
Setelah makan, Zara dan Zidan bergabung di ruang tengah. Mereka menonton acara tv kesukaan mereka. Zara duduk bersandar di bahu Zidan. Mereka juga saling mengobrol berbagi cerita masing-masing.
Zara dan Zidan memilih untuk istirahat lebih dulu. Karena Zara harus banyak-banyak istirahat. Saat ini, Zidan sudah bersandar di ranjang menunggu Zara yang masih berganti pakaian tidurnya di kamar mandi. Ia membuka ponselnya dan memainkan sejenak. Zara keluar dari kamar mandi dan langsung merebahkan tubuhnya di samping Zidan. Zidan mematikan ponselnya dan menaruhnya di nakas samping tempat tidurnya. Ia merengkuh Zara agar masuk ke dalam pelukannya.
"Bagaimana tadi di kampusmu? Apa semua baik-baik saja?" tanya Zidan sambil membelai rambut Zara.
"Iya, Raffa menjagaku dengan baik," jawab Zara. Ia tersenyum tipis. Zara tidak ingin menceritakan jika teman sekelasnya memandangnya tidak suka dan bergosip tentangnya. Ia tidak ingin Zidan khawatir padanya.
"Syukurlah... Aku tahu Raffa akan menjagamu dengan baik," ucap Zidan. Ia masih memainkan rambut Zara dengan gemas. Menggulung-gulung di telunjuknya dan melepasnya kembali sampai berulang kali. Zara mendongak menatap Zidan.
"Kenapa begitu yakin?" tanya Zara. Zidan hanya tersenyum dan mengecup bibir Zara sekilas.
"Karena dia tidak mungkin mengecewakanku, abangnya," ujar Zidan lagi.
Lalu ia menarik selimut dan menyelimuti Zara. Tak lupa ia mengusap dan mencium perut Zara sebelum tidur. Mereka tidur dengan posisi saling berpelukan.
***
Keesokan harinya, rutinitas seperti biasanya. Zara bangun lebih awal untuk membantu Alina memasak, sedangkan Zidan masih terlelap dalam tidurnya. Zara tidak terburu-buru untuk ke kampus karena hari ini jadwal kuliahnya tidak terlalu pagi.
Alisya, yang baru saja lulus SMA dan kini ia sedang mendaftar di salah satu Universitas di Jakarta jurusan kedokteran. Mimpinya untuk menjadi dokter akan ia wujudkan. Karena dukungan dari keluarganya juga, sehingga Alisya yakin ingin menekuni profesi itu.
Raffa yang baru saja bangun langsung mandi dan bersiap. Selepas mandi, ia menyisir rambutnya dan bercermin. Ponselnya berdering. Raffa segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya sepagi ini. Ternyata Viona yang meneleponnya. Raffa menjawab panggilan telepon tersebut sambil berjalan menuju balkon.
"Pagi sayang." Suara Viona dari balik teleponnya.
"Hmmm..." jawab Raffa.
"Kangen kamu," ucap Viona. Raffa tertawa kecil. Bisa-bisanya Viona menggodanya sepagi ini.
__ADS_1
"Iya, nanti setelah ngampus kita ketemu di restoran," balas Raffa.
"Oke, janji ya?" ujar Viona.
"Iya," jawab Raffa.
Mereka mengobrol hampir satu jam lamanya. Tanpa terasa, Raffa dan Viona saling bercerita dan bercanda lewat telepon. Raffa lebih terbuka lagi dengan Viona. Apa yang ditanyakan Viona padanya, Raffa tanpa ragu menjawabnya.
Kini, mereka sudah selesai menelepon. Raffa terdiam sejenak di balkon kamarnya. Ia memandangi langit yang cerah pagi itu tanpa adanya awan di sana. Raffa menghela napasnya sejenak dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Sedangkan Viona yang masih rebahan di kasurnya berteriak kegirangan hingga membuat Farida mengetuk pintu Viona. Jarang-jarang Viona bangun sepagi ini tanpa dibangunkan oleh mamanya. Viona langsung membuka pintu kamarnya dan menyengir kala melihat kakaknya yang sudah berada di depan pintu kamarnya.
"Ada apa sih dek, pagi-pagi sudah heboh?" tanya Farida.
"Ih, kepo banget sih. Aku mau mandi dulu, bye!" balas Viona. Ia menutup kembali pintu kamarnya. Farida hanya menggelengkan kepalanya pelan dan kembali menuju dapur untuk membantu mamanya menyiapkan sarapan.
