Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 127


__ADS_3

Waktu terus berjalan dengan cepatnya. Hari-hari yang mereka lalui terasa begitu cepat. Kini usia kandungan Alina memasuki bulan ke sembilan. Hari-hari menanti kelahiran bayinya sudah dekat.


Kali ini mereka benar-benar berharap semoga anaknya yang keempat adalah perempuan. Beberapa kali hasil dari USG nya juga menyatakan jika bayi yang Alina kandung berjenis kelamin perempuan.


Jika memang itu benar, mereka akan sangat bahagia. Sudah lama mereka menantikan bayi perempuan hadir di tengah keluarganya.


Alina semakin aktif berlatih yoga. Bahkan kali ini benar-benar menyukai yoga untuk ibu hamil. Raffa yang kini usianya sudah 12 bulan sudah mulai berjalan. Putranya yang ketiga itu semakin aktif setiap harinya.


Mengingat hari kelahiran istrinya semakin dekat, Arvin mulai mengurangi jam kerjanya. Ini yang ia lakukan setiap kali menjelang kelahiran anaknya. Arvin ingin siap siaga di samping Alina.


"Mas, lihatlah. Putri kita sedang menendang-nendang," ucap Alina saat berdiri di depan cermin. Arvin memeluknya dari belakang. Arvin menempelkan tangannya pada perut Alina. Ia tersenyum lebar saat merasakan bayi tersebut sedang menendang.


"Mas,"


"Hmm,"


"Habis lahiran anak kita yang ini sudah dulu ya. Aku benar-benar belum sanggup lagi jika nanti hamil lagi," ujar Alina. Arvin mendongak dan membelai perut Alina dengan lembut.


"Kalau kebobolan lagi gimana sayang?" goda Arvin.


"Ya jangan sampai mas. Kamu sih enak. Aku benar-benar masih capek mas. Lihatkan, aku jadi nggak bisa fokus mengurus anak-anak kita," ujar Alina kesal.


"Iya-iya.. Maaf sayang," ucap Arvin.


"Sudah yuk istirahat. Ini sudah malam," ajak Arvin dan membawa Alina menuju kasur.


Arvin memeluk Alina sambil tangannya mengusap pelan perut Alina. Ia sudah tidak sabar menanti kehadiran buah hatinya itu.


"Mas," panggil Alina lirih.


"Ada apa sayang?" bisik Arvin.


"Cium," ujar Alina.


Arvin mengernyitkan dahinya. Apa dia tidak salah dengar tadi? Arvin masih mematung sambil menatap raut wajah Alina yang masih memejamkan matanya.

__ADS_1


"Mas, ayo," ucap Alina kembali.


Arvin langsung mendekatkan wajahnya. Ia mengecup lembut bibir Alina. Beralih lagi mengecup kedua pipi Alina dan berakhir di keningnya agak lama.


"Sudah ya... Sekarang tidur," ucap Arvin.


"Nggak mau. Masih kurang," jawab Alina dan memanyunkan bibirnya.


"Hah?" Arvin merasa tak percaya.


"Mau cium lagi," ucap Alina. Arvin menghela napasnya sejenak. Ia menuruti kemauan istrinya itu. Kini menempelkan bibir keduanya dengan lama.


"Sudah kan?"


Alina mengangguk dan tersenyum lebar. Ia memeluk Arvin lalu memejamkan matanya.


"Dasar!" gumam Arvin merasa gemas. Ia memejamkan matanya sambil memeluk istrinya.


***


Alina membuka matanya. Ini sudah pukul 07.10, dirinya baru bangun tidur. Dengan malas ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai, Alina menuruni tangga perlahan. Ia mencari keberadaan suaminya.


"Zidan, di mana papa?" tanya Alina yang masih berada di tengah anak tangga.


"Sama adik Barra dan adik Raffa Mom, di halaman belakang," jawab Zidan yang menaiki tangga. Setelah sampai di samping Alina, ia mengusap perut Alina sebentar.


"Mau ke mana?" tanya Alina.


"Ke kamar Mom, mau belajar dulu," jawab Zidan. Kemudian berlalu meninggalkan Alina. Alina menuruni tangga berjalan menuju meja makan. Ia duduk dan mulai mengambil nasi beserta lauk pauk. Baru satu suap makanan ia masukkan, Alina merasa mual. Ia berjalan menuju wastafel yang ada di dapur.


