
Semua pertemuannya dengan klien ia alihkan ke restorannya. Semua itu karena Alina tidak mungkin membawa Barra untuk ikut meeting bersamanya.
Yang membutnya kesal lagi adalah Danis yang tak hentinya untuk datang meminta maaf. Meskipun sudah dihadang oleh satpam tetap saja bisa sampai di depan ruangan Alina. Padahal Alina sudah memaafkannya dan tak ingin lagi menemui Danis. Ini demi kebaikannya sendiri. Mungkin jika suaminya sampai tahu Danis mengganggunya seperti ini, ia tak yakin jika ini akan berakhir baik.
Pukul 13.30 ia baru menyelesaikan pekerjaannya. Tinggal laporan bulan kemarin yang belum ia periksa. Alina memilih terus berada di ruangannya. Ia tak ingin bertemu dengan Danis jika dirinya keluar ruangan.
Tok tok tok
Pintu ruangannya diketuk. Alina menghela napasnya dengan kasar. Ia baru akan menidurkan Barra. Ia tak ambil pusing. Ia memilih mengabaikannya karena ia pikir itu adalah Danis.
Tok tok tok
Untuk kedua kalinya pintunya diketuk. Alina melihat ke arah pintu. Ia belum memiliki keinginan untuk membukanya. Ia tetap acuh dan terus mengusap kening putranya yang terlelap.
Tok tok tok
Kini semakin keras. Alina menghela napasnya panjang dan menidurkan Barra di sofa. Ia bergegas ke arah pintu untuk membukanya.
"Danis, kalau kamu terus menggangguku aku akan..." ucapannya menggantung. Saat ini yang berdiri di depannya bukannya Danis tetapi suaminya. Astaga, Alina salah mengira dan tadi ia sempat menyebutkan nama Danis.
"Kamu bilang siapa tadi sayang?" tanya Arvin menatap tajam ke arah Alina.
"Sa-sayang. Sejak kapan kamu di sini," ujar Alina ragu-ragu.
Arvin diam dan langsung masuk ke dalam. Alina menutup pintu ruangannya dan menghampiri Arvin. Alina memeluk Arvin dari belakang.
"Maaf, tadi aku kira Danis yang mengetuk pintunya. Jadi aku ragu untuk membukanya sayang," ucap Alina menjelaskan. Ia tidak ingin Arvin salah paham padanya.
"Memangnya apa yang sudah dia lakukan sampai kamu takut? Apa dia ke sini mengganggumu lagi?" tanya Arvin dingin.
Arvin melepas pelukan Alina. Ia berbalik dan kini menatap Alina dengan lekat. Ia menunggu jawaban dari Alina. Aura yang dingin, membuat Alina kesulitan menelan salivanya.
__ADS_1
"Ti-tidak. Dia hanya datang untuk minta maaf. Tapi dia tidak mau pergi padahal aku sudah mengusirnya tadi," jawab Alina sambil menunduk. Memainkan jemarinya.
"Kamu tidak berusaha untuk menyembunyikan dirinya dariku kan Alina?" tanya Arvin penuh selidik.
Alina menelan salivanya. Meremas ujung bajunya. Bagaimana mungkin ia menyembunyikan Danis dari suaminya. Untuk apa? Alina hanya tidak ingin Arvin tersulut emosinya. Ia tidak ingin Arvin dalam masalah.
"Untuk apa aku melakukan itu?" jawab Alina dan kini ia mendekat ke arah Arvin.
"Mungkin saja kau masih mencintainya," jawab Arvin dengan asal. Bahkan ia sendiri tak sadar jika mengucapkan kata-kata itu.
Alina mengernyitkan dahinya. Siapa yang masih mencintai Danis? Bahkan Alina tak pernah jatuh cinta kepada Danis. Dulu ia pernah berusaha namun hati tak bisa dipaksa.
"Kamu sendiri yang tahu aku orang yang seperti apa. Aku rasa tak perlu menjelaskan itu lagi mas," jawab Alina kesal. Siapa yang tak kesal jika suaminya bertanya seperti itu. Berarti Arvin tak percaya padanya kan?
