk pensiun dari pekerjaannya dan menikmati masa tuanya bersama dengan istrinya.


Saat ini hanya Zidan yang bisa ia andalkan dan percaya untuk mengelola perusahaannya. Barra sudah menolak untuk mengurus bisnis keluarganya, sedangkan Raffa belum cukup ilmu dan pengalamannya untuk menjadi pemimpin selanjutnya. Awalnya Zidan menolak, tetapi karena desakan dari orang tuanya, ia terpaksa mengambil tanggung jawab yang begitu besar.


Akhir-akhir ini ia sering bolak-balik ke luar kota untuk mengurus pekerjaannya. Terkadang ia juga pulang larut malam. Terkadang, ia juga harus berdebat dengan Zara karena pekerjaan ini. Zidan memakluminya, ia tahu jika suasana hati Zara saat ini sering berubah-ubah dan tidak stabil. Saat-saat seperti ini harusnya ia lebih sering menemani istrinya dan memanjakannya. Namun tanggung jawab kantornya juga sama pentingnya. Ia tidak bisa mengalihkannya pada asistennya terus-menerus.


Sudah tiga hari ini Zidan ke luar kota. Hari ini harusnya Zidan sudah pulang dari perjalanan bisnisnya. Namun sampai siang tiba, Zidan belum juga kembali. Zara harus bersabar menahan diri dan kerinduannya. Ia juga berusaha memahami Zidan yang semakin banyak tanggung jawabnya. Bukan hanya dirinya namun perusahaannya.


Adakalanya Zara sedih dan ingin marah. Ia ingin Zidan memperhatikannya seperti saat ia hamil pertama dulu. Namun meminta keluangan waktu suaminya saja harus jauh-jauh hari. Karena jadwal dan pekerjaan Zidan yang semakin banyak.


Siang ini, Zara hanya duduk di depan TV sambil menonton acara kesukaannya. Ia juga membaca buku tentang ibu hamil dan lainnya. Sedangkan Alina bersiap ingin ke restorannya hari ini diantar oleh Arvin.


"Sayang, di rumah sendiri tidak apa-apa? Atau mommy suruh Raffa untuk pulang dan menemani kamu di rumah?" ujar Alina saat ia akan pergi ke restoran.


"Tidak perlu Mom, Zara tidak apa-apa di rumah sendiri," jawab Zara.


"Maaf ya, mommy tinggal sebentar," ujar Alina sedih. Sebenarnya ia tak tega meninggalkan Zara di rumah sendiri. Tapi ia sudah terlanjur janji dengan Rani.


"Zidan sebentar lagi juga pasti pulang kok Mom," ucap Zara. Alina menghela napasnya lega. Ia tersenyum dan keluar rumahnya. Karena Arvin sudah lebih dulu berada di mobil.


Zara menghela napasnya sejenak. Ia memilih untuk ke kamarnya dan beristirahat. Baru dua langkah ia berjalan, suara mobil Zidan terdengar dari luar. Zara mengembangkan senyumnya dan bergegas menyambut suaminya. Terlihat Zidan nampak lelah dan letih. Namun di depan Zara ia menyembunyikan kelelahannya.


"Sayang," ucap Zara. Ia langsung memeluk Zidan dengan erat. Fanny yang berdiri di belakang Zidan hanya menundukkan kepalanya seolah tidak mengetahuinya.

__ADS_1


Zara melepas pelukannya. Zidan mengecup kening Zara cukup lama dan adegan ini membuat Fanny iri dengan keharmonisan hubungan mereka.


"Kenapa terlambat pulang?" tanya Zara lalu ia memanyunkan bibirnya. Zidan merangkul Zara dan membawanya masuk ke dalam.


"Tadi di jalanan macet, terus ada sedikit kendala juga di sana. Tapi untungnya semua sudah diatasi," jawab Zidan. Ia bergegas ke kamarnya, sedangkan Zara ke dapur untuk menyiapkan makan siangnya. Fanny duduk di ruang tamu menunggu perintah dari Zidan. Zara hanya memasak makanan yang sederhana. Tak butuh waktu lama makanan itu sudah siap tersaji di meja makan.


