
Zidan bersandar pada sofa. Ia tidak boleh terbawa emosi menghadapi Zara. Ia harus tetap tenang.
"Zara, kemarilah!" ujar Zidan. Namun Zara hanya duduk terdiam sambil menundukkan wajahnya.
"Sayang," panggil Zidan kembali. Kini Zidan beralih menatap Zara.
"Nggak mau!" jawab Zara cepat. Zidan menghela napasnya. Ia yang mengalah dan mendekat ke Zara. Ia memeluk Zara dari samping.
"Apaan sih, nggak usah peluk-peluk segala!" ujar Zara. Ia berusaha melepas pelukan Zidan. Namun Zidan memegangi tangan Zara dan semakin mengeratkan pelukannya.
Zara tak kunjung diam untuk mendengarkan penjelasan Zidan. Zidan mengecup sekilas leher Zara agar lebih tenang. Dan ia berhasil. Zara seketika terdiam. Mereka saling bertukar pandang. Wajah mereka begitu dekat hingga hembusan napas Zidan mereka wajah Zara.
"Diam sebentar, oke?" ucap Zidan. Zara mengangguk.
"Baiklah, aku beri satu kesempatan untuk menjelaskan sedetailnya. Tidak boleh kurang, tidak boleh lebih," ujar Zara pasrah. Zidan tersenyum lebar. Ia mencium pipi Zara sebelum melepas pelukannya. Jantung Zara seketika berdetak kencang.
Kini Zidan duduk dengan menghadap Zara. Begitu juga Zara. Zidan menggenggam tangan Zara.
"Sayang, apa kamu tahu seberapa besar pengaruh Karina untuk kita?" tanya Zidan. Zara menggeleng pelan.
"Jika aku tidak berhati-hati menangani masalah ini, mungkin dia sudah menyakitimu saat ini," ujar Zidan pelan.
"Kenapa dia bisa melakukan itu?" tanya Zara bingung.
Zidan menghela napasnya pelan sebelum menjawab pertanyaan Zara.
"Karena dia perempuan gila. Dia memanfaatkan kerjasama ayahnya denganku untuk mendekatiku. Jika aku tidak berhati-hati, mungkin hari ini perusahaanku yang hancur," ucap Zidan.
Zara berpikir sejenak. Ia mulai mengerti posisi Zidan saat itu.
"Tapi, kenapa kamu tidak cerita ke aku dulu sebelum kamu melepasku waktu itu?" tanya Zara kembali. Zidan menatap Zara dengan lekat.
"Aku sudah terikat janji dengan Karina tidak akan menceritakan hal ini kepadamu. Dan juga akan mengabulkan tiga syaratnya," jawab Zidan. Zidan tersenyum tipis. Dirinya mengusap puncak kepala Zara dengan lembut.
"Dia juga mengancam akan membunuhmu jika aku tidak menurutinya waktu itu. Untungnya aku juga punya kesempatan menghancurkan bisnis ayahnya. Aku menggunakan Karina untuk melancarkan rencanaku," ujar Zidan lagi.
"Jadi, sekarang Karina bangkrut?" tanya Zara pelan. Zidan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Zara memeluk Zidan secara tiba-tiba. Ia bisa merasakan kesedihan dan kebingungan Zidan kala itu. Rasa tak berdaya demi melindungi orang yang dicintai.
"Apa ini artinya kamu sudah memaafkanku?" tanya Zidan pelan. Ia melirik ke arah Zara yang sedang memeluknya.
"Diamlah," jawab Zara. Zidan tersenyum tipis dan mencium puncak kepala Zara. Ia membalas pelukan Zara.
"Aku tahu kamu tidak akan membuatku dalam masalah Zidan. Maaf, sudah tak percaya kepadamu beberapa hari ini," batin Zara merasa bersalah.
Zara mendongak menatap Zidan. Ia tersenyum tipis.
"Sayang," panggil Zara.
"Ya?" jawab Zidan lembut.
"Cium," ucap Zara.
Zidan mengernyitkan dahinya. Lalu mengecup bibir Zara sekilas.
"Satu lagi," ucap Zara manja. Zidan tertawa kecil. Ia mengeratkan pelukannya dan mencium bibir Zara. Zidan ******* pelan bibir Zara dengan lembut. Kemudian ia melepasnya kembali.
"Lagi?" tanya Zidan.
"Jadi, aku dimaafkan gak nih?" tanya Zidan.
"Iya. Tapi lain kali kalau ada masalah apapun jangan dipendam sendiri. Kamu punya aku, kamu bisa berbagi denganku Zidan. Begitu juga aku akan berbagi masalahku denganmu," ujar Zara.
