
Sore harinya, Alina dan Arvin kembali ke rumah. Zara sedang di dapur untuk memasak makanan. Zidan juga ikut membantunya. Naura keluar kamarnya dan menuju ke dapur. Ia juga ingin membantu meskipun ia belum pernah memasak.
"Ada yang perlu dibantu?" tanya Naura sambil tersenyum tipis. Namun Zara hanya terdiam. Itu membuat Naura canggung. Zidan menyenggol lengan Zara. Namun Zara tetap diam dan melanjutkan kembali memasaknya.
"Loh, Naura kapan datang?" tanya Alina yang baru saja dari kamarnya. Naura langsung membalikkan tubuhnya menatap Alina. Ia tersenyum dan memeluk Alina sekilas.
"Tadi siang tante, tante apa kabar?" tanya Naura.
"Tante baik-baik saja," jawab Alina. Naura mengangguk paham.
Tak lama kemudian, makanan sudah siap tersaji di meja makan. Zara terlihat lebih pendiam dari biasanya. Suasana hatinya belum membaik. Dan beberapa hari ke depan Naura akan tinggal di sini bersamanya, tentu saja membuat Zara sedikit kesal. Zara juga tidak tahu kenapa ia bersikap seperti ini. Bersikap dingin dan acuh padahal ia sudah tahu bahwa Naura adalah saudara Zidan. Anak dari Briant dan Dewi yang merupakan kakak dari Alina.
Mereka makan malam bersama. Di ruang meja ada Alina, Arvin, Zidan, Zara, dan Naura. Sedangkan Raffa masih dalam perjalanan pulang dari kampusnya. Suasana sangat hening sekali. Tidak ada yang memulai bicara. Selesai makan, Zara langsung pamit untuk pergi ke kamarnya. Zidan juga ikut menyusul Zara ke kamar.
"Sayang, kamu kenapa? Masih cemburu dengan kak Naura?" tanya Zidan. Ia duduk di tepi ranjang bersama Zara. Namun Zara hanya menggeleng pelan.
"Kalau bukan karena itu, lalu kenapa kamu bersikap seperti ini?" tanya Zidan lagi. Ia menghadapkan Zara padanya sambil memegang kedua bahu Zara.
"Aku masih marah sama kamu! Jauh-jauh sana!" ucap Zara. Ia mendorong Zidan dengan pelan agar menjauh darinya. Zidan mengernyitkan dahinya. Ia bingung, di mana letak kesalahannya kali ini. Padahal Zara yang biasanya juga tidak akan bersikap seperti ini.
"Kamu kenapa? Aku minta maaf kalau aku berbuat salah sama kamu. Tapi jangan mendiamkanku seperti ini sayang," ucap Zidan sambil mendekati Zara. Zara menunduk dan ia menangis. Zidan terkejut dan segera merengkuhnya ke dalam dekapannya. Zidan menciumi puncak kepala Zara dengan lembut.
"Aku tidak mau kak Naura ada di sini," ucap Zara pelan namun Zidan masih mendengarnya.
"Kok gitu?" tanya Zidan tak percaya dengan apa yang dikatakan Zara padanya.
__ADS_1
"Aku tidak mau melihatnya Zidan! Atau jika kak Naura tidak mau pergi, aku mau pulang ke rumah mama saja," jawab Zara pelan. Entah kenapa ia tidak ingin melihat Naura. Setiap kali ia melihatnya, rasanya ia akan marah saat itu juga. Mungkin karena pengaruh hormon kehamilannya atau apa ia juga tidak mengerti. Zidan menghela napasnya sejenak. Ia tidak mungkin mengusir Naura dari rumahnya. Namun Zidan juga bingung, istrinya tidak ingin Naura ada di sini.
"Sayang, hanya beberapa hari saja kak Naura tinggal di sini," ucap Zidan. Ia berharap Zara mengerti itu.
"Ya sudah, aku akan pulang ke rumah mama saja," jawab Zara. Zidan lagi-lagi hanya menghela napasnya pelan. Ia tidak tahu lagi bagaimana caranya membujuk Zara.
"Aku tidak mungkin mengusir kak Naura sayang. Maaf," ucap Zidan. Ia mencium puncak kepala Zara.
