Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 120 (season 2)


__ADS_3

Hari penantian kelahiran bayi kembar Zara pun tiba. Tiga bulan kemudian, tepat hari ini usia kandungan Zara sudah memasuki bulan kesembilan. Sebentar lagi, Zara akan menjadi seorang ibu, begitu juga Zidan yang akan menjadi seorang ayah. Kamar satunya ia desain untuk bayi kembar mereka nanti. Zara dan Zidan masih betah tinggal di apartemen itu. Namun akhir-akhir ini Zidan berpikir untuk berpindah rumah. Ia hanya menunggu saat yang pas saja untuk pindah dari sana.


Saat ini, Zara berada di dalam kamarnya. Pagi ini ia belum merasakan kontraksi apapun. Zara terlihat lebih tenang dan santai berada di apartemennya. Ia membaca buku sambil bersandar di ranjangnya. Tangannya mengusap-usap perutnya yang sudah membesar itu.


Hingga sampai siang tiba, Zara masih betah berada di kamarnya. Ia mencoba memejamkan matanya untuk beristirahat. Namun ia sama sekali tidak bisa tidur. Karena khawatir dengan kondisi Zara, bi Sumi datang ke kamar untuk membawakan makan siangnya. Bi Sumi memang hanya bekerja setengah hari saja. Sampai Zidan pulang dan pekerjaannya selesai, baru bi Sumi bisa pulang ke rumahnya. Karena keterbatasan kamar yang tersedia membuat Zidan harus mengambil keputusan itu.


"Nyonya, ini makan siangnya," ucap bi Sumi dengan sopan.


"Terima kasih ya bi. Letakkan di situ saja, nanti akan saya makan," ucap Zara. Bi Sumi mengangguk sopan. Ia kembali untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Zara beralih untuk duduk. Ia mengambil makanan itu dan memakannya. Zara makan dengan lahap sekali. Waktu menunjukkan semakin sore. Namun Zidan masih ada rapat sore ini dan tentu saja itu adalah klien penting.


Zara beralih ingin ke kamar mandi. Ia tidak sempat memanggil bi Sumi untuk menemaninya. Zara berjalan menuju ke kamar mandi.


"Ah," gumam Zara saat merasakan perutnya mulai berkontraksi. Namun Zara mengabaikannya. Ia tetap ingin ke kamar mandi. Saat baru sampai di kamar mandi, Zara merasa sesuatu mengalir pada bagian bawah tubuhnya. Zara terkejut karena itu adalah air ketubannya yang sudah pecah. Zara panik dan buru-buru memanggil bi Sumi. Bi Sumi langsung menghampirinya.


"Astaga, nyonya," ucap bi Sumi panik. Ia membawa Zara untuk berbaring di atas ranjang. Bi Sumi terlihat sedang menghubungi seseorang yang tak lain adalah Zidan. Zidan langsung menghentikan meetingnya dan buru-buru menuju apartemennya.


"Sakit bi," rintih Zara.


"Nona tahan sebentar, tuan sedang dalam perjalanan ke sini," ucap bi Sumi panik.


Zidan setengah berlari menghampiri anak dan istrinya yang masih berada di kamar apartemen. Sesampainya di sana, Zidan langsung membawa Zara ke rumah sakit. Ia takut terjadi sesuatu pada anak dan istrinya.


"Mas, sakit sekali," ucap Zara pelan. Zidan hanya mengusap rambut Zara. Saat ini ia sedang mengemudikan mobilnya. Ia harus tetap fokus dengan kemudinya. Sesampainya di rumah sakit, Zara langsung dibawa ke ruang bersalin. Dokter memeriksa kondisi Zara dan bayinya. Ia segera menyiapkan beberapa alat yang dibutuhkan untuk operasi caesarnya kali ini. Untuk melahirkan normal itu cukup berbahaya bagi Zara. Meskipun Zara mengaku dirinya kuat, tetapi itu justru membahayakan bagi kondisinya.

__ADS_1


Zidan berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi. Ia bahkan tidak sempat menghubungi orang tuanya. Kabar ini terlalu mendadak baginya. Untungnya ia sudah siap siaga.