Alina menjauhi Arvin. Ia duduk di sofa dan menatap Barra. Mengusap lembut kening putranya itu.
Arvin baru sadar jika apa yang ia ucapkan tadi salah. Ia hanya terbawa suasana saja. Ia terbawa rasa cemburunya hingga kini membuat Alina kesal padanya.
"Hei, aku bertanya padamu?" tanya Arvin lagi dan kini menepuk bahu Alina dengan pelan.
Alina hanya menatap Arvin sekilas. Ia kembali fokus pada putranya itu. Tak ada reaksi dari Alina, Arvin memeluk Alina dari belakang. Arvin mengecup tengkuk dan leher Alina dengan lembut. Sedangkan Alina berusaha melepas pelukan Arvin. Namun sialnya, tangannya dipegang erat oleh Arvin.
"Maaf," ucap Arvin lalu kembali mengecup leher Alina.
"Bukannya aku tak percaya padamu sayang. Aku hanya takut jika kamu pergi meninggalkanku lagi," gumam Arvin yang masih terdengar oleh Alina.
Apa yang membuat Arvin berpikir seperti itu? Bahkan ia sedang mengandung buah hatinya. Bagaimana bisa Alina berpikir untuk meninggalkan Arvin. Jangankan berpikir, terlintas saja tidak pernah.
"Sayang?" panggil Arvin dengan lembut.
"Jangan diam saja dong. Kalau marah lebih baik di keluarkan sayang. Jangan ditahan," ujar Arvin. Karena ia bingung menghadapi Alina yang hanya diam saja seperti ini. Diamnya Alina membuat Arvin frustasi.
__ADS_1
"Siapa yang marah?" tanya Alina dengan ketus.
"Alina Clarissa Jovanka. Istri dari Arvin Alvaro Mahardika," jawab Arvin sambil menyandarkan dagunya di bahu Alina.
Alina seketika menoleh dan Arvin langsung mencium bibir Alina. Ia menahan kepala Alina untuk memperdalam ciumannya.
Umh
Eluh Alina saat Arvin menggigit kecil bibirnya. Arvin semakin menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Alina. Ia melepas ciumannya sebentar. Ia membalikkan tubuh Alina agar lebih mudah untuknya. Arvin kembali mencium bibir Alina dan kini semakin dalam.
Napas keduanya terengah-engah. Arvin menyatukan kening mereka. Ia tersenyum tipis dan mengecup bibir Alina sekilas.
"Main sebentar yuk," ajak Arvin. Alina mengerutkan dahinya. Ia mendorong dada Arvin namun tangannya ditahan oleh Arvin.
"Di sini ada Barra mas, aku nggak mau," ucap Alina dan sedikit memalingkan wajahnya.
Arvin tersenyum tipis. Ia seolah punya rencana sendiri.
"Kita ke kamar mandi saja," ucap Arvin. Tanpa aba-aba, ia menggendong Alina menuju kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya.
Satu jam mereka berada di kamar mandi. Sampai terdengar suara tangis Barra yang bangun dan tak mendapati Alina di sampingnya.
"Mas sudah dulu ya. Kasihan Barra menangis," ucap Alina. Namun Arvin tak peduli.
"Sebentar lagi sayang," bisik Arvin dengan napasnya terengah. Alina tak mau, ia segera mengambil bajunya dan memakainya kembali. Karena suara tangis Barra yang begitu memekikkan telinganya.
Alina keluar tanpa mempedulikan ekspresi Arvin. Alina hanya mengecup bibir Arvin sekilas sebelum ia keluar kamar mandi. Arvin mengguyur tubuhnya dengan air yang menetes dari atas tubuhnya. Cukup lama ia berada di kamar mandi.
"Mommy dali mana?" tanya Barra yang masih sesenggukan. Kini berada di pangkuan Alina.
"Maaf ya, mommy dari kamar mandi. Tadi perut mommy mules," ucap Alina berbohong. Tak mungkin ia bercerita tentang aktivitasnya bersama suaminya tadi kan.
__ADS_1
Arvin keluar kamar mandi dengan kondisi sudah segar. Ia tersenyum ke arah istri dan anaknya. Arvin duduk di samping Alina sambil mengacak rambut Barra dengan gemas.