Setelah merasa lega, ia membawa piring yang berisi makanan tersebut ke halaman belakang. Bahkan Alina harus disuapi suaminya jika ingin memakan nasi dan lauk pauknya.


"Mas," panggil Alina yang tengah berdiri di ambang pintu. Ia sambil membawa piring yang berisi makanannya. Arvin menoleh. Ia tersenyum lebar saat Alina berdiri di ambang pintu sambil memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Bi, tolong jaga anak-anak sebentar," ucap Arvin. Bi Yana mengangguk dan mengambil alih Raffa yang tengah belajar berjalan bersama Arvin tadi. Arvin berdiri dan menghampiri Alina.


"Kenapa? Muntah lagi?" tanya Arvin lembut. Alina hanya mengangguk.


"Ya sudah sini, aku suapi sayang," ucap Arvin sambil mengambil piring yang dibawa Alina. Bukannya masuk, Alina memeluk Arvin.


"Manja banget sih," ujar Arvin dan mencium kening Alina sekilas.


Arvin menyuapi Alina seperti biasanya. Bahkan terkadang ia harus bolak-balik ke kantor dan pulang ke rumah hanya karena menyuapi Alina saat makan siang. Yah mau bagaimana lagi, bawaan bayinya memang seperti itu. Alina bahkan semakin bermanja hingga Arvin terkadang suka lepas kendali.


Setelah selesai, Alina ingin jalan-jalan ke mall sambil berbelanja. Di usia kandungannya yang sudah hampir lahiran ini sebenarnya Arvin tak tega. Apalagi jika lama-lama berjalan seperti di mall, itu akan sangat melelahkan untuk Alina. Tapi Arvin harus mengalah karena Alina terus merengek dan bahkan sampai menangis.


"Bukannya mas melarang, tapi lihatlah kondisimu ini sayang. Mas tidak masalah kalau memang kamu sanggup. Tapi mas nggak tega," ucap Arvin memberikan pengertian kepada istrinya itu.


"Hanya sebentar mas. Habis itu janji langsung pulang kok," ujar Alina sedih. Arvin menghela napasnya sejenak.


"Oke, kita ajak anak-anak atau tidak?" tanya Arvin lagi. Alina mengangguk dengan semangat.


Arvin mengajak Alina dan ketiga putranya ke mall. Tak lupa ia juga mengajak bi Yana untuk membantu menjaga ketiga putranya.


Sampai di mall, Alina langsung mengajak Arvin menuju tempat baju bayi. Alina memilih beberapa baju dan perlengkapan lainnya. Bahkan ini di luar dugaannya. Alina begitu semangat dan tak nampak kelelahan sama sekali.


Mereka menghabiskan waktu di mall tersebut. Membebaskan kedua putranya, Zidan dan Barra untuk bermain dengan diawasi oleh Farhan. Setelah sampai di mall tadi, Arvin menelepon Farhan untuk membantunya mengurus kedua putranya. Bi Yana menjaga Raffa. Sedangkan Arvin mengikuti Alina pergi ke manapun Alina mau. Asalkan Alina senang, apapun ia akan turuti selagi itu adalah hal yang positif.


"Mas, aku mau ke toilet sebentar," ucap Alina. Arvin mengangguk. Ia ingin mengantar Alina namun Alina menolaknya.


"Mas antar ya," ujar Arvin.


"Nggak usah mas. Mas tunggu di sini saja," ucap Alina. Ia menuju kamar mandi. Setelah selesai, ia berdiri di depan cermin besar sambil mencuci tangannya di wastafel.


"Halo Alina sayang," ucap seorang wanita di belakang Alina. Alina terdiam kaku. Seketika ia menoleh ke belakang.


"Ranti?" ujar Alina tak percaya.


"Apa kabarmu? Waahh, beberapa tahun tidak bertemu kamu sudah hamil lagi?" tanya Ranti sambil perlahan mendekati Alina. Alina mundur dengan takut.

__ADS_1


"Ka-kamu mau apa?" ucap Alina gugup.


__ADS_2