Benci Tapi Cinta

Benci Tapi Cinta
Eps. 58 (season 2)


__ADS_3

"Makanlah sesuatu sebelum kita pulang ke rumah," ucap Zidan dan melepas pelukannya. Tadi, Fanny sudah membawakan makanan untuk Zidan dan Zara.


"Ke rumah?" tanya Zara bingung.


"Iya, ke rumah orang tuaku, aku akan meminta izin untuk menikahimu secepatnya," ucap Zidan. Ia tersenyum tipis.


"Aku takut dengan orang tua kamu Zidan. Bagaimana jika mereka marah?" ucap Zara.


"Marah adalah hal yang wajar sayang. Apalagi kita sudah melakukan kesalahan besar. Kamu percayakan sama aku? Aku yang akan urus semuanya," ucap Zidan. Ia tersenyum tipis.


Zara dan Zidan mulai sarapan. Setelah selesai, mereka memutuskan untuk kembali hari ini juga. Semua administrasi diurus oleh Fanny. Sekarang, mereka menuju rumah orang tua Zidan. Ada rasa gugup dalam hati Zidan. Namun ia harus siap menjadi lelaki yang bertanggung jawab dan menerima apapun resikonya nanti.


Dalam perjalanan Zara hanya terdiam saja. Entah apa yang ia pikirkan saat ini. Zara terlihat lebih murung dari biasanya.


"Aku pulang ke kost saja ya. Aku merasa tidak enak badan," ucap Zara. Zidan menatap sekilas Zara dan kembali fokus dengan kemudinya.


"Kenapa sayang? Apanya yang sakit?" tanya Zidan khawatir.


"Aku belum siap bertemu orang tuamu sekarang Zidan. Aku takut," ucap Zara lirih. Zara terlihat begitu ketakutan.


"Ya sudah, aku antar kamu pulang ya. Nanti biar aku coba bicara sama mommy dulu. Semoga tidak ada masalah nanti," ucap Zidan. Ia tersenyum dan mengacak rambut Zara dengan lembut.


Akhirnya Zidan mengantar Zara hingga sampai di depan kost. Setelah memastikan Zara masuk ke dalam, Zidan baru pergi dari sana. Ia akan menemui orang tuanya hari ini juga. Jujur saja, Zidan juga merasakan takit seperti yang dialami Zara. Namun Zidan lebih bisa menyembunyikannya daripada Zara.


Zara masuk ke kamar kostnya dengan lemas. Ia merasa menyesal telah percaya begitu saja dengan Karina. Ia begitu ceroboh hingga Karina memanfaatkan ketulusan dan kepolosannya. Meskipun pada akhirnya Zara melakukannya dengan Zidan, ia juga tidak ingin ini terjadi sekarang. Apalagi mereka belum terikat oleh pernikahan. Zara hanya meringkuk di atas kasurnya dan tanpa terasa pipinya basah kembali oleh bulir air mata.


Sampai di rumah, Zidan terdiam dulu di dalam mobilnya. Ia mengatur napasnya agar lebih tenang sambil menyusun kata-kata yang akan ia ucapkan pada orang tuanya nanti. Zidan berjalan masuk ke dalam rumah dan segera mencari keberadaan Alina dan Arvin. Untungnya hari ini Arvin cuti tidak masuk kantor. Zidan ingin berbicara hal serius kepada mereka. Dan saat ini mereka berada di ruang kerja Arvin.

__ADS_1


Plaaaakkk


Sudah tiga tamparan yang dilayangkan Arvin kepada Zidan. Namun Zidan diam saja. Ia akan menerima konsekuensinya apapun itu. Zidan duduk bersimpuh di depan Zidan. Rasa sakit yang ia rasakan saat ini bukan apa-apa dibanding rasa malu yang Arvin dan Alina terima.


"Mas, jangan kasar sama Zidan. Kita tanya dulu apa yang sebenarnya terjadi," ucap Alina sambil mengusap bahu Arvin agar lebih tenang.


"Apa kamu pernah memikirkan bagaimana reputasi keluargamu saat kamu melakukannya? Bagaimana harga diri Zara jika orang-orang tahu tentang itu? Jika kamu ingin segera menikah, kenapa tidak bilang dari awal? Kenapa harus menggunakan cara seperti ini?" ucap Arvin marah. Zidan hanya menundukkan wajahnya. Untungnya ia tidak jadi membawa Zara menemui keluarganya.


"Mas, jangan marah-marah dulu," ucap Alina berharap Arvin lebih tenang.


"Bagaimana aku tidak marah sayang... Dia sudah menghancurkan masa depan anak gadis orang. Bagaimana aku bisa menghadapi keluarganya nanti jika aku bertemu dengan mereka?" ucap Arvin.