Zara mulai dibius total. Operasi juga berjalan dengan lancar. Sudah berjam-jam Zidan menunggu Zara dan bayinya. Saat ini sudah terdengar suara tangis bayi. Zidan teringat jika orang tuanya belum ia kabari perihal berita ini.


Sepasang bayi kembar laki-laki telah berhasil Zara lahirkan. Kini dokter menyiapkan ruang perawatan bagi Zara. Kini, Zara sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Namun ia belum sadarkan diri akibat pengaruh dari obat biusnya.


Zidan beralih melihat kedua jagoan kecilnya. Selama ini Zidan dan Zara menyembunyikan jenis kelamin anak mereka. Setiap kali ditanya, mereka hanya tersenyum saja. Karena Zidan ingin memberikan kejutan pada keluarganya.


Malamnya, Alina dan Arvin datang menjenguk. Ia sedikit memarahi Zidan yang terlambat mengabarinya. Tak kama kemudian, Diana dan Anton juga datang menjenguk.


"Bagaimana kondisi ibu dan bayinya?" tanya Diana yang baru saja sampai dari sana. Kebetulan Zara baru tersadar.


"Sehat Ma, maaf Zidan baru mengabari berita ini tadi. Zidan begitu takut sehingga membuat pikiran Zidan buntu," ucap Zidan. Diana mengangguk paham.


Zara dengan pelan mulai menyusui buah hatinya. Namun ia tak bisa bergerak terlalu banyak. Jahitan luka di perutnya masih terasa nyeri. Namun ia bahagia, akhirnya penantiannya selama sembilan bulan terbayar sudah. Ia dikaruniai dua jagoan kecil dalam hidupnya.


Dua jagoan kecil itu mereka beri nama Arsya dan Arva. Kini lengkaplah sudah kebahagiaan Zidan dan Zara. Kehadiran mereka membuatnya bahagia.


***


Hari-hari berlalu. Kini Zara sudah diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit. Namun Zara masih tetap ekstra beristirahat. Saat ini mereka dalam perjalanan pulang. Namun rute yang mereka tempuh kali ini berbeda dengan arah pulang ke rumah orang tuanya ataupun ke apartemennya.


"Mas, kita mau ke mana? Ini bukan arah menuju apartemen kita," ucap Zara bingung.


"Memang bukan, aku akan memberikanmu kejutan sayang," jawab Zidan dengan santai. Namun Zara semakin dibuat bingung. Entah apa yang ia pikirkan saat ini.

__ADS_1


Mobil mereka berhenti di depan rumah yang tampak sederhana namun nyaman. Rumah yang lebih luas dari apartemennya itu. Zidan turun dari mobil dan menggendong Arsya. Sedangkan Zara menggendong Arva. Zidan membawa Zara memasuki rumah tersebut.


"Mas, ini rumah siapa?" tanya Zara bingung.


"Ini adalah rumah kita sayang," jawab Zidan santai.


"Hah? Maksudnya?" ucap Zara tak percaya.


"Maaf baru bisa memberikan kejutan ini sekarang. Sebenarnya ini adalah rumah yang telah papa siapkan untuk kita. Namun waktu itu aku menolaknya. Tapi hari ini aku akan menerima rumah ini dan menjadikan rumah kita seperti surga dengan canda dan tawa anak-anak kita," tutur Zidan. Zara terharu dengan kenyataan ini. Ia benar-benar beruntung memiliki suami seperti Zidan.


"Terima kasih mas, terima kasih banyak," ucap Zara pelan namun masih terdengar oleh Zidan. Zidan mengecup kening Zara. Lalu mereka tersenyum tipis.


(tamat)


***


Hallo guys...


Maaf ya jika endingnya kurang menyentuh. Author sudah stuck ide nih, haha...


Terima kasih banyak yang sudah mau mampir, like, dan memberikan dukungan untuk Author.


Semoga terhibur dengan ceritanya...


See you next time..

__ADS_1


Nantikan kelanjutannya di season 3😂 (Insya Allah)


__ADS_2