Tiga puluh menit kemudian, Viona sudah rapi dan cantik. Ia menenteng tasnya dan berjalan menuju meja makan sambil dirinya fokus pada ponselnya. Viona senyum-senyum sendiri karena ia sedang berbalas chatt sama Raffa, pacar barunya. Ia duduk di kursi dan meletakkan tasnya di belakangnya.
Viona menatap mereka secara bergantian. Ia heran dengan sikap mereka. Viona menghentikan makannya.
"Ada apa? Apa ada yang salah?" tanya Viona.
"Tumben jam segini sudah rapi. Biasanya cekcok dulu sama mama baru bangun," icap Danis. Viona menghela napasnya sejenak.
"Salah ya kalau Viona bangun sepagi ini? Sudahlah, Viona ada kelas pagi ini," ucap Viona dan kembali memakan sarapannya.
Ia pamit untuk berangkat duluan. Viona sudah memesan taksi online tadi. Ia kali ini berangkat dengan menggunakan taksi online. Tidak diantar jemput oleh sopirnya. Ketiga orang tersebut masih memandang Viona heran. Mereka terheran dengan perubahan sikap Viona.
Di rumah Arvin, mereka baru selesai sarapan. Arvin pamit terlebih dahulu karena akan ada meeting penting pagi ini. Setelah mengantar Arvin sampai teras, Alina kembali masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Bagaimana dengan ujian kamu Alisya?" tanya Alina sambil membereskan meja makan.
"Hari ini pengumuman, doakan semoga Alisya ketrima ya Mom," ucap Alisya. Alina mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Sayang, aku berangkat dulu ya," ucap Zidan. Ia mencium kening Zara.
"Tidak perlu mengantarku. Oh iya, nanti aku akan menjemputmu di kampus lalu kita ke rumah sakit ya. Hari inikan jadwal kamu untuk cek kandungan," ujar Zidan. Zara mengangguk dan hanya menatap Zidan dari kursinya.
"Kak, rasanya hamil itu bagaimana sih?" tanya Alisya penasaran.
"Mau tahu rasanya? Coba saja sendiri. Tapi harus nikah dulu ya," ucap Alina. Mereka bertiga tertawa kecil.
"Ra, aku tunggu di depan ya," ucap Raffa. Zara langsung menatap Raffa. Ia mengangguk dan langsung bersiap-siap di kamarnya.
Setelah itu, ia pamit pada Alina untuk berangkat ke kampus. Zara tak lupa mencium punggung tangan Alina. Ia berjalan keluar rumah.
"Kenapa berangkat sepagi ini? Bukankah jadwal kita satu jam lagi?" tanya Zara yang sudah duduk di dalam mobil di samping Raffa.
"Iya, aku mau membeli sesuatu dulu," ucap Raffa. Zara mengangguk paham. Raffa mulai menjalankan mobilnya.
Raffa melajukan mobilnya hingga sampai di sebuah toko coklat. Ia segera turun dan tak lupa mengajak Zara. Zara menatap Raffa bingung, untuk apa Raffa mengajaknya ke sini. Namun Zara hanya mengekori Raffa di belakang tanpa bertanya sekalipun.
"Permisi, saya mau ambil pesanan atas nama Raffa," ucap Raffa sambil menyodorkan bukti transaksinya. Karyawan toko tersebut mengambil bukti transaksi itu dan segera mengambil pesanan Raffa.
"Bisa dicek ulang kak," ucap karyawan toko tersebut. Ia memesan dua kotak coklat dengan bentuk yang berbeda. Satu ia berikan untuk Viona dan satu lagi untuk Zara. Namun Raffa tidak berniat apapun pada Zara. Setelah itu mereka kembali ke mobil lagi.
"Ini untuk kamu. Kamu suka coklat juga kan?" tanya Raffa sambil menyodorkan satu kotak coklat untuk Zara.
"Eh, ini untuk Zara?" tanya Zara kaget. Raffa mengangguk.
__ADS_1
Mendapatkan coklat yang sangat ia sukai tentunya ia tidak menolaknya. Apalagi satu kotak coklat berukuran lumayan besar. Zara langsung membuka coklat tersebut dan mencicipinya. Ini bahkan coklat terenak yang pernah ia rasakan.