"Maaf Pa, Zidan tahu, Zidan salah. Maka dari itu, Zidan meminta izin pada papa untuk segera menikahi Zara," ucap Zidan sambil menatap Arvin. Arvin menghela napasnya pelan. Ia beranjak duduk di sofa sambil terus ditemani Alina. Alina khawatir Arvin akan lebih kasar dari ini jika ia tidak mendampinginya.


"Lalu bagaimana dengan pernikahan Barra?" tanya Arvin pelan.


"Zidan juga tidak meminta acaranya besar-besaran. Yang terpenting kami sah dulu sebagai suami istri Pa," saran Zidan. Arvin memijat pelipisnya. Ia begitu tercengang mendengar pengakuan Zidan pagi ini. Ia marah karena Zidan sudah melanggar batasannya.


Zidan beralih menatap Alina.


"Dia di kostnya Mom," jawab Zidan seadanya. Arvin dan Alina saling menatap. Alina menggeleng pelan kepada Arvin.


"Nanti kita bicarakan lagi dengan adik-adikmu," ujar Arvin. Zidan mengangguk paham. Ia pamit untuk pergi ke kamarnya.


"Tunggu! Berapa kali kamu melakukannya?" tanya Arvin saat Zidan akan membuka pintunya. Membuat pipi Zidan memerah.


"Sa-satu kali Pa," jawab Zidan jujur. Ekspresi Zidan membuat Arvin ingin tertawa saat itu juga.

__ADS_1


"Jangan ulangi lagi sebelum kamu menikahinya," ujar Arvin. Zidan mengangguk kemudian keluar dari ruangan itu.


Zidan merasa lega karena sudah memberitahukannya pada orang tuanya. Tapi Zidan tidak menceritakan kejadian sebenarnya kepada mereka. Ia hanya menceritakan perihal dirinya dan Zara sudah melakukan hubungan intim.


Di dalam ruangan, Arvin menatap Alina dengan sedih. Ia merasa gagal mendidik putranya. Namun Alina berusaha menenangkan Arvin. Ia juga kecewa namun tidak bisa menjadikan kekecewaan itu sebagai alasan untuk membenci dan menyakiti putranya.


"Sudahlah mas, tidak ada gunanya terus marah pada Zidan. Semuanya juga sudah terjadi. Nanti kita bicarakan baik-baik dengan Barra. Apakah dia mau menunda pernikahannya atau tidak," ucap Alina. Ia tersenyum dan mengecup bibir Arvin agar lebih tenang. Arvin tersenyum tipis dan merengkuh Alina masuk ke dalam pelukannya.


***


Saat ini anggota keluarga sudah berkumpul di ruang tengah. Suasananya hening. Alisya saling memperhatikan raut wajah mereka satu persatu. Ia sungguh bingung, ini tidak seperti biasanya.


Barra dan Raffa tahu jika Arvin menyuruh mereka berkumpul pasti akan ada sesuatu hal yang serius yang perlu dibicarakan. Maka dari itu, Barra dan Raffa tak berani bertanya sebelum Arvin menjelaskan kepada mereka.


"Barra, jika pernikahanmu ditunda dulu untuk sementara bagaimana?" tanya Arvin memulai pembicaraan.


Barra terdiam sejenak. Ia terkejut saat Arvin bertanya hal demikian.


"Kenapa Pa?" tanya Barra penasaran. Zidan sedari tadi hanya menunduk saja. Sedangkan Arvin dan Alina saling memandang.


"Kakakmu ingin menikah dengan Zara segera. Jadi, apa kamu keberatan?" ucap Arvin. Alisya dan Raffa hanya menjadi pendengar setia. Barra langsung menatap Zidan.


"Kenapa tiba-tiba sekali? Bukankah Zara juga masih kuliah?" tanya Barra tidak terima.


"Abangmu telah melakukan satu kesalahan besar. Zara sekarang hamil dan harus segera menikah," ucap Arvin. Membuat Barra dan yang lainnya terkejut termasuk Zidan. Padahal ia tidak bercerita demikian.


"Apa??" ucap mereka bersamaan. Zidan hanya menunduk.

__ADS_1


"Nanti biar papa yang bicara dengan keluarga Kayla. Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan harga diri Zara. Kamu maukan kalau ditunda dulu?" ucap Arvin. Padahal persiapan pernikahan mereka hampir seratus persen.


"Keputusan papa sudah bulat. Mau tidak mau kamu harus menerimanya," ucap Arvin. Ia berdiri dan berjalan menuju kamarnya disusul oleh Alina.


__ADS_2