
Pagi harinya, Anton, Diana, dan Syifa sarapan bersama di ruang makan. Diana masih sedih dengan keadaan Zara saat ini. Bahkan ia tak berselera makan hari ini. Diana hanya mengaduk-aduk makanan yang ada di piringnya.
Anton makan dengan lahap. Bukannya ia tak bersedih atas kehilangan calon cucunya. Tetapi, ia tetap harus makan agar dirinya tak jatuh sakit juga nantinya dan tambah menjadi beban. Ia juga masih harus mengurus perusahaannya juga.
Sedangkan Syifa makan dengan pelan. Ia sesekali melirik kedua orang tuanya yang duduk di depannya. Anton melirik jam yang ada dipergelangan tangannya. Ia menghentikan makannya sejenak.
"Syifa, bisakah setelah ini kita berbicara sebentar?" tanya Anton.
Deg
Syifa merasa takut. Ia takut jika Anton mengetahui sesuatu tentang tindakannya kemarin. Syifa terlihat gusar dan panik.
"Ada perlu apa ya Pa?" tanya Syifa.
"Bukan hal penting. Menyangkut tentang sekolahmu," ucap Anton. Syifa menghela napasnya lega. Ia sudah salah menduga. Ia pikir papanya akan mencurigainya, tetapi nyatanya tidak.
"Untunglah, aku pikir papa tahu sesuatu," batin Syifa lega.
"Bisa?" tanya Anton sekali lagi.
"Bisa dong Pa," jawab Syifa senang.
"Mau bicara apa sih mas?" tanya Diana.
__ADS_1
"Bukan hal penting. Syifa, papa tunggu di ruang kerja papa ya. Sayang, kamu setelah ini istirahat saja. Nanti setelah bekerja saja kita ke rumah sakit untuk menjenguk Zara," ucap Anton. Diana mengangguk pelan. Anton berdiri dan bergegas menuju ruang kerjanya. Masih ada waktu satu jam untuk mengobrol dengan putrinya. Syifa kembali menghabiskan sarapannya. Ia bisa makan dengan tenang karena apa yang ia takutkan tidak akan terjadi. Orang tuanya juga tidak mengungkit lagi masalah Zara.
Anton masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia membuka laptop dan memutar rekaman CCTV yang ada di rumahnya. Awalnya Anton tidak ingin memeriksanya, namun karena rasa penasarannya akhirnya ia mengeceknya. Tak disangka, ternyata Syifa adalah pelaku dibalik jatuhnya Zara dari tangga.
Klek
Syifa masuk ke dalam ruang kerja dengan ceria seperti biasanya. Ia bahkan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Anton masih berdiri membelakangi Syifa di dekat meja kerjanya.
"Pa, memangnya ada apa ya?" tanya Syifa penasaran. Syifa berpikir jika Anton akan memarahinya karena kemarin ia bolos sekolah.
"Lihatlah ini dulu," ucap Anton tanpa membalikkan badannya menghadap Syifa. Anton memutarkan rekaman CCTV itu untuk Syifa. Syifa melihat rekaman tersebut. Seketika tubuhnya membeku. Syifa tercengang dan tubuhnya bergetar hebat. Ia melirik papanya yang dengan pelan membalikkan tubuhnya menghadap padanya.
"Bisa kamu jelaskan apa maksudnya?" tanya Anton masih dengan nada seperti biasanya.
"Apa kamu tahu, akibat dari perbuatanmu itu kakakmu sampai dirawat di rumah sakit dan ia kehilangan bayinya? Papa bahkan tidak pernah mengajarimu untuk berbuat buruk pada orang lain," ucap Anton. Syifa menangis tersedu-sedu.
"Syifa menyesal Pa, Syifa minta maaf," ucap Syifa lagi.
Anton mengusap wajahnya dengan kasar. Bahkan ia tidak tahu harus menghukum Syifa seperti apa.
"Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Anton dan ia menatap Syifa dengan tajam.
"Aku iri sama kak Zara. Semenjak kedatangannya, papa sama mama selalu memperhatikan kak Zara. Bahkan Syifa tidak pernah diperhatikan sampai seperti itu! Awalnya Syifa hanya ingin membuat kak Zara jatuh saja agar acara pesta itu dibatalkan, tapi siapa sangka jika kak Zara sampai terguling ke bawah. Itu juga kesalahannya karena telah merebut kasih sayang papa dan mama!" teriak Syifa.
