
Zidan dan Zara sampai di rumah. Mereka segera turun dari mobil dan menuju ke dalam rumah. Zidan merangkul Zara sambil mereka melangkah menuju kamar mereka.
"Kalian dari mana sayang?" tanya Alina. Karena ia tadi mencari Zara namun tidak menemukannya.
Zidan dan Zara terhenti di ruang tengah. Zidan tersenyum dan menghampiri Alina. Ia memeluk Alina dari belakang.
"Tuh, nuruti bumil makan di luar," ucap Zidan. Alina tersenyum dan mengusap pipi Zidan dengan lembut.
"Ada apa? Apa Zara lagi ngidam?" tanya Alina senang. Zara hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya. Zidan melepas pelukannya. Ia membawa Zara ke dalam kamarnya.
Kini Zidan dan Zara sudah berada di dalam kamar. Zidan langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Ia sangat lelah hari ini.
"Zidan, kamu kenapa? Sakit?" tanya Zara khawatir. Zidan menatap Zara yang sedang duduk di tepi ranjang. Ia menarik tangan Zara sehingga Zara jatuh dalam pelukannya. Zidan menciumi puncak kepala Zara dengan gemas.
"Ada apa?" tanya Zara semakin bingung. Ia mendongak sedikit untuk menatap Zidan. Zidan hanya tersenyum dan terus menciumi puncak kepala Zara.
"Mau mandi sekarang atau nanti?" tanya Zidan. Ia mengelus rambut Zara.
"Tapi gendong ya sampai kamar mandi," ucap Zara manja. Ia memainkan jemarinya di dada Zidan. Zidan tertawa kecil. Istrinya ini sudah mulai bisa menggodanya.
Zidan bangkit untuk duduk diikuti oleh Zara. Ia mencubit kedua pipi Zara dengan gemas. Meskipun Zara mengaduh kesakitan, tetapi Zidan belum ingin melepaskannya. Kemudian Zidan mengecup bibir Zara berulang kali.
"Yuk mandi," ucap Zidan. Ia menggendong Zara sampai kamar mandi. Waktu mulai malam, mereka harus cepat untuk menyelesaikan mandi mereka. Karena tidak baik juga bagi kesehatan Zara.
Setelah selesai mandi, Zidan membantu merapikan rambut Zara. Ia duduk di kursi depan cermin sedangkan Zara berada di pangkuannya. Dengan lembut Zidan menyisir rambut Zara. Setelah selesai, Zidan memeluk Zara dan mencium pipinya sekilas. Zara tersenyum lebar karena Zidan begitu perhatian padanya. Zidan dan Zara saling pandang lewat pantulan cermin.
__ADS_1
Zidan mengusap perut Zara. Ia sudah tidak sabar menanti kehadiran buah hatinya. Dagunya ia sandarkan pada bahu Zara. Tangan Zara menyentuh tangan Zidan. Ia tersenyum tipis.
"Aku sudah tidak sabar menantikan kehadirannya," ucap Zidan. Mereka saling tersenyum.
"Aku juga. Tapi Zidan, bagaimana dengan kuliahku nanti?" ucap Zara sedih. Kuliahnya baru berjalan empat semester. Dan saat ini ia sudah berkeluarga. Tentunya tanggung jawabnya akan berbeda dari dirinya sebelum menikah.
"Kalau kamu mau lanjut aku tidak masalah sayang. Tapi aku juga tidak ingin kamu terbebani dengan tugas-tugas kuliah kamu. Karena sekarang kamu sudah menjadi seorang istri," ujar Zidan. Zara menyandarkan tubuhnya ke dada Zidan. Ia menghela napasnya panjang.
"Pikir nanti saja deh, aku masih ingin menikmati momen bahagiaku menjadi istri kamu, hehe," ujar Zara. Ia tertawa lepas. Membuat Zidan semakin gemas dengan tingkah Zara.
Setelah itu, Zidan dan Zara keluar kamar untuk menuju meja makan. Di sana sudah berkumpul hanya tinggal mereka berdua. Zidan mempersilakan Zara untuk duduk, lalu dirinya duduk di samping Zara.
"Ini sayang, habis makan minumlah susumu," ujar Alina sambil menyerahkan satu gelas berisi susu kepada Zara.
"Tidak masalah untuk calon cucuku. Iyakan mas?" ucap Alina. Ia melirik ke arah suaminya. Arvin hanya mengangguk.
"Kak Zara harus makan yang banyak ya. Biar keponakanku nanti gemuk, haha," ujar Alisya. Semua orang tertawa. Suasana menjadi ramai semenjak kehadiran Zara di tengah-tengah mereka.