"Siap sayangku..." jawab Zidan antusias. Mereka tertawa kecil.
Zara melepas pelukannya. Kini masalahnya dengan Zidan terselesaikan. Bagaimanapun juga Zara masih mencintai Zidan. Karena Zidan melakukan itu semua dan sempat menyakitinya, itu juga demi dirinya. Zidan ingin melindungi Zara meskipun caranya yang kurang tepat.
Setelah berbaikan, mereka memutuskan untuk balikan lagi. Menjalin cinta dan kasih antara mereka. Karena Zara juga tidak ingin berpisah dengan Zidan begitu juga sebaliknya.
Zidan beralih ke kamarnya untuk berganti baju. Sedangkan Zara menuju dapur untuk memasak sesuatu agar mereka bisa makan. Hari semakin sore, mereka juga sudah lapar. Tenaganya terkuras hanya karena masalah yang tak kunjung selesai. Dan hari ini, hubungannya kembali membaik.
Tiga puluh menit kemudian, Zara selesai memasak. Ia hanya memasak seadanya saja. Masakan yang ia bisa. Sedangkan Zidan selesai mandi. Ia menuruni tangga menuju dapur.
"Melihat Zara memasak di dapur begini, rasanya seperti mempunyai seorang istri," gumam Zidan sambil memperhatikan Zara yang menyiapkan makanan di meja makan.
__ADS_1
"Eh, sudah selesai? Pasti laparkan?" ucap Zara saat menyadari Zidan sedang memperhatikannya. Zidan tersenyum tipis dan melangkah menuju meja makan.
"Waah, terima kasih istri idamanku," ucap Zidan. Ia mencium pipi Zara sekilas.
"Kamu sebut aku apa tadi?" tanya Zara.
"Istri idamanku. Kenapa?" jawab Zidan santai. Zara tertawa kecil.
"Apaan sih. Sudah bisa menggombal ya kamu?" ujar Zara. Mereka makan bersama.
***
Di tempat lain, Alina berjalan mondar-mandir di kamarnya. Ia gelisah menunggu Arvin pulang. Ini sudah waktunya jam pulang namun Arvin tak kunjung pulang juga.
Klek
Pintu kamar terbuka. Alina segera menoleh dan menghampiri Arvin yang baru pulang. Ia sedikit berlari dan tak lupa mencium punggung tangan Arvin.
"Kenapa lama sekali mas? Oh iya, sudah dapat kabar tentang Zidan?" tanya Alina.
Arvin menuju sofa dan duduk bersandar di sana. Setelah meletakkan tas kerja Arvin, Alina duduk di samping Arvin.
"Kamu jangan panik begitu dong sayang," ucap Arvin.
"Bagaimana aku tidak panik mas. Hubungan Zidan sama Zara memburuk, kita harus melakukan sesuatu untuk ini," ucap Alina.
"Sudahlah, anak kita sudah dewasa. Jangan terlalu ikut campur urusan mereka sayang," tutur Arvin. Namun Alina tetap saja khawatir semenjak Zidan cerita padanya.
"Kamu sudah mendapat kabar tentang mereka belum mas?" tanya Alina sekali lagi.
"Sudah. Kata Fanny, asisten Zidan mereka sempat berantem tadi. Tapi Fanny yakin mereka bisa menyelesaikan masalah mereka. Kita tunggu kabar baiknya saja ya. Kenapa sih kamu tidak sabaran banget," ujar Arvin.
"Aku sudah terlanjur sayang sama Zara mas. Pokoknya setelah mereka resmi pacaran lagi, kita segera mengatur lamaran untuk mereka ya," ucap Alina. Arvin hanya menghela napasnya sejenak.
"Bagaimana dengan putramu yang satunya? Sepertinya juga menyukai Zara," ucap Arvin. Seketika Alina terdiam. Alina bingung juga dengan urusan itu.
"Kenapa aku bisa lupa dengan itu mas. Bagaimana ini?" ucap Alina panik.
__ADS_1
Arvin merengkuh Alina ke dalam dekapannya. Ia mengusap punggung Alina dengan lembut agar Alina tidak panik.
"Biarlah itu menjadi urusan mereka sayang," ucap Arvin. Alina mengangguk pelan. Dua-duanya adalah putranya. Alina juga tidak bisa memihak salah satunya. Namun disisi lain, Alina sangat mendukung hubungan Zara dengan Zidan. Apalagi mereka juga sudah menjalin hubungan.