__ADS_1
Plaaakkk
Anton menampar Syifa dengan keras. Tak disangka, putri yang ia adopsi dan ia rawat dengan baik akan berbuat seperti ini. Baru kali ini Anton bersikap kasar terhadap Syifa. Selama ini ia telah memanjakan Syifa sehingga menjadi tidak tahu diri seperti sekarang ini. Senakal-nakalnya Syifa di sekolah, Anton hanya memarahinya tanpa bermain kasar seperti hari ini.
"Kamu iri dengan kakakmu sendiri? Tidak sepantasnya kamu iri padanya. Syifa, kamu punya mulut. Harusnya kamu bertanya dulu pada mama atau papa kenapa lebih memperhatikan kakakmu akhir-akhir ini," ucap Anton penuh penekanan. Syifa semakin membenci Zara. Ia berpikir papanya yang kasar padanya hari ini akibat Zara.
"Heh, Syifa tahu kok Syifa hanya anak adopsi kalian saja kan? Tapi Syifa juga anak kalian. Harusnya Syifa juga memiliki hak yang sama kan Pa? Papa menampar Syifa hari ini hanya demi kak Zara? Syifa kecewa sama papa!" ucap Syifa yang semakin tak terkendali emosinya.
"Cukup!! Apa selama ini papa dan mama pernah menelantarkanmu? Apa papa pernah membuat hidupmu menderita selama ini? Tindakanmu kali ini benar-benar kelewat batas Syifa. Bahkan jika hanya dipenjara pun juga tidak akan cukup untuk menghukummu!" balas Anton.
"Mulai hari ini papa akan mencabut semua fasilitasmu! Bukan hanya itu, hak waris kamu sebagai putri Mahindra juga akan papa cabut! Syifa, ini adalah kesalahanmu! Bahkan jika hanya dipenjara, kamu pasti akan mengulanginya lagi nanti. Setelah pulang sekolah segera berkemaslah dan tinggalkan rumah Mahindra untuk selamanya. Jangan pernah kembali atau menampakkan wajahmu terutama di depan papa. Kalau tidak, papa tidak akan segan lagi dan akan langsung membuat hidupmu lebih menderita lagi. Ingat itu baik-baik," tutur Anton mengancam Syifa.
"Papa tidak bisa melakukan ini semua! Syifa tidak terima Pa! Papa jahat! Aku benci sama papa!" teriak Syifa. Ia bahkan mendorong Anton dan segera berlari dari ruangan itu. Syifa adalah anak yang manja dan suka menghamburkan harta kekayaan orang tuanya. Anton yakin, jika Syifa akan lebih menyesal jika ia membuat keputusan ini daripada memenjarakan Syifa. Anton tidak ingin nanti terjadi untuk kedua kalinya lagi.
Anton merebahkan tubuhnya di sofa. Ia mengusap wajahnya sedikit kasar. Anton memejamkan matanya dan berpikir jika tindakannya hari ini adalah hal yang tepat.
Syifa berlari keluar ke kamarnya dan segera mengunci pintunya. Ia terduduk di depan pintu kamarnya sambil menangis tersedu. Syifa melempar tasnya begitu saja. Syifa mencengkram kedua lututnya dan semakin terisak.
"Papa jahat! Papa tega sama Syifa! Aku benci papa!" ucap Syifa. Ia tidak bisa hidup tanpa adanya fasilitas dari orang tuanya. Selama ini ia belum pernah hidup kesusahan.
"Aku benci kak Zara! Aku benci! Sejak kedatangannya mengubah segalanya. Papa lebih perhatian padanya. Mama juga! Kenapa kak Zara tidak mati saja sekalian!" ucap Syifa semakin membenci Zara. Ia mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya.
Syifa bangkit dan menuju ke ranjangnya. Syifa membuang selimut, bantal, guling ke sembarang tempat. Ia mengacak-acak seluruh kamarnya untuk meluapkan rasa kesal, marah, dan bencinya pada Zara.
__ADS_1