Brakk!!
Tiba-tiba Barra berdiri sambil menggebrak meja. Membuat semua orang yang berada di sana terkejut dan menatap ke arah Barra.
"Maaf, aku sudah kenyang. Aku ke kamar duluan," ucap Barra. Ia berlalu meninggalkan mereka begitu saja.
Alina dan yang lainnya saling bertukar pandang. Mereka tidak mengerti dengan sikap Barra barusan.
__ADS_1
"Mas, aku ke kamar Barra untuk melihatnya dulu ya," ucap Alina. Ia berdiri dan ingin beranjak dari sana. Namun Arvin menahan tangan Alina dan memintanya untuk makan terlebih dahulu. Setelah itu, suasana menjadi tegang dan hening. Apalagi Zara, ia merasa Barra bersikap seperti tadi karena kehadirannya di rumah ini.
Barra langsung masuk dan mengunci pintu kamarnya. Ia merasa iri terhadap Zidan dan Zara. Semenjak mereka menikah, perhatian orang tuanya seolah teralihkan pada mereka. Padahal sebentar lagi ia akan menikah. Harusnya orang tuanya sibuk menyiapkan acara pernikahannya.
Barra menghempaskan dirinya di atas kasur. Ia meletakkan lengannya di atas keningnya. Dirinya sudah tidak ada selera untuk makan malam. Barra menghela napasnya berulang kali. Ia tidak ingin bersikap seperti ini. Namun dirinya juga tidak bisa menyembunyikannya secara terus menerus.
"Mommy sama papa sudah berubah. Mereka tidak peduli padaku lagi. Bahkan pernikahanku saja mereka sepertinya tidak memikirkannya," batin Barra kesal.
Selesai makan malam, Zara berinisiatif untuk membantu Alina mencuci piring. Meskipun Alina sudah melarangnya, namun Zara tetap kekeh ingin membantu. Akhirnya Alina hanya bisa pasrah.
Selesai mencuci piring, Alina mencoba menghampiri Barra yang ada di kamarnya. Alina juga membawakan makan malam untuk Barra. Ia tidak tahu, kenapa Barra bersikap seperti tadi. Alina mencoba mengetuk pintunya. Ketukan yang pertama tak ada jawaban dari kamar Barra. Ketukan yang kedua barulah Barra membukakan pintunya dengan malas. Ia mempersilakan Alina untuk masuk ke dalam kamarnya. Alina meletakkan nampan yang berisi makanan ke meja. Ia duduk di sofa begitu juga dengan Barra.
"Barra marah sama mommy? Apa mommy sudah melakukan kesalahan sayang?" tanya Alina sedih. Barra terdiam cukup lama. Ia menundukkan wajahnya.
"Barra? Maaf, mommy sudah membuat suasana hati Barra tidak baik hari ini," ucap Alina. Ia menyentuh bahu Barra dengan lembut. Barra menatap Alina sekilas.
"Mommy tidak salah. Harusnya Barra yang harus bersikap lebih dewasa lagi. Barra merasa iri sama bang Zidan Mom. Semenjak Zara menikah dengan bang Zidan, mommy sama papa tidak lagi memperhatikan Barra," ujar Barra.
"Itu tidak benar sayang. Mommy tidak pernah membedakan kasih sayang dan perhatian mommy pada kalian. Mommy lebih perhatian kepada Zara karena dia lagi hamil sayang. Dan perlu kamu tahu satu hal, suasana hati ibu hamil itu sering berubah-ubah. Apalagi ini adalah pengalaman pertamanya. Zara tidak punya orang tua yang akan menjaganya ketika ia sedang hamil. Mommy hanya mencoba memberikan kasih sayang selayaknya ibu kandungnya. Kalau itu membuat hati Barra terluka, mommy minta maaf sayang," ucap Alina. Ia meneteskan air matanya merasa sedih karena sikapnya justru menyakiti salah satu dari putranya. Barra menatap Alina gelisah. Ia bahkan menjadi penyebab mommy nya sedih sampai meneteskan air matanya.
Barra memeluk Alina dengan erat. Ia tidak bermaksud demikian. Ia hanya ingin orang tuanya juga memperhatikannya sama seperti Zara yang akhir-akhir ini menjadi pusat perhatian seisi rumah.
"Maafkan Barra Mom, Barra sudah salah menilai mommy," ucap Barra lirih.
Namun Alina masih merasa bersalah. Ia sudah bersikap tidak adil pada putranya. Alina terlalu senang dengan kehadiran Zara yang sebentar lagi akan melahirkan cucunya.
__ADS_1