Selesai mandi dan berganti pakaian, Zidan menghampiri Fanny dan mengajaknya untuk makan terlebih dahulu. Sehabis dari perjalanan bisnisnya tadi, mereka belum sempat makan karena Zidan terus kepikiran oleh Zara. Ia takut jika Zara marah seperti waktu itu saat ia terlambat pulang.


"Sendirian? Mommy sama papa di mana?" tanya Zidan yang menyadari bahwa orang tuanya tak ada di rumah.


"Baru saja keluar. Katanya mau ke restoran," jawab Zara sambil mengambilkan makanan untuk Zidan. Zara duduk di samping Zidan dan Fanny berada di depan mereka. Zidan mengangguk paham dan segera memakan makanan tersebut.


Selesai makan siang, Zidan menyuruh Fanny untuk pulang dan beristirahat. Ia tahu Fanny juga sama lelahnya seperti dirinya. Zidan mengantar Fanny hingga sampai teras rumah. Setelah Fanny berlalu dari rumahnya, Zidan kembali masuk dan menghampiri Zara.


"Bagaimana anak papa? Tidak menyusahkan mama kan?" tanya Zidan yang sudah duduk di samping Zara sambil mengusap perut Zara.


"Aku kangen banget sama kamu sayang... Maaf, akhir-akhir ini aku sibuk sekali hingga tidak bisa memperhatikanmu," bisik Zidan sambil mengusap rambut Zara. Ia mengecupnya sekilas. Zara hanya tersenyum tipis sambil memainkan kaos yang dikenakan suaminya itu.


"Kapan jadwal cek kandungan lagi?" tanya Zidan.


"Dua minggu lagi," jawab Zara. Ia masih mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya dalam dekapan suaminya.


Tok tok tok....


"Permisi..."


Zidan dan Zara saling memandang. Zara melepas pelukannya dan membenahi duduknya. Zidan beranjak untuk membuka pintu tersebut namun Zara menahannya.

__ADS_1


"Biar aku saja," ucap Zara sambil tersenyum tipis. Zidan mengangguk dan kembali duduk. Ia bersandar pada sofa sambil memejamkan matanya.


Zara menuju ke pintu utama. Ia menerka-nerka siapa yang bertamu ke rumahnya. Zara tidak pernah ada janji dengan siapapun untuk bertemu hari ini. Dalam benaknya masih bertanya-tanya.


Klek


Zara membuka pintu tersebut. Ia terdiam sambil memandangi wanita yang tengah berdiri di depannya. Zara tidak mengenal wanita tersebut. Wanita muda dengan penampilan modisnya. Bahkan Zara sempat mengagumi kecantikan wanita itu.


"Maaf, cari siapa ya?" tanya Zara. Wanita itu tersenyum hangat ke arah Zara.


"Tante ada?" tanya wanita itu.


"Kamu siapa ya?" tanya wanita itu lagi sambil mengamati Zara dari atas sampai bawah.


"Aku..." Belum sempat Zara menjawab wanita itu sedikit mendorong Zara dan ia masuk ke dalam rumah begitu saja. Zara mengernyitkan dahinya. Ia berbalik dan terus menatap wanita itu yang nampaknya tak asing dengan rumah ini. Zara masih berdiam di dekat pintu. Wanita itu duduk di sofa ruang tamu.


"Tanteee... Tante di mana....??" teriak wanita itu. Zara menghampiri wanita itu dan ingin bertanya siapa dia. Namun ia urungkan dan ia berniat untuk memanggil Zidan.


***


Raffa, Zidan, dan Barra dalam bayangan Author, hehe...


Bagaimana dalam bayangan kalian? Wkwk..


(foto hanya pemanis😂)


__ADS_1


__ADS_2