Setelah berdebat kecil, akhirnya Zidan membawa Zara ke apartemennya untuk sementara. Bukannya ia tidak suka tinggal di rumah Anton, tetapi jarak dari rumah ke kantornya yang lumayan jauh menjadi pertimbangannya. Setelah keputusan itu, akhirnya Zara bisa tersenyum senang. Zidan hanya bisa menggelengkan kepalanya saja melihat sikap Zara yang di luar dugaannya. Mereka akan ke apartemen besok sembari Zidan berangkat ke kantornya.
Di ruang keluarga, Naura sedang berbincang dengan Arvin dan Alina. Hampir lima tahun Naura tidak pernah mengunjungi mereka. Biasanya, dulu sepulang sekolah selalu mampir ke rumah ini. Semua terasa berbeda sekarang.
"Bagaimana keadaan orang tua kamu?" tanya Arvin. Ia mengambil kopi yang telah disiapkan utuknya dan meminumnya.
"Mama sama papa sehat. Tapi, mereka selalu sibuk dengan pekerjaannya," ucap Naura.
"Entahlah paman, Naura juga tidak tahu. Oh iya, Zidan sudah menikah? Kok Naura tidak tahu berita besar ini," ujar Naura. Arvin dan Alina hanya tersenyum.
"Iya, maaf ya tidak memberitahu kalian. Pernikahan mereka juga mendadak dan tertutup saat itu," jawab Alina. Naura mengangguk paham. Mereka lanjut mengobrol hingga malam.
***
Paginya, Raffa sedang berolahraga di halaman belakang. Karena hari ini perkuliahannya libur. Ia ingin menghabiskan waktunya di rumah. Alina sedang menyiapkan sarapan seperti biasanya. Sedangkan Zidan dan Zara bersiap untuk ke apartemen mereka.
Zidan membawa tas kecil berisi pakaian mereka. Ia meletakkannya di ruang keluarga dulu. Lalu ia menghampiri Zara kembali yang masih di dalam kamar.
__ADS_1
Naura selesai mandi, ia bergegas menuju ke dapur untuk membantu Alina.
"Pagi tante," sapa Naura. Alina hanya tersenyum lebar.
"Tante, Zara kok tidak ikut membantu tante memasak?" tanya Naura karena ia tidak melihat Zara di dapur.
"Iya, dia sedang hamil saat ini. Kamu sudah bertemu dengannya?" ujar Alina. Naura mengangguk tipis.
"Pantas saja sikapnya sedikit aneh. Ternyata sedang hamil," batin Naura.
"Mom, habis sarapan aku dan Zara mau ke apartemen. Mungkin akan menginap di sana dua atau tiga hari," ucap Zidan yang baru saja datang. Alina langsung menoleh ke arah Zidan.
"Kenapa?" tanya Alina terkejut.
"Yah, kami hanya ingin menikmati momen berdua saja," jawab Zidan santai. Ia menarik kursi dan duduk di sana.
Selepas olahraga, Raffa bergegas ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sudah lama ia tidak berolahraga pagi seperti saat ini.
Pagi ini Zara kembali mual dan muntah. Ia sedajg berada di kamar mandi dan terlihat pucat. Zara menghembuskan napasnya pelan sambil mengusap perutnya yang masih rata.
"Sayang, jangan buat mama mual lagi dong," gumam Zara. Setelah merasa baikan, ia keluar dari kamar mandi dan duduk di sofa sebentar. Ia tidak ingin membuat seisi rumah khawatir padanya.
Semua sudah berkumpul di ruang makan kecuali Zara. Zara memilih untuk berdiam di kamarnya karena ia tak ada nafsu makan lagi.
"Ke mana istrimu Zidan?" tanya Arvin sambil menyendok makanannya.
__ADS_1
"Masih di kamar Pa, mungkin sebentar lagi akan ke sini," jawab Zidan. Ia kembali menikmati sarapannya.
"Apa Zara tidak ingin bertemu denganku? Apakah dia masih marah padaku?" batin Naura yang merasa tidak nyaman dengan sikap Zara padanya. Padahal Zara sama sekali tidak menghindarinya saat ini. Ia hanya merasa mual dan tidak ingin membuat mereka khawatir.